Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 28 Dikhianati


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian seorang perawat keluar dari dalam kamar persalinan Maryati, Marni yang melihat perawat itu keluar dia langsung menyongsongnya dengan cepat.


“Gimana keadaan putri saya Sus?” tanya Marni tak sabaran.


“Sepertinya Bu Yati kesulitan untuk melahirkan bayinya Bu.”


“Kenapa begitu Sus?”


“Karen Bu Yati menikah di usia dini, jadi Bu Yati memiliki tulang pinggul yang masih kecil dan sempit, tapi Ibu bersabarlah, nanti kalau dalam dua jam ini dia nggak mampu juga melahirkan bayinya, maka kami akan mengambil tindakan.”


“Maksud Suster apa?”


“Terpaksa akan kami lakukan operasi. Agar keduanya dapat di selamatkan.”


“Oh ya Allah, tolong lindungi putri ku ya Allah.”


Dengan resah Marni dan yang lainnya terus menunggu di ruang tunggu, tak berapa lama kemudian dari dalam ruang persalinan, Marni mendengar suara tangisan bayi yang baru lahir.


Suara lengkingannya memekakkan telinga, karena bergema ke seluruh sudut ruangan rumah sakit.


“Oh, ya Allah, cucuku sudah lahir,” ucap Marni seraya tersenyum lebar.


Dalam waktu yang begitu singkat puluhan ucapan selamat berdatangan menyalami tangan Marni yang mulai terasa gemetar.


“Akhirnya Allah mengabulkan do’a kita Pak, setelah sekian tahun menjalani hidup sepi tanpa seorang anak, akhirnya sekarang dia memberi Ibu seorang bayi mungil.”


“Iya Bu. Saat ini status Ibu telah berubah menjadi seorang Nenek.”


“Nenek, ya Nenek. Aku sangat suka di panggil Nenek oleh cucuku.”


Ketika suasana suka cita itu mewarnai hati mereka yang berada di ruang tunggu, lalu seorang perawat muncul dari dalam seraya menggendong bayi mungil itu keluar.


“Selamat Bu Marni, cucu Ibu seorang anak laki-laki,” ucap perawat itu seraya menyerahkan bayi mungil itu ketangan Marni.


“Oh, terimakasih Sus. Tapi apakah Ibu bisa menggendong bayi ini?” tanya Marni dengan tangan gemetaran.


“Kalau begitu Ibu duduklah dulu, tenangkan pikiran Ibu.”


“Tapi seumur hidup Ibu, Ibu nggak pernah menggendong bayi di tangan ini, Sus.”


“Tapi hari Ini sampai seterusnya tangan Bu Marni yang dingin ini akan selalu menggendong bayi ini setiap saat.”


“Benarkah?”


“Benar iBu,” jawan perawat itu sembari meletakkan bayi mungil itu kepangkuan Marni.


Sementara itu di dalam ruangan bersalin, Maryati terus saja menangis. Dia menangis tiada henti, perawat yang melihat Maryati menangis, mereka langsung melaporkannya pada Marni yang saat itu bersama warga sedang duduk di ruang tunggu.


“Bu Marni, di dalam kemi melihat Bu Yati terus saja menangis, kami sudah bertanya padanya, tapi Bu Yati hanya diam saja.


“Benarkah?”


“Iya, Bu. Masuklah Ibu kedalam dan coba tenangkan dia, karena sangat berbahaya sekali jika kondisinya tidak stabil.”


“Baiklah,” jawab Marni seraya bergegas masuk kedalam kamar perawatan Maryati.

__ADS_1


Benar apa yang di katakan perawat pada Marni, di dalam ruangan itu, Marni melihat Maryati terus saja menangis tiada henti.


“Kamu kenapa nduk? kenapa menangis?”


Mesti pertanyaan yang di ajukan Marni terdengar jelas di telinga nya, namun Maryati tetap saja memilih bungkam. Walau Maryati bungkam, Marni tak kehabisan akal, di gendongnya bayi mungil itu dan di letakkan di sebelah Ibunya.


Melihat bayinya terbaring di hadapannya, Maryati malah membalikkan tubuhnya dan membelakangi bayi mungil itu.


“Lho, lho, lho! kamu ini kenapa toh, nduk? apa kamu ada masalah dengan suami mu?”


Maryati tak menjawabnya, dia hanya diam saja, Marni menjadi resah, karena Yati tak mau berhenti menangis.


“Sebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan dari Ibu nak? cerita pada Ibu, siapa tahu Ibu bisa membantu mu.”


“Bang Rendi, Bu.”


“Rendi? kenapa dengan Rendi?”


“Rendi selingkuh Bu.”


“Astaghfirullah! Rendi selingkuh?”


“Iya Bu.”


“Selingkuh dengan siapa nak?”


“Aku nggak tahu, tapi semalam aku mencium ada parfum wanita lain di pakaiannya.”


“Benarkah?”


“Ternyata benar dugaan Ibu, kalau selama ini dia pergi bersama perempuan lain. Alasannya pergi bersama dengan temannya, ternyata hanya bohong belaka.”


“Mana Bang Rendi Bu?”


“Dia nggak ada disini, Ibu sudah menyuruh orang memanggilnya, namun dia nggak juga datang.”


“Emangnya Bang Rendi kemana Bu?”


“Tadi alasannya, pergi mencari mu, tapi setelah Ibu suruh orang untuk menjemputnya, dia pun belum juga kembali.”


“Kau benar-benar keterlaluan Bang, kau tega menyakiti hati ku.”


“Sudahlah nduk, kau nggak usah menangis lagi, karena nanti dapat mengganggu kesehatanmu.”


“Lalu bagai mana ini, Bu?”


“Tenanglah nak, nanti akan Ibu bahas dulu dengan Ayah mu.”


“Baik Bu.”


“Yang paling terpenting, kau jaga kesehatanmu. Ingat nduk, bayi ini sangat suci, jangan dikotori dengan hal-hal yan dapat merusak kesuciannya.”


“Baik Bu.”


Lima hari Maryati berada di rumah sakit, namun tak sekalipun Rendi datang untuk menjenguknya, hati Maryati terasa begitu sakit, atas perlakuan Rendi padanya.

__ADS_1


Di saat Marni dan Darman datang menjemput Maryati, Rendi pun tak ada ikut bersama mereka berdua.


“Bang Rendi mana Bu? kenapa dia nggak ikut menjemput ku?” tanya Maryati ingin tahu.


“Entahlah nduk, tapi suami mu itu nggak pernah lagi pulang kerumah, semenjak hari pertama dia pergi.”


“Apakah Ibu udah mencarinya?”


“Udah nduk, bahkan hampir tiap hari Ibu pergi ke pangkalan becak untuk mencarinya, tapi dia nggak ada di sana.”


“Apa kata teman-temannya, Bu?”


“Semua teman-temannya nggak ada yang tahu.”


“Hm…! keterlaluan sekali kau Bang, kau tega mengkhianati pernikahan kita,” gumam Maryati kesal.


“Udahlah nduk, ayo kita pulang kerumah.”


“Baik Bu.”


Selama di perjalanan menuju rumah, tak sepatah katapun yang terucap dari mulut Maryati, dia lebih memilih bungkam, karena rasa sakit yang dirasakannya.


Ketika becak yang dinaiki Maryati melintasi sebuah kedai penjual rujak, sekilas Maryati melihat Rendi di dalam kedai itu.


“Bang, Bang, tunggu sebentar!” ucap Maryati pada pemilik becak.


“Ono opo toh nduk?” tanya Marni heran.


“Berhenti dulu sebentar Bang, tadi sepertinya aku melihat Bang Rendi di kedai itu.”


“Rendi?”


“Iya, Bu.


Dengan bergegas, lalu Maryati menghampiri kedai itu, benar saja apa yang di lihatnya, ternyata Rendi ada bersama perempuan penjual rujak itu, mereka sedang asik bercanda berdua.


“Ya Allah, Bang Rendi!” teriak Maryati seraya berdiri di hadapan mereka berdua.


“Maryati?”


“Kau benar-benar sudah keterlaluan Bang!” teriak Maryati dengan suara lantang.


“Siapa dia Bang?” tanya perempuan itu pada Rendi.


“Nggak tahu!” jawab Rendi spontan.


“Apa katamu Bang? kau bilang nggak mengenal ku?”


“Iya, aku nggak mengenal mu!”


“Kau benar-benar keterlaluan Bang, kau jahat! setelah aku melahirkan anak mu, sekarang kau bilang nggak mengenal ku?”


“Heh, perempuan bodoh, kau dengar sendirikan apa yang di katakan Bang Rendi, kalau dia itu tak kenal dengan perempuan sepertimu. Pergi sana! dasar nggak tahu malu!” ujar perempuan itu seraya mendorong tubuh Maryati.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2