
“Air apa itu, Bang?” tanya Andi ingin tahu.”
“Air busuk inilah yang diminumkan setiap hari ke Bima.”
“Ya Allah, kenapa Dira begitu jahat ya? dia bahkan sampai tega melakukan hal sekeji itu pada suaminya sendiri,” gumam Maryati pada dirinya sendiri.
“Apakah kau tahu Bima, siapa yang telah memberi ramuan ini pada mu?” tanya Dedi ingin tahu.
“Aku nggak tahu Bang."
"Apakah kau sering belanja di luar?”
“Sering sih nggak, tapi pernah juga sekali-kali.”
“Apa mungkin istri mu yang berbuat seperti ini pada mu?”
“Kalau Dira nggak mungkin melakukan semua ini pada ku Bang, karena selama aku sakit, Dira lah yang selalu merawat ku, bahkan dia nggak pernah jauh dari ku selama aku terbaring sakit.”
Lalu Dedi mengambil satu buah telur lagi, telur itu di tempelkan Dedi ke perut Bima seraya di gosokan secara pelan, kemudian telur itu di pecah Dedi, hal serupa juga terlihat lagi oleh mereka semua, bahwa kedua telur yang pecah itu di penuhi belatung dan air yang sangat busuk.
"Kau lihat sendiri kan Bima? belatung dan air kotor inilah, yang membuat kau batuk darah."
"Iya Bang."
Merasa belum bersih, Dedi kemudian menempelkan telur berikutnya, sampai akhirnya telur itu habis. Saat itu Maryati melihat Dedi menggelengkan kepalanya, sambil duduk pelan.
Tujuh lembar sirih dan beberapa persyaratan lainnya di letakkan dalam satu wadah, lalu pria itu membaca beberapa potong kalimat. Saat daun sirih itu di keluarkan dari dalam wadah, Dedi melihat ada tulisan berupa ejaan lama.
“Boleh aku membacanya Bang,” pinta Bima pada Dedi.
“Boleh, ambilah daun ini, nanti kau akan tahu sendiri siapa orang yang telah memberi minuman itu pada mu.”
Dengan pelan Bima membuka gulungan daun itu dan membacanya, betapa terkejutnya Bima ternyata yang telah berbuat keji itu adalah istrinya sendiri. Bima pun menangis dan meneteskan air matanya.
“Siapa yang telah melakukannya nak?” tanya Maryati penasaran.
“Dira Bu, ternyata Dira yang melakukan semua itu pada ku. Aku sungguh tak menyangka, kalau Dira sejauh itu melangkah.”
“Sepertinya itu ramuan untuk menundukkan diri mu Bima,” ujar Dedi.
“Untuk menundukkan ku, buat apa dia melakukan itu pada ku? bukankah selama ini, aku nggak pernah berselingkuh dan berbuat macam-macam padanya?”
“Saat ini Allah telah memperlihatkan pada mu Bima, siapa istri yang telah kau bela selama ini.”
“Lalu apa yang mesti ku lakukan Bu?”
Maryati diam saja saat Bima bertanya padanya, karena Maryati memang belum memikirkan cara untuk bisa, menghindari dari perbuatan jahat Dira.
Karena suasana terlihat hening mencekam, Dedi pun harus membuat suasana menjadi sedikit terbuka.
“Apakah kau ingat Bima? makan atau minuman apa yang sering di berikan istrimu setiap hari?”
__ADS_1
“Kopi, setiap pagi aku selalu di suguhi kopi oleh Dira.”
“Berarti dalam kopi itulah, Istrimu memasukan ramuan yang telah di dapatnya dari dukun itu Bima.”
Bima tampak termenung saat dia tahu, kalau kedalam kopi hangat itulah Dira selalu mengirimkan ramuan jahat itu padanya.
Setelah selesai berobat, Bima pun di bawa pulang kerumah, setiap hari Maryati memberikan minuman berupa jamu pada Bima.
Mesti saat itu Bima telah mendapatkan obat dari penyakit yang di alaminya, namun Bima masih merasa sakit hati, karena Dira telah berbuat jahat padanya. Istri yang paling dia cintai dan bahkan, Bima sangat mempercayainya selama ini.
Ketika Bima selalu teringat pada kejahatan istrinya, hatinya pun berencana untuk tak lagi pulang ke rumah istrinya itu. Karena Bima takut istrinya akan melakukan hal serupa padanya.
