
“Di temukan seorang gadis tak di kenal, korban percobaan pembunuhan, saat ini sedang mengalami perawatan intensif di rumah sakit Desa Cempaka.”
“Ooo, korban pembunuhan ya pak?"
“Iya Nak.”
“Apakah Bapak kenal dengan gadis ini?” tanya Arif.
“Sepertinya Bapak nggak mengenalinya.”
“Ya sudah, kalau begitu terimakasih.”
“Sama-sama nak.”
Setelah pria tua itu pergi, lalu anak-anak Roro menarik semua gambar itu dari pohon dan tiang.
“Emangnya kenapa di ambil ya Kak?” tanya Rudi ingin tahu.
“Aku yakin, yang ingin membunuh Maryati itu pasti Kak Danu.”
“Hah! benarkah?” tanya Heru tak percaya.
“Iya, karena hanya Kak Danu yang tadi pagi nggak ikut ke sawah bersama kita.”
“Tapi, kenapa Kak Danu ingin membunuh Maryati ya Kak?”
“Karena kemaren, Maryati melihat Kak Danu mengambil tusuk konde Ibu. Kakak yakin pasti Kak Danu dendam pada Maryati dan berniat untuk menghabisinya.”
‘Lalu apa hubungannya dengan foto ini, kenapa Kakak mengambilnya?”
“Kau mau, kalau Ibu melihatnya?”
“Nggak sih, tapi apakah Ibu kita pernah lewat di tempat ini?”
“Kakak Nggak tahu. Ayo! sekarang kita cepat pulang, Kak Danu harus tahu tentang berita besar ini.”
“Baik Kak.”
Kemudian mereka semua bergegas pulang kerumah untuk melaporkan kejadian itu pada Danu. Menjelang memasuki rumah mewah itu, tampak Ibunya sedang asik duduk di depan rumah seraya memandangi anak-anaknya pulang kerumah.
“Setelah mengantar kerbau kedalam kandang, kalian semua langsung mandi ya?”
“Baik Bu,” jawab anak-anak Roro serentak.
Maka masuklah seluruh anak-anak itu kedalam rumah mereka lewat jalan samping. Tak berapa lama kemudian Roro pun menyusul mereka dari belakang.
“Apakah kalian melihat Maryati?” tanya Roro pada anak-anaknya.
“Nggak Bu.”
“Kurang ajar, pergi kemana dia, sudah magrib begini belum juga kembali.”
“Semenjak kapan dia pergi Bu?” tanya Rudi pada Ibunya.
“Ibu nggak tahu, tadi sebelum Ibu pergi ke sawah Ibu membuka tali pengikat tangannya, atau jangan-jangan dia kabur lagi.”
“Kabur kemana Bu? dia kan nggak kenal daerah ini.”
__ADS_1
“Benar juga ya, mana mungkin dia kabur.”
“Kalau begitu kami mandi dulu ya Bu.”
“Iya, baiklah.”
Ketika ke Sembilan anak-anak Roro masuk kedalam kamar mereka, Rudi melihat Danu tampak duduk sendiri di atas tempat tidur. Lalu dengan perlahan Rudi mencoba menyelinap masuk kedalam.
“Ngapain kau kesini?” tanya Danu pada Rudi.
“Untuk ini,” jawab Rudi sembari melemparkan selebaran foto Maryati pada Danu.
“Apa ini?” tanya Danu heran.
“Kakak lihat aja sendiri.”
Lalu Danu membuka lipatan kertas itu secara perlahan, setelah kertas itu terbuka, Danu melihat wajah Maryati terpampang jelas di kertas putih itu.
“Astaga! bukankah ini Maryati?”
“Iya, benar. Dia itu Maryati, Kakak telah berusaha untuk menghabisinya bukan?”
“Apa maksud mu Rud?”
“Aku tahu, karena Kakak marah padanya, lalu Kakak berusaha untuk membunuh nya.”
“Diam kau!” bentak Danu kesal.
“Sekarang di seluruh jalanan telah terpampang foto Maryati, Kakak nggak bisa berbuat apa-apa lagi, karena sebentar lagi polisi akan datang untuk menangkap Kakak.”
“Baik, aku akan menutup mulut ku, tapi jika Ibu nanya nanti, aku nggak bisa berbohong padanya, karena lama kelamaan Ibu akan mengetahuinya.”
Mendengar jawaban dari Rudi, Danu semakin naik darah, tanpa bicara sepatah katapun tangannya yang kekar langsung memukul wajah Rudi, hingga Rudi pun terpental kebelakang.”
