(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Pasal Sakti


__ADS_3

Jakarta, 2 Desember 2022.


Yang bertandatangan di bawah ini,


Nama : Annastasia Camellia Winata


Selanjutnya disebut sebagai pihak pertama dan


Nama : Kiandro Bagaskara


Selanjutnya disebut sebagai pihak kedua.


Dengan ini membuat surat perjanjian yang ditandatangani secara sadar dan dalam kondisi sehat wal afiat. Membuat kesepakatan bermaterai cukup yang berisi di antaranya :




Pernikahan akan berakhir tepat setahun dari tanggal surat perjanjian ini ditandatangani dan/atau surat warisan Winata Group jatuh ke tangan Pihak pertama.




Pihak pertama dan pihak kedua dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing, dilarang saling menuntut dan dilarang melakukan kontak fisik kecuali di depan umum untuk kepentingan bisnis.




Tidak boleh ada pihak luar yang mengetahui surat perjanjian pernikahan ini atau sanksi hukum ganti rugi berupa pelanggaran kontrak senilai 20 M diberlakukan.




Pihak pertama akan memberikan saham PT. Winata Group senilai 30% pada pihak kedua apabila PT. Winata Group sudah resmi menjadi milik pihak pertama.


__ADS_1



Baik pihak pertama maupun pihak kedua dilarang terikat pada urusan keuangan, emosi, dan sosial kecuali untuk kepentingan Perusahaan.




Baik pihak pertama maupun pihak kedua tidak saling bertanggung jawab atas urusan apapun. Masing-masing pihak akan hidup secara terpisah meskipun berada di satu atap yang sama.




Demikian surat perjanjian ini dibuat dan ditandatangani berdasarkan kesepakatan bersama. Hal-hal berkaitan dengan penambahan pasal akan ditambahkan dan didiskusikan lebih lanjut.


Tertanda :


Pihak pertama : Annastasia Camellia Winata.


Pihak kedua : Kiandro Bagaskara.


Setahun ke depan, Ann yakin segalanya akan lebih mudah bila Kian tetap bersikap kooperatif seperti ini. Begitu surat wasiat dari Papanya resmi menunjuk Ann sebagai pewaris tunggal, maka setelahnya Ann akan bebas dari lelaki aneh dan culun itu seumur hidup.


Ann menutup lemari pakaian tempatnya menyimpan brankas dan melangkah lebar menuju meja nakas. Ia meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Daren agar segera menghubunginya bila tak sibuk.


Kling-kling.


Ann tersentak, ia sontak menatap layar ponselnya. Namun ia mendesah kecewa saat pesan yang masuk ternyata berasal dari Kian, bukan dari Daren, kekasihnya.


[Aku lupa tadi mau bilang sama kamu, untuk pasal nomor 4 tolong dihapus. Aku tidak butuh peninggalan saham apapun dari kalian.]


"Cih!" Ann berdecak cepat. 'Dasar sombong! Sudah miskin, sombong pula!' batin Ann jengkel.


Ia melempar ponselnya ke meja nakas dan naik ke atas ranjang. Moodnya seketika memburuk mendapat pesan dari Kian barusan.


Saat bertemu WO yang datang terlambat karena terjebak macet tadi, Kian juga lebih banyak diam dan tak menyumbangkan ide apapun. Padahal pernikahan ini pun juga untuk dirinya. Hanya Ann yang lebih banyak memberi penjelasan dan mengutarakan kemauannya pada pihak Wedding Organizer. Kian malah sibuk bermain ponsel dan menyahuti sesekali.


Andai saja pernikahan itu untuk Ann dan Daren, mungkin tak akan semononton itu acara tadi sore. Daren pasti memiliki banyak ide kreatif untuk tema pernikahan mereka.

__ADS_1


Ann mendengus kesal saat mengingat segala hal jadi terasa rumit sejak ia mengenal Kian. Padahal tadinya Ann memuji sikap kooperatifnya, tapi ternyata ia salah. Kian adalah lelaki aneh, culun dan sombong yang menjenggelkan!


"Arrrggg!!" Ann menutup kepalanya dengan bantal dan berteriak sekencang mungkin untuk melampiaskan emosinya pada Kian.


