
Malam itu, ketika Nisa dan Adit sedang menonton televisi, tiba-tiba saja Maryati keluar dari dalam kamarnya, memang saat itu Maryati keluar seperti biasa, namun pandangan Adit saat itu sangat lain sekali, mesti adit telah memalingkan wajahnya ke yang lain, namun hal serupa tetap terlihat sama.
“Ada apa Bang? kenapa Abang menatap Ibu seperti itu ?” tanya Nisa heran.
“Oh nggak,” jawab Adit sedikit gugup.
“Apa Abang melihat sesuatu pada diri Ibu?”
"Nggak.”
Karena Adit tak mau mengaku, Nisa terpaksa diam saja, namun dia sangat penasaran sekali. Sebenarnya Adit melihat Maryati keluar dari dalam kamarnya dengan wajah yang sangat pucat, persis seperti mayat, itulah yang membuatnya terkejut saat itu.
“Jika ku beri tahukah hal ini pada Nisa, pasti dia merasa marah dan tak percaya dengan ucapan ku,” kata Adit bermonolog.
Setelah kejadian malam itu, siangnya Maryati mengajak Nisa merebus ketela rambat yang ada di dapur rumahnya.
“Ibu suka?” tanya Nisa ingin tahu.
“Suka, bahkan ubi itu udah lama nggak pernah Ibu makan.”
“Baiklah, biar ku rebus dulu,” jawab Nisa seraya mengerjakan perintah Ibunya.
Setelah rebus ubi itu masak, Nisa menaruhnya di sebuah nampan, tak disangkan Nisa sama sekali, rebus ubi itu ternyata habis ludes di makan Maryati.
“Ya Allah, Ibu memakan semua rebus ubi nya?”
“Iya, kenapa? kalian suka?”
“Bukan itu maksud ku, Bu.”
“Lalu apa?” tanya Maryati heran.
“Padahal rebus ubi nya banyak lho.”
“Kebetulan sekali, Ibu udah lama nggak memakannya, jadi mumpung ada, apa salahnya di habiskan aja.”
Sebenarnya Anisa sangat heran sekali, satu kilo ubi yang di rebus nya siang itu, bisa habis sekali duduk oleh Ibunya. Padahal selama ini, Maryati nggak pernah makan sebanyak itu, paling Ibunya hanya bisa menghabiskan dua potong saja, itupun sudah membuat perut menjadi kenyang.
Ketika Adit pulang bekerja, lalu Nisa menceritakan kejadian aneh itu pada suaminya, Adit pun langsung menghubungkan kejadian itu dengan penglihatannya di malam itu.
“Kenapa ya, Ibu bisa sekuat itu, menghabiskan rebus ubi satu kilo dalam sekali duduk?”
“Aku nggak tahu, Bang. Padahal sebelum Ini, Ibu nggak pernah menghabiskan makanan sebanyak itu.”
Bukan hanya sekali itu kejadian aneh di alami Nisa, keesokan harinya, Maryati mengajak Nisa duduk di dapur rumahnya.
“Kenapa duduk disini sih Bu, tempatnya kan kotor?”
“Nggak apa-apa, di sini tempatnya dingin dan membuat hati Ibu sedikit tenang.”
“Baiklah, sekarang coba Ibu katakan pada ku, apa keinginan Ibu itu sebenarnya?”
__ADS_1
“Ibu mau tanya sama kamu Nisa, setelah kepergian Ibu nanti, apakah kau ada berniat untuk membangun sebuah rumah di tanah yang sudah Ibu bagikan padamu?”
“Kenapa Ibu bertanya seperti itu?”
“Nggak, Ibu hanya ingin tahu aja niat mu, nak.”
“Sebenarnya hingga saat ini, kami belum pernah berencana untuk membangun rumah di atas tanah yang Ibu berikan.”
“Kenapa?”
“Ibu tahu sendiri kan, Kak Tia dan Kak Leni nggak akan pernah membuat hidup kami tenang, karena dia selalu marah dan merasa tak suka pada ku.”
“Kau benar nak, kedua Kakak mu itu memang memiliki sifat jahat, diluarnya saja yang terlihat baik, di dalamnya, mereka berdua memiliki hati yang busuk.”
“Kok Ibu bicara seperti itu sih, mereka berdua itu kan putri Ibu juga.”
“Ibu memang memiliki enam orang anak, tapi empat di antaranya sudah kosong.”
