(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Nyctophobia


__ADS_3

Tubuh kecil itu meringkuk di balik pintu kamar yang tertutup rapat. Beberapa jam yang lalu ia masih terlelap dengan tenang, tapi sejak telinganya mendengar suara berisik yang seringkali membangunkan tidurnya, mau tak mau ia membuka mata, meraba sekelilingnya yang gelap gulita dan berhenti di balik pintu yang selalu terkunci dari luar tiap kali kedua orang tuanya sedang bertengkar.


Kian, begitu ia disapa oleh orang-orang di sekelilingnya. Tubuhnya gemetar menahan dingin dan takut. Suara teriakan seorang wanita bersahutan dengan suara lelaki yang terdengar sangat murka. Sesekali terdengar suara barang pecah dan membentur dinding atau lantai. Kian tak tahu, mengapa ia selalu terjebak di situasi ini. Teriakan-teriakan itu seolah menjadi teman tidur yang harus ia alami hampir setiap hari.


"Ibu ..." tangis Kian tertahan.


Kedua tangannya yang mungil memeluk erat lututnya yang kedinginan. Namun sekeras apapun Kian menangis, tak ada siapapun yang datang menghampirinya. Semua orang seolah tuli.


"Ibu ..." Kali ini suara penuh ketakutan itu berganti pilu.


"Dasar wanita tak tahu diuntung! Pergi sana dari rumahku, bawa anakmu yang membawa sial itu!"


"Kamu yang harusnya pergi. Rumah ini sudah atas namaku meski kamu yang membelinya. Kejar sana pelacurmu itu! Jangan pernah kembali ke rumah ini lagi!!"


"Wanita hina! Kalau bukan karena kamu hamil, aku tidak sudi menikahi kamu!"


"Aku hamil karena kamu yang memperkosaku malam itu! Kamu lupa, hah!?"


"Kalo saja kamu tidak menyuguhkan minuman keras di acara itu, mana mungkin aku sudi menidurimu!"


Plak. Bruak.


"Ibu ..."


"Kian?!"


"Ibu ..."


"Kian, bangun!!"


Sebuah tepukan lembut di pipi membuat Kian tersentak dan lekas membuka mata. Ann?


"Kamu mimpi apa sampai nangis gitu!?"

__ADS_1


Kian sontak mengusap matanya yang telah basah. Benar, ia menangis.


"Kamu ngigau nyebut nama siapa, gitu. Aku nggak jelas dengernya." Ann berbalik dan melangkah tenang ke sofa.


Kian menarik arloji yang ia letakkan di meja nakas dan mengamati jarumnya. Jam 8 waktu Korea.


"Kita check out hari ini, kan?" tanya Kian seraya menurunkan kakinya dari ranjang. Mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya. Tapi kita masih ke Udo Island dulu. Baru setelah itu langsung ke Airport!"


"Hm, baiklah. Aku mau mandi dulu," sahut Kian seraya melangkahkan kakinya ke ujung ruangan menuju kamar mandi.


Ann mengawasi tubuh jangkung Kian yang berjalan membelakanginya. Beberapa saat yang lalu, Ann baru keluar dari kamar mandi saat ia mendengar suara isak tangis seseorang. Tadinya Ann mengira kamar ini berhantu, namun ternyata dugaannya meleset saat ia melihat Kian mengigau sambil terisak di tempat tidur. Meski tidur seranjang, namun Kian tak pernah sekalipun berbuat kurang ajar pada Ann. Apalagi ukuran ranjang yang sangat besar, membuat tubuh mereka berjarak cukup jauh.


Hati Ann bergetar saat melihat Kian meneteskan air mata dalam tidurnya. Ada sedikit rasa sakit yang seolah mencubit hatinya. Rasa sakit yang membuat Ann jadi iba melihat sosok Kian yang kini menghilang di ujung lorong menuju kamar mandi. Ann mendesahh panjang, si tuan dispenser itu benar-benar telah membuatnya penasaran!


Dua jam kemudian, setelah check out hotel dan sarapan, mereka melanjutkan perjalanan ke Udo Island.


