
"Papa juga ingin dipakein baju sama Mama !"
Aish ! bocah tua itu , tidak akan pernah mau ketinggalan dengan kedua anaknya . Yudhi juga ingin dipakein baju oleh Tika istrinya .
Tika menghela napasnya , perasaan saat dia hamil , ia hanya mengandung dua bayi kembar . Kenapa setelah ia melahirkan , ia memiliki tiga bayi ? .
"Daanish ! Daniyal ! , kalian main di ruang tamu dulu ya !. Mama mau membereskan Papa kalian dulu !" ucap Tika kepada kedua anak mereka , menuntun kedua bocah itu keluar kamar .
"Iya Mama !" jawab kedua bocah itu dengan manis .
Tika pun menutup pintu kamarnya dan menguncinya . Dan tiba tiba , tubuhnya terasa melayang .
"Hubby !" pekik Tika , ia kaget tiba tiba Yudhi mengangkat tubuhnya dari belakang .
"Sekarang giliranku yang memarahimu , aku akan menghukummu karna sudah melakukan kesalahan" ucap Yudhi , menggendong Tika membawanya ke arah ranjang . Menjatuhkan Tika ke atas tempat tidur .
"Kesalahan apa ?" Tika bingung kesalahan apa yang sudah dilakukannya .
Yudhi tidak menjawab , ia langsung menindih tubuh , yang otaknya masih berpikir melakukan kesalahan apa , Tika pikir ia tidak ada melakukan kesalahan apapun .
"Hubby !" Tika meronta melepaskan diri , Tika sudah paham kebiasaan Yudhi . Akan memberikannya hukuman yang nikmat jika ia melakukan sebuah kesalahan .
Setiap ia melakukan kesalahan , Yudhi tidak akan marah dengan mengucapkan kata kata yang bisa menyakiti hatinya . Yudhi akan selalu memarahinya dengan memberikannya cinta , setelah itu akan menegur kesalahannya dengan ucapan yang lembut .
Yudhi mengecup kening Tika lama , setelah ia puas memarahi istrinya dengan memberikannya hukuman yang membuat tubuh istrinya lemah tak berdaya .
"Apa kamu belum sadar apa kesalahanmu hari ini sayang ?" tanya Yudhi lembut kepada Tika , lalu mengecup bibir Tika yang ceberut.
"Hm..?" Yudhi mengecup bibir Tika lagi , karna Tika tidak menjawab .
Tika menggelengkan kepalanya , karna ia memang tidak tau melakukan kesalahan apa hari ini .
"Kenapa kamu gak memberi anak kita makan tadi siang sebelum kalian pergi jalan jalan ?" tanya Yudhi lagi ." Hm..?" di kecup kecupnya pipi Tika istrinya yang semakin hari semakin kelihatan tembem . Semenjak melahirkan anak kembar mereka , tubuh istrinya itu mengembang , berat badannya naik sepuluh kiloan , tidak mau turun lagi .
__ADS_1
Tika baru sadar dengan kesalahannya , ia pun menajamkan tatapannya ke wajah Yudhi yang masih merangkak di atas tubuhnya .
"Jangan di ulangi lagi" ucap Yudhi , lagi lagi Yudhi mengecup bibirnya . Tika menganggukkan kepalanya . Yudhi mengembangkan senyum manisnya , kemudian mencium kening wanita yang terpaut usianya empat Tahun di atasnya itu .
Yudhi menjatuhkan tubuhnya di samping Tika setelah ia melepas ciumannya , menarik Tika dalam pelukannya setelah menarik selimut menutupi tubuh polos mereka, lalu mengusap usap kepala Tika dengan sayang .
"Saat aku bekerja tidak ada di rumah , aku hanya minta satu hal sama kamu . Untuk mengurus anak kita dengan baik, menjaga mereka . terutama jangan lupa memberi mereka makan . Aku tidak melarangmu untuk pergi jalan jalan , menghabiskan waktu dengan teman temanmu , tapi jangan abaikan anak kita . Mereka masih sangat kecil kecil , butuh perhatian dan pengawasan yang ekstra . Menitipkan mereka sesekali kepadaku saat aku bekerja , tidak masalah . Tapi beri mereka makan dulu , kadang aku gak sempat harus memberi mereka makan , kadang kerjaanku sangat banyak." jelas Yudhi , memberitahu istrinya .
"Maaf !" ucap Tika , menatap Yudhi dengan tatapan sendu .
"Tidak apa apa !"
Tika memeluk Yudhi dengan erat, membenamkan kepalanya di dada bidak Yudhi .
Yudhi mengecup ujung kepala tika dengan sayang . Mengusap punggung istrinya yang merasa bersalah .
Inilah yang Tika sukai dari Yudhi , suami brondongnya . Semenjak mereka menikah , Yudhi belum pernah marah marah dengan kasar membetaknya , atau mengeluarkan kata kata yang pedas . Meski usia Yudhi masih muda , tapi cara Yudhi menyelesaikan masalah , sangat dewasa menurut Tika .
