21 Hari Bersama Majikan Bajingan

21 Hari Bersama Majikan Bajingan
Cerita Yudhi 26


__ADS_3

Tok tok tok !


"Yud !"


"Sebentar Yayang Beb !" Yudhi langsung bangun dan turun dari atas tempat tidur. Malam ini mereka menginap di apartemen orang tua Jefry, atas permintaan orang tua Jefry. Yudhi berjalan ke arah pintu, dan langsung membukanya.


"Ada apa Pakcik ?"


"Ayo ke Rumah sakit sekarang, Kedua anakmu sudah sadar, barusan pihak Rumah Sakit menelephonku. Mereka sudah melewati masa kritis." jawab Jefry, tampak wajahnya berbinar.


"Tunggu sebentar !" Yudhi bergegas kembali masuk ke dalam kamar, mengganti pakaiannya, mengambil HP dan dompet, kemudian mendekati Tika yang terbaring di atas tempat tidur.


"Yayang Beb, aku ke Rumah Sakit dulu, Nail dan Najib sudah sadar, mereka sudah melewati masa kritis mereka sayang !. Gak apa apa 'kan aku tinggal dulu ?." Wajah Yudhi nampak berbinar, meski matanya terlihat berkaca kaca.


Tika menganggugkan kepalanya seraya tersenyum. Ia pun senang mendengar kabar baik itu. Tika juga sebenarnya ingin ikut ke rumah sakit untuk melihat anak sambungnya itu, tapi karna tidak ada yang menjaga su kembar, ia pun mengurungkan niatnya.


"Kalau begitu..aku pergi dulu !" Yudhi mencium kening Tika, sambil tangannya mengusap perutnya, lalu pergi.


.


.


Yudhi dan Jefry, masuk ke ruang ICU khusus bayi setelah mendapat ijin dari perawat yang berjaga. Mereka sama sama melangkahkan kaki ke arah dua bayi yang matanya terbuka.


Yudhi mengembangkan senyumnya, melihat kedua anak kembarnya, berusaha memasukkan jempol tangannya ke mulut. Sepertinya krdua anaknya itu lapar atau haus ingin menyusu. Mengingat Ibu dari dua anaknya itu sudah meninggal, wajah Yudhi berubah mendung. Anaknya itu tidak akan mendapatkan air susu Ibunya.


"Sus ! boleh saya menggendong mereka ?"tanya Yudhi. Ia ingin sekali mendekap kedua anaknya itu ke dalam pelukannya.


"Boleh Pak !"


Perawat yang khusus menjaga anak anaknya itu, pun mengambil bayi bayi itu dari dalam incubator. Memberikannya kepada Yudhi dan Jefry.


Yudhi yang sudah berpengalam, ia menggendongnya dengan enteng. Yudhi mendekap anak ke tiganya itu ke dalam pelukannya. Mencium kening dan pipi bayi yang tampang kurus itu. Dengan mata yang berkaca kaca siap tumpah.


"Anak Papa ! cepat sehat ya !, biar kita pulang ke rumah"ucap Yudhi, setelah melepas ciumannya.


"Sus ! susunya mana ?" tanya Yudhi kepada perawat yang berdiri di sampingnya. Melihat anaknya terus memain mainkan lidahnya, sesekali mengeluarkannya.


"Sebentar Pak !"perawat itu langsung mengambil dodot yang berisi susu khusus bayi, memberikannya kepada Yudhi.


Yudhi menerimanya, perlahan memasukkannya ke mulut Nail.


"Anak Papa haus ya !"ucap Yudhi lembut. Melihat Nail langsung menyedot ujung dodot rakus.


"Yud ! ini dia gak mau diam !" Jefry tidak tau caranya mendiamkan bayi yang baru lahir. Selama ini dia hanya tau membuat anak anak menangis.


"Yud ! apa sudah ada nama keponakan keponakanku ini ?"tanya Jefry, ia juga memberikan Bayi yang di gendongannya itu minum susu.


"Sudah !" jawab Yudhi tanpa menoleh kepada Jefry.


"siapa ?"


"Yang bersamamu si adik, namanya Najib. Ini si Abang namanya Nail !"jawab Yudhi.

__ADS_1


"Kok kamu tau ? Mana abang mana adik ?" heran Jefry. Bukankah Yudhi baru kedua kali ini melihat anaknya.


