21 Hari Bersama Majikan Bajingan

21 Hari Bersama Majikan Bajingan
Bonus 2


__ADS_3

Jefry berlari ke arah meja kerjanya , karna mendengar seperti ada barang jatuh . Jefry melihat HPnya sudah jatuh berserakan di lantai , dan laci mejanya terbuka semua dan isinya pun keluar semua . Membuat Jefry menghapus dadanya yang sudah naik turun menahan emosi , supaya ia tidak sampai memasukkan bocah kecil yang memiliki senyum yang manis itu ke dalam kresek berukuran sepuluh kilo . Dan menggantungnya di paku yang tertancap di dinding ruangannya yang sengaja di buat untuk gantungan baju .


Tanpa bicara , bocah berwajah tanpa dosa itu pun mengembangkan senyum manisnya kepada Jefry . Seperti mengatakan ini hasil kerjaannku , aku hebat bisa membuka laci laci ini dan mengeluarkan isinya .


Tidak bisa menahan ke geramannya lagi , Jefry pun menurunkan tubuhnya berjongkok di depan Yusuf . lalu menarik hidung mancung Yusuf sampai bocah kecil itu menangis .


"Abang !" tegur Almira , berdiri dari tempat duduknya berjalan mendekati Jefry dan Yusuf dan langsung mengangkat Yusuf yang menangis .


"Cup cup cup !!!" Almira mengusap usap punggung Yusuf di gendongannya .Namun Yusuf tidak mau diam malah semakin menangis di gendongan Almira . Dan yang anehnya Yusuf malah merentangkan kedua tangannya ke arah Jefry dan tangisnya pun semakin menjadi . Padahal 'kan Jefry yang buat dia menangis .


"Abang !, Yusuf sepertinya ingin di gendong sama Abang " ucap Almira .


Tidak tega melihat Yusuf menangis histeris di gendongan Almira . Jefry pun mengambil Yusuf , menggendongnya setelah ia memasang kembali batrai HPnya yang terlepas karna di lempar Yusuf ke lantai . Yusuf memang sangat dekat dengan Jefry , karna semenjak Yusuf lahir , Jefry sangat sering berkunjung ke apartemen Rico dan mengajak Yusuf bermain , meski ujung ujungnya Yusuf menangis dengan ulah Jefry yang sering menggodanya .


"Kenapa Yusuf tak mau dengan Almira Bang ?"


"Karna Yusuf belum kenal dek Almira . Yusuf memang seperti itu , tak mau di gendong orang yang tak di kenalnya" jawab Jefry , membawa Yusuf berjalan ke sofa .


"Edas edas edas...!!!"


" Ya ampun Zahla..!" Ucap Jefry , melihat mulut Zahra belepotan dengan sambal ." sayang ! , tolong bawa Zahra ke kamar mandi bersihin mulutnya . Jangan lupa tangannya juga dicuci pake sabun ya !" suruh Jefry kepada istrinya , kawatir .


"Iya Bang !" dengan crpat Almira pun membawa Zahra ke kamar mandi yang ada di ruangan Jefry .


"Pakcik ! , aku ada Meating lima menit lagi . Titip Daanish dan Daniyal ." ucap Yudhi .


" No Yud !" tolak Jefry .


"sebentar aja !"


" No !"


"Daanish sama Daniyal disini dulu ya ! , Papa kerja dulu . Jangan nakal , oke !" ucap Yudhi kepada kedua anaknya menghiraukan Jefry yang menolaknya .


"Oke Papa !"


Ah ! kedua bocah itu sangat manis menjawab . seolah olah mereka akan patuh .


"Yud ! kerjaanku banyak Yud !" ucap Jefry lagi


Yudhi pun mencium pipi gembul kedua kurcaci tengilnya itu bergantian . Dan langsung keluar dari ruangan Jefry meninggalkan kedua anaknya .

__ADS_1


"Yud.. !!" geram Jefry frustasi.Bagaimana ia harus bekerja jika ke empat bocah itu ada di ruangannya . Seperti itu trus setiap Ibu dari ke empat bocah itu lagi menghabiskan waktu bersama ke mall atau jalan jalan . Ke empat Ayah bocah itu pasti ikut merepotkannya , alasannya biar jefry terbuka hatinya untuk menikah , konyol pikir Jefry .


Almira membawa Zahra keluar dari kamar mandi yang mulutnya masih kepedasan .


"Edas edas edas ...." Zahra terus berucap pedas tanpa menangis . Bocah perempuan bermata sipit dan bertubuh sedikit gemuk itu memang sangat jarang menangis . Ia benar benar persis seperti Ayahnya , tidak mudah menangis dan bahkan sangat jarang meski kepahitan hidup menimpanya . Selalu terlihat tegar seolah semua baik baik saja .


"Abang ! Zahra masih kepedasan " ucap Almira .


"Kasih dia minum susu sayang , coba lihat di tas tempat bekal mereka pasti ada susu di situ " balas Jefry .Almira segera memeriksanya , benar !, disana udah di sediakan susu untuk ke empat bocah yang hampir seumuran itu .


Melihat Almira mengeluarkan botol susu dari dalam tas , kedua bocah Daanish dan Daniyal langsung berlari ke arahnya .


"Mimi cucu !" ucap kedua bocah titisan Yudhi itu kepada Almira .


"Kalian juga mau minum susu ?" Almira mengusap kepala kedua bocah menggemaskan itu bergantian , tersenyum lembut khas keibuan.


"Mimi cucu " ucap Daniyal lagi dengan bentuk bibir yang membulat dan basah air liur .


