Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 86 Hasutan


__ADS_3

“kata siapa seperti itu Bu?”


“Kata Ibu, karena Ibu tahu, kau sengaja nggak memberi Leni uang karena kau takut Ibu akan meminta uang padanya, begitu kan yang ada di pikiranmu selama ini?”


“Ah, aku nggak seperti itu kok, Bu. Ini semua pasti Leni sudah mengadu domba kita berdua.”


“Heh, Rijal, sebenarnya yang tukang mengadu domba itu kau, bukan Leni, kau selalu saja berpikiran jahat pada istrimu, kau kira Ibu pernah meminta uang pada istri mu? nggak..! sama sekali Ibu nggak pernah memakan uang hasil keringatmu itu.”


“Tapi aku tak pernah beranggapan seperti itu kok Bu.”


“Cukup Rijal, Ibu nggak mau lagi mendengar ke bohongan apa pun dari mulutmu, sekarang kau jawab dengan jujur, kau mau nggak memberi Leni uang setiap bulannya? kalau nggak, maka tinggalkan segera putri Ibu dan carilah istri baru yang bisa kau perdaya sesuka hati mu.”


Rijal yang mendengar ucapan Ibu mertuanya, hatinya merasa sakit sekali. Mesti demikian, Maryati tak memperdulikannya, dia terus saja berlalu meninggalkan Rijal untuk berfikir sendiri.


Semalaman mata pria itu sulit untuk di pejamkan, dia tak ingin Leni menikah dengan pria lain, karena yang ada di hati Rijal saat itu hanya Leni.


Dua hari kemudian, Rijal memutuskan untuk mendatangi rumah Maryati, Rijal berjanji akan memenuhi semua keinginan Leni, memberinya uang setiap bulan dan mencukupi semua kebutuhan istri dan anaknya.


Padahal saat itu Leni tak pernah meminta uang lebih pada suaminya, Leni hanya ingin setiap gajian dia diberi uang oleh suaminya. Tapi Rijal beranggapan lain, dia memberi uang lebih pada Leni setiap bulannya dan mencukupi seluruh kebutuhan istrinya.


“Kau dapat uang sebanyak ini dari mana Bang?” tanya Leni ingin tahu.


“Kenapa emangnya, kau nggak mau di beri uang lebih.”


“Mau sih, tapi kalau uangnya dari hasil korupsi, aku takut menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari.”


“Alah, kau nggak usah berfikiran negatif dulu, kau kira semua uang yang di dapat lebih dari hasil gaji kita, itu uang hasil korupsi?”


“Mana aku tahu.”


Semenjak hari itu Leni tak lagi memikirkan dari mana suaminya dapat uang banyak. Pagi itu Rijal sengaja tak berangkat kerja, karena sakit. Ravi datang kerumah Leni untuk meminta uang. Ravi nggak tahu kalau saat itu Rijal sedang berada di dalam kamarnya.


“Tante, boleh aku minta uang?”


“Uang untuk apa?”


“Untuk jajan.”


“Ini ambilah,” ujar Leni seraya memberi uang pecahan lima ribu rupiah.”


“Makasih Ante!” ujar Ravi seraya berlari menuju warung yang tak jauh dari rumah Leni.

__ADS_1


Setelah Ravi menjauh, Rijal langsung berdiri dan menutup pintu kamarnya. Leni yang melihat gelagat suaminya itu, merasa sedikit heran.


“Berapa kau kasih dia uang?” tanya Rijal pada Leni yang saat itu sedang memberikan ASI pada putranya.


“Abang kan lihat sendiri tadi, aku ngasih uang berapa pada Ravi.”


“Kau benar-benar keterlaluan Len, kau kira aku nggak capek bekerja pergi pagi pulang sore, sementara kau di rumah, hanya menghambur-hamburkan uang pada keluarga mu.”


“Kau mulai lagi rupanya, ingat dengan perjanjian mu, kalau kau nggak akan ikut campur lagi dengan urusan ku.”


“Pasti Ibu mu sengaja menghasut Ravi untuk meminta uang setiap hari padamu.”


“Terserah apa katamu! aku lagi malas berdebat denganmu saat ini.”


“Kau mau kemana Len?”


“Aku mau kerumah Ibu!”


