Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 73 Kesedihan Maryati


__ADS_3

Namun kabar itu terdengar oleh Bima, dia bersama Dira datang kerumah Ibunya untuk menawarkan Tia tinggal bersama mereka.


Tia sangat senang sekali, karena dia tinggal bersama Abang yang sangat menyangi dirinya selama ini. tinggal bersama Bima, Tia hanya cukup berjalan kaki hingga tiba di sekolah.


Maryati yang masih bekerja di pabrik, satu kali dalam satu minggu, dia selalu datang untuk mengantarkan uang belanja Tia. Tapi Maryati tak pernah bertanya apa yang di rasakan oleh Tia selama dia tinggal di rumah Bima.


Tia memang tak mau berkeluh kesah pada Ibunya, karena Tia takut akan menjadi beban pikiran bagi Maryati. Mesti demikian Tia tak sanggup menjalani beban yang selama ini dia lakukan sendiri.


Kebahagian yang di rasakan Tia sewaktu dia tinggal pertama sekali di rumah Bima, ternyata itu hanya bersifat sementara, karena selain bekerja di rumah Bima, istrinya juga menyuruh Tia ke pasar untuk menjaga toko kain miliknya.


Waktu itu, ketika Tia menjaga Toko kain milik Dira, tiba-tiba saja Tia mengalami diare, bukan hanya sekedar itu, Tia bahkan muntah. Hal itu di alaminya secara berulang kali, sehingga tubuhnya menjadi lemah dan Tia jatuh pingsan di toko Dira.


Sudah beberapa jam tak sadarkan diri, tak seorang pun yang mengetahuinya termasuk Dira sendiri, namun ketika Dira hendak menutup tokonya, sepintas di melihat banyak muntah yang berserakan, setelah di periksa, Dira pun menemukan Tia sudah tergeletak.


Melihat hal itu, Dira langsung menjerit histeris. Beberapa orang datang menghampiri toko Dira dan mengangkat tubuh Tia ke rumah sakit.


Berita Tia masuk rumah sakit langsung di kabari Dira pada Maryati, bersama Anisa, Maryati langsung bergegas menuju rumah Bima.


“Emangnya Tia sakit apa nak?” tanya Maryati pada Bima.


“Dia mengalami muntah dan diare Bu,” jawab Bima singkat.


“Kenapa baru sekarang kau mengabari Ibu.”


“Emangnya kalau aku mengabari Ibu sejak awal, apakah Ibu ada uang untuk membayar rumah sakit?”


“Apa maksud mu Bima? Ibu nggak ngerti.”


“Tia udah tiga hari masuk rumah sakit dan hari ini dokter telah mengizinkannya pulang. Saat ini aku nggak punya uang, apa Ibu punya uang untuk biaya rumah sakit?”


“Saat ini Ibu belum punya uang nak, jika kau punya uang pakailah uang mu dulu, nanti akan Ibu ganti semuanya.”


“Tapi kami nggak punya uang Bu!” ujar Dira dengan suara yang sedikit meninggi.


“Kejadian ini mendadak, jadi Ibu nggak sempat meminjam uang di pabrik,” jawab Maryati dengan suara lembut.


“Itu makanya, kalau nggak punya uang, jangan punya anak banyak-banyak, begini jadinya kan? bikin susah orang saja!” jawab Dira dengan kasarnya.


Ucapan Dira yang kasar itu membuat Maryati tersinggung, Maryati merasa telah di hina oleh Dira menantunya sendiri.


“Apa maksud dari ucapan mu itu Dira, Ibu nggak ngerti?”


“Mana mungkin Ibu mengerti, bukankah Ibu dulunya nggak sekolah.”


“Heh, Dira! mesti aku ini orang bodoh dan miskin, itu bukan berarti aku nggak sanggup membiayai berobat putriku, jangankan untuk itu, untuk biaya menikah kalian saja aku memberikan satu emas untuk itu. Lagi pula, tadi Ibu sudah katakan pada mu, kalau Ibu hanya meminjam uang kalian untuk sementara.”

__ADS_1


“Tapi kami nggak punya uang, kalau Ibu bisa meminjam, kenapa nggak Ibu usahakan saja sendiri.”


“Sudah! cukup, cukup! kenapa kalian malah bertengkar sih? lagian Ibu nggak perlu melawan istri ku seperti itu, bukankah selama ini kami telah bersusah payah memberinya tempat dirumah ini?”