Namun Dira bukanlah wanita yang bodoh, dia bahkan kembali lagi pada sahabatnya itu, untuk meminta ramuan berikutnya.
“Ramuan apa lagi Dira?”
“Aku mau ramuan yang membuatnya tak bisa meninggalkan diri Ku Bang.”
“Kenapa sih, kau begitu ngotot mempertahankan pria yang sudah sakit-sakitan itu?”
“Aku sangat mencintainya Bang, aku bahkan rela melakukan apa saja, asalkan Bang Bima nggak mengkhianati aku.”
“Baiklah, akan ku turuti semua yang kau inginkan.”
“Nah gitu dong, itu baru Abang ku yang baik hati namanya,” puji Dira pada pria itu.
“Kau ada bawa fotonya?”
Setelah pria itu mengambil foto Bima dari tangan Dira, lalu pria itu membakar kemenyan sebagai syarat ritual yang dia lakukan, tak berapa lama kemudian asap kemenyan pun membumbung tinggi ke atas.
“Coba kau duduk di hadapan Abang,” perintah pria itu pada Dira.
Dengan bergegas lalu Dira duduk di hadapan pria itu. Asap kemenyan yang begitu banyak ditiupkan pria itu ke wajah Dira.
“Ho! insan Bima, lihatlah wajah istrimu Dira, kecantikannya tak pernah ada tanding, lihatlah, lihatlah! hanya Dira yang ada di hadapanmu saat ini,” ucap pria itu seraya mengambil sesuatu dan mengepal nya dengan erat.
"Gimana Bang, apakah berhasil?"
“Saat ini kau bisa tersenyum manis, karena sebentar lagi, Bima akan datang untuk mu.”
“Makasih Bang,” jawab Dira sambil bergeser duduknya ke samping pria itu.
"Saat ini Bima sedang di bawa Ibunya pulang kampung untuk berobat, jika keluarganya tahu kalau penyakit Bima karena aku, gimana itu Bang?”
“Tenang saja, jika pun mereka semua tahu, kalau penyakit Bima itu karena ulah mu, maka dia nggak bakalan berani memaki mu Dira.”
“Benar, mereka nggak berani memaki ku?”
“Benar, lihat saja dalam tiga hari ini, Bima pasti datang untuk mu.”
“Makasih Bang,” ucap Dira seraya mengeluarkan dua ikat uang berwarna merah.
__ADS_1
“Wah, kalau Dira yang datang, dua bulan Abang nggak perlu lagi bekerja keras.”
“Ini, udah cukup kan?”
“Cukup!”
Merasa puas dengan apa yang di lakukan pria itu, Dira langsung kembali pulang ke rumahnya, setibanya di depan rumah Dira begitu terkejut ternyata Bima sudah berada didalam rumahnya.
“Ya Allah, Bang Bima? Abang kapan datang?” tanya Dira dengan senangnya.
“Barusan.”
“Gimana dengan penyakit Abang, apakah Abang udah sembuh?”
“Alhamdulillah, Abang udah sembuh sayang.”
“Syukurlah, aku sangat takut sekali, kalau Abang nggak kembali lagi kerumah ini."
“Kok, kamu berfikiran seperti itu?”
“Karena saat itu, aku melihat Ibu mu sangat marah sekali.”
“Ibu ku nggak pemarah orangnya Dira, dia itu juga nggak pendendam.”
“Baguslah kalau begitu. O iya, mau ku bikinin minuman?” tanya Dira kemudian.
Ketika Dira menawarkan minuman pada Bima, dia nggak langsung mengangguk kan kepalanya, Dira merasa heran dengan penolakan Bima itu, karena tak seperti biasanya, jika Dira menawarkan minuman Bima pasti menjawab boleh.
“Gimana? Abang mau minum kopi?” tanya Dira untuk menjelaskan pertanyaannya yang pertama.
“Nggak sayang.”
“Kok nggak, biasanya kalau ku tawarkan minum Abang pasti suka.”
“Tapi dokter melarang Abang minum kopi, Dira.”
“Jadi Abang berobat di rumah sakit?”
“Iya, kenapa?”
“Lalu apa kata rumah sakit tentang penyakit yang Abang derita ini.”
“Mereka sudah melakukan rontgen, tapi mereka nggak melihat penyakit yang Abang derita.”
“Gimana dengan Dada Abang, apakah masih terasa sesak dan sakit?”
“Masih, kadang muncul dan kadang berhenti.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1