Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 21 Menemukan Maryati


__ADS_3

Selama ini hanya Maryati yang mesti dia handal kan untuk mengerjakan semuanya, sedangkan Roro hanya tunjuk tangan saja, lalu semuanya beres.


Satu minggu sudah berlalu, mereka semua kehilangan Maryati, mesti tak ada polisi yang datang kerumah itu, namun kegairahan mereka tampak berkurang semenjak kehilangan Maryati.


Seperti ada yang kurang dalam rumah itu, padahal semenjak Maryati ada, mereka semua hanya bisa jahat dan menyakiti.


Semenjak mereka semua kehilangan Maryati, kinerja dirumah mewah itu pun turun drastis, Roro mulai sering marah-marah pada ke sepuluh orang putranya, walau mereka tak membuat kesalahan besar sekalipun.


“Ada apa sih Bu? ku perhatikan dalam minggu ini Ibu seringkali marah-marah pada kami semua. Padahal kami nggak pernah membuat kesalahan besar yang dapat merugikan Ibu,” ujar Rudi ingin tahu.


“Diam kau Rud! Ibu ini sangat lelah mengurusi hidup kalian semua.”


“Biasanya kan Ibu juga yang mengurusi kami, kenapa kali ini Ibu bicara seperti itu?”


Mesti Roro menyadari sepenuhnya apa yang telah dia lakukan, namun perasaan selalu menekan hatinya, untuk mencari tahu keberadaan Maryati yang telah menghilang dari rumahnya.


Malam itu Roro tampak duduk sendiri di teras rumah mewah miliknya, dia seperti menantikan seseorang datang padanya. Tak terasa air matanya langsung menetes membasahi kedua pipi.


Tiba-tiba Hendra putra bungsu Roro keluar, seraya menghampiri Ibunya, Hendra melihat air mata Roro mengalir membasahi kedua pipi. yang tampak mulai keriput.


“Ibu kenapa menangis?” tanya Hendra ingin tahu.


“Ibu rindu Maryati nak, sedang ngapain dia saat ini, apakah dia sudah makan atau dia menderita di luar sana.”


“Kenapa Ibu mesti merindukannya? bukankah selama ini Ibu begitu jahat padanya.”


“Iya nak, tapi sekarang Ibu sadar, kalau Maryati sangat berharga sekali di rumah ini.”


“Kalau menurut ku, dia lebih baik keluar dari rumah ini secepatnya Bu.”


“Kenapa kau bicara seperti itu nak?”


“Karena semakin lama dia tinggal dirumah ini, maka semakin terkutuk lah kita semua yang ada di rumah ini.”


“Apa maksud mu bicara seperti itu sayang?”


“Apa Ibu lupa kalau Maryati itu anak yatim piatu, tapi kita memperlakukannya persis seperti binatang. Apa Ibu lupa, separoh lebih harta yang Ibu miliki itu adalah hak Maryati, Bu.”


“Kau ini ya, kalau bicara suka menyakiti hati Ibu.”


“Aku nggak menyakiti hati Ibu, tapi aku bicara yang sebenarnya, Bu.”


“Udah, cukup! kau nggak perlu bicara apa lagi pada Ibu. Sekarang cepat kau masuk kedalam dan segeralah tidur.”


“Baik Bu,” jawab Hendra seraya bergegas menuju kamarnya.


Menjelang Hendra masuk kedalam kamarnya, dia pun berpapasan dengan Danu, Kakaknya.”


“Kau dari mana Dek?” tanya Danu pada Hendra.


“Dari teras rumah.”

__ADS_1


“Ngapain malam-malam begini keluar rumah sendirian?”


“Ada Ibu diluar Kak.”


“Ibu?”


“Iya, Kak.”


“Ngapain Ibu malam-malam begini berada di luar?”


“Entahlah, tapi dia sedang menangis, katanya dia rindu sama Maryati.”


Mendengar ucapan Hendra, Danu hanya diam saja, sebenarnya bukan hanya Ibunya sendiri yang merasa kehilangan Maryati, tapi dia sendiri juga merasa kehilangan. Danu menyesali semua apa yang telah dia lakukan pada Maryati.


“Jika saja waktu bisa mundur kebelakang, maka aku akan meminta maaf pada gadis baik itu,” gumam Danu pada dirinya sendiri.


“Ya sudah, sekarang kembalilah kau kedalam kamar, biar Kakak yang akan mengurus Ibu.”


“Baik Kak,” jawab Hendra sembari bergegas meninggalkan Danu.


