
Maryati yang terus berobat, lama kelamaan penyakit yang dideritanya pun berangsur sembuh, hingga akhirnya bersih dari rasa gatal yang selalu menyakitkan.
Hanya tiga hari berobat, penyakit itu benar-benar tak meninggalkan bekas sama sekali di leher Maryati.
“Benar apa kata Pak Pendi, ternyata ini semua ulah seseorang yang telah berbuat jahat pada Ibu, Nisa.”
“Siapa ya Bu, orang yang telah menaruh dendam pada Ibu?”
“Entahlah nak, Ibu sendiri tak tahu, siapa orangnya.”
Ketika mereka berdua terus memikirkan siapa pelaku yang telah menaruh dendam pada Ibunya, tiba-tiba saja Leni datang kerumah bersama putranya Reno.
“Kakak mau kemana?” tanya Nisa ingin tahu.
“Nggak ada, Kakak hanya ingin menemui Ibu saja.”
“Ooo, kebetulan Ibu berada di dalam saat ini.”
Mendengar ucapan Nisa, Leni langsung masuk kedalam untuk menemui Ibunya. Ketika Leni bertemu dengan Ibunya, dia agak sedikit terkejut, kalau leher Ibunya terlihat bersih dan tak berbekas apapun.
“Lho, katanya leher Ibu sakit ya?” tanya Leni ingin tahu.
“Nggak, kata siapa leher Ibu sakit?”
“Kata Bang Rijal.”
“Kata Rijal? dari mana dia tahu, kalau leher Ibu sedang sakit.”
“Katanya dia lihat sendiri Ibu memakai kerudung dan menutupi leher Ibu.”
“Aneh, rasanya Ibu nggak pernah jumpa dengan suami mu, atau jangan-jangan…?”
“Jangan-jangan apa, Bu?”
“Ah udah lah, nggak perlu di bahas, Ibu jadi malas. Tapi kau lihat sendirikan, kalau leher Ibu nggak sakit sama sekali.”
“Iya, Bu.”
“Tolong kau katakan pada suami mu, kalau Leher Ibu nggak kenapa-napa.”
“Apa maksud Ibu berkata seperti itu?”
“Nggak perlu di bahas lagi, sekarang pulanglah kau kerumah mu.”
“Pasti Ibu sedang menyembunyikan sesuatu dari ku.”
“Nggak, Ibu nggak menyembunyikan apa pun dari mu dan siapapun juga.”
Mesti Maryati telah bicara seperti itu, namun Leni tetap saja merasa tak senang dengan sikap Ibunya. Setibanya di rumah Leni langsung menemui suaminya.
__ADS_1
“Kau dari mana Len?”
“Dari rumah Ibu.”
“Ngapain kau kesana?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu, apakah salah aku menemui Ibu ku. Lagian tadi Ibu berpesan pada ku, kalau dia itu saat ini nggak kenapa-napa.”
“Jadi Ibu mu itu nggak sakit?”
“Nggak, Ibu kelihatan sehat, lehernya pun nggak sakit.”
Hati Rijal terasa begitu sakit, saat mendengar ucapan dari Leni, ternyata dukun itu telah membohongi dirinya.
Saat Leni telah kembali pulang, Maryati langsung menemui Nisa yang saat itu sedang duduk di depan rumahnya.
“Ibu mau kemana?” tanya Nisa pada Ibunya.
“Mau menemui mu.”
“Ada apa Bu?”
“Hei Nisa, sepertinya Ibu mulai mencurigai seseorang yang telah berbuat jahat pada Ibu.”
“Siapa Bu?”
“Rijal.”
“Bukankah selama ini, kita nggak memberitahukan penyakit Ibu pada orang lain, lalu dari mana Rijal tahu, kalau Ibu sedang sakit.”
“Iya juga ya, atau jangan-jangan, yang melakukan kejahatan itu Bang Rijal.”
“Iya nak, Ibu juga berpikiran seperti itu.”
“Kurang ajar!” gerutu Nisa kesal.
Setelah Maryati dan Nisa tahu, kalau Rijal lah yang telah melakukan semua itu, Maryati berusaha untuk menutupinya, dia tak ingin orang lain tahu akan perbutan bejat menantunya itu.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, Tedi yang sudah dewasa mencoba menemui kedua orang tuanya, dia berniat untuk segera berumah tangga. Saat itu Tedi datang bersama gadis pilihan hatinya.
