Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 61 Kesal


__ADS_3

“Bunda heran ya, kenapa anak-anak Bunda begitu jahat saat ini.”


“Kalau orang tuanya nggak seperti ini, nggak mungkin anaknya bisa begini juga, jadi kalau Bunda mulai membahasnya, maka kita akan membahasnya sampai pagi.”


“Dasar anak nggak berguna, antara kau dan Mayar itu sama saja Nah,” gerutu Leli kasar.


“Bunda itu, jangan suka menyalahkan anak sendiri, kalau Bunda bisa ngaca, ya ngaca dulu. Nggak mungkin kan, anak bisa jahat kalau kelakuan orang tuanya baik.”


“Diam kau Nah! dasar anak nggak berbakti kalian semua!” bentak Leli kasar.


“Terserah,” jawab Inah sembari berlalu meninggalkan Bundanya sendirian.


“Ya Allah, kenapa kalian semuanya begitu jahat dan kasar pada Bunda sendiri, kalian benar-benar nggak berbakti, uhuk, uhuk, uhuk…!”


Leli menangis dalam kesendiriannya, menantunya yang baik telah disia-siakan begitu saja, sementara anak yang selama ini diharapkannya justru menyiksa dan menyakiti hatinya.


“Yati, kemana kau nak, kenapa kau pergi tanpa memberitahu Bunda terlebih dahulu. Bunda sangat mengkhawatirkan mu sayang.”


Rintihan hati Leli, membuat jiwanya merasa tak tenang. Lama-kelamaan Leli pun jatuh sakit, karena memikirkan menantu yang telah disia-siakannya.


“Bunda kenapa?” tanya Jihan heran.


“Bunda lagi nggak enak badan Jihan.”


“Badan Bunda terasa panas sekali,” ucap Jihan seraya merasakan panas tubuh Bundanya.


“Bunda teringat dengan Yati dan anak-anaknya, Jihan. Bunda merasa berdosa karena telah menyia-nyiakannya. Sebenarnya dia itu anak baik.”


“Iya, aku juga begitu Bunda. Aku juga menyesal karena telah berbuat jahat padanya, semua itu karen hasutan Kak Mayar.


Di saat mereka berdua bersedih karena telah menyia-nyiakan Maryati, sementara itu, Maryati sendiri telah di pertemukan Dipa dengan suaminya Tomi. Di rumah pondok milik Dipa, di sanalah Maryati dan anak-anaknya hidup tenang tanpa ada tekanan.


Keceriaan tampak jelas tersirat di wajah anak-anak Maryati, mereka bisa tertawa dan tersenyum dengan lepas. Di kebun Dipa Maryati tak lagi memikirkan semua kebutuhan hidupnya, karena ada Dipa yang menanggung kebutuhan mereka semua.


Satu kali dalam lima belas hari, Dipa selalu datang untuk mengantarkan semua bahan pokok yang mereka butuhkan di pondok. Termasuk, selimut dan susu untuk Leni dan Tia.


Seperti kebaikan yang di lakukan Dipa kepada mereka, membuat anak-anak Maryati merasa dekat dengan pria itu, Tia bahkan lebih memilih tinggal bersama Dipa ketimbang dengan kedua orang tuanya sendiri.


“Sayang, Om Dipa itu banyak pekerjaannya, nanti kalau Tia selalu ikut, Om itu bisa kesulitan dan terganggu.”


“Nggak, aku mau ikut sama Om, Dipa,” rengek Tia seraya memegang tangan Dipa erat-erat.”


“Kalau begitu Om kasih uang aja, ya?”


“Nggak mau, aku mau ikut Om aja.”

__ADS_1


“Kalau nggak begini saja, Om pulang dulu ngambil kain selimut, setelah itu Om, balik lagi kesini.”


“Kenapa Om mengambil selimut, disini kan ada selimut.”


“Selimut disini kurang panas, itu makanya Om, jemput dulu pulang, biar kita tidur disini malam ini.”


“Om, nggak bohong kan?”


“Nggak sayang.”


“Baiklah,” jawab Tia sembari duduk diam di sudut rumahnya.


Hingga malam tiba pun, Tia tetap saja duduk di sudut rumah itu tanpa bergeser sedikit pun, sehingga Maryati dan Tomi begitu susah untuk membujuknya.


Satu tahun bersama, akhirnya Maryati pun hamil anak yang ke sembilan. Pada hamil kali ini, Maryati terlihat sehat dan segar, karena ada gizi dan vitamin yang selalu masuk kedalam tubuh kecilnya.