Gemas dengan kedua bocah polos yang bau surga itu . Almira pun mencium kedua pipi gembul Daanish dan Daniyal bergantian , lalu memberikan botol susu kepada mereka .


"Yusuf juga mau minum susu ?" tanya Jefry melihat Yusuf bergerak di pangkuannya menatap ke arah Zahra Daanish dan Daniyal yang sudah memasukkan ujung dodod ke dalam mulut mereka . Yusuf pun menganggukkan kepalanya .


" Sayang ! ambilin buat Yusuf " pinta Jefry , tanpa menjawab Almira langsung mengambilnya dan memberikannya kepada Jefry .


"Apa Yusuf masih takut dengan Almira Bang ?" tanya Almira .


"Sepertinya begitu sayang !, Yusuf memang berbeda dengan ketiga bocah nakal itu . Yusuf sangat sulit dekat dengan orang baru " jawab Jefry .


"Sayang ! tolong ambilin laptop Abang !" pinta Jefry kepada istrinya . Almira pun segera mengambilnya meletakkannya di meja sofa di depan Jefry .


"Sayang ! tolong perhatiin ketiga bocah nakal itu ya , bisa ruangan Abang dihancurin mereka nanti tanpa bentuk " ucap Jefry lagi .


"Itu biasa Bang kalau anak lasak , namanya juga anak kecil Bang !" balas Almira .


" Budak tiga itu anak luar biasa super aktifnya sayang ! . bisa aja nanti gedung ini di robah mereka jadi kapal pecah ." ucap Jefry lagi .


"Tapi melihatannya mereka bertiga seperti sudah ngantuk Bang !" ucap Almira memperhatikan ketiga bocah yang minum susu itu duduk menyender di sofa , matanya sudah merem melek seperti menahan kantuk .


"Baguslah kalau mereka nagntuk . Sayang ! si Daanish sama Daniyal tolong pindahin ke sofa panjang ini sayang biar mereka tidak sempit sempitan." Suruh Jefry lagi kepada Almira .


"Iya Bang !"

__ADS_1


Melihat ke empat monster kecil itu akhirnya tertidur pulas di atas dua sofa panjang yang digabung menjadi satu . Jefry bernapas lega , akhirnya ia bisa melanjutkan pekerjaannya dengan damai .


"Kelihatan mereka sangat dekat dengan Abang !" komentar Almira .


Jefry menarik pinggang Almira , merapatkan tubuh mereka ."Sepertinya Abang ingin segera memiliki budak budak yang menggemaskan seperti mereka" Jefry mengecup bibir Almira kilas .


"Amin..! semoga Allah mensegerakannya Bang !" Almira mengembangkan senyum menawannya .


" Seharusnya dari dulu Ibu menikahkan kita , sebelum abang mengenal perempuan perempuan lain" ucap Jefry , ada terbesit penyesalan di hatinya , telah jauh terjatuh kelembah dosa .


Almira menundukkan kepalanya , malu dengan dirinya sendiri , mengingat masa lalunya yang suram juga .


"Tak perlu malu dengan Abang !" Jefry mengangkat dagu Almira , mengarahkan wajah Almira supaya menatapnya , sehingga membuat mereka saling bertatapan .


"Apa.. apa Abang sudah mencintai Almira ?" tanya Almira ragu .


Jefry mengecup bibir Almira lagi ." Abang tidak tau , yang Abang tau.. Abang merasa bahagia semenjak kita menikah " jawab Jefry . karna ia memang tidak tau bagaimana ciri ciri orang yang jatuh cinta.


"Kamu sendiri , apa sudah mencintai Abang ?" tanya balik Jefry . Karna mereka menikah memang tanpa cinta . bahkan mereka tidak saling kenal satu sama lain . Dan bahkan mereka pertama bertemu setelah ijab kabul . Mereka hanya di perkenalkan wajah lewat foto saja .


"Mungkin iya !" jawab Almira pelan . Tidak di pungkiri Almira , saat pandangan pertama di depan penghulu setelah Jefry melapaskan ijab kabul pernikahan mereka . Almira langsung tertarik dengan ketampanan wajah Jefry yang tampak macho di usianya yang matang . Dengan kulit berwana coklat , alis tebal dan rapi , hidung mancung , separoh pipi dan rahangnya di tumbuhi brewok , dan tubuhnya juga terlihat sangat gagah .


"Apa karna Abang sangat tampan ?" Jefry mengembangkan senyumnya menggoda Almira .


"Dan juga sangat gagah !" jujur Almira tersenyum, menggoda Jefry dengan mengedipkan sebelah matanya . Tidak di pungkiri Almira , mereka yang sama sama sudah berpengalaman dalam urusan ranjang . Almira akui , Jefry sangat berbeda dengan pria pria masa lalunya dulu . Almira benar benar tergila gila dibuatnya .


"Jangan di sini sayang ! , disini tidak aman untuk kita bercinta , akan sangat banyak gangguan ."


"Kalau begitu.. Almira tunggu Abang di apartemen kita . Sekarang Almira harus pulang !"


"Baiklah ! , sekarang Abang minta.. kamu harus menciumku" Jefry menunjuk bibirnya dengan telunjuknya .


"Mahal !" ucap Almira , mengangkat tangan kanannya ke depan Jefry , menggesek gesekkan telunjuk dan jempolnya .


"Baiklah ! , Abang akan membayarnya dengan cinta Abang ."


"No ! , dengan plus !"


"Plus kasih sayang Abang !" balas Jefry , langsung menyambar bibir Almira , menciumnya dengan dalam .


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2