Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 97 Keputusan yang diambil


__ADS_3

“Emangnya siapa yang tersinggung Bang?”


“Orang kepercayaan Bang Reza, sebelum Abang bekerja di bengkel itu.”


“Kenapa dia tersinggung? kalau dia ingin menjadi orang kepercayaan Bang Reza. Ya kerja yang benar dong!”


“Nggak bisa gitu dong sayang, semua orang itu kan nggak sama.”


“Lalu mau Abang gimana?”


“Besok Abang mau mengundurkan diri dari bengkel itu.”


“Mengundurkan diri? lalu Abang bekerja apa dong, kalau mengundurkan diri.”


“Abang mau cari pekerjaan yang lain saja.”


“Pekerjaan apa?”


“Abang masih mikir. Besok Abang akan coba cari pekerjaan yang lain.”


“Gimana kalau kita coba cari pekerjaan di kampung Abang saja?”


“Benar kamu mau pulang ke kampung Abang?”


“Kenapa nggak, siapa tahu di sana Abang dapat pekerjaan yang baik.”


“Kalau di kampung, Abang hanya bisa menjadi petani sayang.”


“Petani kan juga menghasilkan Bang.”


“Kamu nggak keberatan kalau Abang menjadi petani?”


“Nggak Bang.”


“Baiklah, besok kita pulang ke kampung dan bekerja di sana menjadi petani.


“Cihuy! besok kita pulang kampung sayang!” sorak Ria senang.


Ria yang biasa hidup di kota, dia tak tahu bagai mana sulitnya hidup di Desa, Ria mengira menjadi seorang petani itu sangat menyenangkan.


Dengan kesepakatan yang telah mereka buat, Andi langsung menemui pemilik bengkel tempat dia bekerja.


“Kau ingin mengundurkan diri?”


“Iya Bang.”


“Kenapa? apakah kau nggak cocok bekerja disini? atau gajinya kurang besar?”


“Bukan itu masalahnya Bang.”


“lalu apa masalahnya? apakah Sandro marah padamu?”


“Nggak juga Bang.”


“Lalu apa Andi?”


“Orang rumah minta pindah ke kampung.”


“Apakah di kampung kau punya pekerjaan?”


“Belum tentu juga Bang.”


“Ya sudah, lanjutkan saja bekerja disini, kalau kau minta kenaikan gaji, akan ku tambah tiga puluh persen lagi. Kau tahu sendirikan, semenjak kau bekerja di sini pelanggan kita semakin hari semakin banyak. Kau tahu kenapa? karena mereka sangat cocok dengan hasil kerja mu.”


“Maaf Bang, tapi ini sudah menjadi keputusan kami berdua.”

__ADS_1


“Ya sudah, kalau kau nggak mau, Abang juga nggak bisa memaksa mu.”


“Ini uang gaji mu bulan ini, walau pun kau bekerja hanya beberapa hari saja, tapi Abang akan bayar penuh satu bulan.”


“Makasih Bang.”


:Iya, sama-sama. O iya, jika kau butuh pekerjaan setelah kau kembali dari kampung, datanglah ke bengkel ini, Abang masih membutuhkan tenaga dan ilmu yang kau miliki.”


“Siap Bang!”


“Ya sudah, hati-hati di jalan.”


“Makasih Bang.”


Sebenarnya begitu berat bagi Andi untuk keluar dari bengkel itu, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, karena kehadirannya, ada orang yang telah tersaingi.


Sementara itu. Di rumah, Ria telah bersiap-siap untuk berangkat menuju kampung Andi. Andi yang melihat istrinya bersemangat dan senang, hati Andi merasa sedikit sedih.


Andi menatap Ria dan putrinya dengan penuh haru. Sementara itu Ria yang melihat suaminya termenung, dia pun datang menghampiri.


“Abang kenapa melamun?”


“Oh, eh, nggak, Abang nggak melamun. Gimana kalian udah siap?”


“Udah Bang, kami berdua dari tadi udah siap untuk berangkat,” jawab Ria sembari tersenyum lebar.


Saat di atas mobil menuju kampung halaman Andi, tanpa dia sadari sama sekali, ada fitri yang duduk di bangku belakangnya.


“Fitri?”


“Eh, Bang Andi.”


“Kau mau kemana Fit?”


“Pulang kampung Bang.”


“Masih Bang. Kemaren aku dapat kabar, kalau Mama masuk rumah sakit, jadi aku mau menjenguknya dulu.”


