Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 95 Hasutan Bima


__ADS_3

“Baik Pak,” jawab Karyawan Ahong.


Setelah Ahong masuk, semua karyawan langsung berkumpul dan bertanya-tanya satu sama lainnya.


“Kenapa Bos memanggil Andi, ya?”


“Aku nggak tahu, mungkin masalah penipuan yang hari itu.”


“Tapi kejadiannya kan sudah lama? lalu, kenapa sampai sekarang masih di bahas juga?”


“Entahlah, sebaiknya nanti saja kita tanyakan pada Andi, apa yang sebenarnya telah di katakan Ahong padanya.”


Sambil berjalan tergesa-gesa fitri langsung mencari keberadaan Andi yang saat itu sedang sarapan di kedai sebelah toko.


“Bang Andi! Bos manggil!”


“Kapan dia manggil Pit?”


“Baru san, sepertinya Bos sedang marah kayaknya, Bang.”


“Benarkah?”


“Iya.”


Dengan tergesa-gesa, Andi langsung menghadap ke ruangan Ahong.


Sementara Bima dia berpura-pura tak mengetahui pemanggilan itu, dia tampak sibuk membereskan semua suku cadang yang berada di bawah meja miliknya.


“Sepertinya, Bang Bima yang nggak pernah di landa masalah di toko ini,” ujar Putra seraya tersenyum lebar.


“Kata siapa aku nggak punya masalah di toko ini, sebentar lagi pasti aku terkena imbasnya.”


“Imbas apa Bang?”


“Imbas perbuatan Andi yang telah menukar suku cadang asli dengan yang palsu.”


Mendengar perkataan Bima yang begitu gamblangnya, semua karyawan seperti tak percaya sama sekali. Lalu merekapun menatap wajah Bima dengan senyuman sinis.


Sementara itu Andi yang sedang berada di dalam ruangan Ahong, membuat semua karyawan saling bertanya-tanya dan penasaran.


“Gimana Andi, apakah kau udah menemukan siapa pelaku yang melakukan penipuan itu?”


“Sebenarnya aku sudah lama curiga Bos, tapi aku nggak punya bukti yang signifikan untuk di jadikan pegangan.”


“Siapa kira-kira menurutmu, yang melakukannya Andi?”


“Aku curiganya pada Bang Bima, Bos.”


“Dugaan mu sama dengan saya, tapi kita sama-sama tak punya bukti untuk bisa mendepaknya dari toko ini.”


“Jika terbukti Bima bersalah, apakah Bos nggak mau memberi dia kesempatan kedua untuk tetap bekerja di sini?”


“Hati saya terlanjur sakit Andi, kamu tahu nggak, saya dulu sangat mempercayainya, saya juga telah banyak membantu keluarganya, bahkan istri saya mengeluarkan biaya yang cukup banyak untuk operasi putranya yang sakit.”


“Ooo, ternyata Bos yang telah membayar operasi putranya?”


“Iya, tapi semua itu, nggak usah kau sebarkan pada semua karyawan di toko ini.”


“Baik Bos.”

__ADS_1


“Menurut mu, apa yang mesti kita lakukan, untuk menangkap tangan Bima?”


Karena merasa kasihan dengan Bima, lalu Andi membuka rahasia yang selama ini Ahong tak mengetahuinya.


“Sebenarnya, Bang Bima itu adalah saudara kandung aku sendiri Bos.”


“Apa! jadi kalian beradik Kakak?”


“Benar Bos.”


“Astaga! kenapa selama ini kau nggak bicara sedikitpun masalah itu.”


“Saya kira Bos udah tahu, dengan sendirinya.”


“Kalau begitu, biarlah masalah ini kita tutup saja.”


“Kenapa begitu Bos?” tanya Andi heran.


“Karena saya nggak mau hubungan kalian Kakak beradik rusak karena hanya ingin membantu saya.”


“Lalu bagai mana dengan masalah Bang Bima itu Bos.”


“Masalah Bima, saya sudah memaafkannya, tapi sekali lagi dia berbuat kesalahan, saya akan pecat dia langsung dari toko ini.”


“Terimakasih Bos telah memaafkan nya.”


“Ya, sama-sama. Sekarang kembalilah kau bekerja. Usahakan jangan mengecewakan saya.”


“Baik Bos.”


Andi keluar dari ruangan Ahong, dengan wajah yang berseri-seri, semua orang menatapnya dengan rasa heran.