Maryati dan Tomi tak mau mempersulit anak-anaknya, jika mereka sudah saling cinta, maka Maryati dan Tomi langsung merestui mereka.
Pernikahan Tedi pun di langsungkan secara sederhana, namun semua itu berjalan secara lancar dan aman. Istri Tedi terlihat pendiam dan tak banyak bicara. Keluarga mereka pun berjalan harmonis.
Satu tahun menikah semua berjalan aman dan lancar tapi semuanya tak seperti yang di bayangkan, istri Tedi yang kelihatannya baik, ternyata punya mulut yang kasar dan menyakitkan.
Mereka berdua tinggal berdekatan dengan rumah Tia, di perusahaan yang sama. Tedi yang bekerja sebagai karyawan biasa, dia jarang sekali di rumah, pergi pagi pulang sore hari.
Pagi itu Maryati berencana hendak berkunjung ke rumah Tedi, kebetulan saat itu Ana sedang berada di rumah, dia menyambut kedatangan Maryati dengan lembut dan penuh rasa hormat.
__ADS_1
Beberapa hari menginap di rumah Tedi, Maryati berencana untuk kembali pulang kerumahnya, namun ketika dia hendak berkemas, Maryati tak menemukan pakaiannya, lalu dengan berat hati dia bertanya pada Ana.
“Sebentar, biar aku carikan dulu pakaian Ibu itu, barang kali aku salah menaruhnya,” jawab Ana dengan lembut.
Mendengar jawaban menantunya yang lembut, hati Maryati sedikit tenang. Sambil menunggu Ana mencari pakaiannya yang hilang, Maryati pun duduk di depan rumahnya.
Setelah menunggu sekian lama, Ana tak juga kunjung muncul, lalu Maryati menghampirinya di dalam rumah.
“Gimana Ana? apakah pakaian Ibu itu udah ketemu?” tanya Maryati dengan suara lembut.
“Ibu sabar sedikit kenapa sih! ya, di cari dulu! Ibu kira aku akan mengambil pakaian Ibu itu.”
“Ana! apa maksud pembicaraanmu itu?”
“Aku tahu, Ibu menuduh ku maling kan?”
“Ya Allah, kau itu salah Ana. Ibu nggak pernah menuduh mu maling, Ibu kan hanya bertanya pada mu, apakah kau sudah menemukan pakaian Ibu atau belum.”
“Nggak usah berkilah, aku udah tahu maksud perkataan Ibu itu.”
Maryati jadi serba salah saat itu, di sangat bingung sekali dengan sikap Ana yang aneh itu. seraya menarik nafas panjang, Maryati kembali duduk di depan rumah Tedi.
Beberapa jam kemudian Maryati melihat Tedi pulang kerumahnya, Maryati hanya melihat Tedi jalan lewat pintu belakang.
Setelah itu tedi pun keluar seraya memanggil Maryati yang sedang duduk sendiri di depan rumah mereka.
“Ibu kenapa sih, begitu tega menuduh istri ku mencuri?”
“Ibu menuduh istrimu mencuri?”
“Kalau nggak Ibu tuduh, nggak mungkin Ana menangis kan?”
“Tedi, Ibu nggak ada menuduh istri mu mencuri, kau jangan dengarkan istrimu sepihak dong.”
“Ah! Ibu keterlaluan tahu nggak!”
“Keterlaluan apa?”
“Padahal selama Ibu di sini, Ana selalu melayani Ibu dengan baik, lalu kurang apa lagi? apakah masih kurang kebaikan istri ku itu di mata Ibu, sampai Ibu tega menuduhnya mencuri.”
Saat itu Maryati benar-benar tak bisa bicara, perasaannya begitu hancur, karena demi aduan istrinya Tedi tega menghardik dan membentak Ibunya sendiri.
“Sekarang begini saja, kalau Ibu mau pulang, silahkan pulang, cepat! biar ku antar sekarang juga.”
“Baik, hari ini juga Ibu akan pulang,” jawab Maryati dengan deraian air mata.
Entah apa yang ada di pikiran Ana saat itu, entah dia senang, melihat tedi memaki Ibunya sendiri atau mungkin Ana senang Tedi begitu perhatian pada dirinya.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca