Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 108 Pergi berobat ke padang


__ADS_3

“Itu sama doang Nisa, ujung-ujungnya, kita-kita ini yang akan menanggung semua biaya operasi Ayah.”


“Ya tentu kita lah Kak, kan kita anak-anaknya, nggak mungkin Ibu kan?”


“Kalau kau emang bisa bicara seperti itu, karena saat ini kau belum ada tanggungan, sementara aku, aku sudah ada tanggungannya.”


“Tanggungan apa, biaya sekolah Ravi, bukankah Ravi, Ibu yang menanggung biaya sekolahnya, sementara Kakak sebagai Ibu justru lepas tugas dari tanggung jawab.”


“Jaga ucapan mu Nisa, kau semakin keterlaluan aja kalau ngomong!”


“Apa menurut Kakak, aku salah bicara ya?”


“Udah-udah! kok kalian malah bertengkar sih, sekarang kita harus pikirkan bagai mana caranya agar biaya operasi Ayah ini dapat terkumpul,” lanjut Andi kemudian.


Setelah Andi selesai bicara, tak seorangpun di antara mereka yang mau buka mulut, kecuali Nisa yang secara terang-terangan mau membantu biaya operasi Ayahnya.


“Baiklah, aku akan memberikan satu emas untuk itu.”


“Wah, kau ternyata banyak uang ya Nisa?” tanya Novri.


“Aku nggak punya uang, aku hanya memberikan emas Nike untuk biaya operasi Ayah.”


“Enak aja, itu sama doang kau nggak menyumbang apapun untuk itu,” bantah Tia.


“Maksud Kakak apa ya? aku nggak mengerti.”


“Emas Nike itu kan di hadiahkan Ibu pada cucunya, lalu emas itu kau sumbangkan pada Ayah, untuk biaya operasinya?”


“Iya.”


“Itu sama saja kau nggak mengeluarkan uang sedikitpun Nisa!”


“Kok bisa gitu?”


“Karena emas itu, Ibu sendiri yang membelinya untuk Nike, bukan uang dari hasil keringat Adit.”


“Terkadang aku heran melihat daya pikir kalian, entah bodoh, entah pintar, aku bingung jadinya.”


“Ya bingung lah, karena kau berlagak hebat pada kita,” jawab Leni.


“Heh kak, emas ini, sekarang milik siapa?”


“Milik Nike.”


“Kalau benar milik Nike, berarti uang ini juga milik ku bukan?”

__ADS_1


“Ya tentulah Nisa, bodoh banget cara berpikir mu.”


“Baiklah, saat ini emas Nike ku jual, lalu uangnya ku simpan dalam tabungan, setelah sekian bulan, aku kehabisan beras, maka uang hasil penjualan emas itu, ku ambil sedikit untuk beli beras, boleh nggak?”


“Pikirkan aja sendiri!”


“Sekarang Kakak harus jawab dengan benar, boleh atau nggak?”


“Boleh!”


“Nah, sekarang uang itu ku berikan pada Ayah untuk operasi nya, boleh atau nggak?”


“Boleh!”


“Ya sudah, kalau begitu aku permisi pulang,” jawab Nisa seraya meninggalkan mereka semua.”


Setelah kepergian Nisa, tak seorang pun yang mau bicara dan tak seorang pun yang mau membantu operasi Ayah.


Andi merasa sedih waktu itu, karena kedua orang Kakaknya yang sudah hidup mampu, justru tak mau membantu biaya operasi Ayahnya.


Dengan memberanikan diri, Andi datang ke kantor Desa untuk minta surat keterangan miskin, dengan bantuan aparatur Desa, Tomi pun mendapat kartu ASKES. Dengan kartu ASKES itu, Andi mengurus semua keperluan Ayahnya selama menjalani operasi di Padang.


Ternyata tak semudah yang di bayangkan, Andi pun merasa kesulitan dalam mengurusnya, karena Bima mulai bermain-main di dalamnya.


Beberapa minggu Andi menunggu panggilan, apakah Ayahnya sudah bisa di operasi atau belum, namun panggilan itu tak kunjung ada.


“Gimana nak, apakah pengurusan operasi Ayah telah selesai?”


“Itulah Bu, aku udah dua kali ke Padang, tapi kenapa begitu lama ya?”


“Emangnya selama ini kalau mengurus operasi itu lama nak?”


