
Hampir tiga minggu Yudhi, Tika, si kembar dan kedua orang tuanya tinggal di Singapur. Hari ini mereka akan kembali ke Batam. Mereka juga akan membawa Nail dan Najib, pulang ke tanah air tercinta mereka, karna kondisi mereka sudah normal dan sehat.
"Bu ! Ayah ! kami bawa Nail dan Najib, nanti kami akan sering membawa mereka berkunjung kesini. Ayah dan Ibu seringlah berkunjung kerumah kami" pamit Yudhi kepada mertuanya, orang tua Normala.
"Iya Nak Yudhi !" tangis Ibunya Normala, teringat dengan mendiang putri mereka.
Yudhi memeluk Ibu mertuanya itu, untuk menenangkannya. Yudhi tidak mengatakan apa apa, karna tidak tau harus mengatakan apa lagi.
Yudhi pun melepas pelukannya dari Ibu mertuanya itu, kemudian menyalam Ayah mertuanya.
"Yah ! kami pamit, Ayah jaga kesehata !" pamit Yudhi lagi, kepada Ayah mertuanya yang mulai sakit sakitan itu.
"Iya Nak !" Tidak dapat membendung air matanya, tangis pria yang lanjut usia itu pun pecah seketika.
"Ayah !" Jefry mendekati Ayahnya, menuntunnya duduk ke sofa.
"Nak Tika !, kami titi cucu cucu kami, kami yakin, kamu adalah Ibu yang baik untuk mereka" ucap Ibunya Normala kepada Tika.
"Iya Bu ! mereka adalah anak anak suamiku. Mengurus mereka dan menyanyangi mereka adalah kewajibanku !" balas Tika.
"Trimakasih Nak !"
"sama sama Bu !, sering seringlah mengunjungi cucu kalian !"ucap Tika lagi ramah.
"Iya Nak !"
Tika pun memeluk wanita yang sudah tidak lagi muda itu. Mengusap usap punggungnya, supaya Ibu yang baru kehilangan putri itu berhenti menangis.
Sebelum keluar dari apartemen milik keluarga Jefry dan Normala itu, mereka semua pun bersalaman. Tika sudah menggendong Nail, Ibu Yudhi menggendong Najib. Ayah Yudhi, memegangi tangan Daanish dan Daniyal di tangan kiri dan kanannya, supaya kedua bocah super aktif itu tidak lari lari. Yudhi, bertugas menyeret dua koper besar yang berisi baju baju mereka dan perlengkapan Nail dan Najib.
.
.
Sepuluh Tahun kemudian
"Daanish ! Daniyal ! Nail ! Najib ! Yumna ! Yeser! Dhikra ! Yazib !, Ayo cepat sarapan ! nanti kalian terlambat sekolah !" teriak Tika memanggil satu persatu nama anaknya, sambil menyiapkan sarapan di meja makan.
"Apa gak habis suaranya Yayang Beb ?, setiap pagi teriak teriak. Mereka pasti keluar dari kamar mereka kalau mereka sudah selesai urusan mereka di kamar" ucap Yudhi, baru baru datang ke ruang makan. Berjalan mendekati istrinya yang sibuk mengisi piring dengan nasi goreng buatannya. Yudhi pun mengecup pipi Tika dengan mesra. Itu sudah menjadi kebiasaannya dari dulu.
"Mereka kalua gak di teriaki gak bakalan keluar dari dalam kamar Hubby !" balas Tika.
Yudhi memeluk Tika dari belakang, menjatuhkan dagunya ke bahu Tika.
"Kamu memang Ibu yang baik Yayang Beb !. Kamu wanita yang hebat, mampu mangurus anak delapan sekaligus. Aku bangga memiliki istri sepertimu. Trimakasih ya !sudah memberikan keturunan yang banyak untukku !" ucap Yudhi,mengecup pipi istrinya itu lagi.
"Mereka juga keturunanku Hubby" kesal Tika. Enak saja Yudhi, bilang anak anak mereka keturunannya sendiri, padahal Tika yang capek mengandung dan melahirkan.
