21 Hari Bersama Majikan Bajingan

21 Hari Bersama Majikan Bajingan
Bonus 5


__ADS_3

Visual



Rico



Salma


"Kenapa putri umi menangis ?" Salma menggendong putri mereka dari dalam ranjang bayi . Menggoyang goyangkan tubuhnya , sambil tangannya mengusap usap punggung Shahia kecil." Gak mau punya adik ya ?" tanya Salma kepada putri mereka yang belum tau apa apa itu . Mencium kedua pipi Shahia bergantian .


"Bukan Umi ! , Shahia malah sangat ingin punya adik Umi !" Rico yang menjawab , berbicara dengan menirukan suara anak kecil . Memeluk Salma dari belakang , kemudian mengecup pipi cabi Salma .


"Abang ! Salma belum siap jika harus hamil dan melahirkan lagi !" ucap Salma memberenggut . Kesal dengan Rico ,karna ingin menambah anak lagi , padahal kedua anak mereka masih kecil kecil .


"Tapi Abang sangat menginginkan sepuluh malaikat kecil dari rahimmu sayang !." Rico mengecup pipi sebelahnya lagi .


"Tapi Bang.. !"


"Tidak ada tapi tapian sayang !" potong Rico langsung . Membuat Salma diam , mata Salma langsung berkaca kaca . Sakit melahirkan belum hilang dari ingatannya , Rico suaminya sudah memintanya hamil lagi .


Salma melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur mereka . Meletakkan putrinya di atas ranjang . kemudian berbaring di samping Shahia kecil , untuk memberinya asi .


"Dek !" panggil Rico , menyusul Salma ke tempat tidur .


"Apa Bang ?" Salma menjawab dengan suara datar tanpa melihat Rico .


"Adek lagi marah ?" tanya Rico , membaringkan tubuhnya di belakang Salma .


"Kenapa Salma marah Bang ?" tanya balik Salma.


"Karna permintaan Abang" jawab Rico .


"Salma gak marah Bang !" balas Salma


"Tapi abang nampak sepertinya Dek Salma marah" ucap Rico . Memeluk Salma dari belakang . Salma tidak menjawab , dia memilih diam .


"Dek !"


"Apa sih Bang ?" kesal Salma .

__ADS_1


"Mau ya Dek ! kita nambah anak lagi ?" Rico tidak akan menyerah sebelum yang ia inginkan tercapai .


"Terserah Abang saja !" pasrah Salma , meski dengan berat hati . Salma menghapus air matanya yang sempat mengalir dari sudut matanya .


Bukan ia tidak mau jika mereka harus menambah anak lagi . Tapi Salma ingin Yusuf dan Shahia besar dulu . Kasihan kedua anak mereka yang masih bayi dan balita sudah harus memiliki adik , pasti mereka akan kurang perhatian langsung darinya , itu salah satu yang di pikirkan Salma . Belum lagi Salma akan kewalahan mengurus anak kecil tiga sekaligus , memikirkan itu Salma tidak sanggup.


"Dek ! kenapa menangis ?" tanya Rico , mendengar Salma terisak . Rico mengangkat kepalanya menyangganya pakai tangan ,supaya ia bisa melihat wajah Salma yang membelakanginya .


"Abang kenapa begitu egois ?" Salma berbicara dengan bibir yang bergetar , lagi Salma menepis cairan bening dari sudut matanya." Dari dulu Abang selalu memaksakan keinginan Abang terhadap Salma . Salma harus hidup sesuai keinginan Abang , tanpa pernah Abang bertanya apa , seperti apa dan bagaimana keinginanku." keluh kesah yang terpendam di hati Salma , akhirnya meluncur dari bibirnya .


"Bukan Salma gak mau menambah anak lagi .Tapi Salma belum siap Bang ! . Salma belum siap harus mengalami nyidam lagi , sakitnya melahirkan" ucap Salma lagi .


Akhirnya tangis Salma pecah . Bagaimanpun Salma masihlah gadis kecil yang masih berusia 20 Tahunan . Hamil, melahirkan dan mengurus dua orang anak di usianya yang masih sangat muda , tentu itu tidak mudah baginya .


Salma belum sepenuhnya dewasa untuk mengarungi rumah tangga . Tapi karna keberengsekan Rico , ia harus menikah di saat ia belum siap , saat itu kata menikah masih jauh dari pikiran Salma .


Di saat teman temannya masih bebas diluar sana menikmati masa muda . Ada yang kuliah ada yang bekerja .Sedangkan Salma ,ia sudah terpenjara di sangkar emas milik Rico .


Bukan Salma tidak bersyukur dengan kehidupannya sekarang . Rico yang memberinya kemewahan , hanya saja Salma belum siap menjalani pernikahan . Di tambah lagi Rico suaminya , yang keras kepala , sering bersikap egois .


Mendengar Salma menangis , Shahia kecil putri mereka pun jadi ikut menangis . Entah ia bisa merasakan kegundahan Uminya , atau kaget mendengar suara Uminya menangis , hanya Shahia kecillah yang tau .


