
“Kurang ajar kau Nisa, kau pandai sekali mengadukan keburukan ku pada Abang mu,” gerutu Ana seraya menatap mata Nisa dengan pandangan yang mengandung kebencian.
Mulai hari itu hubungan antara Nisa dan Ana terlihat semakin memburuk, jika Ana punya kesempatan dia selalu menyalahkan Nisa dan mengadukan keburukan Nisa pada Tedi.
Sementara itu Tedi yang selalu menilai istrinya baik dan tak bersalah, dia sering mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya pada ke dua belah pihak terlebih dahulu.
Nisa sering tersakiti oleh mereka berdua, apa lagi Nisa sedang hamil, hal itu tentu membuat perasaannya sering tertekan.
Di saat Tedi dan Adit pergi bekerja, Ana mulai bergunjing dengan tetangga sebelah rumahnya, Nisa yang mendengarkan percakapan mereka merasa tersinggung dan tersakiti.
Waktu itu ketika Adit pulang bekerja, dia mendapatkan Anisa sedang menangis sedih di dalam kamarnya, Adit merasa heran, karena selama dia tinggal di rumah Tedi, Adit selalu melihat Nisa tersenyum.
“Kau kenapa nangis?” tanya Adit ingin tahu.
“Rasanya aku udah nggak sanggup lagi tinggal bersama mereka Bang.”
“Kenapa begitu? apakah kalian berdua bertengkar?”
“Bertengkar secara terang-terangan memang nggak. Tapi, Kak Ana selalu saja membuatku tersakiti.”
“Tapi kita mau pindah kemana sayang? rumah di sekitar sini udah penuh semua.”
“Aku udah nggak mau lagi tinggal disini Bang, kita pindah rumah aja, kapan perlu kita pulang kerumah ku.”
“Nggak bisa gitu dong sayang, semuanya itu ada prosedurnya, apa lagi aku ini seorang karyawan.”
Anisa memaklumi apa yang di katakan Adit padanya, untuk itu Nisa mencoba tetap bersabar dan bertahan sampai suaminya mendapatkan rumah baru untuk mereka tempati.
Setelah beberapa bulan mencoba bertahan, apa yang yang selama itu di takutkan Nisa akhirnya terjadi juga, karena tak tahan mendengarkan gunjingan Ana bersama tetangga sebelah rumahnya, Anisa langsung keluar dari kamarnya untuk melabrak Ana.
Anisa marah, karena Ana tak henti-hentinya menceritakan keburukan dirinya pada Susi tetangganya.
“Kakak memang jahat ya, bukan hanya Ibu saja yang Kakak sakiti, tapi aku juga, apakah Kak Ana tahu, kalau perbuatan Kakak itu udah kelewat batas.”
“Emangnya aku bicara apa pada Susi? aku nggak cerita apa-apa kok.”
“Nggak usah membantah lagi Kak, aku udah dengar semuanya, Kakak bercerita panjang lebar mulai dari A sampai Z. Kakak kira aku tuli apa! kalau Kakak nggak suka terus terang saja, biar kami pergi dari rumah ini.”
__ADS_1
“Silahkan saja pergi, memang itu yang ku mau selama ini.”
“Nah, itu dia yang ku tunggu dari mulut Kakak, ingin menyuruh ku pergi dari sini. Lagian, awal pertama kami ke sini, aku juga nggak menginginkan tinggal di sini, tapi kalianlah yang memaksa kami untuk tinggal bersama kalian.”
“Itu dulu! tapi setelah aku melihat semua keburukan laku mu, aku jadi muak, kalau kau ingin pergi, sana pergi! tunggu apa lagi!” bentak Ana dengan suara lantang.
Perdebatan mereka berdua terdengar hampir ke seluruh sudut komplek tempat tinggal mereka, semua orang yang mendengarnya merasa geram melihat tingkah Ana yang kasar itu.
“Ada masalah apa Nisa? kenapa kalian bertengkar?” tanya Umi ingin tahu.
“Setiap hari, pagi, siang dan petang, mereka berdua selalu saja menceritakan aku, mereka kira aku nggak dengar apa yang mereka ceritakan, Kak Ana benar-benar sudah kelewat batas pada adiknya sendiri.”