"Keturunan kita Yayang Beb !"Yudhi memperbaiki kalimatnya. Mengeratkan pelukannya kepada Tika.
"Hubby ! gak kerja ?" tanya Tika, melihat Yudhi ternyata masih memakai baju rumahan.
"Hari ini aku minta ijin tak masuk, aku mau mengurus usaha kita" jawab Yudhi.
Sudah tiga Tahun ini, Yudhi membuka usaha restoran padang yang sudah memiliki sepuluh cabang. Sekarang juga Yudhi memiliki toko perhiasan di setiap Mall dan Flza di kota Batam. Di kampung juga Yudhi sudah memiliki tanah perkebunan kelapa yang luas. Dan di kampung istrinya, Yudhi juga membeli tanah seluas sepuluh hektar, sudah ditanami kopi robusta. Di batam juga Yudhi sudah memiliki seratus pintu rumah kontrakan.
Itu semua tentu buah dari sifat Yudhi yang ada pelit pelitnya selama ini. Yang sebenarnya Yudhi bukanlah pelit, iya hanya ingin menabung untuk masa depan anak anak mereka kelak. apa lagi dulu Yudhi baru bekerja, belum punya apa apa. Yudhi ingin memgumpul modal sulaya bisa membuka usaha sendiri. Dan sekarang, setelah dia berhasil menjadi orang sukses, dia sudah tidak pelit lagi. Malah sekarang Yudhi menyerahkan seluruh pendapatan dari usaha usaha mereka kepada Tika. Yudhi tidak mau tau, kemana Tika akan menggunakan duit itu. Yudhi percaya istrinya itu akan menggunakannya dengan baik.
"Apa Hubby gak berhenti aja kerja di perusahaan Mr Ze !. Sudah tiga belas Tahun kamu balak balik setiap hari Batam Singapur. Mending kita kembangin usaha kita sendiri" ucap Tika.
"Usaha kita 'kan ada yang ngurus Yayang Beb !" balas Yudhi melepas pelukan dari tubuh Tika, mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Apa kamu gak capek Hubby ?"
"Demi kamu dan anak anak kita, aku gak capek sayang !."
"Seberapa banyak pun harta itu, pasti rasanya akan kurang. Aku kasihan aja melihatmu Hubby, kamu pasti sangat capek. Harus kerja dan mengurusi usaha kita" Tika meletakkan tanganya di bahu Yudhi.
"Duduklah di sampingku !"ucap Yudhi menarik tangan Tika, supaya duduk di kursi yang tepat di sampingnya.
Tiba tiba suasana mendadak rame. Karna para titisan mereka sudah memasuki ruang makan.
"Papa ! Mama !, selamat pagi ! Assalamu alaikum !" Sapaan itu, akan setiap pagi beruntun kepada mereka berdua. Ke delapan kurcaci mereka itu pun duduk di kursi meja makan.
"Ayo cepat kalian sarapan !, biar kalian di antar sama Papa ke sekolah" suruh Tika, kepada ke delapan buah cinta mereka.
__ADS_1
"Papa gak kerja ?" tanya Daanish mulai menyendokkan nasi goreng ke mulutnya, menatap ke arah Yudhi. Di angguki ketujuh anggotanya.
Entah bagaimana Tika dan Yudhi mengasuh mereka. Kedelapan anak anak mereka sangat akur dan kompak, bahkan sangat jarang berantem.
"Papa hari ini cuti" jawab Yudhi.
Ke delapan bocah bocah nakal itu pun langsung mengembangkan senyum mereka. Kemudian saling berpandangan saling mengedipkan mata. Lalu sama sama melihat ke arah Yumna, anak cewek satu satunya.
"Pa ! nanti kita mandi ke pantai ya !" Yumna bergelayut manja di lengan Yudhi, yang kebetulan duduk di sampingnya.