“Apa maksud Ibu? aku nggak ngerti?”
“Suatu saat nanti, kau pasti mengerti Nisa.
Anisa memang kelihatan mengangguk kan kepalanya, tapi bukan berarti dia paham dengan ucapan Ibunya, karena perkataan Maryati telah membuatnya bingung.
“Nisa?”
“Iya Bu. Ada apa?”
“Apa maksud Ibu, kenapa Ibu bicara seperti itu?”
“Ibu nggak bermaksud apa-apa nak, karena Ibu tahu benar sifat anak-anak Ibu. Untuk itulah, jika kelak Ibu meninggal, kau jangan pernah meminta uang pada mereka berempat.”
“Baik Bu,” jawab Nisa dengan suara lembut.
Saat mereka berdua sedang asik berbicara, Adit pun pulang kerumah, dia merasa lelah sekali, dan mencoba membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Nisa yang saat itu sedang duduk di sebelah Adit, berencana untuk meninggalkan Adit yang sedang tertidur.
“Kau mau kemana Nisa?” tanya Maryati ingin tahu.
“Aku mau ke sungai, Bu.”
“Sendirian, bukankah suamimu melarang kau ke sungai sendirian?”
“Sebenarnya iya, Bu. Tapi tadi Bang Adit kelihatanya lelah sekali, jadi terpaksa aku sendiri yang pergi ke sungai.”
“Gimana kalau Ibu temani, apakah kau nggak keberatan?”
“Ibu mau menemani aku ke sungai?”
“Tentu dong Nisa.”
“Baiklah, mari.”
__ADS_1
Bersama Ibunya, Nisa berjalan pelan sembari mengiringi Nike berjalan di depannya, Nike yang masih kecil terlihat begitu lincah menuruni tebing yang sedikit terjal.
“Hati-hati sayang, nanti jatuh!” teriak Nisa sembari memegang tangan Nike.
Setibanya di sungai, Nisa langsung memcuci pakaiannya, sementara itu Maryati ikut membatu Nisa mencuci piring di sebelahnya, setelah semuanya selesai, Maryati mengangkat piring cuciannya ke pinggir sungai, kemudian dia pun duduk di sebuah batu besar.
“Ibu kenapa termenung?” tanya Nisa saat melihat Ibunya terdiam seraya menatap tajam kearahnya yang sedang mencuci.
“Ibu teringat kampung Nisa?”
“Teringat kampung?”
“Iya, Ibu sangat rindu sekali dengan kampung halaman Ibu.”
“Yang sabar ya Bu, nanti kalau kita punya uang, aku akan mengajak Ibu pulang kampung.”
“Jangan!”
“Kenapa jangan?”
“Ibu pulang kampungnya sendiri aja nak.”
“Kenapa aku nggak boleh Ikut, Bu?”
“Kampung Ibu sangat jauh Nisa, kau nggak boleh ikut dengan Ibu, karena masih ada Adit dan Nike yang mesti kau urus.”
“Baiklah, kalau memang Ibu nggak ngizinin aku Ikut, ya nggak apa-apa, biar Ibu aja yang pulang sendiri.”
Maryati tak menjawab , dia hanya diam saja saat itu, Nisa yang melihat ke anehan dan kejanggalan pada diri Ibunya, dia terus saja mengawasi dengan sudut matanya yang tajam.
Saat itu Nisa melihat Ibunya, sedang termenung, menatap Nisa dengan tatapan nanar, seperti sangat jauh sekali dari hadapan Nisa.
Tak ingin berlama-lama di sungai, Nisa menyegerakan cuciannya dan kembali pulang kerumah bersama Ibunya.
“Kau udah kembali Nisa?” tanya Adit ingin tahu.
“Udah Bang.”
“Tadi aku kecapean sekali, jadi nggak sempat mengantarmu ke sungai.”
“Nggak apa-apa Bang, kan ada Ibu yang temenin.”
“Oh, syukurlah, tapi aman kan?”
“Insya Allah, Aman. Tapi Bang, sepertinya ada yang aneh pada Ibu selama tiga hari ini,” bisik Nisa pelan pada suaminya.
“Aneh gimana maksud mu sayang?”
“Sepertinya setiap kata yang terucap dari bibir Ibu itu, mengandung maksud dan tujuan tertentu, tapi aku nggak tahu apa itu.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*