
Di saat tubuh Arya di baringkan di tengah-tengah ruangan, ratusan para pelayat pun tak henti-hentinya berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa.
Rasa sedih bukan hanya di alami oleh para keluarga, para pelayat pun merasa kehilangan orang yang paling berjasa dalam hidup mereka semua.
Tak berapa lama kemudian berita kepergian Arya pun di dengar oleh Roro adiknya, dia pun kemudian datang bersama kesepuluh orang anak-anaknya. Sampai acara pemakaman Arya selesai pun, Roro dan ke sepuluh anak-anaknya tetap memilih bungkam.
Kehadiran Roro, menjadi buah bibir dari semua karyawan Arya. Entah berduka atau bahagia, tak seorang pun yang tahu, yang jelas tak terlihat sedikit pun raut wajah Roro yang menggambarkan kesedihan mendalam.
Setelah acara pemakaman selesai, Roro langsung menggeledah rumah Arya, dia masuk kedalam dan mengomentari semua karyawan Arya yang saat itu begitu banyak membantu Arya selama ini.
“Apakah sebelum Kang Mas Arya meninggal dia ada menitipkan surat pada kalian?” tanya Roro pada seluruh karyawan.
Mendengar pertanyaan itu, tak seorang karyawan pun yang bicara, mereka semua memilih untuk bungkam saat itu.
“Kenapa kalian semua pada diam!” bentak Roro dengan suara keras.
“Benar itu, bicara dong, kalau kalian semua ingin selamat!” timpal putra sulung Roro yang terlihat begitu sangar sekali.
Tak berapa lama kemudian Mang Burhan pun muncul sembari menyerahkan sepucuk surat pada Roro kedasih.
“Surat apa ini Mang?” tanya Roro ingin tahu.
“Surat wasiat dari Den Arya,” jawab Mang Burhan dengan suara pelan.
“Surat wasiat? untuk siapa surat wasiatnya.
“Non baca aja sendiri.”
“Mamang aja yang membacanya kenapa sih?”
“Maksud non apa?”
“Mamang tahu sendiri kan, kalau saat ini aku lagi malas membacanya.”
“Kalau begitu suruh aja anak non Roro yang membacanya.”
“Mereka itu buta huruf Mang.”
“Bukankah, non Roro telah menyekolahkan mereka.”
“Nggak, buat apa sekolah, toh tetap jadi orang kaya juga kan?”
“Kalau nggak sekolah, mereka semua pasti jadi orang bodoh non.”
“Heh, Mang, jaga mulut mu ya! aku paling nggak suka ada orang luar ikut campur urusan keluarga ku!”
“Kalau begitu non baca aja sendiri, nanti non tahu sendiri apa isi surat itu.”
“Dasar orang tua, nggak ada beresnya,” gerutu Roro seraya membuka kertas yang ada di tangannya.
Karena Mang Burhan tak mau membaca surat itu, lalu Roro pun membuka dan membacanya sendiri, setelah dia selesai membaca, surat itupun langsung di robek menjadi serpihan-serpihan kecil.
__ADS_1
“Kenapa non merobeknya?”
“Kenapa emangnya, apakah Mamang tahu isi surat wasiat itu?” tanya Roro pada Mang Burhan.
“Aku memang nggak tahu isi surat itu non, tapi aku pernak mendengar ucapan Den Arya, kalau isi surat itu menjelaskan tentang pembagian harta Den Arya.
“Pembagian harta yang mana Mang?”
“Seluruhnya non.”
“Dibagi untuk siapa?”
“Untuk kedua putrinya, Sulastri dan Maryati.”
“Apakah Mamang nggak lihat, kedua putri Mas Arya masih kecil, apakah menurut Mamang mereka ini bisa mengelola harta sebanyak ini?”
“Nggak sih, tapi harta itu akan di bagikan saat kedua putrinya sudah remaja nanti.”
“Hah…! Itu masih lama tau..! saat ini seluruh harta Kang Mas Arya akan aku ambil alih.”
“Tapi non, bagai mana dengan hak kedua putrinya ini?”
“Heh, Mang. Aku ini bukan merebutnya, tapi mengambil alih untuk sementara sampai kedua putrinya tumbuh dewasa.”
“Lalu kenapa surat wasiatnya non robek, berarti kedua putri Den Arya nggak punya bukti dong, kalau harta ini milik mereka berdua.”
