21 Hari Bersama Majikan Bajingan

21 Hari Bersama Majikan Bajingan
Cerita Yudhi 21


__ADS_3

Oek oek oek....!


Tika memuntahkan isi perutnya di washtapel yang berada di kamar mandi mereka. Seperti itu setiap paginya, setiap ia bangun subuh. Yudhi terus memijat leher belakang Tika, supaya mualnya mereda. Yudhi juga setiap hari terpaksa harus terlambat pergi bekerja, karna ia harus mengurusi Tika dulu. Ia tidak tega jika harus meninggalkan Tika yang dalam keadaan muntah muntah.


"Kenapa nyidammu lebih parah ini di banding waktu hamil si kembar ?"tanya Yudhi, membasuh bibir Tika yang sudah berhenti muntah.


"Gak tau Hubby !, mungkin dia lebih manja !"jawab Tika.


Yudhi pun menggendong Tika keluar dari dalam kamar mandi, meski Tika masih sanggup berjalan. Tapi itulah Yudhi, sosok yang suami penyayang, dan perhatian, meski ada pelit pelitnya.


Yudhi meletakkan Tika hati hati di atas tempat Tidur, membaringkan tubuh Tika, lalu menyelimutinya.


"Aku akan ambilkan air teh hangat untukmu !"ucap Yudhi, mengecup kening Tika, lalu melangkahkan kakinya keluar kamar mereka.


Tika mengalihkan tatapannya ke arah meja nakas disampingnya, mendengar ada getaran dari atas nakas. Tika meraih HPnya, yang bergetar dan layarnya hidup. Tika mengerutkan keningnya, melihat siapa yang menghubunginya.


"Mr Jefry !"gumam Tika, untuk apa Jefry menghubunginya ?, pikir Tika. Tika pun mendial tombol hijau di layar phonselnya.


"Halo ! Assalamu alaikum !"sapa Tika.


"Walaikum salam !, Maaf Nona Tika, mengganggumu pagi pagi. Dari tadi saya sudah menelephon Yudhi tapi tidak di angkat" balas Jefry dari sebrang pulau.


"Ada apa ya ?, Yudhi lagi di lantai bawah !"tanya Tika.


Jefry menarik napasnya dan mengeluarkannya perlahan. Bingung bagaimana harus menyampaikannya kepada Tika, terlebih yang ingin ia bicarakan, untuk menyampaikan kabar adiknya.


"Halo Mr Jefry !"sapa Tika karna tidak ada suara.


"Maaf Nona Tika, aku harus mengatakannya padamu, tolong sampaikan kepada Yudhi. Normala barusan meninggal !"ucap Jefry, terdengar lirih dan pilu.


Duarrr ...!


Seperti di sambar petir, Tika terdiam . Tika mengalihkan kepalanya ke arah pintu, melihat Yudhi datang masuk ke kamar mereka membawa secangkir teh hangat. Bagaimana caranya Tika menyampaikannya ke pada Yudhi. Bagaimana keadaan anak anak Yudhi dan Normala ?.


"Innalillahi wainnailahi roji'un !"gumam Tika.


"Sayang ! ada apa ?, siapa yang menelephon ?"tanya Yudhi mendudukkan tubuhnya di samping Tika yang terbaring.


"Yud !"panggil Tika, Terbesit rasa bersalah di hati Tika, sudah menyuruh Yudhi mengabaikan Normala. Padahal awalnya dia sendirilah yang menyuruh Yudhi untuk menjalankan tugasnya sebagai suami kepada Normala.


"Apa sayang ?, siapa yang menelephon ?"tanya Yudhi lagi, melihat handphon masih menempel di telinga Tika.


"Normala.."ucap Tika dengan mata berkaca kaca.


Yudhi mengambil HP dari tangan Tika, melihat siapa yang menelephon, tapi panggilan telephon Jefry sudah terputus. Kemudian Yudhi menelusuri panggilan yang baru masuk, disana terdapat no Jefry.


"Normala barusan meninggal !"ucap Tika, air matanya tumpah.

__ADS_1


Yudhi langsung menajamkan pandangannya ke wajah Tika. Menurutnya Tika bicara ngaur, atau dia sendiri yang salah dengar.


"Ayo Yud !, kita berangkat sekarang !" Tika langsung duduk, dan turun dari atas tempat tidur. Langsung menggati pakaiannya, mengambil tas dan dompetnya dari dalam lemari.


Yudhi masih diam mematung di tempat duduknya, belum bisa mencerna apa yang di sampaikan Tika istri pertamanya. Melihat itu, Tika berjalan mendekati Yudhi, mengusap bahu Yudhi.


