(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Si Kembar


__ADS_3

Sementara itu, di lantai paling atas Rumah Sakit Grand International. Cinta bersama dua anak kembarnya berdiri lama di depan pintu kamar tempat Kian dirawat.


"Mom, kenapa kita tidak masuk?" tanya Roy heran seraya memandangi Ibunya dengan penasaran.


Cinta tersenyum kikuk, ia mengetuk pintu kamar Kian tiga kali.


"Mungkin Om tidur, Mom. Kenapa kita tidak langsung masuk saja?"


"Tidak. Itu tidak sopan, Roy," bisik Cinta menasehati.


"Tapi—"


Cklik.


Pintu di buka dari dalam. Cinta menahan napas saat perlahan daun pintu tersebut bergerak. Ia terpaku memperhatikan sosok di balik pintu dengan harap-harap cemas.


"Oh, Hai Om!!" sapa Roy girang saat melihat Kian yang membukakan pintu untuk mereka.


Kian tersenyum hangat, ia membuka pintu lebih lebar. "Hai, Roy!" sapanya seraya merentangkan tangan kirinya.


Roy berlari mendekat dan memeluk Kian. "Om sudah bisa berdiri!? Sudah sembuh?"


"Tentu, Roy! Om kan superhero!"

__ADS_1


Roy terbelalak girang, ia menoleh pada Ibu dan adiknya yang masih berdiri mematung. "Mom?"


Cinta tersentak, untuk beberapa saat tadi ia terenyuh ketika melihat putranya berpelukan dengan lelaki dewasa yang bukan Papanya.


"Yuk, masuk!" ajak Kian seraya lebih dulu melangkah sambil menggandeng Roy ke dalam.


Rey yang pasif sontak menarik tangan Ibunya agar mengikuti kembarannya masuk ke dalam kamar tempat Kian dirawat inap.


"Silahkan duduk." Kian mempersilakan Cinta dan Rey untuk duduk di sofa panjang di dekat jendela. "Kamu mau minum apa, Roy? Biar Om pesankan di bawah."


Roy menggeleng. "Tidak usah repot Om, kami sudah membawa bekal sendiri."


Kian menoleh pada Cinta yang memang menenteng tas besar bersamanya. Namun perhatian Kian lantas beralih pada sosok bocah perempuan yang duduk dengan tenang sambil menatapnya. Kian ingat, dia adalah bocah kecil yang sempat membuat perhatian Ibunya pecah beberapa detik sebelum kecelakaan itu terjadi.


Gadis kecil bernama Rey itu tersenyum ramah dan mengerlingkan matanya pada Kian dengan genit. "Nice to see you again, Om!" ucapnya sopan.


"Rey, do not blink your eyes while you're talking!" sungut Roy cepat.


"Is she?" tukas Cinta terbelalak. Ia menarik tubuh Rey agar memperhatikannya, namun gadis kecil itu justru memejamkan mata pada Ibunya.


Kian tergelak menyaksikan tingkah menggemaskan Rey. Ia lantas mengacak rambut Roy yang berdiri di sampingnya dan menatap bocah itu dengan hangat.


"It's oke, Roy! Adikmu pasti melakukannya karena menganggap Om Kian tampan, betul kan Rey?" tanya Kian seraya menoleh pada Rey yang spontan mengangguk setuju dengan sorot mata berbinar.

__ADS_1


"Rey!" sela Cinta terkejut melihat respon putrinya.


"But, Om Kian memang handsome, Mom! You said that too yesterday!"


Cinta semakin terbelalak syok mendengar perkataan Rey, spontan wajahnya memerah karena malu.


"Maaf, Mas Kian. Rey memang terlalu jujur dan suka berhalusinasi," bisik Cinta lirih pada Kian.


"Tidak apa, mereka menggemaskan! Pasti keseharian kalian seru banget, ya?"


"Hmmm, bukan hanya seru, tapi juga heboh! Waktuku terasa sangat singkat dan penuh drama saat bersama mereka!" jelas Cinta antusias.


Kian mengawasi Roy yang kini nampak membuka lembar demi lembar halaman majalah yang tempo hari Ann beli. "Kamu suka membaca, Roy?"


Bocah berusia enam tahun itu mengangguk cepat. "Aku sudah bisa membaca dengan lancar loh Om!"


"Oh ya, coba baca bareng sini!" Kian mengulurkan tangannya pada Roy agar bocah itu mendekat.


Dengan sigap, Roy meloncat dari kursi dan menghampiri Kian dengan antusias.


"Aku juga bisa baca, loh!" protes Rey saat Kian hanya memperhatikan Kakaknya.


"Really? Kemarilah juga, Om pengin tahu kalian sehebat apa bacanya."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2