Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 120 Wafatnya Maryati


__ADS_3

Keesokan harinya, tiba-tiba saja Tomi berteriak-teriak minta tolong, Leni yang saat itu sedang berada di rumah, langsung berlari menghampiri rumah Ibunya.


“Ada apa Yah? kenapa minta tolong?” tanya Leni ingin tahu.


“Lihat Ibu mu Leni, dia udah sekarat, tolong kau jaga sebentar, Ayah akan memanggilkan bidan.”


“ Iya Yah,” jawab Leni seraya mengganti pakaian Ibunya yang sudah basah karena diare yang di alaminya.


“Ibu sakit ya Bu?”


Mesti suara Leni terdengar di telinganya, namun Maryati tak menjawab, sepertinya saat itu Maryati sudah setengah sadar.


"Apa yang telah terjadi dengan Ibu, kenapa bisa begini?"


Karena bidan terlalu lama datang, lalu Leni mencoba berlari keluar rumah melihat kedatangan Ayahnya dan meninggalkan Ibunya sendirian.


Di saat itulah Maryati pergi menghadap sang pencipta, Allah semesta alam, yang selama ini dia sembah dan dia puja keagungannya.


Maryati telah pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan dunia fana dan juga ke enam orang anak-anaknya, isak tangis pun menggema di seluruh jagat semesta. Maryati pergi, meninggalkan beban yang selama ini dipikulnya.


Leni yang melihat Ibunya telah tiada, Dia pun tak kuasa menahan air mata, semua kesalahan pun mulai terbayang di pelupuk mata, Leni pun menjerit histeris di samping jenazah Ibunya.


Berita kepergian Maryati di sebarkan ke seluruh penjuru, seluruh anak-anak Maryati pun sudah berdatangan, tamu yang berada di kota Padang, juga sudah berada di rumah duka, tapi tak ada Bima diantara mereka yang berdatangan.


Nisa yang baru mendapatkan kabar, langsung bergegas menuju rumah Ibunya, sementara Tia sudah duluan tiba di rumah tersebut.


Ketika Nisa datang sudah banyak orang yang melayat, air mata Nisa tak bisa di pendam lagi, dia terus saja mengalir tiada henti, saat melihat Nisa datang Tia langsung marah.


“Semua ini gara-gara kau Nisa, kau udah tahu kan kalau Ibu sedang sakit, lalu kenapa kau menyuruhnya pulang?”


“Aku takut, kalau di tempat ku, sakit Ibu semakin parah, kan kita semakin susah membawa Ibu ke rumah ini.”


“Alasan!” bentak Tia saat itu.


“Lagian, selama Ibu berada di rumah mu, kenapa kau nggak mau mencuci pakaiannya?”


“Semua pakaian yang ada di dalam tas Ibu, itu bersih semua, aku yang mencucinya.”


“Bohong! buktinya saja, Ibu menyuruhku mencuci pakaiannya kembali,” jawab Tia.


“Setiba di rumah ini, Ibu juga menyuruhku mencuci semua pakaiannya itu kembali,” jawab Leni.


“Padahal pakaian Ibu itu udah ku cuci semua Len.”


“Kalau Begitu, Ibu telah menguji kita bertiga sebelum ajal menjemputnya, dia ingin membuktikan siapa anak yang telah berbakti padanya dan siapa pula anak yang telah durhaka padanya,” jawab Nisa dengan suara lantang.

__ADS_1


Mendengar ucapan Nisa Leni dan Tia hanya tertunduk diam, sementara itu Nisa melihat, tak ada Tedi diantara mereka semua.


“Bang Tedi mana? kenapa dia nggak ada?” tanya Nisa ingin tahu.


“Dia belum datang, tapi kami udah menyuruh orang untuk menjemputnya,” jawab Andi yang terus menangis.


"Yang sabar dek, ini ujian untuk kita semua."


" Iya Kak," jawab Andi pelan.


Sesaat kemudian, orang suruhan Andi pun datang, menghampiri rumah itu, Andi yang melihat kedatangan Yedi langsung bergegas menemuinya.


“Gimana, apakah Bang Tedi datang?”


“Dia nggak mau datang Bang.”


“Kenapa?”


“Istrinya marah banget.”


“Apa kata istrinya?”


“Biarkan aja perempuan jahat itu sakit , mati aja sekalian, biar hilang satu musuh dalam hidup ku.”


“Ya Allah! kalau nggak begini aja, katakan padanya kalau Ibu udah meninggal dunia.”


Untuk panggilan kedua, Ana juga mengucapkan kata yang sama, namun pada penjemputan yang ke tiga kalinya, barulah Tedi mengajak Ana dan kedua anaknya melihat Ibunya untuk yang terakhir kali.


Setibanya di rumah duka, di hadapan semua orang, tampak Ana menangis histeris di hadapan jasad Maryati. Tak sepatah katapun yang terucap dari mulut semua orang, selain air mata yang terus mengalir tiada henti.


Setelah semuanya berkumpul, begitu juga dengan saudara Tomi, lalu jasad Maryati di mandikan. Di saat itulah, semua orang melihat air mata Maryati mengalir tiada henti.


“Ibu mu terus saja mengeluarkan air matanya Nisa,” bisik Marni yang saat itu ikut memandikan jasad Maryati.