Setelah kepergian Hendra, tampak Danu tersandar didinding rumahnya, seperti yang dirasakan oleh Roro, hati Danu juga sedang di landa rasa tak menentu.


Perlahan diapun keluar rumah menghampiri Ibu tercintanya, yang saat itu sedang duduk di depan rumah.


“Ibu lagi ngapain disini malam-malam begini?” tanya Danu dengan suara pelan.


“Ibu menunggu kedatang Maryati nak.”


“Menunggu kedatangan Maryati?”


“Itu nggak akan mungkin terjadi Bu, bukankah selama ini kita telah memperlakukannya dengan begitu buruk.”


“Tapi kali ini Ibu merasa begitu kehilangannya nak, cepat kau cari tahu dimana keberadaannya saat ini?”


“Tapi kita mesti mencarinya kemana Bu.”


“Kemana saja, asalkan kau menemui dia!”


“Ibu, kalau pun aku dapat menemuinya, tapi dia belum tentu akan datang kerumah ini lagi.”


“Oh Maryati, kenapa setelah kepergian mu, aku merasa kehilangan,” desah Roro seraya menangis pilu.


Melihat Ibunya menangis, Danu juga ikut menangis, namun dia berusaha untuk menyembunyikannya. Seraya berlari masuk kedalam kamarnya.


Keesokan hari, Danu bersama tiga orang adik-adiknya, berusaha pergi ke Desa Cempaka, karena menurut selebaran itu, Maryati saat itu sedang menjalani perawatan di Puskesmas Desa Cempaka.


Setelah Danu mengantar kerbaunya ke tanah lapang, dia bersama ke tiga adik-adiknya langsung mencari keberadaan Maryati ke Desa Cempaka.


Tidak tanggung-tanggung, mereka menempuh perjalanan yang begitu jauh sekali, lebih dari delapan kilo meter. Namun demi bisa menemui keberadaan Maryati, mereka rela menempuh perjalanan sejauh itu.


Ketika mereka berempat tiba di Desa Cempaka, Danu langsung mendatangi Puskesmas yang ada di Desa itu, Danu melihat sendiri dengan mata kepalanya, Kalau saat itu Maryati tergeletak tak sadarkan diri di atas tempat tidur.

__ADS_1


Maryati tergeletak dengan sekujur tubuhnya penuh dengan luka bekas benda tajam serta selang infus dan selang oksigen membantu pernafasannya.


“Kak, itu lihat, dia itu pasti Maryati!” teriak Heru dengan keras.


“Ssst..! jangan keras-keras, kau mau kita di tangkap polisi?"


“Nggak Kak.”


“ya udah sebaiknya kalian semua diam saja.”


“Baik Kak.”


Di saat mereka semua sedang melihat keruangan Maryati, tiba-tiba salah seorang anggota polisi datang menghampiri mereka berempat.


“Kalian ini ada keperluan apa kesini?” tanya polisi itu pada Danu dan ke tiga adiknya.


“Oh, eh, maaf Pak.”


“Kalau nggak ada keperluan sebaiknya kalian pergi saja.”


“Ba..bab..baik Pak,” jawab mereka serentak.


Ketika mereka semua sedikit menjauh, lalu Danu datang menghampiri polisi yang sedang berjaga itu.


“Ada apa lagi Dek?”


“Maaf Pak, apa boleh aku tahu, ada apa dengan gadis itu.”


“Percobaan pembunuhan.”


“Ooo, di mana kejadiannya Pak?”


“Apakah kau kenal dengannya?”


“Nggak.”


“Ya sudah pergi sana, biar polisi yang akan mengurusnya nanti.”


“Baik Pak,” jawab Danu seraya mengajak ke tiga orang adiknya untuk menjauh dari polisi itu.”


“Gimana keadaannya Kak?” tanya Heru ingin tahu.


“Kondisinya parah, semua tubuh Maryati penuh dengan luka bekas senjata tajam.”


“Oh, kasihan sekali Yati, udah di rumah sering kena marah, diluarpun di aniaya oleh orang jahat,” ujar Heru pada dirinya sendiri.


“Ya sudah kalau begitu, mari kita kembali ke sawah, nanti kalau Ibu datang, pasti dia marah pada kita.”


“Baik Kak,” jawab ketiga anak itu serentak.


Tanpa berfikir panjang lagi, mereka berempat pun pergi meninggalkan Desa Cempaka. Di tengah perjalanan, hati Danu terasa begitu sesak sekali. Di bawah sebatang pohon dia pun mencoba untuk duduk sejenak.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2