Mesti hanya mendapat makan dan gaji yang tak seberapa, Maryati tak pernah mengeluh, di kebun Dipa hatinya merasa tenang dan damai. Namun, hanya bertahan satu tahun saja kebahagian itu, Tomi mulai lagi membuat Maryati merasa sedih dan sakit hati.


Setiap Dipa datang membayar gaji untuknya, Tomi selalu ingin pulang ke rumah orang tuanya, uang gaji itu di bagikan Tomi pada Bunda dan adik-adiknya, sehingga Maryati tak pernah memegang uang sedikit pun.


Sementara saat itu, Tia sudah mulai sekolah, jangankan untuk membeli kebutuhan sekolahnya, untuk uang belanja di sekolah saja, Tia tak pernah diberi oleh Tomi.


Maryati yang tak pernah di beritahu, dia pun terlihat tenang saja, namun semenjak pagi itu, Maryati merasa sedikit heran.


“Aku nggak punya uang belanja Bu, sementara teman-teman yang lain punya uang yang banyak di saku baju mereka.”


“Tapi Ayah kan, selalu ngasih uang belanja.”


“Tapi semenjak minggu semalam Ayah nggak ngasih uang lagi.”


“Benar itu Bang?”


“Uang ku sudah habis Yati.”


“Sudah habis, bukankah baru lima hari yang lalu Abang gajian.”


“Uangnya udah Abang bawa pulang dan Abang bagikan di kampung.”


“Jadi Abang nggak menyisakan nya untuk kita?”


“Kau ini kenapa sih Yati. Baru sekali ini Abang membantu mereka, kau udah menyalahkan Abang.”


“Siapa yang menyalahkan Abang, aku hanya tanya, apakah uangnya nggak Abang sisakan. Lalu bagai mana dengan uang pensiun yang Abang terima setiap bulannya?”


“Uang itu pun udah Abang belikan pakaian sekolah.”

__ADS_1


“Pakaian sekolah siapa?”


“Pakaian sekolah Nita.”


“Nita siapa Bang?”


“Anak Jihan, dia tak punya pakaian sekolah, jadi Abang belikan uang itu ke pakaian sekolahnya.”


“Lalu bagai mana dengan pakaian sekolah Tia Bang, sepatunya sudah robek, tasnya sudah rusak, bajunya pun sudah menghitam dan jorok, kenapa Abang nggak punya niat untuk membelikannya?”


“Udahlah Yati, kau jangan menekan ku terus!”


“Aku nggak pernah menekan Abang, agar Abang tahu, aku yang selalu tertekan selama ini, jangan kira karena aku bodoh, lalu Abang bisa seenaknya saja berbuat sesuka hati Abang.”


“Udah, udah! aku bosan mendengar kau mengomel terus.”


Perdebatan kecil itu tak dapat mereka selesaikan Tia yang enggan untuk pergi ke sekolah, dia pun membatalkan niatnya untuk pergi sekolah.”


“Yang penting, aku nggak mau tahu, besok Tia udah punya uang jajan untuk ke sekolah.”


“Abang mesti mencari kemana Yati?”


“Itu urusan Abang,” jawab Maryati seraya masuk kedalam kamarnya dan mengurung diri di dalam.


Semenjak saat itu, setiap hari, Maryati merasakan hal yang sama, mereka tak punya uang sedikit pun untuk mengantar Tia kesekolah. Lima belas hari kemudian Dipa pun datang ke pondok untuk mengantarkan bahan pokok untuk keluarganya.


Saat itu Maryati minta di beri pekerjaan pada Dipa, Dipa merasa heran, karena selama ini, dia selalu mencukupi kebutuhan hidup keluarga itu.


“Pekerjaan? pekerjaan apa yang Ibu inginkan?”


“Terserah nak Dipa, apa saja pekerjaannya Ibu pasti terima.”


“Tapi Ibu kan lagi hamil.”


“Ibu nggak punya uang saat ini Nak.”


“Baiklah, Ibu akan aku beri pekerjaan, mengutipi cengkeh yang berserakan saat Pak Tomi memanennya.


“Lalu cengkeh itu untuk apa?”


“Cengkeh yang Ibu kumpulkan akan aku beli, seharga pasaran, dengan cara seperti itu Ibu akan mendapatkan uang tambahan setiap kalinya dan Ibu juga dapat menyekolah Tia serta memenuhi kebutuhan sekolahnya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2