
“Nah, makanlah buah ini Tia, kau pasti lapar bukan?”
“Tapi aku mau makan nasi Bu, aku nggak mau buah!”
“Sayang, saat ini kita berada di tengah hutan, jadi nggak ada nasi disini ya nak, jika kita bertemu dengan Ayah nanti, Tia bisa makan yang kenyang, ya nak.”
“Baik Bu.”
“Anak pintar.”
Satu buah jambu itu di bersihkan Maryati dengan menggunakan tangannya, lalu di berikan pada Tia dan Leni, karena lapar, mereka pun memakan jambu biji itu dengan lahap sekali.
Maryati yang memandang ke tiga anaknya memakan buah jambu itu dengan lahap, hatinyapun terasa teriris pilu, tak di sangkannya sama sekali, kalau garis hidup yang dia jalani begitu pahit dan menyedihkan.
Terlepas dari Bibi yang kejam, Maryati mendapatkan seorang Ibu angkat yang baik, tapi hanya untuk sementara, dapat suami yang di anggap bisa melindungi dan membahagiakan dirinya, juga tak bisa di andalkan.
Tinggal bersama mertua, kekejamannya melebihi Bibi yang telah dia tinggalkan, kini hidupnya tak menentu apakah masih banyak kesulitan yang akan dia hadapi sesudahnya atau kebahagian.
Maryati hanya bisa menangis pilu dan sedih.
“Ya Allah, apa yang mesti hamba lakukan, di saat seperti ini hamba sangat berputus asa, tak tahu mesti kemana. Lalu bagai mana dengan anak-anak hamba ya Allah? apakah mereka juga akan mengalami kesulitan yang berkepanjangan bersama hamba, atau engkau beri jalan yang terang untuk hamba.”
Di tengah malam, Maryati tafakur di hadapan sang pencipta, hanya kepada Allah dia bisa mengadukan semua keluh kesah yang sedang dia hadapi. Di saat ketiga anak-anaknya sedang tertidur lelap, Maryati sering sekali bermunajat ke pada Allah yang Maha melihat dan Maha mengetahui.
Tiga hari mereka berempat tak memakan nasi, hanya sekedar mengandalkan buah-buhan dan minum air mentah yang mengalir di pinggiran tebing. Maryati pun merasa putus asa.
“Bima, berapa sisa uang yang ada pada mu nak?”
“Kenapa Ibu bertanya uang itu pada ku.”
“Rasanya nggak mungkin kita akan bertahan disini, sebaiknya kita kembali saja ke kota sayang.”
“Kembali ke kota? kita akan tinggal di mana Bu?”
“Entahlah nak, setidaknya, kita bisa makan disana, lihat adik-adik mu, mereka lemah karena lapar, Ibu nggak tega melihat mereka nak.”
“Kalau di kota, kita akan jadi gelandangan Bu, kita bakal jadi pengemis, dikejar-kejar hansip dan di jebloskan kedalam penjara.”
“Lalu kita mesti gimana nak?”
“Aku juga nggak tahu Bu.”
“Jika di kota, setidaknya kita bisa meminta belas kasihan orang, atau memakan nasi bekas sisa orang yang telah mereka buang.”
“Nggak Bu, aku nggak mau kembali ke kota, aku nggak mau memakan nasi sisa orang lagi Bu.”
__ADS_1
“Apa bedanya nak, di rumah Bibi mu kita juga memakan nasi sisa mereka kan?”
“Ku mohon pada Ibu, tolong Ibu pikirkan lagi keputusan Ibu itu.”
Maryati jadi serba salah, perasaannya begitu hancur sekali melihat anak-anaknya hidup menderita karena kebodohan yang dia miliki.
“Semua ini karena Ibu bodoh, sehingga kalian menjadi menderita hidup bersama Ibu,” rintih Maryati dengan uraian air mata.
“Semuanya bukan salah Ibu, ini takdir Bu, nggak ada yang perlu di sesali lagi.”
“Lalu bagai mana dengan nasib kalian semua nantinya nak.”
“Ibu jangan pikirkan nasib kami lagi, sekarang Ibu bisa nggak menangis saja, kami semua sudah bersyukur,” jawab Bima seraya menghapus air mata Maryati dengan tangannya yang lembut.