“Apa! adik, puih! jangan harap aku mau punya adik seperti mu, sampai mati pun aku nggak bakalan rela punya adik seperti mu.”
“Hus! jaga ucapan mu Ana, kau nggak baik bicara seperti itu. Hidup mu sendiri belum tentu sukses kan?”
“Walau aku miskin, aku nggak bakalan meminta dan mengemis sama dia!” teriak Ana seraya berlari masuk kedalam kamarnya.
“Kamu yang sabar Nisa, Ana memang seperti itu, semua orang yang berada di sekitar perumahan ini banyak yang nggak suka dengan tingkah lakunya.”
“Iya, makasih Umi.”
“Baik Umi.”
Pertengkaran Ana dan Anisa memang berhenti saat itu, tapi bukan berarti pertengkaran itu berakhir hanya sampai di situ saja, Ana yang pandai merangkai kata, bermulut manis dan paling jitu dalam bersandiwara, membuat Tedi terpengaruh dengan alur cerita yang di karang istrinya.
Di malam pertengkaran mereka berdua, Tedi memanggil Nisa bersama Adit, mereka bertiga duduk di ruang tengah.
“Abang memanggil ku?” tanya Nisa pada Tedi.
“Iya, duduklah dulu. Mana suami mu?”
“Ada di dalam.”
“Tolong kau panggilkan dia.”
“Panggi aja sendiri.”
__ADS_1
“Jangan gitulah, kan sebaiknya kau saja yang memanggil.”
Anisa yang sudah mengetahui, kalau hal buruk bakal terjadi pada dirinya , dia pun enggan memanggil Adit untuk keluar dari kamarnya. Akhirnya Tedi sendiri yang memanggil Adit agar segera keluar dari dalam kamarnya.
“Ada masalah apa Bang?” tanya Adit ingin tahu.”
“Ini, masalah Ana dan Nisa. Tadi siang Ana mengadu kalau Nisa bertengkar dengannya.”
“Sebenarnya aku sudah lama tahu masalah itu.”
“Itu sebabnya aku harus mengambil keputusan sekarang.”
“Keputusan apa?” tanya Nisa penasaran.
“Nggak biasanya Ana bercerita sambil menangis pada ku, tapi kali ini, dia bahkan menangis tersedu-sedu. Itu artinya, Nisa telah melukai perasaan Ana. Kau harus tahu Nisa, statusmu di rumah ini hanya sekedar numpang, jadi kau nggak pantas perlakukan istri ku seperti itu.”
“Memperlakukan apa maksud Abang?”
“Aku nggak perlu menjawab pertanyaan mu itu, sekarang aku harus memutuskan, kalau kalian nggak keluar malam ini juga, dari rumah ini, maka Ana yang akan keluar!”
“Kau sungguh nggak adil Bang, kau hanya mendengarkan ucapan dari istrimu saja, sementara kebenaran yang sesungguhnya belum kau ketahui.”
“Aku nggak perlu mendengarkan alasan apa pun dari kalian berdua, sekarang juga keluar kau dari rumah ini!” teriak Tedi seraya mengacung-acungkan telunjuknya.
“Apa Abang tega mengusir Nisa malam-malam begini?” tanya Adit pada Tedi.
“Kenapa nggak tega, kalau nggak ingin di usir jangan berlaku buruk pada istri ku.”
Karena Tedi telah mengusirnya, malam itu juga, Adit melaporkan kejadian itu pada pimpinan komplek. Atas kebijakan pimpinan komplek akhirnya Adit di pindahkan ke rumah seorang karyawan lainnya.
Saat itu Anisa sedang hamil Sembilan bulan, sekitar pukul sebelas malam diapun keluar dari rumah Tedi. Ana tampak tersenyum sinis melepas kepergian Nisa dari rumahnya.
Dua Minggu setelah Anisa pindah rumah, dia pun melahirkan seorang bayi perempuan, pemilik rumah yang tinggal bersama Nisa merasa senang pada Nisa dan bayinya.
Setiap hari Bu Nining mengurus Nisa dan memandikan bayi mungilnya. Nisa sangat senang sekali. Beberapa bulan setelah itu Maryati pun datang berkunjung kerumah putri bungsunya itu.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*