Mendengar Putri mereka menangis , Salma langsung diam dan kemudian mendiamkan putrinya .


"Dek !"


"Apa Bang ?"


Rico diam , tidak tau mau bicara apa .


Lama mereka saling diam , sampai Shahia putri mereka tertidur . Akhirnya Rico berbicara lagi .


"Abang mencintaimu ! , sangat mencintaimu , kamulah cinta pertama Abang !"


Salma kira , Rico suaminya mau bicara apa , sampai Rico lama berpikir . Ternyata , kalimat gombalan receh seorang suami , membujuk istrinya yang merajuk .


"Kalau Abang benar benar mencintaiku , pasti abang mengerti dan memahamiku !" balas Salma , masih enggan menatap Rico .


"Dek !"


Ah !, Rico masih kekeh dengan keinginannya .

__ADS_1


Salma yang paham pun berbicara ."Salma udah bilang terserah Abang ! , apa lagi ?"


Salma yang sekarang , bukan lagi Salma yang dulu , si pemalu dan kaku . menjalani pernikahan hampir tiga Tahun , sudah merobah karakternya , yang kalem menjadi sedikit banyak bicara . Yang lembut menjadi sedikit cerewet , yang penurut menjadi pembangkang. Pernikahan sudah membuatnya banyak berobah .


"Kalau Adek gak ikhlas , gak usah !" Rico menjatuhkan kepalanya lagi ke bantal , menyembunyikan wajahnya di punggung Salma.


Salma mencebikkan bibirnya , mendengar suara Rico terdengar merajuk .Kok jadi dia yang merajuk ?, pikir Salma . Salma sudah paham akan akal bulus Rico , jika mempunyai ke inginan . Ikut merajuk seperti anak kecil .


"Dek !" rengek Rico , karna Salma diam .


Aish ! , Bagaimana mau nambah anak , kalau bayi tua hampir usang di belakangnya masih sering bersikap seperti bocah kurang perhatian dari Ibunya . Yaps ! , Rico memang kurang perhatian dari Ibunya / ralat , malah tidak dapat perhatian sama sekali dari Ibunya semenjak kedua orang tuanya bercerai .


"Apa lagi sih Bang ?" kesal Salma


Seharusnya kan Rico membujuknya , karna sudah sempat menangis . Ini malah Rico yang minta di bujuk dan di rayu .


"Jangan minum pencegah kehamilan lagi ya !" ucap Rico .


"Salma pakai suntik sekali tiga Bulan Bang !" jawab Salma , membuat Rico langsung mengangkat kepalanya , melihat wajah Salma .


"Kok Abang gak tau ? , kenapa Dek Salma gak kasih tau Abang ?" kaget Rico .


"Karna Salma gak mau Abang jebak lagi , dengan membuang obat pencegah Salma !" jawab Salma . Mengingat Rico membuang obat pencegah kehamilannya , untuk mendapatkan putri cantik mereka .


"Seharusnya kamu bersyukur bisa hamil dan melahirkan Dek !. Di luar sana banyak orang menginginkan seorang anak , sudah bertahun tahun bahkan belasan dan puluhan Tahun menikah , belum juga di karuniai anak . Seharusnya kamu bersyukur , Tuhan menciptakanmu menjadi wanita yang sempurna . kenapa kamu menolak kesempurnaan itu ?"


Mendengar kata kata itu , air mata Salma langsung mengalir , bibirnya bergetar menahan supaya tangisnya tidak pecah .


"Abang egois..!" lirih Salma . Salma bangun dari tempat tidur , berlari ke arah balkon kamar mereka . Salma menumpahkan tangisnya tanpa bersuara , hanya teriksak sesekali .


Di usianya yang masih sangat muda , Salma tidak memiliki banyak stok kesabaran . Sering kali Salma ingin nyerah dengan pernikahannya , ia sering merasa tidak sangagup lagi , karna harus terus mengalah menuruti keinginan Rico .


Di bilang tidak bersyukur , Salma sangat bersyukur bisa menjadi seorang Ibu . Apakah seorang istri yang bersyukur itu harus melahirkan satu bayi setiap Tahunnya ?, Salma tidak sanggup untuk itu .


Rico melangkahkan kakinya menyusul Salma ke teras balkon . Memeluk Salma yang duduk meringkuk dilantai .


"Lepas Bang ! , Salma ingin pulang ke kampung Ibu ! . Salma sudah gak sanggup hidup dengan Abang yang terus harus Salma turuti keinginannya." Salma berusahan melepas diri , mendorong dada Rico , tapi tidak berhasil .


Rico lupa , kalau gadis kecil yang sudah memberinya dua anak itu , bukanlah wanita dewasa yang pemikirannya sudah matang , Istrinya itu masih berusia labil .


"Maafin Abang Dek !" Rico mengeratkan pelukannya , mencium ujung kepala Salma .

__ADS_1


"Gak ! Abang jahat , Abang egois . Salma mau pulang kampung aja ." ucap Salma dalam tangisnya .


__ADS_2