“Agar kau tahu, Ibu mu itulah yang menyebabkan kita seperti ini, tampaknya saja dia lugu dan baik, padahal hatinya jahat dan licik.”


“Terserah mu beranggapan seperti apa, aku bosan mendengarnya.”


“Kenapa sih kau nggak percaya?”


“Ya tentu!”


“Dasar munafik kau Bang,” jawab Leni seraya terus berjalan.


Maryati yang saat itu sedang berada di jalan, dia mendengar langsung pertengkaran Leni bersama suaminya.


“Kenapa? bertengkar lagi?”


“Biasa Bu, sudah menjadi sarapan kami berdua,” jawab Leni yang terus saja berjalan.


Maryati hanya bisa geleng kepala, karena dia sendiri tak bisa masuk lebih dalam ke rumah tangga putrinya itu.


Sementara itu, Anisa Putri bungsu Maryati, yang saat itu bekerja, dia ingin melanjutkan pendidikannya. Semua itu sengaja dia lakukan, karena semua Kakaknya telah tamat, Anisa memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke SMA.


Di sekolah barunya, Nisa mendapat begitu banyak teman, karena Nisa adalah anak baik yang mudah bergaul dengan siapa saja.


Di saat Anisa bersekolah, Maryati tak lagi merasa kesulitan dalam perekonomian rumah tangganya, karena hanya Nisa sendiri yang akan dia biayai sekolahnya, sementara yang lainnya sudah tamat. Begitu juga dengan adik bungsu Nisa, dia tak ingin lagi melanjutkan sekolahnya.

__ADS_1


Mesti Tomi dan Maryati telah berusaha untuk menyekolahkannya, namun Andi sepertinya tak ingin bersekolah, dia lebih memilih berhenti.


Sedangkan Rendi yang sudah tamat dari sekolah STM, dia juga jadi pengangguran saat itu, karena belum ada pekerjaan yang cocok dengannya.


Satu tahun Anisa bersekolah, Tia pulang kerumah setelah putranya berusia empat tahun. Dia pulang hanya untuk mengabarkan pada Ayah dan Ibunya kalau dia akan menikah dengan pria lain.


“Kau kenal di mana pria itu Tia?” tanya Maryati ingin tahu.


“Aku sudah lama mengenalnya Bu, kami sama-sama bekerja di perusahaan yang sama.”


“Apakah dia sudah pernah menikah sebelumnya?”


“Belum Bu, dia seorang pria lajang.”


“Apakah kedua orang tuanya setuju dengan pernikahan kalian ini?”


“Aku nggak tahu, tapi kata Bang Novri, kalau kedua orang tuanya nggak setuju, dia akan tetap menikah dengan ku.”


“Apakah dia tahu, kalau kau ini seorang janda?”


“Sudah Bu.”


Karena niat dan permintaan Mutia, akhirnya Maryati dan Tomi merestui pernikahan mereka berdua. Di hadiri oleh keluarga pria, ijab qobul pun berjalan aman dan lancar. Pesta pernikahan pun di gelar sederhana, namun pada pihak laki-laki, pesta pernikahan mereka, di laksanakan sangat meriah sekali.


Beberapa tahun menikah, Tia pun melahirkan seorang anak-laki-laki, Maryati datang membantu saat putrinya itu melahirkan anaknya.


Bersama suami barunya itu pulalah, Tia sering datang berkunjung ke rumah Ibunya, mereka bertiga datang dengan membawa oleh-oleh dan makanan.


Tomi dan Maryati sempat merasakan kebaikan anak menantunya itu. Tapi hal itu ternyata tak bisa di rasakan begitu lama, karena Rijal mulai menghasutnya untuk membenci keluarga Tia.


Novri yang awal mulanya baik, sedikit demi sedikit mulai berubah, dia seperti mulai menjauh dari keluarga Tia, bahkan setiap pulang, Novri bahkan tak sempat lagi menemui Tomi dan Maryati, begitu juga dengan Tia, mereka berdua lebih memilih bermalam di rumah Leni.


“Tadi aku mendengar suara Tia datang, mana dia?” tanya Tomi yang penglihatannya sudah mulai kabur.


“Iya Ayah, tapi dia tak mampir ke sini.”


“Lalu kemana dia?”


“Kerumah Kak Leni,” jawab Nisa.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2