"Mereka anak anakku !, darah dagingku !, tentu aku tau membedakan mana mana si abang mana si adik"jawab Yudhi.


"Wajah mereka terlihat sama, bagaimana bisa kamu membedakan mereka ?" tanya Jefry.


"Sekilas raut wajah mereka berbeda, Yang bersamamu lebih ke Ibunya, yang ini lebih ke raut wajahku !"jawab Yudhi.


Jefry langsung memperhatikan wajah kedua keponakannya itu bergantian. Benar yang di katakan Yudhi. Meski wajah kedua bayi itu lebih dominan mirip dengan Yudhi, tapi raut wajah keduanya berbeda, yang di gendongannya sekilas ada mirip Normala.


"Yud !" panggil Jefry


Yudhi langsung mengalihkan tatapannya ke arah Jefry.


"Biarkan kami yang merawat mereka !" ucap Jefry.


"Jika mereka anak anakmu ! apa kamu mau menyerahkannya kepada orang lain, meski pun itu kepada keluarga ?" tanya Yudhi, menajamkan pandangannya kepada Jefry. Jefry terdiam, dan memukirkan ucapan Yudhi.


"Meski aku miskin Pakcik !, Anak anakku harus bersamaku !. Kecuali aku sudah tidak sanggup lagi memberi mereka makan. Mungkin itu pun akan dengan berat hati" ucap Yudhi lagi.


"Bukankah kamu bilang, kita sudah saudara ?. Kalian bebas mengunjungi mereka, nanti kalau mereka berdua sudah besar, kalian bisa mengajak mereka tidur di rumah kalian. Selagi aku bekerja di Singapur ini, pasti aku akan sering membawa meraka kesini. Aku tidak akan menjauhkan mereka dari kalian. Kalian juga keluarga mereka" lanjut Yudhi.


Jefry menghela napasnya, mencoba mengerti dengan perasaan Papa muda yang sudah memiliki empat jagoan itu. Mereka pun bertukaran menggendong Nail dan Najib.


"Apa nanti istrimu tidak kewalahan mengurus mereka ?, belum lagi mengurus Daanish dan Daniyal. Di tambah istrimu lagi hamil"tanya Jefry lagi. Itu yang Jefry pikirkan sehingga ia meminta untuk merawat kedua keponakannya itu.


"Pasti repot, namanya juga mengurus anak kecil. Aku akan menyewa baby sister untuk membantu istriku" jawab Yudhi.


"Apa istrimu mau menerima mereka ?, bukankah istrimu tidak menerima pernikahanmu dengan Normala ?"tanya Jefry lagi.


Jefry menganggukkan kepalanya, setuju dengan apa yang dikatakan Yudhi. Kalau Tika adalah wanita yang baik berhati sabar. Betapa beruntungnya Yudhi mendapatkan istri seperti Tika. pikir Jefry


.


.


"Baby ! kamu kenapa ? dari tadi bibirnya manyun manyun gitu ?"tanya Mr Ze, melihat istrinya dari tadi bibirnya kaya paruh donal bebek sambil mengeser geser kayar phonsel mahalnya. Mr Ze pun mendudukkan tubuhnya di samping Ashalina yang duduk di sofa ruang tamu apartemen bersejarah mereka.


"Kakak ! pengen hamil !"rengek Ashalian manja.


Mr Ze menghembuskan napasnya kasar, ia juga bingung, bagaimana caranya supaya istrinya itu hamil lagi.


"Sabar Baby !" hanya kata itu trus yang bisa di ucapkan Mr Ze.


"Salma anaknya sudah dua, Tika sudah mau tiga, ke lima anak Normala. Kita masih satu aja, itu pun menyebalkan" ucap Ashalina memanyunkan bibirnya.


Mr Ze menarik Ashalina ke dalam pelukannya, mencium ujung kepala istrinya yang merajuk karna gak hamil hamil lagi.


"Di luar sana banyak orang yang menikah belum dan bahkan tidak di karuniai anak sama sekali. Kita kamu seharusnya sangat bersyukur, tidak termasuk dalam gololongan orang orang itu. Kita sudah memiliki Zahra, Kita harus bersyukur besar untuk itu. Kalau Tuhan ingin berkehendak, Saat ini juga kamu bisa hamil. Bukankah kamu bundanya Fais ?, berarti kita juga sudah memiliki dua anak. Lain kamu gak menganggap Fais anak kita."ucap Mr Ze.


Ashalina mengeratkan pelukannya kepada Mr Ze.