Karena kesal menahan emosinya seorang diri, akhirnya Ann tertidur pulas. Ia bahkan tak mendengar saat ponselnya bergetar karena ada panggilan masuk dari Daren. Ann lelah lahir dan batin.


Keesokan harinya saat sarapan. Jonathan sudah menunggu Ann dari tiga puluh menit yang lalu. Putri kesayangannya turun sambil berbicara di telefon dengan seseorang. Tadinya Jonathan mengira Ann sedang bertelefon dengan Kian, namun saat wajah Ann terlihat pucat pasi dan panik saat melihatnya di meja makan, seketika Jonathan sadar bila Putrinya masih berhubungan dengan Daren.


Ann menutup telefon dan menyelipkan ponselnya ke dalam tas kerjanya. Ia beringsut duduk di samping Papanya dan tersenyum kikuk.


"Kamu masih berhubungan dengan Daren?" tanya Jonathan to the point.


Ann tak menyahut, ia menyomot selembar roti dan lekas mengolesinya dengan selai cokelat favoritnya.


"Ann, tinggalkan Daren. Kamu hanya akan melukai calon suamimu bila masih berhubungan dengan lelaki itu!"


"Pa, mana bisa aku berpisah dari Daren secepat itu! Hubungan kami bukan berlangsung selama sebulan dua bulan tapi tiga tahun, Pa!"


Jonathan menatap tajam pada Putrinya. "Tinggalkan dia pelan-pelan. Jangan lagi memberinya harapan. Kamu tahu benar bila Daren mencintaimu maka ia tidak akan membiarkanmu menikah dengan Kian!"


"Daren memang tidak rela aku menikah dengan lelaki pilihan Papa. Dia bahkan sampai jatuh sakit karena mendengar keputusan Papa yang egois. Jadi jangan memaksaku untuk meninggalkan Daren, Pa." Ann membalas tatapan Jonathan tak kalah tajam dan sinis.


"Harusnya kamu berterima kasih karena Kian mau menikah denganmu! Papa tidak yakin Daren akan melakukan hal yang sama, karena dia bahkan tidak mau meninggalkan popularitasnya demi kamu!"


Ann terhenyak, kata-kata Papanya bagai sembilu yang menusuk tepat di jantungnya. Oksigen di sekitarnya seketika seperti lenyap tak tersisa. Sakit.


"Terima kasih Papa sudah mengingatkan kembali akan hal itu," sungut Ann dengan suara bergetar menahan tangis.


Jonathan meraih gelasnya dan meneguk air lemon hangatnya hingga tandas. Ia lantas berdiri dan meninggalkan Ann sendiri di meja makan.


Ann mengawasi punggung Papanya yang perlahan menjauh dengan sedih. Ia tak sampai hati menyakiti orang tua yang tinggal satu-satunya. Ann sangat menyayangi Papanya melebihi apapun, tapi sejak setahun belakangan Jonathan selalu memaksa Ann untuk segera menikah. Membuat Ann serba salah karena Daren tak mungkin mau menikah dalam waktu dekat ini, terlebih di saat lelaki itu baru menaiki tangga popularitas yang selama ini ia impikan. Hingga puncaknya, Jonathan memaksa Ann menikah dengan Kian. Lelaki yang tidak jelas latar belakang keluarganya, tidak jelas keturunan siapa dan tidak jelas juga sifatnya!


Ann menghela nafas panjang. Seketika moodnya kembali memburuk bila mengingat Kian. Tak ingin berlama-lama hanyut di dalam energi negatif, Ann lekas menghabiskan sarapannya dan meneguk habis susu cokelat hangatnya.


Sedikit berlari, Ann bergegas masuk ke dalam mobilnya. Ia meletakkan tas kerjanya di kursi sebelah dan menstarter mesin mobil. Saat akan menaikkan gigi satu, ponsel Ann berdenting menandakan sebuah pesan chat masuk. Ann merogoh ponsel di dalam tasnya dengan gesit. Keningnya berkerut saat pesan yang masuk ternyata berasal dari Papanya.


[Jangan pulang terlalu malam. Jam tujuh nanti Papa sudah mengundang Kian untuk makan malam di luar bersama.]


***************

__ADS_1


__ADS_2