(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Bertemu Pak Nathan


__ADS_3

Kian melepas helmnya dan turun dari motor saat ia tiba di sebuah rumah megah dengan pagar kokoh yang terbuat dari besi.


"Permisi, Pak. Saya mau bertemu dengan Pak Nathan," ucap Kian begitu seorang security keluar dari ruangan kecil di samping pagar.


"Sudah buat janji, Mas?"


"Sudah, Pak. Kemarin beliau telefon saya dan meminta saya datang kemari."


Security itu tampak berbicara dengan seseorang melalui sebuah HT. Ia memperhatian penampilan Kian dan motor yang ia bawa.


Cukup lama Kian menunggu dengan gugup sebelum kemudian Security tadi kembali menghampirinya.


"Pak Nathan sudah menunggu anda, Mas Kian! Silahkan masuk!"


Kian mengangguk lega, ia bergegas menaiki kembali motor maticnya dan melajukannya masuk ke dalam setelah Security membukakan pagar kokoh itu.


Ini adalah kali pertama Kian menginjakkan kaki di rumah Pak Nathan yang merupakan sahabat Nenek Sofia. Sudah dua tahun berlalu dan ternyata konglomerat itu masih mengingatnya.


Pintu utama yang tak kalah besar dari pagar di depan terbuka perlahan. Sosok yang selama ini sempat menghilang dari hari-hari Kian muncul dengan senyum lebar.


Kian berlari mendekat dan menyalami tangan Pak Nathannya dengan penuh hormat.


"Apa kabar Kian?!" Jonathan menepuk pundak Kian dengan penuh kerinduan.


"Saya baik. Pak Nathan sendiri bagaimana kabarnya?"


"Seperti yang kamu lihat, sehat dan panjang umur! Hahaha...."


Kian ikut tertawa kecil mendengar gurauan lelaki yang mungkin seusia dengan Ayahnya.


"Yuk, masuk! Ada yang mau aku bicarakan denganmu!" Jonathan merangkul bahu Kian dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya yang megah bak istana.

__ADS_1


Kian hanya bisa menurut dan mengawasi seluruh isi rumah Jonathan dengan takjub. Biasanya ia hanya bisa memasuki rumah megah seperti ini saat sedang syuting, namun kini ia benar-benar bertamu di dalamnya.


Jonathan mengajak Kian duduk di bangku taman belakang yang berhadapan dengan kolam ikan koi. Di ujung sana, ada kolam renang lengkap dengan gazebo mini. Kian semakin dibuat terperangah.


"Kamu sudah makan?" tanya Jonathan saat ia dan Kian sudah duduk di santai.


"Sudah tadi, Pak."


"Kerjamu libur?"


"Iya, saya hanya standby. Bila ada panggilan maka saya harus segera datang!"


Jonathan manggut-manggut dan mengawasi Kian yang nampak semakin kurus dibanding terakhir kali ia melihatnya dua tahun yang lalu.


"Kamu sudah punya kekasih?!"


Kian terbelalak, ia menggeleng cepat tanpa berani menatap Jonathan yang menatapnya penuh selidik.


Kian kembali terbelalak, kali ini ia memberanikan diri mendongah dan menatap Jonathan tak percaya.


"Iya. Kamu nggak salah dengar. Bulan depan kalian akan menikah!" putus Jonathan tanpa meminta persetujuan.


"Ta-tapi, Pak. Saya bahkan nggak kenal dengan Putri Pak Nathan! Bagaimana mungkin kami menikah secepat itu?"


"Kalian akan segera bertemu. Percaya saja padaku, Kian. Aku ingin Ann memiliki sandaran hidup sepertimu."


Kian tergugu, bibirnya mendadak kelu dan nafasnya seolah terhenti. Ia tidak sedang bermimpi, kan?!


"Sejak pertama kali mengenalmu, aku sudah tahu kamu lelaki baik yang bertanggung jawab. Terlebih setelah kamu—"


"Pak Nathan, saya tidak sebaik itu. Anda hanya hanya belum terlalu mengenal saya!" tukas Kian panik.

__ADS_1


"Kian, perlakuanmu pada Nenek Sofia dan padaku dulu sudah cukup membuatku yakin bila aku tidak akan salah pilih!" putus Jonathan mantap.


Kian menghembuskan nafasnya gusar. Tidak mungkin ia menolak keinginan orang yang sudah berjasa membantunya dulu.


"Aku mohon Kian. Aku menitipkan Putriku padamu. Aku hanya takut tidak bisa melihat Ann menikah dan punya anak!"


"Pak Nathan, jangan bicara seperti itu. Anda pasti akan sehat dan panjang umur!"


"Bila bukan karenamu dan Nenek Sofia, mungkin aku sudah terkubur di dalam tanah sekarang! Kalian sudah berjasa padaku." Jonathan menatap Kian dengan sendu.


"Tapi saya tidak yakin bisa menjadi suami yang baik untuk putri anda, Pak! Saya hanya pekerja swasta yang tidak memiliki apa-apa."


"Ann tidak akan kekurangan harta, Kian. Dia hanya kekurangan kasih sayang dan perhatian. Percayalah padaku, kamu adalah orang yang tepat."


Kian tak menyahut, ia sibuk menetralkan rasa panik dan syoknya. Ia tak pernah bermimpi bisa menikah dengan Putri seorang konglomerat.


"Aku akan segera mengatur pertemuan kalian secepatnya. Besok siang datanglah lagi kemari saat makan siang. Aku akan mengenalkanmu dengan Ann!"


Kian menunduk takut, debaran di dadanya jadi semakin tak beraturan.


"Namanya Annastasia Caroline Winata, usianya 26 tahun bulan depan. Maka dari itu aku ingin memberinya hadiah tak terlupakan dengan pernikahan kalian. Meskipun dia gadis yang keras kepala, namun Ann sangatlah penyayang. Dia juga seorang workaholic sepertiku dulu. Maka dari itu, mengenalkannya denganmu yang sederhana, perhatian dan penyayang bukanlah pilihan yang salah!"


"Pak Nathan, tolong pikirkan sekali lagi. Saya yakin masih banyak lelaki yang mau menikahi Putri anda."


"Memang, tapi lelaki itu telah menyia-nyiakan putriku selama tiga tahun ini. Membiarkan Ann tersisihkan dan di nomor duakan! Cih, Putriku terlalu berharga untuk lelaki seperti dia!"


Kian terhenyak. Tiga tahun disia-siakan? Mengapa tega sekali lelaki itu berbuat demikian?


"Jangan khawatir Kian, Ann tidak akan bisa menolak permintaanku kali ini. Kamu hanya perlu mengambil hatinya pelan-pelan. Dengan sifatmu yang tulus dan selalu apa adanya, aku yakin Ann akan mencintaimu suatu saat nanti!"


Kian mengangguk ragu. Mimpi apa dia semalam? Mengapa tiba-tiba dunianya seperti dibalik 360 derajat?

__ADS_1


*****************


__ADS_2