"Yud ! ayo kita berangkat, aku akan meminta tolong nanti sama Asha nanti untuk membawa Ayah, Ibu dan si kembar menyusul kita" ucap Tika.


"Yayang Beb !, kamu mau kemana ?" tanya Yudhi malah.


"Tabahkan hatimu Yud !" ucap Tika mengusap kepala Yudhi, sepertinya Yudhi masih shok mendengar kabar istri keduanya meninggal.


"Kamu bicara apa sih Yayang Beb ?" tanya Yudhi lagi, seperti orang linglung.


Tidak ingin bicara lagi, Tika mengambil tas dan Yudhi yang terletak di atas meja sofa kamar mereka, kemudian menarik Yudhi keluar kamar. Yudhi tidak perlu mengganti pakaian lagi, karna dari tadi ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya, sudah siap berangkat.


"Kamu kenapa Yayang Beb !, jangan jalan cepat cepat, kamu lagi hamil sayang, aku gak mau dede bayinya jadi sakit" ujar Yudhi, karna Tika terus menariknya berjalan cepat menuruni anak tangga kelantai bawah.


"Ibu ! Ayah !" teriak Tika memanggil kedua mertuanya berjalan ke arah dapur.


"Ada apa nak ?" jawab Ayah Yudhi, yang duduk di kursi meja makan sambil minum kopi, menemani istrinya menyiapkan sarapan.Tak biasanya menantu pertama mereka itu berteriak memanggil mereka.


"Iya ! ada apa nak Tika ?" sambung Ibunya Yudhi.


"Normala meninggal Bu !"ucap Yudhi, dari tadi tangannya tidak lepas memegang tangan Yudhi .


"Siapa yang meninggal Yayang Beb ?" tanya Yudhi lagi, belum ngeh dari tadi.


"Kamu benar benar mencintainya Yud !, sampai kamu tidak bisa mendengar Normala meninggal. Tapi sekarang aku tidak tau apakah kabar kematian Normala musibah atau anugrah bagiku. Ya ! mungkin aku senang akhirnya hanya aku yang memilikimu, tapi hati kecilku, tidak menginginkan Normala meninggal, aku tidak sejahat itu" batin Tika.


Ayah dan Ibu Yudhi saling pandang, melihat reaksi Yudhi yang seperti orang linglung.


"Ayah ! bisa minta tolong antar kami kepelabuhan ?" tanya Tika, kepada Ayah mertuanya.


"Bisa nak !, ayo Ayah antar !"Ayah Yudhi pun berdiri dari tempat duduknya.


"Ayah dan Ibu segera siap siap ya !, aku akan meminta tolong kepada Asha supaya membawa kalian menyusul" ucap Tika kepada kedua mertuanya.


"Iya nak !" balas Ibu tika, air matanya sudah mengalir. Normala memang belum lama ia kenal sebagai menantunya, mereka hanya mengenal empat hari saja. Normala adalah gadis yang baik, tentu ada rasa sedih di hati Ibunya Yudhi.


Yudhi dan Tika pun, segera berangkat di antar Ayah Yudhi ke pelabuhan, untuk menyembrang ke Negara berlambangkan Singa itu. Negara tempat Yudhi mengais rejeki, dan Negara kenangannya bersama Normala istri kedunya.


Kurang lebih dua jam perjalanan laut dan darat , kini mereka sudah sampai di salah satu Rumah Sakit di singapur. Yudhi, dari tadi masih diam, tidak bicara sama sekali, ia hanya berjalan mengikuti langkah Tika kemana membawanya. Tidak percaya, menurutnya Tika hanya mengaur. Di depan ruang mayat, disana sudah ada kedua orang tua Jefry, Almira dan Jefry, dan ada juga Rico dan Salma.


Mereka sama sama mengalihkan pandangan mereka kepada Tika dan Yudhi yang datang bersama sama. Yudhi tampak masih linglung, terlihat seperti orang bodoh, di tarik Tika berjalan.


"Apa yang terjadi ?, kenapa Normala bisa tiba tiba meninggal ?.bukankah dia selama ini baik baik saja ?"tanya Tika.

__ADS_1


"Kami menemukannya sudah tidak sadarkan diri di kamar mandi. sepertinya dia terjatuh dan pendarahan" jawab Jefry, air matanya mengalir kembali, merasa bersalah, untuk kedua kalinya ia merasa gagal menjaga adik kesayangannya itu.


"Sekarang Normalanya dimana ?" tanya Tika lagi. Ia tidak berani menanyakan bagaimana kabar anak anak dari suaminya itu, takut keluarga Jefry tersinggung.


