
Kian baru saja pulang dan keluar dari lift saat pintu depan di ketuk dari luar. Lekas ia berlari ke ruang tamu dan menempelkan jari telunjuknya pada handle pintu. Ya, pintu itu hanya bisa terbuka menggunakan sidik jari Ann dan Kian.
Wajah yang tak asing langsung tersenyum lebar begitu Kian membuka pintu.
"Selamat malam, Anakku!!" Jonathan merentangkan kedua tangannya dengan lebar seperti biasa dan memeluk Kian dengan hangat.
"Selamat malam, Pa!" balas Kian lirih seraya menikmati pelukan itu dengan penuh perasaan.
Seseorang tiba-tiba muncul di belakang Jonathan. Kian mengurai pelukannya dan memperhatikan orang itu dengan bingung.
Jonathan yang menyadari bila Kian mengawasi orang yang ia bawa sontak berbalik. "Oh, dia chef yang Papa bawa! Dia akan memasakkan makan malam untuk kita," terang Jonathan.
"Oh, iya, Pa." Kian mundur dan mempersilahkan mertua serta chef itu masuk ke dalam.
Jonathan lantas mengajak chef ke dapur dan memintanya untuk segera memasakkan makan malam.
"Ann belum pulang?" Jonathan mendekat ke tempat Kian mematung.
"Belum, Pa. Mungkin sebentar lagi," sahut Kian.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu telefon, gih! Biar dia cepat pulang. Sekalian kamu mandi sana!" titah Jonathan lugas seraya mendorong tubuh Kian ke kamar.
Kian tersenyum dan menurut. Ia masuk ke dalam kamar sembari mengeluarkan ponselnya. Ia sangat jarang bertelefon dengan Ann, dan ketika menimbang untuk menelefonnya atu tidak, Kian akhirnya memutuskan untuk meletakkan ponselnya dan membiarkan Ann pulang sendiri nanti. Kian pun masuk ke dalam kamar mandi.
Satu jam kemudian, Kian keluar dari kamar seraya mengetikkan pesan untuk Ann. Setidaknya ia harus memberi tahu bila Jonathan sedang berada di rumah agar nanti Ann tak kaget. Mereka harus berpura-pura lagi malam ini.
"Kemarilah, Kian! Ada yang ingin Papa bicarakan denganmu." Jonathan bergeser di sofa agar Kian bisa duduk di sebelahnya.
Kian mendekat, ia duduk tak jauh dari mertuanya. Aroma masakan yang sangat nikmat terendus indranya, mengalihkan perhatiannya untuk sesaat.
"Apa kamu sudah menonton acara Ann tadi siang?" tanya Jonathan menyelidik.
"Ck ... ck, anak itu memang keterlaluan! Apa kata orang-orang kalo sampai tahu mereka pernah menjalin hubungan dan sekarang sedang bersandiwara seolah dulunya mereka hanya sepasang sahabat!?" Jonathan berdecak kesal.
Kian tergugu, ia pun sebenarnya sedang bersandiwara. Hanya saja Jonathan tak mengetahuinya.
"Papa malu! Kalo bukan karena kamu kerja di stasiun tivi itu, sudah Papa tarik semua saham di sana!"
"Biarin aja, Pa. Toh Ann sudah mengaku bila statusnya sekarang sudah menikah. Papa jangan terlalu khawatir."
__ADS_1
"Papa cuma nggak mau kamu jadi salah paham sama Ann. Yaaa ... meskipun anak itu sangat keras kepala tapi Ann pasti akan luluh dengan perhatian dan ketulusanmu suatu saat nanti. Papa yakin itu, Kian!"
Kian tersenyum masam, ia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang pasti berubah sendu.
"Kamu sudah telefon Ann? Kenapa sampai jam segini dia belum pulang juga!"
Jonathan menarik tas kulitnya yang tergeletak di meja dan mengeluarkan ponselnya. Ia lantas menghubungi nomor Ann.
'Nomor yang ada tuju sedang berada di kuar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi. The number—"
Jonathan memutuskan sambungan telefon itu dan mengawasi Kian. Tidak biasanya nomor Ann tidak bisa di hubungi.
"Apa tadi Ann berangkat ke kantor?" tanya Jonathan akhirnya.
"Owh, saya tadi berangkat duluan, Pa. Ann masih tidur. Sepertinya sih memang ke kantor."
Jonathan nampak berpikir sejenak, ia lantas menghubungi nomor Lukas. Tersambung.
"Halo, Pak Boss."
__ADS_1
"Lukas, cari tahu keberadaan Ann sekarang juga. Lacak posisi dari nomor ponselnya."