Lukas turun di pelabuhan untuk membeli tiket, tak lama kemudian mobil pun bergerak masuk ke dalam kapal feri. Ini adalah pengalaman pertama Ann naik kendaraan laut. Sekujur tubuhnya sudah terasa dingin karena takut.


"Kamu mau tetap di sini atau mau ikut aku ke luar?" tanya Kian setelah Gilang mematikan mesin mobil.


Ann menolehi Kian dan menarik lengannya cepat. "Aku ikut!" sahutnya cepat.


Kian melirik cekalan tangan Ann di lengannya dan urung mengalungkan kameranya di leher.


"Ups, sorry. No physical touch!" desis Ann seraya melepas cekalannya dan tersenyum masam.


Gilang dan Lukas membuka pintu mobil. Kian segera keluar dan berjalan tergesa-gesa ke arah tangga. Ann yang baru pertama kali naik kapal sontak berlari mengikuti Kian yang sudah menaiki anak tangga yang terbuat dari besi.


Kapal mulai bergerak maju perlahan. Ann duduk sambil memejamkan matanya. Kepalanya sedikit pusing saat hentakan ombak membuat kapal bergoyang. Sementara itu, Kian sedang asyik mengabadikan pemandangan di dek atas. Ann memilih untuk menunggunya di dek tengah tempat para penumpang berkumpul. Tak banyak orang yang memenuhi kapal, hanya ada beberapa yang duduk tak jauh dari Ann.


"Kamu masih pusing?"

__ADS_1


Ann membuka salah satu matanya dan melirik Kian yang sudah duduk di sebelahnya. "Sedikit," sahutnya berusaha tetap fokus.


Kian terkekeh. Ann nampak seperti orang yang sedang bertapa dengan posisi duduk bersila dan memejamkan mata seperti itu.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Ann sambil tetap memejamkan mata.


"Kamu seperti dewi Kwan Im."


Ann membuka matanya cepat. Dewi? Daren juga selalu memujinya dengan mengatakan Ann secantik dewi yunani. Entah mengapa Ann jadi merindukan tawa lelaki kesayangannya itu.


"Kenapa?" tanya Kian heran saat raut Ann berubah sendu.


"Daren juga sering mengatakan kalo aku secantik dewi yunani," ucap Ann sambil menunduk sedih.


Kian membuang muka sambil menarik napas panjang. Namanya Daren, huh?


"Kamu merindukan dia?" Entah mengapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Kian.


Ann mengangguk pelan, namun detik berikutnya ia kembali pada posisi fokus dan memejamkan mata. Terjangan ombak yang mengombang-ambingkan kapal membuat kepala Ann seperti melayang. 


Sambil menahan perasaannya yang mulai tak nyaman, Kian berdiri dari kursinya dan melangkah ke buritan. Angin laut yang bertiup kencang mengacak-acak rambut Kian yang mulai tumbuh panjang. Semakin ia dekat dan mengetahui segala hal tentang Ann, semakin Kian merasa aneh dengan dirinya sendiri. Mulai tumbuh perasaan tak nyaman, perasaan yang sukar ia jelaskan.


Tidak mungkin bila rasa yang ia rasakan adalah cinta. Mungkin Kian hanya merasa tak rela. Tapi mengapa harus tak rela? Bukankah Ann sejak awal tak pernah benar-benar menjadi miliknya?


Sinyal merah mulai menyala di hati Kian. Ia harus menjauh sebelum semua terlambat. Ia tak akan pernah menyiram rasa itu agar tak tumbuh semakin subur dan sukar untuk dicabut. Cintanya harus berlabuh di hati yang tepat. Ia tak ingin nasib buruk kedua orang tuanya dulu juga terjadi pada kehidupannya sekarang.


Tiba-tiba saja Kian merindukan seseorang. Nenek Sofia. Terakhir kali Kian mendatangi makamnya sehari sebelum menikah. Di pusara itu, Kian menumpahkan seluruh ketakutannya pada Nenek Sofia. Tak ada siapapun yang paham pada perasaannya selain mendiang Neneknya itu. Kian rindu, sangat.


Perahu mulai menepi di dermaga Udo Island. Kian bergegas kembali masuk ke dalam dek penumpang dan mengajak Ann turun.


"Kita sudah sampai?"


**********************

__ADS_1


__ADS_2