“Adalah…!”


“Jadi kami nggak di kasih tahu nih?”


“Nggak usah aja ya, sebab ini rahasia keluarga ku,” jawab Andi seraya keluar dari toko Ahong.


Karena Andi tak mau buka mulut, semua karyawan hanya bisa saling pandang satu sama yang lain.


Sementara itu, Andi yang hendak menuju warung, ternyata telah di tunggu Bima di sana.


“Kenapa kau di panggil Bos?” tanya Bima ingin tahu.


“Nggak ada,” jawab Andi sinis.


“Nggak mungkin, Bos memanggil kita pasti ada yang sedang di bahas nya.”


“Bos, ingin aku menyelidiki Abang, karena Bos sudah mencurigai kelakuan Abang selama ini.”


“Bohong!”


“Kalau Abang nggak percaya, silahkan Abang datangi sendiri Bos, di ruangannya.”


“Kenapa dia bisa mencurigai ku?”


“Aku nggak tahu, tapi Bos begitu yakin kalau Abang yang telah menipu para pelanggan selama ini.”


“Kurang ajar! ternyata Bos berpura-pura baik selama ini pada ku,” ujar Bima seraya mengepal tinjunya.

__ADS_1


“Bos bukan berpura-pura baik pada Abang, tapi dia itu memang baik, buktinya setelah Bos tahu kita bersaudara, lalu dia mau memaafkan semua kesalahan Abang.”


“Itu pasti rencana yang telah dipersiapkannya, untuk menjatuhkan kita.”


“Kita? kita siapa maksud Abang?”


“Oh, maaf.”


“Udahlah Bang, bukankah selama ini Bos terlalu baik pada keluarga Abang, kurang apa lagi?”


“Kau nggak perlu ikut campur urusan ku.”


“Gimana aku nggak ikut campur, kalau Abang ketangkap tangan, pasti aku juga yang merasa malu.”


“Itu resiko untuk mu, kalau kau nggak ingin malu, maka keluarlah cepat dari toko ini.”


“Kalau aku udah punya pekerjaan yang lainnya, pasti aku bakalan keluar dari toko ini.”


“Kalau kau tetap mengharap pekerjaan di tempat ini, mana mungkin kau bisa mendapat pekerjaan di tempat lain.”


“Abang kira hanya di sini tempat kerja, masih banyak kok, tempat kerja di toko lain.”


“Kalau begitu, carilah kerjaan di toko lain. Nggak usah kau bekerja disini.”


“Baik, akan ku buktikan pada Abang nantinya.”


“Huh, sombong kau Andi, kalau bukan karena aku yang membantu, kau hanya seorang pengangguran,” ujar Bima seraya meninggalkan Andi yang masih kepanasan mendengar ucapan Bima.


Mesti terasa sakit, Andi tak mau ambil pusing, Tejo yang saat itu mendengar perbincangan mereka , langsung datang menghampiri Andi.


“Kau di marahi Bima lagi Andi?”


“Dia begitu sombong dan angkuh, kalau bukan aku yang membantu, pasti dia telah di keluarkan dari toko ini oleh Bos.”


“Maksud mu apa Andi? kenapa Bima mau di keluarkan dari toko oleh Bos?”


“Aku nggak mau menceritakannya, karena hanya mempermalukan diri ku sendiri.”


“Ya udah, kalau kau nggak mau menceritakannya, nggak apa-apa, lain kali kita bahas lagi.”


Bima yang tak senang dengan Andi adiknya sendiri, keesokan harinya, dia mendatangi Ahong dan mengatakan pada Ahong kalau selama ini Andi lah yang telah melakukan penipuan barang itu.


“Baik, nanti akan kita panggil dia,” jawab Ahong seraya tersenyum.


Tak puas dengan jawaban dari Ahong, Bima langsung pergi keluar, dia menatap wajah karyawan dengan pandangan yang tak menyenangkan.


“Eh Bima kenapa?” tanya Andri pada Yola.


“Nggak tahu, tadi kayaknya baru keluar dari ruangan Bos.”


“Kena marah kali!”


“Biar aja kena marah, kapan perlu dia di keluarkan dari toko ini.”


“Hus, nggak baik bicara seperti itu, nanti kedengaran sama Bima, kita juga yang kena marah.”


“Ya udah, ayo lanjut kerja!” ajak Yola.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2