
“Ibu, jangan tidur disini ya, sebab, ruang tunggu di sini nggak baik untuk anak-anak,” ujar seorang perawat pada Maryati.
“Jika saya nggak tidur disini, lalu saya harus tidur di mana Sus?”
“Ibu bisa pulang kok, atau Ibu titipkan dulu anak-anak Ibu pada saudara yang lainnya.”
“Tapi saya nggak punya siapa-siapa Sus, rumah saya jauh dari sini.”
“Tapi pihak rumah sakit tidak mengizinkan anak Ibu untuk menginap dan tidur disini.”
“Tolonglah Sus, saya nggak mungkin menyuruh mereka tidur dirumah, Suster tau sendiri kan, kalau mereka ini masih kecil-kecil.”
“Kalau begitu besok pagi Ibu bicaralah dulu dengan pihak rumah sakit.”
“Baik.”
Dalam kondisi seperti itu, sebenarnya Maryati tak ingin mengajak anak-anaknya untuk tidur di ruang tunggu rumah sakit. Dia pun sebenarnya merasa kesulitan sekali, karena selain mengurus ketiga anaknya, Maryati juga merawat Juna yang terus saja menangis.
Tomi yang saat itu sedang asik bermain judi, tak mengetahui sama sekali kalau Juna jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit. Maryati memang sengaja tak memberi tahu suaminya.
Satu bulan sudah Maryati bersama keempat anaknya tinggal di rumah sakit, siang itu Tomi datang untuk meminta uang pada Maryati karena dia sedang di lilit hutang judi bersama temannya.
Setibanya di rumah, Tomi tak menemukan siapa-siapa di sana, berulang kali dia mencoba memanggil-manggil nama istri dan anaknya, namun mereka tak juga datang menghampiri.
“Pada kemana mereka, kenapa tak seorang pun yang kelihatan?” tanya Tomi pada dirinya sendiri.
Sembari duduk senderan di pintu rumah kontrakannya, tiba-tiba seorang Ibu datang menghampiri Tomi.
“Istri dan anak-anak mu saat ini, sedang berada di rumah sakit.”
Tomi begitu terkejut, ketika mendengar kabar sedih itu, awalnya dia tak begitu yakin dengan perkataan Ibu itu, tapi ketika melihat rumah berantakan, Tomi jadi yakin dengan ucapan Ibu tersebut.
“Ibu nggak berbohong kan?” tanya Tomi ragu.
“Emangnya aku terlihat seperti orang pembohong ya?”
“Nggak juga sih, tapi semenjak kapan Istri dan anak ku masuk rumah sakit, Bu?”
“Sudah hampir satu bulan. Kau kemana saja? apakah kau nggak kasihan pada istri dan anak-anak mu, dia begitu menderita sekali saat ini. Kau sebagai suami, benar-benar udah kelewat batas.”
“Maafkan aku Bu, aku sungguh tak mengetahuinya sama sekali.”
“Gimana kau mengetahuinya, kalau setiap hari kau hanya bermain judi, kau nggak memikirkan istri yang begitu baik pada mu, bahkan kau mengabaikan orang yang telah ikhlas melahirkan begitu banyak anak untuk menyenangkan hati mu.”
Ucapan perempuan itu bagaikan cambuk yang telah melibas wajah Tomi, walau kata perempuan itu sangat menyakitkan sekali, namun dia berkata benar. Tomi tak bisa mengelak dari ucapannya.
Di kemasi semua barang yang berserakan di lantai, lalu Tomi pun bergegas menuju rumah sakit. Dari jauh Tomi melihat Maryati bersama ketiga orang anaknya sedang tiduran di atas lantai rumah sakit dengan beralaskan kain panjang.
Hati Tomi terasa merintih saat itu, perbuatannya yang sudah menelantarkan istri yang begitu baik padanya tak dapat di bayar hanya dengan kata maaf saja.
__ADS_1
Namun Maryati orang yang sangat baik, mesti perbuatan Tomi begitu menyakitkan hatinya, namun dia tetap menghormati Tomi dan perkataannya pun selalu di jaga, agar tidak menyakiti hati suaminya.
