
“Ada apa Bu? kenapa Ibu memanggil ku?”
“Cepat kembalikan tusuk konde Ibu yang telah kau ambil.”
“Aku nggak ngambil tusuk konde itu Bu.”
“Cepat kembalikan!” bentak Roro sembari menampar meja dengan kuat sekali.”
“Tapi aku nggak mengambilnya Bu.”
“Kalau kau tetap berbohong pada Ibu, maka Ibu akan memotong lidah mu itu.”
Mendengar ancaman dari Roro, hati Danu merasa takut, karena selama ini Ibunya itu nggak pernah melanggar ucapannya, jika dia berniat seperti itu, maka hal itu pasti dia lakukan, karena takut, secara perlahan Danu pun mengeluarkan tusuk konde itu dari dalam bajunya.
“Ini, Bu,” ujar Danu seraya menyerahkan tusuk konde itu kepada Ibunya.
Lalu tusuk konde itu pun di ambilnya, dari tangan Danu, mata Roro yang tajam langsung melotot kearah Danu.
“Kau putra kesayangan ku, kesalahan untuk kali ini ku maafkan, tapi untuk kesalahan berikutnya, kau akan mati di tangan ku.”
Mendengar ancaman Roro, nyali Danu menjadi ciut, tanpa berpikir panjang lagi, Danu langsung meninggalkan Ibunya.
“Kurang ajar kau Maryati, aku akan buat perhitungan dengan mu,” gerutu Danu dengan kesal.
Seperti biasa, setelah mereka sarapan pagi, seluruh anak-anak Roro, pergi berangkat ke sawah, sehingga rumah pun menjadi sepi. Akan tetapi, pagi itu Roro lupa menghitung putranya, sehingga Danu masih berada di dalam kamarnya.
Sementara kesembilan adik-adiknya sudah sepakat untuk meninggalkan Kakaknya di kamar, karena ada rencana jahat yang sedang di rencanakan Danu saat itu.
Setelah di lihat suasana sepi, lalu Danu keluar dari kamarnya, di tangan kanannya ada sebilah arit yang sering di pergunakan untuk memotong rumput.
Pagi itu dengan pelan Danu menggosok arit itu hingga tajam, di dalam kamar mandinya.
Roro yang melihat putra sulungnya tidak berangkat ke sawah, dia pun mencoba untuk menghampirinya.
“Lagi ngapain kau Danu?”
“Aku sedang menggosok Arit Bu.”
__ADS_1
“Kenapa udah siang kau baru menggosoknya?”
“Tadi aku ketiduran Bu.”
‘Sekarang cepatlah kau gosok, dan susul adik-adik mu ke sawah, nanti mereka kesulitan mengurus kerbau-kerbau kita.”
“Baik Bu,” jawab Danu seraya menggosok aritnya hingga tajam sekali.
Saat Danu terus beraksi menggosok arit yang ada di tangannya, mata Danu tak henti-hentinya memperhatikan Maryati yang masih terikat di kandang Kerbau.
Ketika aritnya selesai di gosok, Danu pun pergi meninggalkan rumahnya, tak lama berselang, Roro datang ke kendang kerbau untuk melepaskan ikatan tangan Maryati, yang tampak lemah karena di siksa.
Mesti saat itu Roro tahu, kalau yang mencuri tusuk konde nya bukan Maryati, namun dia tak berniat sedikit pun untuk menolong Maryati yang sudah lemas karena tak makan.
“Sekarang ikatan tangan mu sudah ku buka, pergilah kau mandi kesana bersihkan kotoran kerbau yang ada di wajah mu itu.”
“Aku lapar Bi,” rintih Maryati dengan suara pelan.
“Nggak ada makanan untuk mu hari ini, setelah kau selesai mandi, kau bersihkan seluruh rumah dan sapu halaman hingga bersih!” perintah Roro pada gadis malang itu.
Tak sepatah kata pun terucap dari bibir Maryati, rasa sedihnya semakin memuncak di saat Roro memerintahkan dirinya untuk membersihkan rumah dan menyapu halaman yang begitu luas.
Mesti suara itu terdengar oleh Roro, namun dia terus berlalu dan mengabaikan gadis malang itu.
