
Kian baru saja keluar dari ruang VTR saat ia melihat Ann dan lelaki itu berjalan dengan tergesa-gesa menuju lift. Seolah mendapat dorongan semangat, Kian lekas mengikuti mereka dan menghadang tepat sebelum pintu lift tertutup.
Namun ketika Ann ternyata lebih memilih untuk pergi bersama lelaki itu dibanding dengannya, saat itu juga Kian merasa sebagian dari dirinya seperti di renggut secara paksa. Sesuatu yang bernama harga diri itu semakin diinjak hingga berubah menjadi serpihan. Sejak pintu lift tertutup dan Ann lebih memilih untuk pulang bersama lelaki bernama Daren itu, sejak itu pula Kian berjanji untuk menutup pintu hatinya.
Sambil melangkah gontai, Kian kembali menuju studio tiga dan memutuskan untuk menunggu jam pulang di sana. Bahkan mungkin lebih baik bila ia tak pulang sekalian. Kian merasa malu pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga harga dirinya di depan lelaki itu.
__ADS_1
Sambil duduk di kursi di pojok ruangan backstage, Kian mengeluarkan ponselnya dengan ragu. Entah mengapa ia begitu bodoh karena tak mengindahkan beberapa petunjuk yang selama ini Ann tunjukkan, padahal sejak tadi pagi Kian sudah membaca nama artis yang akan ia shoot hari ini. Dan ia sama sekali tak mengira bila mantan kekasih yang selama ini masih dicintai oleh Ann adalah aktor terkenal yang sedang naik daun saat ini. Betapa bodohnya ...
Pandangan Kian tertuju pada sosial media yang tempo hari Ann buatkan untuknya. Kian memencet ikon aplikasi mirip kamera polaroid itu dengan jemari bergetar. Sejumlah foto Ann memenuhi feed, Kian tersenyum kecut saat ia membaca beberapa caption Ann yang seolah sedang memanas-manasi seseorang. Dan kebodohan Kian yang selanjutnya adalah ia terlalu polos hingga tak menyadari bila Ann hanya memperalat dirinya untuk membalas dendam pada Daren agar lelaki itu cemburu.
Kian membuka satu persatu foto-foto lama Ann di aplikasi itu, beberapa adalah foto makan malam yang memamerkan makanan serta tangan seseorang. Ia yakin bila itu adalah tangan Daren. Sekali lagi Kian tersenyum masam, bahkan foto lamanya bersama tangan Daren saja masih disimpan, lantas apa yang Kian harapkan??
__ADS_1
Namun di balik semua kekhawatiran itu, justru yang paling Kian takutkan adalah kondisi mertuanya. Jonathan pasti akan memarahi Ann habis-habisan, darah tingginya bisa saja kambuh. Bahkan mungkin kabar tentang acara hari ini pasti akan cepat sampai di telinga Jonathan sebelum acara itu disiarkan tivi. Kian memejamkan matanya dengan penuh sesal. Andai dia tahu lebih awal, mungkin masih ada waktu untuk mencegah Ann datang kemari dan mengacaukan segalanya.
Meskipun jam lima sore shiftnya telah usai, namun Kian memilih untuk tetap tinggal di studio hingga malam. Ia masih tak siap untuk pulang dan bertemu dengan Ann. Hatinya masih sakit karena perbuatan wanita itu tadi sore. Dan sejak dahulu, Kian telah terbiasa untuk menghindari segala sesuatu yang menyakiti hatinya. Antipatinya pada rasa sakit seolah membuatnya membangun benteng tinggi yang tak boleh di sentuh oleh siapapun, namun nyatanya benteng itu tak cukup kuat. Pertemuannya dengan Ann telah mengikis benteng itu perlahan.
Jam sembilan malam, setelah menimbang cukup lama, akhirnya Kian memutuskan pulang. Seharian ini rasanya sangat melelahkan. Emosi dan tenaganya terkuras habis. Ann pasti sudah tidur di jam segini, jadi kecil kemungkinan mereka akan bertemu di rumah.
__ADS_1
"Pak Kiandro, ini ada kiriman paket untuk Bapak!"
*************************