
Ashalina berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah tangga , kembali ke dalam kamar tanpa berpamitan kepada Ibu mertuanya yang duduk termenung di sofa . Sampai di dalam kamar, Ashalina langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, memejamkan matanya , merenung .Merenungi apa yang sudah terjadi di rumah mereka . Ashalina merasa bersalah kepada sahabatnya Tika , sudah tidak menjaga adiknya dengan baik . Mudah mudahan saja Salma tidak mengalami trauma mental , pikir Ashalina , lalu menghela napasnya .
Ashalina memutar memori saat awal pertemuannya dengan Mr Ze . Mengingat betapa bajingannya Mr Ze , Ashalina sudah mengetahui dan menyaksikan itu sendiri dengan mata kepalanya sendiri . Dengan tidak punya malunya Mr Ze bisa berhubungan intim di depan orang lain . Kenapa Ashalina masih bisa jatuh cinta dengan laki laki bajingan itu !, bukankah saat itu ia tidak tau kalau Mr Ze adalah kakak Zeynnya , pria di masa kecilnya ?. Apa cinta itu benar benar buta ?, Ashalina sendiri tidak bisa menjawabnya .
Momy Jeni duduk termenung sendiri di sofa ruang tamu , Yudhi Tika Salma sudah pergi ."Ini semua salahku !, aku tidak mendidik Zeyn dengan benar . Selama ini aku hanya terbuai dengan Dunia, aku terlalu membiarkannya bebas . Aku kurang memperhatikannya !." batin Momy Jeni, penuh penyesalan.
Momy Jeni pun beranjak dari duduknya berjalan masuk ke dalam kamarnya .
Sama sama mengabaikan rasa lapar di perut mereka masing masing . mereka pun tidak jadi untuk makan malam . Hidangan di meja yang tertutup tudung saji dibiarkan begitu saja di atas meja .
Lama Mr Ze termenung sendiri di teras belakang rumah . Ia pun memutuskan masuk ke dalam rumah , berjalan menaiki tangga ke lantai dua menuju kamar mereka . Mr Ze menghela napasnya sebelum ia mendorong daun pintu kamarnya dengan Ashalina . Mr Ze pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar , dilihatnya Ashalina terbaring miring di atas tempat tidur, dengan posisi membelakanginya . Mr Ze perlahan naik ke atas ranjang mendudukkan tubuhnya di belakang Ashalina , lalu disentuhnya lengan Ashalina.
"Acha !, maafin kakak sudah membuatmu kecewa !" Air mata Mr Ze mengalir kembali . Entahlah !, semenjak Ashalina hamil , ia sangat mudah menangis . Namun Ashalina bergeming tidak mengindahkan ucapan Mr Ze , padahal ia juga belum tidur .
"Baby !, ayok makan dulu !, kita belum jadi makan malam , nanti dede bayinya lapar ."Ajak Mr Ze , membalik tubuh Ashalina menghadapnya .
" Aku sudah tidak berselera !" balas Ashalina tidak mau membuka matanya .
"Kakak tau !, Kamu boleh marah sama kakak !, tapi jangan hukum dede bayinya, dia tidak tau apa apa !, Kakak yang salah ." ucap Mr Ze lagi, sambil di usapnya perut Ashalina dengan sebelah tangannya .
"Apa kamu benar menyesal menerima kakak ?" tanya Mr Ze menatap wajah Ashalina dengan sendu .
Ashalina membuka matanya , dilihatnya wajah Mr Ze basah dengan air mata , diam tidak menjawab .Ashalina berpikir, apa memang ia benar menyesal menerima Mr Ze ?, Ashalina rasa tidak , ia tidak menyesal , saat ini ia hanya kecewa dan marah .
Mr Ze mengambil sebelah tangan Ashalina , lalu diciumnya tangan yang berjari mungil itu ." Kakak sangat mencintai dan menyayangimu Baby !. Jangan hukum kakak dengan mengungkit dosa masa lalu kakak !" ucapnya berurai air mata ." Itu sangat menyakitkan !" di kecupnya lagi telapak tangan Ashalina.
Ashalina menarik tangannya dari genggaman Mr Ze . Kemudian mendudukkan tubuhnya turun dari atas tempat tidur berjalan ke arah pintu .
" Baby mau kemana ?"
__ADS_1
" Makan !" Ashalina langsung keluar pintu dan menutupnya dengan kencang . Ia masih marah dengan Mr Ze, lebih tepatnya kecewa karna sudah membela Rico .
Mr Ze pun turun dari atas tempat tidur , menyusul Ashalina ke dapur . Ia sudah mendapati Ashalina makan dengan lahap di meja makan , karna memang perutnya sudah sangat lapar .
" Baby !, nasi buat kakak mana?" Mr Ze mendudukkan tubuhnya di samping Ashalina .
