(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Akulah Sumber Petaka


__ADS_3

Ann sedang meeting dengan Kepala Divisi Real Estate dan Divisi Commercial ketika ponselnya berdenting di saku blazernya. Sambil mendengarkan penjelasan dari Hazel yang dengan bangga menyatakan kemajuan pekerjaannya, Ann membuka pesan di ponselnya yang berasal dari Daren.


Ann tercenung sesaat membaca isi dari pesan itu, alamatnya berada tak jauh dari Penthouse tempatnya tinggal.


"Miss, apa ada yang perlu saya koreksi lagi?"


Ann tersentak, ia memasukkan ponselnya kembali ke saku blazernya dan menatap Hazel.


"Tidak. Sudah cukup. Terima kasih, Hazel. Kerjamu sangat bagus! I appreciate it!" puji Ann bersungguh-sungguh.


Hazel langsung membusungkan dada begitu mendengar boss wanitanya memuji prestasi kerjanya. Rafli dan Jessy terkekeh.


"Rafli, apakah pekerjaanmu ada kendala?" tanya Ann cepat. Ia sedang diburu waktu. Satu jam lagi acara Daren akan On-air.


Rafli menggeleng cepat. "Tidak, Miss. Tentu saja anda bisa mengandalkan saya dalam hal apapun!"


"Baiklah. Bagus. Saya tidak bisa berlama-lama di sini. Jessy, tolong re-schedule semua jadwal saya. Hari ini saya ada acara penting mendadak!" perintah Ann sambil memasukkan beberapa peralatannya yang tercecer di meja ke dalam tas.


"Baik, Miss. Akan saya laksanakan!"

__ADS_1


"Bagus." Ann berdiri dari kursinya. "Saya pergi dulu, ya, semuanya! Selamat siang!" pamitnya sebelum kemudian bergegas keluar dari ruangan meeting.


Sambil berjalan cepat menuju lift, Ann mengirim pesan pada Daren bila ia sedang dalam perjalanan. Beberapa orang staf sontak mundur begitu melihat Ann berjalan menuju lift, mereka mengalah dan membiarkan boss-nya lebih dulu masuk seorang diri.


Tiba di kantor Stasiun Televisi tepat sebelum 10 menit acara di mulai adalah keberuntungan yang Ann dapatkan hari ini. Daren langsung mengajaknya masuk ke Studio dan menemui Sutradara. Ann mendapat beberapa gambaran serta masukan tentang acara yang akan ia bintangi. Ini pertama kali, dan sejujurnya Ann  sangat gugup. Ia takut salah bicara, namun sepanjang perjalanan dari lantai satu menuju studio di lantai tiga tadi, Daren sudah memberi tahunya beberapa poin penting yang harus di jelaskan dan yang harus di sembunyikan.


"Kamu sudah siap?" bisik Daren mereka berdua berjalan menuju backstage.


Ann mengangguk gugup. "Apakah aku juga perlu menjelaskan tentang pernikahanku?"


"Bila mereka bertanya, jelaskanlah apa adanya. Seolah pernikahanmu terjadi karena memang kamu dan suamimu terpaksa. Jangan ada yang di tutupi."


"Nggak. Aku dan Kian sudah berjanji untuk menutupi hal itu."


Ann berpikir sejenak. Ia tak tahu harus menjawab apa, tapi yang pasti pernikahan kontraknya dengan Kian harus di sembunyikan sampai ia dinyatakan sebagai pewaris tunggal Winata Group.


"Nanti akan aku pikirkan. Yang pasti aku nggak mau keadaan semakin rumit untuk kita berdua setelah semua orang tahu bila aku sudah menikah."


"Baiklah, terserah kamu, Beb." Daren mendekat ke pipi Ann untuk mengecupnya namun secara reflek kekasihnya itu justru mundur menghindari.

__ADS_1


"Daren. Jangan di sini."


Daren terkekeh dan mengangkat tangannya untuk membelai pipi Ann yang mulus.


"Baiklah. Kita akan melakukannya di tempatku nanti, oke?"


Ann tak menyahut. Ada suara nyaring di lubuk hatinya yang entah mengapa menolak perlakuan Daren.


Acara pun di mulai. Daren lebih dulu di panggil dan di interview oleh Host. Ann menunggu di backstage dengan hati berdebar tak karuan. Pikiran-pikiran buruk mulai berkecamuk di dalam kepalanya. Dan yang melintas di sana justru Kian dan Papanya.


Ann bahkan belum ijin pada Kian untuk mengisi acara ini. Tapi, tunggu, mengapa harus ijin? Bukankah mereka tak terikat satu sama lain secara pribadi!? Ann berhak melakukan apapun tanpa persetujuannya, bukan?


"Bintang tamu, masuk!"


***********************


Hai, Bestie, kali ini otor mau spill karya temen otor yang gak kalah keren, nih!


Judulnya Pesona Istri Titipan karya Wiji. Boleh banget mampir sana dan ramein juga. Tingkyuuuu ❤️

__ADS_1




__ADS_2