“Biasanya sebentar Bu.”


“Kasihan dengan Ayahmu, dia begitu menderita karena kesakitan.”


“Iya Bu.”


“Gimana dengan Tia dan Leni, apakah mereka mau membantu biaya operasi Ayahmu?”


“Sepertinya nggak Bu, hanya Kak Nisa yang membantu, memberikan emas Nike untuk biaya Ibu selama di padang.”


“Mereka bertiga emang sudah keterlaluan.”


Beberapa minggu kemudian, nama Tomi pun terpanggil, Bima yang berada di Padang langsung mengabari Andi. Mendengar kabar yang menggembirakan itu, Andi berniat untuk membawa Ayah dan Ibunya ke Padang.

__ADS_1


Bersamaan dengan Itu Tedi, Tia dan Leni, ikut serta membawa Ayah dan Ibunya. Sebenarnya Maryati keberatan sekali dengan mereka semua, karena selain Maryati membawa hanya sedikit uang, ketiga keluarga itu ikut numpang makan pada Ibunya.


Untung saja Maryati saat itu memiliki sedikit uang tabungan, sehingga bisa membelikan mereka semua makan, sementara itu Nisa dan Adit tak ikut bersama mereka, karena Nisa saat itu sedang mengandung anak ke duanya.


Bukannya ketiga Kakak Nisa itu bahagia, karena telah ikut ke Padang, serta makan gratis, mereka malah menyalahkan Nisa, kenapa nggak ikut ke Padang.


“Bukankah aku telah memberi alasan yang tepat pada Abang, kenapa aku nggak berangkat ke Padang.”


“Itu bukan alasan Nisa, kalau seandainya terjadi sesuatu pada Ayah, pasti kau menyalahkan kami semua,” ujar Tedi sambil duduk di hadapan Nisa.


“Lagian ngapain kita semua mesti berangkat ke Padang, cukup Ibu saja yang berangkat. Sebab, kalau kita semua yang berangkat, itu sama saja artinya kita telah membebankan Ibu dalam masalah makan dan yang lainnya.


“Apa maksud ucapan mu itu Nisa? aku nggak mengerti.”


“Selama kalian di Padang, siapa yang ngasih kalian makan?"


“Ibu.”


“Abang tahu, dari mana Ibu mendapatkan uang untuk biaya makan kalian itu?”


“Ya, dari uang sumbangan kita semua."


“Nggak, kalian sedikit pun nggak mau mengeluarkan uang untuk biaya operasi Ayah, aku dan Andi yang mau membantu Ayah.”


“Kan opersi Ayah menggunakan kartu Askes.”


“Iya Abang benar, operasi Ayah menggunakan kartu Askes dan Andi yang telah mengurusnya, lalu dari mana Ibu dapat biaya untuk perjalanannya menuju Padang. Tentu dari uang yang ku berikan pada mereka.”


“Dari mana kau tahu, kalau biaya kami selama di Padang, adalah dari uang yang kau berikan?”


“Karena aku tahu, kalian yang ikut ke Padang bersama Ibu, kalian nggak membawa uang sedikitpun juga. Kalian hanya mengandalkan uang dari Ibu, kalian semua telah menyusahkan Ibu.”


Tak terima dengan ucapan Nisa, Tedi langsung pergi dan membahas masalah itu dengan Tia dan Leni. Mereka berdua menjadi sakit hati pada Nisa, begitu juga dengan suami mereka Novri dan Rijal.


“Keterlaluan sekali mereka, mentang-mentang ikut membantu operasi Ayah, lalu mereka berdua menyalahkan kita yang telah mengantar Ayah dan Ibu ke Padang,” ujar Rijal


kesal.


Rijal yang tak terima karana Nisa telah menyalahkan mereka semua, langsung mendatangi rumah Nisa di perusahaan tempatnya bekerja. Kebetulan saat itu Adit baru pulang kerja dan dia sendiri yang menghadapi Rijal secara langsung.


“Apa maksud dari ucapan mu Nisa, jadi kau menyalahkan kami semua yang ikut mengantarkan Ayah dan Ibu ke Padang?”


“Aku nggak menyalahkan kalian yang mengantarkan Ayah dan Ibu ke Padang, yang ku salahkan itu, kenapa kalian semua pergi mengantarkan mereka.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2