"Di dalam, kami sengaja menunggu kalian !" jawab Jefry, berjalan ke arah pintu kamar mayat, kemudian membuka pintunya, melangkahkan kakinya masuk di ikuti Tika berjalan sambil menarik tangan Yudhi supaya mengikutinya.


Jefry membuka kain putih yang menutupi bagian kepala Normala, tampak wajahnya sangat pucat, sepertinya Normala kehabisan darah.


Yudhi yang melihatnya langsung ambuh, pingsan tak sadarkan diri,untung Tika menahannya, sehingga Yudhi tidak jatuh ke lantai.


"Yud !" seru Tika dan Jefry bersamaan.


Jefry pun langsung mengambil Yudhi dari Tika, Memapahnya keluar ruang mayat.


Tika mendekati jenazah Normala yang terbujur kaku di atas brankar. Mengusap ujung kepala Normala, lalu membungkukkan tubuhnya, mencium pipi Normala.


"Maafkan aku Normala !, seharusnya aku tidak egois . Seharusnya aku tidak menguasai Yudhi sendirian. Padahal kamu juga berhak atas Yudhi. Aku minta maaf !" Tangis Tika, menempelkan keningnya ke kening Normala.


Tika mengalihkan pandangannya ke arah pintu, dilihatnya Yudhi masuk lagi, ternya Yudhi sudah sadar . Yudhi langsung menghabur memeluk tubuh Normala, menangis menciumi seluruh wajah Normala tanpa ada yang terlewatkan. Cinta, cinta itu sudah tumbuh di hati seorang Yudhi untuk Normala.


"Sayang !, kenapa kamu pergi ?, bukankah hari ini kita akan membeli perlengkapan bayi bayi kita ?. Kita akan pergi jalan jalan seperti keinginanmu ?" tanya Yudhi di dalam tangisnya.


Tika berjalan ke sebelah sisi brankar dimana Yudhi berada. Tika mengusap bahu Yudhi, yang masih setia menempelkan wajahnya di wajah Normala.


"Ikhlaskan Yud !, biar arwahnya tenang, jangan bicara apa apa selain minta maaf dan memaafkannyan, itu akan menyiksanya !" ujar Tika, mengusap kepala Yudhi.


"Aku sudah banyak berdosa kepadanya Yayang Beb !. Aku tidak memenuhi kewajibanku sebagai suami" ucap ucap Yudhi . Tika terdiam, Yudhi melakukan itu karna keinginannya, Tika menelan air ludahnya bersusah payah.


"Maaf !"ucap Tika.


Yudhi langsung mengangkat tubuhnya , membaliknya ke arah Tika. Yudhi menggelengkan kepalanya, mengatakan itu bukan salahmu !. Yudhi memeluk Tika yang juga menangis.


"Aku juga minta maaf, karna sudah menghianatimu !.Sudah membagi cintaku dengan wanita lain, dengan Normala. Maukah kamu memaafkan kami berdua ?, kami sangat membutuhkan maafmu Yayang Beb !"ucap Yudhi.


Sungguh rumit, kisah cinta yang Yudhi alami. Yudhi tak menginginkan itu, tapi Tuhan sang pemilik hati memberi rasa cinta itu untuknya dan Normala. Sehingga melukai hati Tika istri pertamanya.


"Kalian tidak bersalah, cinta kalian ridho dari Allah. Kalian suami istri, wajar jika kalian saling mencintai. Tuhan menakdirkan, kamu adalah jodoh Normala. Lihatlah !, Tuhan punya rencana di luar rencana kita. Tuhan tidak ingin kamu menceraikan Normala, sehingga Tuhan mengambilnya lebih dulu"balas Normala .


Yudhi langsung mencium seluruh wajah Tika. Betapa beruntungnya Yudhi memiliki seorang istri berhati mulia seperti Tika. Di dalam hati Yudhi berdo'a, semoga Tuhan mengharamkan neraka untuk Tika istri solehanya.


"Aku sangat mencintaimu Yayang Beb !, maafkan aku karna sudah membagi cintaku kepada Normala . Kalian adalah istri istri solehaku, bidadari surgaku. Aku sangat beruntung memiliki kalian berdua" ucap Yudhi, memcium kening Tika lama, kemudian mencium kening jasad Normala.


"Yud ! bukankah perut Normala terlihat kempes ?, lantas bagaimana kabar anak kalian ?" tanya Tika .


Yudhi langsung mengalihkan pandangan ke arah perut istri keduanya itu. Lalu mengangkat tangannya meraba perut Normala yang terasa sudah kosong, tidak ada anak mereka di dalam lagi.


.

__ADS_1


.


__ADS_2