Jika ia melakukan kesalahan , Yudhi akan memarahinya dengan cara yang berbeda . Yudhi akan memarahinya dengan memberikannya cinta . Setelah itu , barulah Yudhi menasehatinya , menegur kesalahannya .
Istri adalah tulang rusuk suami . Jika di paksa di luruskan , maka akan bisa patah . Makanya Yudhi punya cara sendiri untuk meluruskannya . Meluruskannya perlahan , mengelusnya dengan kasih sayang .
Inilah sifat Yudhi yang orang tidak tau dibalik sifat ketengilannya . Yudhi adalah sosok yang penyayang , sosok yang lembut penuh kasih sayang kepada istrinya . Itu hanya seorang Tika yang tau .
"Yuk mandi !" ajak Yudhi , lagi lagi Yudhi mencium kening Tika .
"Gendong !" manja Tika .
Ternyata bukan usia yang membuat seseorang dewasa . Dan usia juga tidak membatasi seseorang ingin di manja . Siapa pun orangnya , berapa pun usia seseorang itu , akan sangat butuh dimanja . Dan akan bersifat manja kepada orang yang memanjakannya . Mungkin sampai menua nanti , seorang Tika akan manja dan akan selalu butuh dimanja seorang Yudhi Tama suami tercintanya .
"Manjanya istriku !" Yudhi menarik hidung Tika gemas . Tika mengerucutkan bibirnya .
Kembali lagi Yudhi mengecup bibir Tika seolah tidak ada bosannya . Ya ! Yudhi tidak akan ada bosannya memberikan kecupan kepada isyrinya . Pun mendudukkan tubuhnya , mengambil handuknya tadi yang terletak di lantai . Lalu melilitkannya ketubuhnya . Kemudian memngangkat tubuh istrinya yang sudah dibalutnya dengan selimut . menggendongnya , membawanya ke kamar mandi . Tentu untuk membersihkan diri .
__ADS_1
Dibalik sifat Yudhi yang selalu bisa mengendalikan amarah dan emosi , sosok yang penyanyang dan dewasa . Bukan berarti Yudhi adalah sosok yang sempurna tidak memiliki kekurangan atau tidak pernah melakukan kesalahan . Yang pasti Yudhi Tama sering melakukan kesalahan , sehingga membuat istrinya sering marah , mengomel dan merajuk .
Di balik dinding kamar yang Yudhi dan Tika tempati . Sepasang suami istri yang tidak banyak bicara itu , berbeda lagi ceritanya dalam menjalani bahtra rumah tangga mereka .
Salma keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan handuk melilit di dadanya . Memiliki bayi yang masih berusia enam bulan , ia dan suaminya tidak bisa melakukan mandi mandi bersama . Mereka harus mandi secara bergantian .
"Dek !"
Rico memeluk Salma dari belakang , menjatuhkan dagunya di bahu Salma , sesekali mengecupnya .
"Abang !" tegur Salma , karna darahnya berdesir dengan perlakuan Rico mengecupi bahunya yang terekspos .
"Nanti malam kita bercinta ya !" Ciuman Rico sudah naik ketelinga Salma , membuat bulu kuduk Salma meremang .
"Sekarang aja Bang !"tersenyum , Salma membuat suaranya seperti mendesah , membalas perbuatan suaminya yang menggodanya.
"Mesum !" Rico tertawa cekikikan dengan tingkah istri kecilnya itu yang pura pura tergoda . Dan memang kenyataannya tergoda dengan kenakalan lidahnya . Begitu juga dengan Salma ikut tertawa , terasa lucu dengan tingkahnya .
"Dek ! kita tambah anak lagi ya !"
Salma menghentikan tawanya , memutar tubuhnya ke arah Rico , menajamkan tatapannya ke arah netra milik Rico yang menatapnya dengan tajam .
"Abang yakin ?" tanya Salma , termasuk pertanyaan itu untuk dirinya sendiri , mengingat putri mereka masih berusia enam Bulan .
Rico menganggukkan kepalanya ," Abang ingin rumah kita menjadi rame sampai tua nanti , Abang ingin memiliki banyak anak .
Lama Salma terdiam memikirkan permintaan suaminya . Kembali lagi , Salma yang takut akan dosa menolak permintaan suaminya . Kodrat sebagai istri , harus siap mengandung dan melahirkan anak untuk suami .
"Maaf ! jika permintaan Abang berat untukmu , Abang tau mengandung dan melahirkan itu tidak mudah . Abang janji tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendiri , maukan kita menambah anak ?"
Sifat Rico yang keras kepala itu tidak akan hilang begitu saja . Apa yang dia inginkan , ia akan bertekat untuk mendapatkannya .
"Tapi Bang.."
__ADS_1
Salma tidak melanjutkan kalimatnya , karna mendengar putri mereka menangis di atas tempat tidurnya .