Mereka semua sudah tau, kalau Yumna meminta sesuatu kepada Yudhi. Yudhi tidak akan bisa menolak putri satu satunya itu. Yudhi sangat menyayangi bocah perempuan yang sudah berusia sembilan Tahun itu.
Yudhi masih diam, pura pura tidak mendengar rayuan putri manjanya itu.
"Ayolah Pa !" bujuk Yumna.
"Ayo Pa ! Yazib juga mau mandi di laut , berenang sama ikan paus!" si bungsu yang sudah berusia 4 Tahun ikut membujuk Papa Yudhi, Tentu itu karna hasutan dari Najib abangnya. Buah cinta dan Yudhi yang paling kecil itu sekarang sudah sekolah paud.
"Dhikra juga pengen mandi di laut !" si bungsu no dua sepertinya juga sudah terkena hasutan dari Nail.
Yudhi dan Tika sama sama memperhatikan wajah anak anak mereka satu persatu, dengan memasang wajah tanpa ekspresi.
"Yumna ngambek nih ! Pa !, kalau Papa gak mau !." Yumna mengerucutkan bibirnya seperti paruh Donal Bebek.
"Ada syaratnya !" ucap Yudhi
"Apa Pa ?" kedelapan kurcaci kurcaci menyebalkan itu kompak bertanya, seperti di komando.
"Mulai besok, pulang sekolah, kalian harus membantu Mama beresin rumah" jawab Yudhi.
"Yazib 'kan masih kecil Pa !"ujar Si bontot.
"Dhikra juga masih kecil !" sambung si bontot no dua. Yang usianya terpaut satu Tahun setengah dengan Yazib.
"Dhikra dan Yazib, cukup beresin mainan kalian, kalau kalian selesai bermain. simpan mainan kalian di tempat semula kalian mengambilnya. Okeh !"ujar Yudhi.
Kedua bocah menggemaskan itu sama sama mengerucutkan bibir mereka.
"Daanish Daniyal, bantu Mama kalian menyapu halaman. Nail dan Najib, bantu Mama kalian menyapu rumah. Yumna, Membatu memasak. Yeser tugasnya menyiram Bunga Mama di sore hari. Kalau kalian setuju, besok kita jalan jalan ke Lagoi." ucap Yudhi lagi.
"Selamanya !" jelas Yudhi
Yudhi melakukan itu bukan tak mampu membayar art, ia ingin mendidik anaknya supaya tidak pemalas. Art di rumahnya memang masih ada, tapi tidak menginap di rumahnya lagi, karna kamar di rumah mereka sudah terisi semua. Art itu akan pulang ke rumahnya setelah pekerjaannya selesai. Art itu tugasnya hanya mencuci dan menyetrika baju, setelah itu menyapu dan ngepel di pagi hari saja. Karna banyaknya penghuni rumah, pasti membuat rumah mereka kotor lagi di sore hari.
"Yazib ! Dhikra ! cepat sayang, habiskan sarapannya. Kalian selalu menjadi tim yang di tertinggal kalau makan "ucap Yudhi kepada ke dua anak bontot mereka.
"Iya lah Pa !, tim yang selalu ketinggalan kalau makan. Mereka berdua giginya hilang di makan tikus pas lagi tidur" balas Tika, menyuapi Yazib dan Dhikra bergantian, karna tubuh mereka belum sampai untuk makan ke meja makan. Kedua anak bontot mereka itu giginya habis karna sering makan permen dan coklat. di kasih sama abang abang dan kakak mereka. Sering kali keduanya sakit gigi tengah malam, karna makan coklat diam diam sebelum tidur, dan tidak sikat gigi.
"Apa mereka masih sering makan permen dan coklat Yayany Beb ?" tanya Yudhi.
"Sepertinya iya Pa !, Daanish dan Daniyal sering diam diam mengajak mereka jajan coklat Pa !" jawab Tika.
Yudhi menajamkan pandangannya ke arah Si kembar sulung.
"Nail sama Najib juga sering ngajak meereka jajan coklat Pa!" Daanish melibatkan Kedua aduk kembarnya.
