
Rico meletakkan kotak makan yang berisi pecal yang di bawanya di atas meja nakas di samping tempat tidur . Di lihatnya Salma tertidur dengan pulas . Rico mendudukkan tubuhnya di samping Salma , mengusap kepala Salma dan mencium keningnya .
"Dek Salma ! bangun sayang ! , Abang sudah bawakan pecal keinginan Dek Salma !" ucap Rico , jempol tangannya mengelus elus pipi Salma .
"Sayang...!" panggil Rico , karna Salma masih bergeming .
Melihat Salma masih setia di alam mimpinya , Rico pun berinisiatif membangunkan Salma dengan cara mencium bibirnya . Di sapunya bibir Salma lembut , di sesapnya kemudian dilu*****nya .
Salma yang terusik pun akhirnya terbangun , mengerjabkan matanya , membukanya perlahan . kemudian mendorong dada Rico pelan sampai Rico melepas ciumannya .
"Abang !"
"Apa ?" Rico mengecup bibir Salma lagi .
"Pecalnya mana ?"
"Tuh di meja !" Rico menunjuk dengan dagunya ."tapi Abang minta upah sekarang , karna Abang sudah capek berkeliling mencarinya " pinta Rico .
"Abang minta apa ?"
Rico mengembangkan senyumnya , kemudian menunjuk bibirnya , meminta Salma mencium bibirnya .
Salma menundukkan pandangannya sembari menggelengkan kepalanya , Membuat Rico kecewa .
"Apa Dek Salma terpaksa menjalani pernikahan ini ? . Apa sedikit pun tidak ada cinta di hati Dek Salma untuk Abang ?. Abang sadar sudah pernah menyakiti Dek Salma , Abang bukan orang yang baik , Abang bukan orang yang Religius seperti Dek Salma . Apakah Abang tidak pantas mendapatkan cinta Dek Salma ?. Sudah empat Bulan kita menikah , sedikit pun Dek Salma tidak ada menunjukkan kalau Dek Salma mencintai Abang !. Bahkan Abang hanya minta di cium saja !, Dek Salma tidak mau !. Berarti selama ini , Dek Salma melayani Abang , hanya sekedar kewajiban saja , tanpa ada rasa cinta ! . Abang sangat mencintaimu Dek ! , Maaf ! sudah memaksamu hidup bersama Abang !."
Rico langsung keluar dari kamar mereka setelah mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya selama ini .
"Adik ipar ! mau kemana ?" seru Yudhi , melihat Rico bergegas keluar dari apartemen .
Di dalam kamar , Salma membeku setelah mendengar rentetan pertanyaan dan keluh kesah suaminya Yang terkesan memojokkannya . Bahkan ia sendiri tidak tau dimana letak kesalahannya , tidak mungkinkan hanya masalah ciuman ?.
Bukankah Tadi pagi ia sudah mengakui kalau ia mencintai suaminya . Bukankah ia sudah melayani suaminya dengan baik , Ikhlas dan tulus mengabdikan dirinya , dimana lagi letak salah dan kurangnya ?.
Gadis polos berhati lembut itu pun hanya bisa menangis terbujur di atas tempat tidur .
***
Kini Ashalina sudah berbaring di atas ranjang di ruang persalinan , setelah dua jam menunggu bukaan sembilan . Dokter dan para suster sudah sibuk menyiapkan alat atau keperluan persalinan .
"Kakak ! sakit Kak !" air mata Ashalina sudah mengalir karna sudah tidak tahan menahan rasa sakit kontraksi yang semakin dasyat .
"Sabar ya Sayang !" Mr Ze menghapus air mata Ashalina , berkali kali ia mencium kening Ashalina , tangannya pun tidak lepas mengusap ujung kepala Ashalina yang terbalut hijab .
"Tahan ya Bu ! , jangan mengejan dulu , tunggu aba aba dari saya ya ! . Kalau saya bilang tarik napas dan keluarkan , lakukan ya Bu ! . kalau saya bilang dorong , baru Ibu mengejan . Kalau saya bilang stop , Ibu stop mengejannya . Paham Bu ?" ucap Dokter yang akan membatu persalinan .
Ashalina menganggukkan kepalanya , mengatakan paham .
"Ayo kita mulai ! , Tarik napas !"
Ashalina pun menarik napasnya .
"Keluarkan !"
__ADS_1
Ashalina pun mengeluarkan napasnya .
"Tarik napas lagi !"
Ashalina menarik napasnya lagi .
"Keluarkan napas ! dorong !"
Ashalina pun mengejan sekuat tenaga , kepalanya terangkat , hingga dagunya menyentuh dadanya . Kedua tangannya mencengkram tangan Mr Ze sekuat kuatnya .
Mr Ze merapatkan giginya , memejamkan matanya , menahan sakitnya cengkraman Ashalina di tangannya .
"Aaaakh !!!"
Ashaina menjatuhkan kepalanya dengan napas memburu di atas bantal .
"Sakit Kak ! , Acha sudah gak kuat !" ucap Ashalina lemah .
"Kamu harus kuat Baby ! , kamu harus semangat demi anak kita !" ucap Mr Ze menyemangati istrinya . Di lapnya keringat Ashalina yang membasahi kening dan wajahnya .
"Ayo Bu ! , semangat ! , kepala Bayi nya sudah nampak !" ucap Dokter wanita itu menyemangati .
"Ayo Bu ! tarik napasnya lagi !"
Ashalina menarik napasnya lagi , mengumpulkan seluruh tenaganya .
"Dorong !"
Ashalina mengejan kembali dengan sekuat tenaga .
"Kak ! haus !" ucap Ashalina dengan napas memburu .