“Ooo, begitu.”


“Bang Andi mau kemana?”


“Mau pulang kampung juga.”


“Kabarnya Abang udah berhenti kerja ya?”


“Udah Fit, udah tiga minggu.”


“Saat Abang berhenti, tiga hari setelah itu, Bos langsung memecat Bang Bima.”


“Hah, kau serius Fit?” tanya Andi terkejut.


“Iya Bang.”


“Kenapa Bang Bima di pecat?”


“Aku nggak tahu persis masalahnya, tapi kata teman-teman, dia ketahuan menjual suku cadang toko dan mengambil uangnya.”


“Ya Allah, padahal aku sudah menasehatinya, sebelum keluar dari toko. Kau tahu kenapa aku berhenti? Itu semua karena Bang Bima menginginkan aku keluar dari toko itu.”


“Kabarnya, Bang Bima juga yang telah melakukan penipuan pada pelanggan.”


“Kalau itu Aku sudah tahu Fit.”


“jadi Abang yang melaporkannya pada Bos?”

__ADS_1


“Nggak, Bos hanya menyuruh Abang menyelidiki siapa orang yang telah menipu para pelanggannya. Tapi Bos begitu yakin kalau yang melakukan penipuan itu adalah Bima. Saat Bos tahu kalau Abang bersaudara dengan Bang Bima, lalu Bos memaafkan semua kesalahannya.”


“Abang kok mau aja di suruh Bang Bima berhenti.”


“Abang nggak mau Fit, kalau setiap hari di tekan oleh Bang Bima.”


“Bentuknya aja Bang Bima itu pendiam, ternyata akalnya cerdik dan licik.”


“Entahlah Fit. Padahal Bos dan istrinya sudah banyak membantu keluarga Bang Bima, kurang apa lagi coba?”


“Maksud Abang Bos membantu gimana?”


“Macam, masalah keuangan, masalah penyakit anaknya dan sampai keurusan dapur Bang Bima, Bos sendiri yang sering membantu.”


“Memang nggak tahu balas budi Bang Bima itu ya, Bang.”


“Aku nggak tahu mesti bicara apa Fit, kurasa itulah jalan takdir yang mesti Bang Bima terima.”


“Iya Bang.”


Setelah mereka selesai Bicara, lalu Fitri turun dari mobil, karena dia telah tiba di tempat tujuannya. Ria tampak tersenyum saat menatap wajah Fitri.


“Ternyata Bang Bima sudah berhenti ya Bang?”


“Kata Fitri seperti itu.”


“Orang jahat tak akan lama bertahan.”


“Sebelum Abang keluar dari toko Ahong, dia berpesan pada Abang, kalau kau nggak punya pekerjaan di uar sana, kembalilah kau ke toko ini, karena orang yang bisa di percaya hanya aku dan Bang Bima.”


“Jadi Abang mau kembali kesana?”


“Suatu saat nanti, kalau kita benar-benar kesulitan mencari pekerjaan.”


“Ooo, begitu. kirain!”


“Ah kamu! katanya mau jadi petani yang sukses.”


“Apakah Abang bisa menjadi seorang petani?”


“Nggak tahu, ini rencananya mau di coba, entah bisa entah nggak.”


“Ah, Abang,” ucap Ria seraya memukul Andi dengan manja.


Setelah beberapa jam berada di atas mobil, mereka pun tiba di tempat yang di tuju, kampung halaman Andi.


Pertama menginjakkan kaki di rumah Ibu mertuanya, Ria langsung bersalaman dengan Maryati dan Tomi. Lalu mereka pun duduk diruang tamu, Nisa yang saat itu berada di rumah, langsung menghidangkan mereka dengan minuman dan sepiring roti buatan Maryati.


“Eh gadis cantik, siapa namanya sayang?” tanya Nisa pada putri kecil Andi.


“Ica.”


“Wah, nama yang sangat indah.”


Ica pun langsung duduk di pangkuan Nisa, mereka semua tampak bahagia sekali saat itu. Malam hari setelah mereka selesai makan malam, Andi mengutarakan niatnya untuk tinggal di Desa itu.


“Kenapa dengan pekerjaan mu Andi?”


“Aku sudah berhenti Bu.”


“Kenapa Berhenti? bukankah pekerjaan mu itu bagus.”


“Sebenarnya iya, tapi Bang Bima selalu saja menekan ku, dan menyuruh ku berhenti dari toko itu.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2