21 Hari Bersama Majikan Bajingan

21 Hari Bersama Majikan Bajingan
Cerita Yudhi 22


__ADS_3

"Dimana anak anak kami ?"tanya Yudhi setelah keluar dari ruang jenazah bersama Tika.


"Mereka kritis di ruang ICU" jawab Jefry menghela napasnya.


Yudhi mengusap wajahnya kasar, meresa bersalah karna sudah tidak menjaga istri dan anak anaknya dengan baik.


Kedua orang tua Jefry, hanya diam, tidak bisa berkata apa apa lagi, mereka hanya meratapi kesedihan mereka yang kehilangan putri kesayangan mereka. Putri yang sudah mengorbankan kehormatannya demi keselamatan orang tuanya. Sekarang Normala mengorbankan nyawanya untuk anak anaknya.


Yudhi melangkahkan kakinya berjalan mendekati kedua orang tua Normala yang duduk berdampingan di bangku tunggu. Yudhi menjatuhkan tubuhnya, menekuk lututnya ke lantai, di depan kedua mertuanya itu.


"Maaf !"ucap Yudhi," maaf sudah tidak menjaga putri kalian dengan baik !"ucap Yudhi, kembali air matanya luruh, Yudhi sangat merasa bersalah.


"Sudah takdirnya seperti itu !"ucap Ibunya Normala, matanya menatap kosong ke arah Yudhi . Apa yang bisa ia katakan, Ia juga tau bagaimana rumah tangga putri mereka. Yudhi tidak bisa menjadi suami yang bertanggung jawab seratus persen. Karna Yudhi memiliki istri lain yang harus ia jaga perasaannya.


"Tetap saja aku bersalah karna sudah tidak menjaganya Bu ! Ayah !" ucap Yudhi.


"Itu bukan sepenuhnya salahmu Nak !, kami juga bersalah karna tidak menjaganya dengan baik" ucap Ayah Normala, menepuk pelan bahu Yudhi." Berdirilah Nak !, jangan seperti itu" ucapnya lagi.


Yudhi pun berdiri sambil menghapus air matanya.


"Ikutlah denganku kalau kamu ingin melihat anak anak kalian !"ujar Jefry kepada Yudhi, langsung berjalan ke ruang ICU khusus bayi.


Yudhi mengalihkan pandangannya ke arah Tika, mengisyaratkan supaya Tika ikut dengannya. Bagaimana pun juga, Tika lah yang akan menjadi Ibu dari anak anaknya dengan Normala nanti.


Tika yang mengerti pun melangkahkan kakinya mendekati Yudhi.


"Kami pergi dulu !"pamit Tika kepada semua keluarga yang berkumpul di lorong rumah sakit itu. Kemudian melangkahkan kakinya, berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Yudhi, berjalan mengikuti Jefry dari belakang.


Setelah mendapat ijin dari perawat yang bertugas di ruang ICU bayi. Yudhi dan Tika pun masuk setelah memakai baju khusus dan sudah mensterilkan tangan mereka.


Yudhi melangkah pelan ke arah dua bayi yang berada di dalam incubator yang berdampingan. Melihat kedua bayi yang terlelap dalam mimpi itu bergantian. Lagi, Yudhi menitihkam air matanya, melihat kedua darah dagingnya yang lemah tak berdaya itu.

__ADS_1


"Maafkan Papa ! sudah tidak menjaga kalian dengan baik !" ucap Yudhi, menghapus air matanya.


Tika yang ikut sedih, dan kasihan melihat bayi yang tak berdosa itu, juga meneteskan air matanya. Mengingat dia yang akan menjadi Ibu dari kedua bayi itu, Naluri keibuna Tika langsung tumbuh, Tika merasa ia langsung menyayangi anak anak dari suaminya itu. Tika pun mengusap bahu Yudhi.


"Maaf !, ini semua karna ke egoisanku !"ucap Tika.


"Kamu gak bersalah Yayang Beb !, akulah yang bersalah !"balas Yudhi. Yudhi pun membalik badannya ke arah Tika, kemudian berbicara lagi."Maukah kamu menerima mereka sebagai anak anakmu ?, mereka pasti sangat membutuhkan kasih sayang seorang Ibu !."


"Mereka darah dangingmu Yud !, sudah pasti mereka juga anak anakku. Meski bukan aku yang melahirkan mereka. Aku mencintai Papa mereka, tentu aku juga mencintai mereka. Mereka anak anak yang tampan, mereka mirip denganmu !"balas Tika, mengulas sedikit senyumnya.


"Trimakasih !, aku yakin mereka juga pasti mencintaimu. Karna kamu adalah Ibu yang baik" ucap Yudhi juga tersenyum tipis.


Yudhi pun meminta tolong kepada perawat yang berjaga, untuk mengambil bayi bayi mereka dari dalam incubator, memberikannya kepadanya untuk di azhankan. Yudhi pun mengazhankan kedua bayi bayi tampan itu bergantian, tidak lupa Yudhi mencium kening dan pipinya keduan buah cintanya dengan Normala itu, lalu mengembalikannya kepada perawat yang khusus menjaga anak anaknya.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk mereka ?" tanya Tika. Ia juga mencium bayi bayi tak berdosa itu bergantian. Wangi !, bau khas bayi.


"Sudah !"jawab Yudhi.


"Siapa ?"


Jam besuk sudah habis, Yudhi dan Tika pun keluar dari ruang ICU itu. Mereka kembali ke depan ruangan Zenajah, disana sudah ada kedua orang tua Yudhi dan si kembar, beserta anggota keluarga El Mahfudz.


Mr Ze langsung memeluk Yudhi, mengucapkan belasungkawa."Yang sabar Yud !"ucap Mr Ze.


"Iya Kakak Ipar !"balas Yudhi, kembali menangis lagi.


Ashalina juga memeluk Tika, yang juga menangis."Ikhlaskan semuanya ya !" ucap Ashalina sahabat Tika. Tika pun menganggukkan kepalanya di dalam pelukan Ashalina.


Ashalina juga memeluk Yudhi, sahabatnya yang paling setia, yang ternyata sepupunya."Yang sabar ya Yud !, ikhlaskan semuanya !"ucap Ashalina menangis.


"Iya Sha !"balas Yudhi, menangis di dalam pelukan Ashalina.

__ADS_1


Siang hari, Zenajah Normala sudah selesai di makamkan. Mereka semua pun pulang ke apartemen orang tua Jefry. Nanti malam mereka akan mengadakan acara tahlilan untuk Almarhum istri kedua Yudhi. Keluarga Rico, Mr Ze,Jerfy dan Almira, tentunya keluarga Yudhi dan Tika, dan juga kerabat kerabat terdekat mereka, semua berkumpul di apartemen orang tua Jefry. Semua nampak sedih dengan kehilangan sosok Normala, gadis yang ceria dan jahil. Karna banyaknya tamu, mereka semua pun duduk lesehan di lantai dengan beralaskan tikar.


"Yudhi ! Tika ! kalian istirahatlah ke kamar , si kembar pasti sudah capek !, kamu juga lagi hamil, kamu juga pasti capek " ujar Almira, melihat Tika sepertinya lelah dan mengantuk."Kalian bisa menempati kamar Normala, saya tadi sudah menyuruh art untuk membersihkanya" ujar Almira lagi, sebagai menantu di rumah itu."Ayok !" ajaknya lagi, mengiring si kembar berjalan masuk ke kamar milik Normala.


"Ayo Yayang Beb !, kamu pasti lelah !"ajak Yudhi, tau istrinya pasti capek dari pagi, karna kurang istirahat.Kemudian membantu Tika berdiri, menuntunnya berjalan masuk ke kamar Normala. Untuk pertama kalinya Yudhi masuk ke kamar istri keduanya itu.


"Apa tidak apa apa ?"tanya Tika kepada Almira setelah berada di dalam kamar.


"Tak apa !,Ibu mertua yang menyuruhnya !" jawab Almira tersenyum ramah, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


"Trimakasih !"balas Tika, kemudian memutar pandangannya keseluruh ruangan kamar Normala. Kamar yang cukup luas dan mewah, tentu itu adalah hasil jerih payah Jefry, memberikan keluarganya hunian yang nyaman.Di dinding kamar ada terlihat photo photo Normala mulai dari kecil hingga dewasa.


"Yayang Beb ! ayo istirahatlah !" suruh Yudhi, karna melihat Tika masih berdiri , Yudhi pununtun Tika berjalan ke arah ranjang king size milik Normala."Daanish ! Daniyal !, ayo istirahat sama Mama sayang !" panggil Yudhi kepada anak kembarnya yang mulai aktif ingin mengobrak abrik kamar Mama kedua mereka itu.


Kedua bocah tengil itu diam, seolah tak mendengar Yudhi memanggil mereka. Melihat kedua titisannya itu mulai memanjat manjat dan melompat lompat di atas sofa. Yudhi pun segera menangkap bocah bocah super aktif itu, membawanya ke kasur, dan menidurkan tubuh mereka dengan paksa, karna sudah waktunya tidur siang.


"Yepas Papa !, yepas Papa !"ucap Daanish dan Daniyal berbarangan, meronta ronta di pelukan Yudhi.


"Yayang Beb !, pengang satu, supaya gak kabur !"suruh Yudhi kepada Tika yang sudah berbaring.


Tika pun langsung meraih tubuh Daanish , membaringkannya di sampingnya, memgunci pergerakan Daanish dengan tangan dan kakinya. Begitu juga dengan Yudhi, ia pun mengunci pegerakan Daniyal.


"Ayo tidur siang dulu !, nanti setelah bangun baru main lagi !"ucap Tika, mencium pipi Daanish lalu mengusap usap kepalanya.


"Anis mau ain !" ucap Daanish berusaha melepaskan diri.


"Kalau kalian gak mau tidur !, nanti Mama gak kasih kalian jajan" ancam Tika. Kedua bocah menggemaskan itu langsung diam tidak bergerak, ancaman paling mujarap.


Yudhi hanya diam termenung, dari tatapan matanya yang tak berkedip, sambil tangannya mengusap usap punggung Daniyal yang sudah hampir tertidur. Tika tau pikiran suaminya itu sangat jauh, pastinya mengingat kenangannya dengan Normala, dan mungkin memikirkan anak kembarnya yang lagi kritis di rumah sakit.


Tika yang melihatnya, juga hanya diam saja. Ia pun mengalihkan mencoba memejamkan matanya mencoba untuk tidur, sambil tangannya juga mengusap usap punggung Daanish. Tak lama kemudian Tika dan si kembar pun terlelap. Melihat itu, Yudhi pun mencium kening si kembar bergantian, dan juga mencium kening Tika, lalu turun dari atad tempat tidur, berjalan keluar dari dalam kamar.

__ADS_1


Papa Yudhi lagi bersedih 😭😭😭



__ADS_2