(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Sebuah Ide


__ADS_3

Tit tit!


Tangan mungil Ann hampir menyentuh handle pintu mobil sebelum kemudian sudut matanya menangkap sesuatu yang aneh di bagian depan mobilnya.


"Ann."


"Oh, my gosh!!" pekik Ann kaget.


Tiba-tiba saja sesosok lelaki berdiri dari bagian depan moncong mobil sedannya tepat di saat Ann akan menghampirinya.


Kian ikut terkejut, namun detik berikutnya ia tertawa melihat wajah Ann yang seketika pucat pasi.


"Kamu ngapain masih di sini? Bukannya tadi aku sudah nyuruh kamu pulang!" sungut Ann sambil mengelus dadanya yang berdetak kencang gara-gara dikagetkan oleh Kian.


"Tasku tertinggal di dalam mobilmu. Mana bisa aku pulang naik bis umum kalo aku nggak pegang uang sepeserpun," terang Kian cemberut.


Ann tertawa mendengar penjelasan Kian, ia melempar kontak mobilnya pada lelaki itu. "Ya sudah, sekalian kamu setir lagi deh!" perintahnya cepat seraya berjalan ke sisi pintu penumpang.


Kian menghembuskan nafasnya lelah. Dia sudah lapar lagi karena menunggu Ann hingga larut malam.


Di perjalanan pulang di dalam mobil, Ann yang sudah berbaikan dengan Daren nampak lebih ceria dibanding saat mereka berangkat tadi. Kian yang menyadari hal itu hanya bisa melirik wanita di sampingnya ini dengan lega. Setidaknya Ann lebih murah senyum kali ini.


"Kamu dari tadi nungguin aku di depan mobil kaya tadi??" tanya Ann tiba-tiba.


Kian menoleh pada Ann. "Iya," sahutnya singkat.

__ADS_1


"Ya tuhan, kenapa kamu nggak telefon aja!"


"Aku nggak tahu nomormu."


"Oh, iya, sih! Lupa! Berapa nomormu biar aku simpan dan aku misscall?"


Kian menyebutkan deretan angka yang sudah ia hafal di luar kepalanya. Ann dengan cekatan mencatat nomor itu dan menghubunginya setelah disimpan.


Ponsel Kian yang ia letakkan di saku celananya bergetar. "Sudah masuk," terangnya kemudian.


Ann manggut-manggut dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Mereka kembali membisu hingga mobil melaju jauh dari Apartemen Daren.


Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah megah bak istana milik keluarga Winata. Kian memarkir mobil Ann di carport dan menarik tas yang ia sampirkan di kursi. Ann sudah lebih dulu keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kian hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Nona besar Winata itu.


"Bagaimana, Kian? Apa tadi kamu sudah bertemu dengan Daren?" tanya Jonathan begitu melihat Kian masuk ke dalam rumah.


"Kalian sudah mengobrol?"


"Tidak, Pak Nathan. Saya hanya melihat dari jauh."


"Loh, memangnya Ann nggak mengajakmu masuk ke dalam?"


Kian menggeleng lemah. Ia memang sempat melihat lelaki bernama Daren itu karena tadi ia mengantar Ann sampai ke lobi. Namun ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu.


"Hhhh, dasar anak itu! Tapi kamu tenang saja Kian, mereka pasti sudah putus sekarang!" Jonathan menepuk bahu Kian dengan hangat.

__ADS_1


Kian hanya membalasnya dengan senyuman. Ia tak berharap apapun pada Ann.


"Saya permisi pulang dulu, Pak Nathan. Terima kasih banyak untuk hari ini," pamit Kian seraya menarik tangan Jonathan dan menyalaminya dengan sopan.


Jonathan tersenyum lebar dan menepuk kembali bahu calon menantunya. "Hati-hati di jalan, Kian! Mulai besok jangan kaget bila orang-orang WO akan sering menghubungimu!"


Kian mengangguk dan berbalik keluar. Sambil melangkah menuju carport tempat tadi ia memarkir motor maticnya, Kian berpikir keras bagaimana caranya menolak pernikahan itu. Ia tak ingin menyakiti siapapun dengan pernikahan ini karena Kian sadar Ann masih menjalin hubungan dengan lelaki bernama Daren itu. Pernikahan ini tak akan berhasil, bahkan mungkin akan semakin membuat mereka saling melukai pada akhirnya. Kian mendesah panjang, ia menstarter motornya dan berlalu pergi dari rumah Winata.


Sementara itu di dalam kamarnya yang luas dan serba putih, Ann bergegas naik ke tempat tidur setelah lebih dulu melakukan rutinitas skincare malamnya. Ia meraih ponsel yang tadi ia letakkan di meja nakas. Sudah ada pesan masuk dari Daren.


[Terima kasih untuk malam ini, Beb. Selamat beristirahat. I love you! Aku janji akan segera mencari jalan keluar untuk kita berdua.]


Tanpa sadar Ann tersenyum membaca pesan itu. Ia mulai mengetik keypad di layar ponselnya untuk membalas pesan Daren.


[I love you too, Beb. Cepat tidur, jangan lupa obatnya diminum.]


Ann meletakkan ponselnya di meja lantas memasang penutup matanya. Besok akan menjadi hari yang sibuk untuknya. Senin selalu membuat Ann hectic sepanjang hari.


Saat hampir terlelap, sekilas bayangan wajah Kian melintas di kepala Ann. Lelaki yang nanti akan menjadi suaminya, yang nantinya selama 24 jam selama seminggu akan terus berada di sekitarnya. Ann bergidik ngeri, bagaimana kalo Kian seorang hiperrsex?! Oh, tidak! Jangan sampai lelaki itu menyentuhnya sesenti pun! Ann harus melakukan perjanjian dengan lelaki aneh itu.


Perjanjian??


Ann tersentak, ia membuka penutup matanya dan beranjak duduk dengan gesit. Benar, ia harus membuat perjanjian! Tentu saja, ia tidak boleh lengah dan menyerah begitu saja pada keputusan Papanya yang diktator. Tak apa mereka menikah, tapi jangan harap Kian bisa menidurinya!


Ann tersenyum penuh kemenangan, besok ia akan membuat draft perjanjian dan meminta Kian menandatanganinya. Mereka berdua hanya menikah di depan banyak orang, tapi tidak secara batin. Mengapa ide ini tak terpikirkan sejak awal?

__ADS_1


**********************


__ADS_2