"Maaf !"ucapnya.

__ADS_1


"Memiliki kamu dan Zahra, aku sudah sangat bahagia sayang. Kamu tau sendiri bagaimana hidupku dulu, yang berada di dalam kegelapan. Aku sangat bersyurkur Tuhan mempertemukan kita. Tuhan mengirimmu ke sini, untuk membawaku kembali ke jalannya. Maaf ! dulu aku sempat memperlakukanmu dengan tidak baik."ucap Mr Ze lagi, wajahnya tampak mendung, matanya berkaca kaca. Mr Ze pun mengecup kening Ashalina lama."Aku sangat menyayangimu Baby !."


"Kakak..!"ucap Ashaliana lembut, menghapus air mata Mr Ze yang sempat menetes. Sering kali Mr Ze menangis jika mengingat dosa dosanya dulu. Ashalina mencium kening Mr Ze lama, berharap bisa menyalurkan ketenangan kepada suaminya itu.


"Aku juga sangat menyayangi kakak !"ucap Ashalina setelah melepas ciumannya.


"Ayah..!" seru Zahra berlari dan langsung naik ke pangkuan Mr Ze. Melihat Ayahnya baru pulang kerja.


Mr Ze langsung menangkap tubuh putrinya itu."Putri Papa yang gendut ini belum mandi ?, baunya..!"Mr Ze mencium kedua pipi Zahra kecil dengan gemas. Meski bau acem karna belum mandi sore.


"Hehehe..." nyegir Zahra, menampakkan gigi gigi kecilnya, matanya terlihat sampai terpejam.


"Upiak..!, ayo mandi sama Nenek !"panggil Momy Jeni, keluar dari kamarnya.


"Sana mandi sama Nenek !, Bundo lagi cembelut !, Ayah harus mengglitiknya, biar cembelutnya ilang !"ucap Mr Ze kepada Zahra.


"Bundo cuka cembelut" ejek Zahra kepada Ashalina, tersenyum kepada Mr Ze.


"Nanti malam Zahra tidur sama Nenek, Bundo sama Ayah !"balas Ashalina.


Kedua wanita beda usia itu, jarang sekali akur jika di depan Mr Ze. Padahal kalau Mr Ze tidak ada, entah kenapa mereka bisa akur dan akrab.


"Ayah cama Zahra tidurna !, Bundo cendiri !"balas Zahra.


"Ayah pasti gak mau ! uwek !"Ashalina menjulurkan lidahnya.


"Ayah ! Bundo nakal ! pukul Bundo" adu Zahra.


"Kalian sama sama nakal, bikin kepala Ayah pusing !"ucap Mr Ze.


"Papa nakal !"ucap Zahra, karna Mr Ze tidak membelanya.


"Uwek !" Ashalian memanas manasi Zahra.


"Papa nakal, Bundo nakal" Marah Zahra kecil, menarik rambut Ashalina dan Mr Ze sekuat tenaganya.


"Sakit Zahra !"keluh Ashalina, berusaha menarik tangan Zahra kecil dari rambutnya.


"Iya ! Bundo nakal !" Mr Ze cari aman supaya putri kecilnya itu melepas rambutnya. Putri kecilnya itu, meski wajahnya mirip dengannya, tapi sifatnya masih turunan Ashalina, dari kecil sudah terlihat barbar. Mr Ze tidak lupa itu, dulu Ashalina waktu kecil, kalau lagi marah dan kesal kepadanya, selalu menarik rambutnya.


"Kakak !"Ashalina cemburu, Mr Ze berpihak kepada Zahra.


"Ayo kita glitik Bundo ! biar cebelutnya hilang !"Seru Mr Ze, dan tangannya langsung menglitik pinggang Ashalina, di ikuti Zahra. Mereka sama sama mengglitik Ashalina, membuat Ashalina kegelian setengah mati.


"Ampun ! ampun ! ampun !"ucap Ashalina, berusaha menyingkirkan tangan Mr Ze dan Zahra.


"Makanya Bundo jangan cuka cembelut !" ucap Zahra, berbicara sampai dengan bibir mengerucut, bibirnya basah, karna ada air liurnya yang muncret.


"Ampun ! iya ! Bundo gak cembelut lagi !"balas Ashalina.


Momy Jeni, yang memperhatikan mereka, geleng geleng kepala sembari tersenyum.


.

__ADS_1


.


__ADS_2