Tanpa menjawab Ashalina pun mengambilkan nasi beserta lauk pauk , kemudian meletakkannya di depan Mr Ze . kemudian melanjut makannya lagi tanpa ada niat bersuara . Setelah menghabiskan nasi di piringnya , Ashalina pun mengambil piring baru, mengisinya dengan nasi lengkap dengan lauk pauk , menarohnya di atas nampan tidak lupa segelas air putih , lalu membawanya keluar dari ruang makan menuju kamar Momy Jeni meninggalkan Mr Ze makan sendirian . Ashalina tau Momy Jeni juga belum makan , makanya ia mebawa makanan untuk Ibu mertua yang menyayanginya itu.
Mr Ze menghela napasnya melihat Ashalina benar benar marah kepadanya , tapi ia merasa lega Ashalina mau makan dan masih melayaninya . Melihat Ashalina perhatian kepada Momy nya , tentu hati Mr Ze senang .
Setelah menghabiskan makanan di piringnya , Mr Ze membereskan meja makan , dan mencuci piring dan gelas kotor bekas makan mereka , karna mengingat sudah tidak ada yang membantu Ashalina dan Momynya membereskan rumah . Setelah selesai, Mr Ze kembali ke dalam kamar mereka , dilihatnya tidak ada Ashalina di sana . Mr Ze berpikir , Istrinya pasti masih di kamar Momynya .
Mr Ze mengambil ponselnya yang ia letakkan tadi di atas meja nakas , ia ingin menelephon Yudhi untuk menanyakan kabar Salma . Tapi ia urungkan, melihat ada panggilan tak terjawab dari Jefry di layar poselnya , ia pun langsung menghubungi Jefry .
" Halo Jef ! ada apa ?" tanya Mr Ze setelah Jefry mengangkat telephonya .
"Sekarang kalian sudah dimana ?" tanya Mr Ze lagi .
"Kami baru sampai di bandara Natuna !" jawab Jefry .
" Jangan biarkan ia bisa keluar dari pulau itu !, sekarang saya akan menyusul kesana !" ujar Mr Ze , langsung mematikan telephonnya . Bergegas keluar kamar turun kelantai bawah berjalan ke arah kamar Momy Jeni . Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu , Mr Ze langsung membuka pintunya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar .
"Momy ! Baby ! kakak pergi dulu !" pamit Mr Ze , tanpa permisi ia mencium kening Ashalina sambil satu tangannya mengelus perutnya ." Kakak akan cepat pulang !" ucapnya lagi kemudian mencium pipi Momy Jeni .
"Ze ! kamu mau kemana ?" tanya Momy Jeni melihat Mr Ze seperti tergesa gesa .
"Memberi pelajaran kepada situa bangka itu Mom !" jawab Mr Ze , kemudian keluar kamar Momy Jeni . Sambil melangkah keluar dari rumah , Mr Ze pun menelephon polisi Intel untuk mengawalnya pergi ke pulau Natuna . Ia tidak mungkin pergi sendiri , bukan takut atau tidak berani , ia juga perlu hati hati dengan keselamatannya .
"Kakak Zeyn mau kemana ?"Seru Ashalina , menyusul Mr Ze ke halaman rumah .
__ADS_1
Mr Ze menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya ke belakang . Dilihatnya Ashalina menangis berurai air mata .
"Jangan pergi !"
Mr Ze melangkahkan kakinya berjalan mendekati Ashalina . Ditariknya Ashalina ke dalam pelukannya , di kecupnya ujung kepala gadis kecil yang sudah mengandung anaknya itu .
" Kakak akan cepat pulang !"
Ashalina menggelengkan kepalanya di dalam pelukan Mr Ze ."Kakak tidak boleh pergi !."
"Kenapa ? , bukankah kakak orang yang buruk ?." Mr Ze mengulum senyumnya , karna Ashalina sudah luluh tidak marah lagi .
"Gak apa apa kakak buruk !, pokoknya kakak gak boleh pergi !"jawab Ashalina .
"Bukankah kamu menyesal sama kakak ?."Ashalina menggelengkan kepalanya lagi .
" Aku gak mau kakak pergi !, aku mau tidur di peluk kakak !." ucap Ashalina di dalam tangisnya .
"Bagaimana Pak Zeyn ! apa kita jadi berangakat ?."tiga Intel yang di pesan Mr Ze sudah sampai menjemputnya .
"Acha gak mau kakak pergi...!!!" tangis Ashalina histeris , di peluknya tubuh Mr Ze dengan erat .
"Kakak akan cepat pulang Baby !, besok kakak sudah sampai disini !" bujuk Mr Ze .
"Gak mau !!! Huaaa....!!!"
Mr Ze menghela napasnya , kalau manja istrinya sudah kumat begini , tidak akan bisa di bujuk dan dibrayu dengan apa pun dan dengan siapa pun .
"Tunggu sebentar Pak ! , kuda poni saya lagi ngamuk !, perlu dijinakkan ." ujar Mr Ze kepada ke tiga Intel tersebut . kemudian mengangkat tubuh Ashalina , menggendongnya masuk ke dalam rumah .
__ADS_1