“Benarkah itu Bu?” tanya Nisa ingin tahu.


“Kau lihatlah sendiri,” ujar Bu Marni pada Nisa yang saat itu memandikan Ibunya di bagian kaki.


Kemudian dengan perlahan Nisa pindah kearah bagian kepala Ibunya, saat itu Nisa benar-benar melihat air mata Maryati mengalir tiada henti.


“Ya Allah, ampuni segala dosa Ibu ku, ya Allah. Terimalah dia di sisimu, berilah Ibu ku tempat yang layak yang membuatnya bisa tersenyum dan tak lagi menangis.”


Setelah Maryati selesai di mandikan, lalu diapun di kafankan, saat itu semua orang masih melihat air mata Maryati masih saja mengalir.”


“Pak ustadz, Ibu ku kenapa? dia terus saja menangis tiada henti.”

__ADS_1


“Bagi semua anak-anaknya, apakah ada di antara kalian yang telah menyakiti hati Ibu kalian? kalau benar segeralah meminta maaf kepada nya, kalau nggak kalian akan menjadi orang yang merugi.”


Saat pertanyaan ustadz itu terdengar jelas di telingan semua anak-anak Maryati, namun tak seorang pun yang mau mengakuinya.


“Ya sudah, kalau kalian nggak ada yang mau menjawabnya, ya nggak apa-apa. Tapi ingat, sebelum jasad Ibu kalian kita masukkan kedalam keranda, kalian tak adalagi yang bisa meminta maaf padanya.”


Semua tampak terdiam, kecuali Nisa, dia langsung bersimpuh dan menangis di hadapan jasad Ibunya.


“Maafkan aku Bu, aku telah menyakiti hati Ibu dan banyak berbuat salah pada Ibu, jika Ibu nggak mau memaafkan aku, maka aku akan menjadi orang yang sangat merugi. Aamiin!” ucap Nisa seraya mencium wajah Ibunya untuk yang terakhir kali.


Setelah Nisa berdiri, semua orang langsung menutup keranda dan membawanya ke musholla terdekat. Di Musholla itu, jenazah Maryati disholatkan oleh semua penduduk, yang bertindak sebagai imam saat itu adalah Aditia.


Di antara anak-anak Maryati, hanya Leni, Nisa dan Andi yang ikut ke kuburan, selebihnya, tak ada yang mau ikut. Mereka semua lebih memilih berada dirumah, ketimbang mengiringi jasad Ibunya untuk yang terakhir kali.


Padahal saat itu cuaca sangat cerah, lalu tiba-tiba saja menjadi gelap dan petirpun saling menyambar, suasana alam yang berubah secara tiba-tiba itu membuat semua pelayat yang mengiri jasad Maryati merasa begidik, mereka semua takut, kalau-kalau petir akan menyambarnya.


Setelah tiba di pemakaman, semua orang mulai bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing, saat itu Nisa melihat kalau kain kafan Ibunya basah karena air mata.


“Pak ustadz, Ibu ku kenapa menangis terus?” tanya Nisa heran.


“Sepertinya ada yang telah menyakiti hati beliau sebelum dia meninggal.”


Sebenarnya Anisa tahu, siapa yang telah menyakiti hati Ibunya, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Karena saat itu, Anisa tak ingin membuat semuanya jadi malu.


Ketika mayat Maryati telah di kubur, Mayar, orang yang selama ini begitu jahat pada Maryati, datang dan berbicara pada semua orang.


“Dengarkan semuanya, aku ingin menyampaikan sesuatu pada kalian.”


“Kakak, mau bicara apa?” tanya Jihan ingin tahu.


“Sebenarnya Maryati ini berasal dari keluarga terpandang di derah jawa, Ayahnya seorang konglomerat terkaya dan dermawan, yang berdarah Biru, tapi setelah kedua orang tuanya tiada, Maryati di besarkan oleh Bibinya yang kejam dan jahat.”


“Dari mana Kakak tahu?” tanya Jihan tak percaya.


“Dari Kakak kandung Maryati yang bernama Sulastri, yang selama ini mencari keberadaan adiknya.”


“Kenapa Kakak nggak memberitahukan hal itu pada Kakaknya, kalau Maryati ada di Sumatra?”


“Sudah, dia juga sudah tahu di mana adiknya tinggal.”


Semua orang yang mendengar asal usul usul Maryati, dia hanya bisa mengangguk kan kepalanya. Untuk itu Tomi hanya bisa menuliskan Binti Arya Diningrat di makam Maryati.


“Sungguh malang nasib Ibuku, ternyata dia seorang konglomerat yang miskin dan menderita, setiap hari, Ibu ku hanya bermandikan air mata. Hingga meninggal dunia, air mata Ibu ku tak pernah berhenti mengalir.


Hanya ini kisah yang dapat ku ceritakan, semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya dan menjadikan pelajaran yang berharga dalam hidup ini, karena Allah itu senantiasa berbuat sekehendaknya. Kita sebagai hamba, hanya bisa menjalankan takdir hidup sesuai dengan ketetapan yang telah di tentukan, wassalam.

__ADS_1


\* TAMAT\*


__ADS_2