Setelah dua jam bertahan di kandang kerbau, Maryati memutuskan keluar dari rumah Roro, untuk pergi ke sawah.
Mesti dia berjalan terseot-seot, namun Maryati terus saja mencoba untuk melangkah.
Di sepanjang perjalanannya Maryati terus saja menangis tiada henti, terasa begitu berat perjuangan hidup yang mesti dia lalui.
“Ibu tolonglah putri mu ini, kemana lagi aku mesti mengadukan kesedihan ku ini Ibu,” huk, huk, huk!”
Setelah berjalan agak begitu jauh, tiba-tiba saja Maryati di hadang oleh Danu yang saat itu sedang memegang arit yang tajam di tangannya.
“Hahaha..! aku tahu, pasti kau akan keluar dari rumah ku, ternyata kau kesini, kau mau kemana hah..!” bentak Danu seraya menarik rambut Maryati.
“Lepaskan aku, lepaskan sakit!” teriak Maryati seraya meronta-ronta minta di lepaskan.
__ADS_1
“Kau kira semudah itu aku melepaskan mu, kau gadis kotor yang menjijikan kan. Kali ini aku akan mengirim mu pada Ibu yang selalu kau sebut-sebut itu.”
“Tolong lepaskan aku, ku mohon, sakit.”
Mesti Maryati menangis menahan rasa sakit, namun Danu tak merasa berbelas kasihan sedikit pun. Tubuh Maryati yang sudah lemah itu, di dorong Danu kedalam aliran air sawah, lalu dia pun berulang kali mengayunkan aritnya ke tubuh Maryati dan ke bagian kepalanya.
Spontan gadis yang sudah lemah itu pun tak berdaya, suara jeritannya nyaris tak terdengar lagi. Di dalam saluran air sawah itu, Maryati terkapar dengan luka sobekan benda tajam
Danu yang telah puas membalaskan rasa sakit hatinya, dia pun kemudian pergi meninggalkan Maryati setelah mencuci bersih tangannya yang berlumuran darah.
Di dalam saluran air itu Maryati tergeletak, begitu banyak darah yang keluar dari tubuhnya, namun tak seorang pun ada orang yang melewati tempat itu.
Setelah dua jam tak sadarkan diri, Maryati pun kemudian siuman, dia memegang kepalanya yang terkena luka sobek oleh arik Danu.
“Ibu, tolong aku, apa yang mesti aku lakukan untuk mengobati luka ini?” gumam Maryati seraya mencoba merayap keluar dari aliran sawah itu.
Air persawahan yang tadinya mengalir dengan jernih, saat itu telah berubah menjadi merah, darah Maryati tak henti-hentinya mengalir. Lalu gadis kecil itu mencoba mengambil beberapa helai dedaunan yang tumbuh di tepi sawah.
Daun itu pun di kunyah hingga halus dan dilumurkan ke luka sobek yang ada di kepalanya, agar darah tak lagi mengalir deras.
“Oh, pahit sekali rumputnya, rumput apa ini, apakah aku bisa bertahan hingga siang ini? oh, aku nggak tahu.”
Beberapa saat kemudian, darah di kepala Maryati berhenti mengalir, namun luka sobekan yang ada di kaki dan sekujur tubuhnya tak henti-hentinya mengeluarkan darah.
Karena banyak mengeluarkan darah, pandangan mata Maryati lama-kelamaan menjadi kabur dan berubah menjadi gelap. Gadis malang itu pun akhirnya terkapar dengan bersimbah darah.
Dari kejauhan beberapa orang pemburu babi melewati tempat itu, mereka semua terus saja berjalan tanpa melihat kekanan dan kekiri begitu juga dengan anjing-anjing mereka.
Setelah sedikit jauh anjing-anjing itu terlihat gelisah, para pemburu merasa heran, karena anjing mereka selalu ingin turun ke saluran air sawah.
“Hei ada apa dengan anjing-anjing kita ini, kenapa dia terlihat begitu gelisah sekali?” tanya salah seorang pemburu pada teman-temannya.
“Iya benar, anjing ku, bahkan ingin turun ke saluran air sawah.”
“Barang kali anjingmu ingin buang air.”
“Ya kau benar, akan ku coba untuk mengikutinya kebawah sana.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*