“Kurang ajar kau Danu! ujar Rudi seraya berdiri dan membalas balik pukulan yang di layangkan Danu ke wajahnya.
Hingga akhirnya pertarungan antara mereka berdua pun terjadi di kamar Danu, lama mereka berdua bergulat saling serang dan saling pukul. Roro yang kamarnya bersebelahan dengan Danu, merasa heran mendengar suara benda berjatuhan.
Lalu Roro pun keluar dari kamarnya dan menoleh ke kamar Danu. betapa terkejutnya Roro ketika melihat dua orang putranya adu jotos.
“Hei, hei! kurang ajar kalian ya, berani-beraninya kalian bertengkar di dalam rumah ku!” teriak Roro sembari menjewer telinga keduanya.
“Ampun Ibu, ampun!” rintih keduanya serentak.
“Sekarang katakan pada Ibu, kenapa kalian bertengkar?”
“Semuanya ulah Rudi Bu?”
“Rudi, benar apa yang di katakan Kakak mu?”
“Tapi semua itu ulah dia Bu.”
“Betul ulah mu Danu?”
“Nggak Bu, dia yang cari gara-gara terlebih dahulu.”
“Sekarang bicara jujur pada Ibu, apa yang sebenarnya yang telah terjadi, sehingga kalian bertengkar?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Roro, sebenarnya Rudi diam saja. Karena Rudi tak ingin Ibunya tahu tentang kejadian itu.
“Hah..! kenapa kalian pada diam?”
“Sebenarnya itu kesalahan Rudi Bu, dia yang memulainya duluan.”
“Betul itu Rud?”
“Aku terpaksa harus melakukannya IBu, karena Kak Danu telah menghabisi Maryati.”
“Apa! benar itu Danu?”
Melihat Ibunya terkejut Danu hanya diam saja, dia tak mampu untuk buka mulut, karena dia begitu takut Ibunya akan marah pada dirinya.
“Jawab Danu! apa benar kau telah menghabisi Yati?”
“Maafkan aku Ibu, aku terpaksa melakukannya,” jawab Danu sembari bersimpuh di hadapan Ibunya.
“Terpaksa bagai mana?”
“Aku melihat Yati bicara pada semua warga, kalau Ibu telah menyiksa dirinya selama ini,” jawab Danu berbohong pada Roro.
“Benar apa yang kau katakan itu Danu?”
“Benar Bu, itu sebabnya aku menghabisinya.”
“Di mana kau melakukannya nak?”
“Aku menemui Yati di sawah tiga kilo meter dari sini.”
“Tiga kilo meter?”
“Iya Bu, aku menemukan Yati di Desa Punjung.”
“Di Desa punjung? ngapain dia kesana?”
“Aku memergokinya bicara sama warga Desa Punjung Bu, aku takut sekali kalau dia ingin membongkar semua penyiksaan yang Ibu lakukan padanya,” jawab Danu yang berusaha menyakinkan Ibunya.
“Apakah itu sebabnya kau mau menghabisinya?”
“Benar Bu, jika hal itu nggak kulakukan, maka kita semua berada dalam bahaya, terutama Ibu sendiri. Apalah guna harta yang Ibu simpan selama ini, kalau Ibu sendiri mendekam dalam penjara.”
“Kau benar nak, Ibu membenarkan apa yang kau lakukan saat ini. Kau tahu sendiri kan, kalau semua warga tak ada yang mengenali Yati, jadi jika ada polisi yang bertanya tentang dia, kalian katakan saja kalau kalian nggak mengenalnya.”
“Baik Bu.”
“Dasar anak nggak berguna, masih syukur aku mau menerimanya di rumah ini, kalau nggak dia pasti udah jadi gelandangan.”
“Ibu benar, kurang apa lagi kita coba, udah baik sama dia, tapi hanya ini balasan yang di berikan pada kita sekeluarga,” timpal Danu seraya memanas-manasi Ibunya.
Mesti demikian, Roro masih saja merasa tak tenang, karena kepergian Maryati dari rumah itu, akan membuat dirinya semakin susah.
Hari-hari pun di jalankan Roro sendirian di rumah itu, mengurus sepuluh anak yang sudah mulai besar, ternyata tak semudah yang dia kira. Apalagi, Roro selain mengurus anak-anaknya dia juga harus memasak, membersihkan rumah, menyapu halaman dan bahkan harus mengantarkan makanan anak-anaknya ke sawah.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1