
Ketika mereka berdua sedang asik berbincang-bincang, lalu Arya pun datang ke dapur untuk mengambilkan makanan kedua putrinya.
“Den…!” sapa Tini seraya membungkukkan tubuhnya.
“Aku hanya ingin mengambilkan makanan untuk putri ku Bi.”
“Oh, baiklah Den Arya, tunggulah di luar biar Bibi nanti yang akan mengantarkannya keluar.”
“Baik Bi,” jawab Arya pelan.
“Maaf Den, kalau boleh Bibi tahu, kenapa ya, Den Arya menitipkan Lastri dan Maryati ke Roro?”
Mendengar pertanyaan Tini, Arya langsung terhenyak duduk di kursi yang ada di hadapan Tini. Seraya menarik nafas panjang, Arya tampak meneteskan air matanya.
“Kenapa Den Arya menangis?” tanya Tini heran.
“Apakah Bi Tini masih ingat, sudah berapa tahun Kenanga pergi meninggalkan kita?”
“Tentu Den, tentu Bibi masih ingat, kalau nggak salah sudah hampir tiga tahu,” jawab Tini dengan polos.
“Sudah hampir tiga tahun ya, Bi?”
“Iya Den.”
“Berarti hanya tinggal beberapa hari lagi kan Bi?”
“Maksud Aden apa?”
“Ya, sudah Bi, kalau begitu aku masuk dulu,” jawab Arya pelan.
Melihat sikap Arya yang aneh itu, Tini dan Ujang hanya bisa saling pandang dengan rasa yang tak menentu. Jawaban yang keluar dari mulut Arya membuat mereka hanya bisa bertanya-tanya pada diri mereka sendiri.
Setelah beberapa saat duduk di samping putrinya, Arya hanya bisa memeluk tubuh mereka berdua, air matanya berlinang menggenangi kedua bola matanya yang bening.
Tini yang melihat sikap Arya yang tak biasa itu, membuatnya selalu bertanya-tanya di dalam hati.
Siang itu ketika melihat Arya sedang duduk di rumah, Tini mencoba bicara pada majikannya itu secara empat mata.
“Sebenarnya ada apa sih Den? kenapa akhir-akhir ini Bibi melihat ada kegelisahan dia hati Aden?”
Mendengar pertanyaan Tini, Arya tak langsung menjawabnya, bola matanya yang bulat hanya bisa menatap nanar ke wajah pembantunya itu.”
__ADS_1
“Bibi duduklah dulu, ada yang ingin ku katakan.”
“Bicaralah Den, Bibi pasti mendengarkannya,” jawab Tini seraya menarik kursi yang ada di hadapannya.
Setelah Tini duduk dengan tenang, barulah Arya bicara dengan pelan. Ucapan katanya seperti sedikit di tekan kedalam, hal itu membuat Tini semakin tak mengerti.
“Bicaralah Den, bicaralah. Bibi pasti mendengarkannya.”
“Bi, jika aku tiada nanti, maukah Bibi merawat kedua putri ku?”
“Ya Allah, Den Arya. Apa yang Aden katakan, Bibi nggak ngerti?”
“Nanti Bibi, pasti mengerti dengan sendirinya.”
“Kenapa Aden bicara seperti itu, maksud Aden itu apa?” tanya Tini bingung.
“Sekarang, aku hanya ingin jawaban dari Bibi.”
“Ya tentu Den, tentu. Apalagi, Lastri dan Maryati sudah Bibi anggap anak sendiri, jadi Bibi pun nggak keberatan untuk merawat dan membesarkan mereka berdua.”
“Jika setelah kepergian ku, Roro datang untuk mengambil salah seorang dari mereka, Bibi jangan pernah memberikannya.”
“Kenapa Den?”
“Baik Den, baik. Bibi akan mengikuti semua yang Aden katakan.”
“Terimakasih Bi.”
“Sama-sama Den,” jawab Tini tak mengerti.
Setelah meletakkan makanan Lastri dan Maryati, Tini langsung kembali ke dapur, kemudian Arya mengambil nasi itu dan menyuapkan keduanya sampai kenyang.
Beberapa hari setelah Arya mengungkapkan semuanya pada Tini, Arya tak mau keluar rumah, seperti ada sesuatu yang sedang dia rahasiakan, yang orang lain tak boleh tahu.
