(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Filosofi Bunga Camellia


__ADS_3

"Filosofi bunga Camellia tuh indah banget, tahu! Dia terkenal sebagai bunga cinta abadi dan kesetiaan. Tahu kenapa?"


Kian menggeleng lagi. Ia tak begitu paham akan dunia filosofi dan filsafat kewanitaan semacam itu.


"Sebagaimana bunga pada umumnya, jika petalnya jatuh, maka kelopaknya tetap utuh. Tapi bunga Camelia nggak begitu, mahkota dan kelopak bunganya jatuh bersama-sama. Mereka tetap bersama-bersama dari masih kuncup bahkan sampai layu dan mati," terang Ann seraya menatap bunga Camellia yang tumbuh tak jauh dari tempatnya duduk.


Kian terdiam, penjelasan Ann cukup membuktikan bahwa ia tak akan mungkin goyah.


"Itulah kenapa aku pengin banget ke Jeju Island. Aku pengin melihat bunga cinta abadi itu dengan lelaki yang aku cintai. Tapi takdir ternyata berkata lain, aku malah di sini sama kamu!" Ann tergelak kecil. Ia memukul lengan Kian seolah sedang menutupi sesuatu.


"Maaf, Ann."


"Ahh, santai aja! Lagian bunganya nggak mekar semua, kok. Mungkin belum takdirku, pas datang ke sini di musim panas! Kalo pas musim semi pasti lebih indah lagi dan bunga-bunganya mekar semua!"


Kian tersenyum dan mengangguk setuju. "Kamu pasti bisa ke sini lagi bersama dia tahun depan saat musim semi."


Ann tak menyahut. Ia hanya menarik napasnya yang sedari tadi tertahan karena menyimpan luka. Ia tak lagi berpikir untuk mendatangi tempat ini bersama Daren. Semua sudah berakhir.


"Sudah berapa tahun kamu berhubungan dengannya?" tanya Kian memberanikan diri.


"Tiga tahun. Aku nemenin dia dari dia belum jadi apa-apa, sampai akhirnya dia punya segalanya."

__ADS_1


"Lalu kenapa dia tidak mau menikah denganmu?"


Ann menggeleng tak paham. "Popularitasnya lebih penting daripada aku, hihi ..."


Kian menghembuskan napasnya berat. Ia tak sanggup lagi untuk bertanya lebih jauh. Cukup sampai di sini saja ia mengorek kehidupan Ann. Kian tak ingin semakin terjerumus.


"Yuk, kita jalan lagi!" ajak Kian seraya berdiri dan bersiap pergi.


Ann yang ingin menanyakan banyak hal pada Kian akhirnya mengalah dan mengurungkan niatnya.


Spot berikutnya yang mereka lewati adalah jalan setapak dengan lampu bergelantungan di sepanjang jalannya. Dengan pohon yang lebat dan menjulang tinggi, lampu-lampu itu nampak sangat indah meski menyala di siang hari. Pemandangan itu tak luput dari bidikan Kian.


"Ann, mau berfoto denganku?" pinta Kian setelah menimbang cukup lama.


"Aku takut nanti Papa meminta bukti," sambung Kian beralasan.


"Owh, oke baiklah."


Kian mengedarkan pandangannya, mencari orang yang mau membantunya mengabadikan moment indah di Camellia Hill. Saat sepasang muda-mudi lewat, Kian menghampiri dan meminta tolong pada mereka. Pasangan bule muda itu setuju dan malah mengarahkan gaya Kian dan Ann yang kaku. Beberapa kali take foto, akhirnya Kian menyerah saat mereka memintanya pose berciuman.


"Thank you!" ucap Kian berterima kasih.

__ADS_1


"Your welcome! Your wife is so beautiful. You are so lucky!" puji bule wanita itu.


"Yes, she is. Thank you!" Kian tertunduk malu, wajahnya merona karena ucapan bule itu.


Usai berbasa-basi sebentar, Ann dan Kian kembali melanjutkan perjalanan mereka yang tersisa separuh jalan.


Mereka tiba di Green House yang lebih besar kali ini. Beraneka macam bunga Camellia juga tumbuh di dalam sana, namun bunga Hydrangea lebih memonopoli.


"Kian, tolong kirim foto kita yang berdua tadi ke ponselku, ya!"


Kian mengangguk dan segera mengirim foto itu ke ponsel Ann menggunakan bluetooth yang otomatis tersambung.


Ann tersenyum puas, ia memilih foto yang  paling intim dan mengunggahnya di media sosial miliknya. Ia ingin melihat bagaimana respon Daren setelah mengetahui akhirnya Ann datang ke Jeju Island tanpa dirinya.


"Kamu mengunggah foto itu ke medsos?"


Ann mengangguk cepat di antara senyumnya yang merekah. "Instagrammu apa? Aku tag sekalian!"


"Aku tidak punya medsos."


"Apa!?"

__ADS_1


******************


__ADS_2