“Sayang apa yang telah terjadi?” tanya Tomi yang terlihat sedikit panik.
“Juna sakit, Bang."
“Sakit? Juna sakit apa sayang?”
“Juna menderita tumor otak.”
“Tumor otak?”
“Kau kemana saja Bang, aku bersama dengan anak-anak mu begitu menderita sekali, kau lihat sendirikan, kami hanya makan nasi sisa orang selama berada di rumah sakit ini.”
“Maafkan aku sayang, aku janji, nggak akan mengabaikan kalian lagi.”
“Apakah kau punya uang?”
“Kalau untuk sekedar membeli makanan, aku masih punya.”
“Pergilah cari makanan untuk anak-anak kita.”
“Baik sayang.”
Tomi pun bergegas keluar untuk mencari makanan, dengan sedikit uang sisa berjudi, Tomi membelikan istri dan anak-anaknya makanan.
Melihat ketiganya makan dengan lahap, Tomi merasa menyesal telah berbuat jahat pada mereka, apalagi istrinya Maryati yang sangat menghormati dan menghargainya sebagai seorang suami.
Siang itu, Tomi teringat dengan Yana, karena bersama Yana, dia masih memiliki begitu banyak harta yang belum sempat di bagikan.
Lalu Tomi pun segera menemui Yana, namun sayang, Yana yang dia cari sudah pindah rumah. Tak seorang pun yang mengetahui kemana Yana pindah, tapi kata seorang warga, Yana pindah setelah dia menikah dengan seorang pria kaya.
“Keterlaluan kau Yana, kau bahkan nggak meninggalkan aku sepersen uang pun dari hasil kerja keras kita berdua,”gerutu Tomi kesal.
Mesti Tomi tak mengetahui kemana Yana pergi, namun dia terus berusaha untuk mencari keberadaannya.
“Sial, kau Yana! pergi kemana kau!”
“Ada apa Bang?” tanya Leon ingin tahu.
“Mantan istri ku, dia membawa semua harta kami.”
“Maksud Abang, kalian belum sempat membagi harta gono gini kalian.”
“Ya, tapi dia udah keburu pergi menghilang.”
“Waduh sayang sekali kalau begitu.”
“Kalian carilah informasi tentang keberadaannya, nanti kalian akan mendapatkan persenan dari ku.”
__ADS_1
“Ok Bang. Tapi Abang punya fotonya kan?”
“Punya, besok akan Abang berikan pada kalian.”
“Baik Bang.”
Gagal menemukan keberadaan Yana, Tomi pun pulang dengan tangan hampa, Bima yang melihat Ayahnya kembali, langsung saja mengejarnya.
“Ayah dari mana?”
“Ayah pergi sebentar.”
“Ibu udah lama menantikan Ayah.”
“O ya.”
“Iya tu, Ibu duduk di depan rumah.”
“Kalau begitu Bima main dulu kesana ya, ingat jangan jauh-jauh.”
“Baik Ayah.”
Saat Bima telah pergi membawa adiknya bermain, Tomi langsung menghampiri Maryati yang saat itu sedang duduk di depan pintu rumah.
“Ada apa sayang? kenapa melamun?”
“Semuanya sudah ludes tak bersisa Bang. Tak ada lagi yang akan kita jual siang ini.”
“Yang sabar sayang.”
“Abang tadi pergi kemana?”
“Aku mencari Yana.”
“Yana? Yana itu siapa Bang?”
“Mantan istri ku, dia telah membawa semua harta kami berdua, semestinya harta itu di bagi sama rata dulu baru dia pergi, namun hingga saat ini, aku nggak menemukan keberadaannya.”
“Abang nggak menemukan kemana dia pergi?”
“Nggak, Aku sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaannya.”
“Emangnya, dia banyak membawa harta bagian Abang?”
“Jika di bangunkan ke sebuah rumah, kita akan memiliki sebuah rumah tingkat dua dengan sepuluh kamar, lengkap dengan isi di dalamnya.”
“Udahlah Bang, ikhlaskan saja yang sudah pergi, sekarang kita hanya bisa berfikir bagai mana cara bisa tetap hidup.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*