Setiap hari Arya hanya bermain dan bergelut bersama kedua putrinya, dia bahkan menghabiskan waktu yang tersisa bersama kedua putrinya itu.
“Den Arya, apakah Aden nggak ke kebun saat ini?”
“Nggak Bi, aku hanya ingin bersama kedua putri ku saat ini.”
“Ooo, begitu,” jawab Tini dengan suara pelan.
__ADS_1
Sementara itu, Roro yang telah lama menikah dengan Ilham, dia telah memiliki sepuluh orang putra, diantara ke sepuluh anak-anaknya tak seorang pun yang mengenyam jenjang Pendidikan, karena Roro tak ingin mengeluarkan sedikit pun uang untuk biaya sekolah mereka.
Padahal harta yang, di terimanya dari Arya bisa untuk membeli sebuah pulau yang paling besar. Namun bagi Roro, mengeluarkan uang untuk biaya sekolah sama saja membuang-buang harta, lebih baik bekerja di sawah dan di kebun bisa memberikan hasil yang baik dan memuaskan.
Sementara uang yang di dapatkannya dari Arya di belikan perkebunan dan sawah yang sangat luas. Sebelum mendapatkan rumah Roro, di sepanjang jalan sekitar ribuan pohon kelapa berjejer rapi di pinggir jalan, semua itu adalah tanah milik Roro.
Bukan itu saja, Roro juga memiliki perkebunan yang tak kalah luas, serta tanah persawahan yang sangat luas, sejauh mata memandang.
Sedangkan tanah untuk mendirikan perumahan, luasnya satu hektar, setiap perbatasan tanah itu di pagari dengan beton yang kuat dan kokoh. Walau kaya dan punya banyak harta, namun Roro masih saja haus dengan kemewahan.
Selain memiliki perkebunan dan sawah yang luas, Roro juga memiliki beberapa ekor kerbau dan ternak yang begitu banyak.
Keseluruhan harta yang di miliki oleh Roro, semuanya di kelola oleh anak-anaknya, Roro juga tak perlu sibuk mencari pekerja karena dia selalu mengandalkan tenaga mereka semua.
Sementara Ilham suaminya telah meninggal dunia, Ilham meninggal karena serangan jantung. Mesti telah memberikan sepuluh orang anak untuk Roro, namun dia tetap saja di perlakukan tak baik oleh istrinya.
Ilham terpaksa meregang nyawa, karena ucapan Roro yang selalu menyakiti perasaannya. Walau hidup mewah dan bergelimang harta, tapi batin Ilham selalu saja tersiksa.
Sebelum Ilham meninggal dunia, mereka berdua sempat bertengkar, tak ada yang mengalah, keduanya merasa benar.
Sementara itu, Arya yang telah mendapatkan firasat buruk tentang dirinya, tampak merasa tak tenang.
Siang malam dia termenung.
Tepat di saat Maryati berusia tiga tahun, Arya pun mengadakan perayaan ulang tahun untuk putri kecilnya itu. ulang tahun yang di adakan secara sederhana di gelar di dalam rumahnya dan di hadiri oleh beberapa orang anak yatim dan orang tak mampu.
Satu hari setelah acara perayaan ulang tahun putri bungsunya, Arya pun berpulang ke Rahmatullah. Tak ada sakit maupun gejala lainnya, Arya yang saat itu merasa ngantuk tiba-tiba saja telah tiada.
Semuanya tampak berduka terlebih lagi kedua putrinya Sulastri dan Maryati yang masih kecil dan butuh didikan dan bimbingan kedua orang tuanya.
Tini yang melihat kedua putri Arya menangis tiada henti, dia pun tak dapat berbuat apa-apa. Air mata yang telah lama di bendung akhirnya tercurah habis di hadapan kedua putri Arya.
“Bibi, bagai mana ini, rasanya Ibu baru saja pergi, kini Ayah telah menyusul pula.”
“Tenanglah sayang, ada Bibi di sini yang akan menjagamu.”
“Ayah, Ayah..! bangun, jangan tinggalkan aku Ayah…huhuhu…!” jerit kedua putri Arya.
“Sudahlah nak, jangan menangis lagi, Bibi pasti akan merawat dan menjaga kalian berdua.”
“Iya Bi,” jawab Sulastri seraya memeluk adiknya yang kecil.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*