"Yumna juga Pa !" ujar Najib.
"Yeser juga Pa !"sambung Yumna.
"Liburannya di batalkan !"ujar Yudhi, berdiri dari tempat duduknya.
"Yah ! Papa.!!!." seru semua pasukannya itu kompak, termasuk Tika istrinya. Yudhi masih saja sering menyebalkan.
Yudhi tersenyum melenggang pergi dari ruang makan, menuju ke halaman rumah. Masuk ke dalam mobil mini bus, yang di belinya khusus untuk keluarga besarnya. Supaya mereka muat satu mobil jika bepergian.
Semua anak anak pun masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Tika yang tidak mau ketinggalan.
"Anak anak Papa !, semua sudah siap !, apa masih ada yang ketinggalan ?. Ayo Yayang Beb, absen anak anak kita." suruh Yudhi kepada istrinya Tika yang sudah duduk di sampingnya.
"Daanish !"
"Hadir !"
"Daniyal !"
__ADS_1
"Hadir !"
"Nail !"
"Hadir !"
"Najib !"
"Hadir !"
"Yumna !"
"Hadir Momy !"
Ke empat Abang dan Yeser langsung memutar bola mata malas. Semua orang manggil Mama, malah dia sendiri memanggail Tika Momy.
"Dhikra ! Yazib !"
"Ha..dir......!! Mama.....!" seru keduanya kencang, sampai semua penumpang menutup kedua telinga masing masing.
"Okeh ! Lets Go...!" Yudhi pun melajuka mini Busnya keluar dari halaman rumah mereka. Dengan hati yang bahagia tiada terkira.
Sepanjang perjalanan mengatar anak anak mereka ke sekolah, senyum Yudhi tidak surut. Yudhi mengangkat sebelah tangannya, mengusap kepala istri solehanya yang terbalut hijab itu. Meski cinta Yudhi sempat terbagi, tapi percayalah, cinta Yudhi tidak pernah berkurang sedikit pun kepada Tika. Wanita pertama yang menabuh genderang di dadanya, menggetarkan hatinya.
Tika mengalihkan pandangannya kepada Yudhi, terseyum manis. Manisnya masih sama saat Yudhi melihat pertama kali senyumannya.
"Trimakasih !" ucap Yudhi merekahkan seyumnya ke arah Tika, kemudian kembali pokus kedepan.
"Untuk ?" Tika mengerutkan keningnya.
"Cintamu !" jawab Yudhi.
Tika mengembangkan senyumnya." Trimakasih juga !"
"Untuk ?"
"Karna kamu sudah menjadi suami yang baik untukku !" jawab Tika.
"Aku sangat mencintaimu !"
" Aku juga sangat mencintaimu !"
"Papa....!!!!! stop...!!!" seru semua kurcaci mereka dari belakang.
Ciiiiiiittttttt.......!
Yudhi yang kaget langsung menepikan mini bus yang mengangkut keluarga besarnya itu, menginjak rem mendadak.
"Hubby !"
"Hahahahah.....!!!" tawa semua bocah bocah menyebalkan itu, meski tubuh mereka hampir jatuh dari kursi yang mereka duduki.
"Papa sama Mama pacaran sih !, sekolah kami sudah sampai. Malah Papa sama Papa cinta cintaan" ujar Nail.
"Kalian adalah buah cinta kami !" balas Yudhi.
"Emang cinta ada pohonnya Pa ?"tanyaYeser.
"Ada !"jawab Yudhi tersemyum penuh arti.
"Hubby !" tegur Tika.
"Apa kamu mau melihat pohon cinta kita Yayang Beb ?"bisik Yudhi ke telinga Tika.
"Anak anak ! ayo cepat turun, nanti kalian terlambat !" suruh Tika, menghiraukan ucapan suami tengilnya itu.
"Sepertinya pohon cinta kita, mengiginkan buah lagi" bisik Yudhi lagi.
"Satu Villa !"
"Tidak masalah !"
.
.
__ADS_1
#Cerita Yudhi Tamat