“Jadi sekarang kau menyalahkan Ibu Bima!”


“Lalu siapa yang mesti aku salahkan, bukankah Ibu tahu sendiri, kalau selama ini Dira telah bersusah payah mengurus Tia dirumah ini.”


“Kau dan istrimu sama saja Bima,” ucap Maryati dengan uraian air mata.


Perasaan Maryati tak dapat di tahan lagi, sambil menangis diapun berlari kedalam kamar Tia, yang terletak di samping dapur rumahnya.


Di dalam kamar itu Maryati menangis tiada henti, mesti Nisa telah berusaha untuk menghentikan agar Ibunya tidak menangis, namun Maryati tetap saja menangis sedih.


Bima benar-benar keterlaluan, Ibu yang selama ini di larang menangis karena penderitaan, malam itu dia sendiri yang menginginkan Ibunya mengalirkan air mata.


Hingga sampai dini hari Maryati terus menangis tiada henti, airmatanya tak mau berhenti mengalir, Maryati begitu tersiksa sekali oleh sikap putranya itu.


Tengah malam, ketika Bima hendak kekamar mandi, dia mendengar suara Ibunya menangis, dia pun langsung masuk kedalam kamar itu, ternyata benar apa yang di dengarnya, saat itu Bima mendapatkan Ibunya sedang menangis tersedu-sedu.


“Ibu kenapa menangis?” tanya Bima ingin tahu.


Maryati hanya diam saja, tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, lalu Bima bertanya pada Nisa, yang berada di samping Ibunya.


“Abang tanya aja sendiri pada Ibu, kenapa dia menangis.”


“Bukankah Ibu berada bersama Nisa dari tadi, berarti Nisa tahu kenapa Ibu menangis?”


“Ibu menangis, karena Abang dan Kak Dira bicara kasar pada Ibu.”


“Bicara kasar? Abang nggak pernah bicara kasar pada Ibu.”


“Kalau Abang nggak merasa bicara kasar, ya sudah!” jawab Nisa dengan ketus.


Merasa tak senang dengan jawaban Nisa, Bima terus saja bertanya pada Ibunya, tentang hal apa yang membuatnya menangis.


Seperti semula, Maryati tetap saja membisu, hingga pagi menjelang, dia langsung mengajak Nisa keluar dari rumah itu, tanpa bicara sepatah kata pun pada Dira dan Bima.


Pagi hari, ketika Dira selesai memasak, dia tak menemukan Ibunya ada di dalam kamar, dia pun menghampiri Bima dan bertanya tentang keberadaan Ibu mertuanya itu.


“Cari di kamarnya Dira.”


“Nggak ada Bang, kamar Tia itu udah kosong.”


“Kau serius?”

__ADS_1


“Iya Bang, sepertinya Ibu udah pergi dari tadi.”


“Ternyata Ibu udah pergi bersama Nisa, secara diam-diam.”


“Kenapa Ibu pergi dengan diam-diam Bang?”


“Ibu tersinggung dengan ucapan mu dan ucapan Abang tadi malam.”


“Hanya masalah sepele itu, Ibu mu langsung tersinggung?”


“Namanya saja orang sudah tua, pasti bersifat sensitive dengan semua ucapan.”


“Ya sudah, kalau dia nggak ingin beralama-lama disini, baguslah, nggak ada yang akan menjadi beban dalam hidupku.”


Bima yang mendengar ucapan Dira, hanya diam saja, bukannya menegur, Bima malah tersenyum sinis di hadapan istrinya.


Sementara itu Maryati yang telah kembali pulang kerumahnya, dia tak banyak bicara pada semua orang, Tomi yang melihat istrinya diam, diapun merasa heran.


‘Ada apa Yati? kenapa kau terlihat murung?”


“Nggak ada,” jawab Maryati singkat.


“Pasti telah terjadi sesuatu.”


“Bima dan istrinya telah bersikap kasar pada ku.”


“Bima bersikap kasar pada mu?”


“Iya Bang.”


“Bukankah selama ini, Bima sangat menyayangi kita sekeluarga ya?"


“Iya, tapi saat ini dia telah berubah Bang.”


“Maksud mu, dia berubah gimana?”


“Dia kasar sama seperti istrinya.”


“Berarti Bima telah di pengaruhi oleh istrinya.”


“Ya, mungkin saja begitu,” jawab Maryati seraya menangis.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2