"Iya sayang ! , semangat ya ! demi anak kita !" Mr Ze pun memberi Ashalina minum , dengan menggunakan sedotan .
"Sudah ? " tanya Mr Ze . Ashalina menganggukkan kepalanya . Mr Ze pun mengembalikan botol minum itu ke atas meja nakas di sampingnya .
Mr Ze melap keringat yang bercucuran di kening dan wajah Ashalina lagi .
"Semangat sayang ! , kakak yakin kamu pasti bisa !" di ciumnya lagi kening Ashalina . Ashalina menganggukkan kepalanya , mendengar kata demi anak , semangat Ashalina kembali lagi .
"Tarik napasnya lagi Bu !" intruksi Dokter kandungan itu lagi .
"Dorong !"
Ashalina mengejat dengan segenap seluruh jiwa dan raganya , dan sisa sisa tenaganya , demi si buah hati yang tidak sabar untuk melihat indahnya Dunia panah ini .
"Ayo Bu ! , sedikit lagi Bu !"
"Aaaaaaaakh !!!"
Lagi lagi Mr Ze memejamkan matanya , menahan sakit di tangan dan kepalanya , akibat cengkraman Ashalina pas lagi mengejan .
"Haaahhh !" Ashalina bernapas lega , setelah merasakan beban berat di perutnya berhasil ia keluarkan .
__ADS_1
"Alhamdulillah !" Seru Dokter dan perawat yang membantu Ashalina bersalin . setelah bayi mungil itu berada di tangan sang Doker .
"Sayang ! , trimakasih atas perjuanganmu sayang ! . Anak kita sudah lahir , kira sudah menjadi orang tua !" tangis Mr Ze penuh haru , menciumi seluruh wajah Ashalina tanpa ada yang terlewatkan .
Tapi anehnya tidak ada terdengar tangisan suara bayi di ruangan itu .
"Kak !, anak kita kok gak ada suaranya ?" tanya Ashalina lemah dengan sisa kesadarannya , yang hampir memejamkan mata karna sudah lelah dan ngantuk , melihat jam sudah menunjukkan tengah malam juga .
Mr Ze yang tersadar pun , langsung mengalihkan pandangannya ke arah perawat yang membersihkan anak mereka .
"Dokter ! , anak kami kenapa tidak ada suaranya ? . biasanya bayi baru lahir pasti menangis !" tanya Mr Ze .
Dokter wanita itu pun tersenyum "sepertinya anak kalian pemberani . Sehingga saat lahir pun ia tidak menangis , dia enteng enteng saja " jawabnya .
Kemudian Dokter itu pun mengambil bayi yang baru lahir itu dari tangan perawat . Menggantung kaki bayi berjenis kelamin perempuan itu ke atas , kemudian menampar pantatnya .
Mendapat pukulan di pantatnya , bayi yang nampak putih kemerahan itu pun kaget , dan langsung menangis .
"oe oe oe oe ....!!! "
Mendengar suara tangisan bayi mereka , Ashalina yang hampir tertidur , refleks membuka matanya .
"Tuh ! , Ayahmu ingin mendengar suaramu !" ucap Dokter itu kepada si bayi . Memberikan bayi itu kepada Mr Ze .
Meski sedikit gerogi , Mr Ze mencoba memberanikkan diri menggendong buah hatinya untuk pertama kali . Mendekapnya ke dalam pelukannya , mencium keningnya dengan rasa haru , kebahagiaan yang tak terhingga , di iringi dengan tetesan air mata . Dan bayi yang menangis itu pun langsung terdiam , merasakan hangatnya dekapan sang Ayah .
"ini lebih mendebarkan dari ungkapan rasa cinta kepada seorang wanita , lebih mendebarkan saat mengucapkan ijab jabul "batin Mr Ze . Buah hati yang tercipta dari rasa cinta dan kasih sayangnya bersama Ashalina istri yang sangat ia cintai , cinta pertama setelah Ibunya . Sekarang Dialah yang akan menjadi cinta pertama putri kecilnya .
"Ayah mencintaimu putriku !" di ciumnya lagi dengan lembut kedua pipi merah bayi merah , hasil dari menunggang kuda poninya itu .
"Kakak ! , dimana bayi kita ? , kenapa kakak melupakan ku ?."
Mr Ze langsung memutar tubuhnya , berjalan mendekati Ashalina membawa bayi mereka . Seorang perawat pun langsung membantu Mr Ze , mengambil bayi mereka , meletakkannya di atas dada Ashalina dengan posisi tengkurap . Ashalina langsung memeluknya dengan kedua tangannya .
Ashalina pun tidak kalah terharunya , Ia pun mecium kening putri mereka dengan penuh rasa haru .
"Kita sudah punya anak Kak !" tak terasa lelehan bening keluar dari sudut matanya .
"Iya sayangnya kakak !" Mr Ze menghapus air mata Ashalina , kemudian mencium pipinya , berpindah mencium pipi bayi mereka .
Seorang perawat pun mengambil bayi itu kembali dari atas dada Ashalina , untuk di bedong , supaya tidak kedinginan . Kemudian memberikannya kepada Mr Ze untuk di Azhankan .
"Ini Pak ! bayinya ! , silahkan di Azhankan ! . Kami akan membersihkan istri Bapak , setelah itu silahkan tunggu di ruang perawatan ya Pak !" ucap salah satu perawat .
Mr Ze menganggukkan kepalanya , menerima Bayi mereka , kemudian mengazhankannya di telinga kanan dan mengikomatkannya di telinga kiri .
Mendengar suara merdu Azhan yang di kumandangkan Ayahnya . Bayi bermata sipit itu membuka mulutnya menggerak gerakkan lidahnya di dalam dengan mata yang terbuka , wajahnya nampak tenang .
.
.
.
__ADS_1
.