“Heh, Mang! kau ini pembantu atau tuan sih, dirumah ini?”
“Ya udah, kalau kau pembantu, ingat dong batasan mu!”
“Tapi non, Mamang kan hanya menegakkan kebenaran aja.”
“Kebenaran apa? kebenaran kalau kau bisa bicara sesuka hati mu pada ku.”
"Nggak seperti itu sih, tapi...?"
“ Udah, udah...! heh tua bangka, mulut mu itu, bisa diam kagak, kalau nggak bisa diam, biar ku sumpal dengan kain kotor ini!” bentak putra kedua Roro.
Mendengar ucapan mereka semua, Mang Burhan pun tak bisa berbuat apa-apa, dia terpaksa harus memendam semua kebenaran yang ada.
“Sekarang tolong Mamang ambilkan seluruh surat Kang Mas Arya, baik itu surat tanah, surat perkebunan, toko dan lain-lainnya.”
“Kalau semua surat itu Mamang nggak tahu non.”
“Mamang nggak bohong?”
“Nggak non.”
“Baik, anak-anak geledah semua isi rumah ini, ambil semua surat-surat berharga dan perhiasan yang ada.”
“Baik Bu,” jawab anak-anak Roro serentak.
__ADS_1
Di depan semua karyawan dan orang kepercayaan Arya, Roro dan kesepuluh orang anak-anaknya mengobrak abrik seluruh rumah Arya, bukan itu saja, mereka semua juga menghancurkan barang-barang berharga Arya yang tersusun rapi di rumah itu.
“Barang-barang nya jangan di rusak Den, itu semua milik kedua putri Den Arya,” seru Burhan sembari berusaha mencegah tangan anak Roro.
“Haah..! barang murahan begini juga nggak bakalan laku di pasaran kok, untuk apa di pertahan kan!” ujar putra Roro seraya membanting barang-barang berharga milik Arya di depan semua karyawannya.
Sungguh keji kelakuan Roro dan kesepuluh anaknya, mereka semua seperti orang yang tak punya adab dan etika.
Setelah mereka semua mendapatkan apa yang mereka cari, surat tanah dan perhiasan yang begitu banyak, lalu mereka pun bergegas untuk pergi.
Namun setelah melangkah beberapa jauh, Roro pun kembali lagi menghampiri kedua putri Arya yang saat itu berada di pelukan Mang Burhan.
“Aku hanya bisa memelihara salah satu putri Mas Arya!”
“Nggak non, kedua putri Den Arya, biar Mamang yang merawatnya,” jawab Mang Burhan.
“Kagak bisa! salah satu di antara mereka biar aku yang merawatnya.”
“Tapi non, pesan Den Arya, mereka berdua nggak boleh berpisah.”
“Heh Mang! kau ini ya, kalau ngomong, selalu bilang, kata Den Arya, kata Den Arya, sebenarnya mau mu itu apa sih! kau tahu sendiri kan kalau Den Arya mu itu sudah mati! sekarang sedang digerogoti oleh cacing tanah!”
“Astagfirullah non, kau kejam sekali,” jawab Mang Burhan seraya mengusap dadanya.
“Udah Pak, nggak usah di ladeni,” ujar Tini pada suaminya.
“Sekarang katakan siapa yang mesti ikut dengan ku, Sulastri atau Maryati.”
“Aku nggak mau ikut Bibi, Kek. Aku ikut Kakek aja,” ujar Sulastri pada Mang Burhan.
“Kalau begitu biar Maryati yang bersama ku.”
“Jangan Bi, biar Maryati aku yang urus,” pinta Sulastri seraya memegang adiknya erat-erat.
“Kagak bisa, salah seorang harus tinggal bersama ku.”
“Nggak Bi, pesan Ayah, aku nggak boleh berpisah dengan Maryati.”
“Bodoh, emangnya kalian mau tinggal dimana hah..!”
“Dirumah Kakek Burhan aja.”
“Kau kira Kakek Burhan mu itu sanggup memberi mu makan.”
“Aku sanggup non, biarlah mereka berdua tinggal bersama kami di kampung.”
“Heh tua bangka, kau kira aku ini bodoh hah, mau kasih makan apa mereka berdua nanti! hidup susah aja masih saja belagu.”
“Kalau hanya untuk memberinya makan dan menyekolahkan keduanya, Mamang masih sanggup non.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*