“Kau anak yang berbakti Bima, semoga sampai hayat mu nanti, kau tetap menjadi anak yang berbakti.”
“Isya Allah, Bu,” jawab Bima tersenyum lebar.
Tak mendapat keputusan apa pun dari perdebatan kecil mereka berdua, mereka pun saling duduk bermenung. Entah apa yang ada di benak mereka saat itu, hanya mereka berdua yang tahu.
Tak berapa lama kemudian, sebuak jip melaju dengan kecepatan tinggi melintas di hadapan mereka semua, mobil itu di kendarai oleh seorang pria muda yang bertubuh tinggi. Setelah melintas sedikit jauh, tiba-tiba Jip kembali mundur kebelakang, menghampiri mereka berempat.
Supir mobil itu tak langsung turun kebawah, dia hanya melihat Maryati dan ketiga anak-anaknya dari dalam mobil saja. Kedatangan mobil jip itu membuat Maryati ketakutan, karena di kota besar pasti begitu banyak sekali perampok dan penculikan yang berakhir dengan pembunuhan.
“Entahlah nak, Ibu juga nggak tahu. Ibu takut sekali Bima.”
“Ibu tenang saja, ada aku bersama Ibu di sini.”
“Iya nak, cepat kau gendong adik mu, jika terjadi sesuatu nanti, cepat kita lari dari sini.”
“Baik Bu.”
Ketika mereka bersiap-siap hendak lari, tiba-tiba pintu mobil itu terbuka, dari dalam mobil itu keluar seorang pria muda. Pria itu menutup pintu mobil itu kembali dan berjalan menghampiri Maryati.
“Kalian siapa?” tanya pria itu pada Maryati.
“Maaf Bang, kami hanya numpang bermalam saja disini.”
“Nggak apa-apa, aku cuma nanya, kalian ini siapa? kenapa berada di jalan sepi begini?”
“Kami mau mencari Ayah, Om,” jawab Bima.
“Kalian berbahasa Indonesia, berarti kalian bukan orang sini dong?”
“Kami dari Jakarta, Om.”
__ADS_1
“Dari Jakarta? kesini mau cari siapa?”
“Ayah kami. Katanya dia bekerja di bukit suar.”
“Bekerja di bukit suar?”
“Iya, Om.”
“Bekerja sebagai apa dia di bukit suar?”
Mendengar pertanyan pria itu, Bima tak bisa menjawabnya, matanya yang bulat langsung menatap kearah Maryati Ibunya.
“Katanya dia bekerja di kebun orang.”
“Di kebun apa Bu? karena di bukit suar ini begitu banyak kebun, ada kebun cengkeh, kopi, kelapa, tembakau dan lain-lain sebagainya.”
“Dia nggak bilang kalau bekerja di kebun apa.”
“Ibu dan anak-anak udah berapa lama berada di tempat ini?”
“Udah tiga hari Om,” potong Bima dengan cepat.
“Tiga hari? lalu kalian makan apa selama tiga hari berada di sini?”
“Kami nggak makan apa-apa, selain hanya memakan buah jambu yang ada di belakang sana.”
“Oh, kasihan sekali nasib kalian. Tak apa, tunggu disini sebentar,” ujar pria itu seraya bergegas menuju mobil miliknya.
Setelah pria itu pergi, Maryati dan Bima saling beradu pandang, dia tak tahu apa yang akan di lakukan pria itu sebenarnya. Kemudian pria itu pun kembali seraya menenteng sebuah asoy plastik berwarna hitam dan beberapa botol minuman.
“Nah, kalian makanlah ini, hanya ini yang bisa saya berikan pada kalian,” ujar pria itu sembari membuka dengan lebar asoy plastik yang ada di hadapannya.
Dengan lahap ketihga anak Maryati memakannya hingga kenyang, Maryati tampak tersenyum senang ketika melihat perut anak-anaknya kekenyangan.
“Ibu nggak ikut makan?” tanya pria itu dengan suara lembut.
“Nggak.”
“Makanlah sedikit, agar kondisi Ibu nggak lemah.”
“Baiklah,” jawab Maryati seraya mengambil sebuah roti yang ada di hadapannya.”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1