Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 72 Kekesalan Maryati


__ADS_3

“Abang selalu seperti itu, tak mau berusaha lebih untuk keluarga, hanya mengandalkan istri saja.”


Satu minggu setelah pertengkaran kecil itu, Tomi mendapat sepucuk surat dari pos keliling. Surat itu dibaca dengan seksama, ternyata telah terjadi penahan pensiun yang di terima Tomi selama ini.


“Aku harus mengurus pensiun itu, kalau bukan dengan uang itu, keluarga kita pasti semakin terpuruk.”


“Tapi aku nggak punya biaya untuk mengurusnya, Bang.”


Dengan modal uang seadanya, Tomi mulai berusaha mengurus uang pensiunnya yang tertahan. Namun hasilnya tetap saja nihil.


Maryati hanya terlihat biasa saja saat dia tahu kalau pensiun Tomi di tahan, baginya ada atau tidak uang pensiun itu, dia bahkan tak pernah mengenyam nya sama sekali. Setiap Tomi menerimanya, dia selalu saja membagikan uang itu pada saudara dan keponakannya di kampung.


Bahkan Tomi tak menyisakan nya untuk anak-anaknya yang butuh biaya hidup. Semua kebutuhan rumah tangga, hanya Maryati yang mencukupinya.


Maryati melakukan apa saja, asalkan dapurnya bisa mengeluarkan asap dan anak-anaknya tidak kelaparan, selain dari warung yang selalu terbuka untuk para pembeli, Maryati juga membuat kue kering untuk dititipkannya di warung dan di kantin sekolah.


Setiap harinya Maryati juga pergi ke pasar untuk berjualan daun pisang serta sayur-sayur lainnya. Rasa lelah yang dia rasakan sepertinya sirna seketika, ketika melihat putra putrinya tertawa dan berlari senang di hadapannya.


Karena semakin hari kehidupan terasa semakin sulit, Maryati pun mencoba bekerja di sebuah pabrik, yang letaknya sekitar sepuluh kilo meter dari rumah, namun demi keluarga yang dia sayangi, Maryati melakukan hal itu dengan ikhlas.


Siang itu ketika Maryati mendapat cuti dari pabrik tempat dia bekerja, Tia datang menghampiri Ibunya, yang sedang beristirahat.


“Ibu.”


“Apa sayang?”


“Aku bisa nggak melanjutkan sekolah ke SMA.”


“Tentu nak, kau mau kesekolah yang mana?”


Nanti akan ku tunjukan pada Ibu ke SMA mana aku akan melamar sekolah.”


“Baiklah, nanti Ibu akan hantarkan kau kesekolah tersebut.”


“Makasih Bu.”


Sesuai dengan keinginan putrinya, Maryati memasukannya di sekolah SMA, namun karena jarak dari rumah terlalu jauh, untuk itu Maryati mencarikan rumah kontrakan untuk Tia.


Kebahagian mulai terlihat dari raut wajah Tia, ketika dia memasuki sekolah barunya. Banyak teman yang ingin berkenalan dan menjadi teman baiknya.


Di sekolah barunya, Tia memiliki banyak teman yang sebaya dengannya, mereka semua tak ada yang memandang derajat dan martabat keluarga. Semuanya sama di mata mereka.


Satu bulan Tia menempati rumah kosnya, tiba-tiba Inah datang kerumah Maryati, dia menawarkan jasa pada Tomi agar Tia di izinkan tinggal bersama dengannya di rumah dinas anaknya yang baru.


Tomi yang mudah terperdaya langsung mengizinkan Tia untuk tinggal bersama dengan Inah. Inah merasa senang sekali saat itu, tapi Maryati menolaknya.


“Aku nggak akan mengizinkan Tia, tinggal bersama mereka Bang.”


“Kenapa Yati.”


“Aku nggak suka Tia tinggal bersama Inah, lama kelamaan putriku akan mereka jadikan budak di sana.”

__ADS_1


“Jaga ucapan mu Yati, kau selalu berprasangka buruk pada saudaraku.”


“Aku nggak pernah berprasangka buruk pada saudaramu, jika mereka tak pernah berbuat jahat dan menyakiti aku.”


“Cukup Yati, kau selalu saja membahas masalah itu, padahal kejadian itu sudah berlalu begitu lama.”


“Pokoknya aku nggak setuju Tia tinggal bersama mereka titik.”


“Kau keras hati Yati, sebenarnya Inah hanya ingin mempermudah urusan kita, jika tinggal bersamanya, tentu kita nggak mengeluarkan biaya lagi untuk uang kos Tia.”


“Aku masih sanggup kok, mengeluarkan uang kos untuk Tia, jadi aku nggak perlu mengharapkan Inah untuk memelihara Tia.”


“Jadi gimana Tomi? apakah kau izinkan Tia tinggal bersama ku?”


“Iya Kak,” jawab Tomi tanpa meminta izin pada Maryati terlebih dahulu.


Mendengar keputusan Tomi, Maryati hanya diam saja, setelah Inah pergi, Maryati menatap Tomi dengan rasa kesal.


“Ingat Bang, jika terjadi sesuatu nanti pada Tia, aku nggak bakalan memaafkan semua kesalahan mu.”


Tomi diam saja, mesti ucapan Maryati berupa kata ancaman pada dirinya. Keesokan harinya Tomi mengeluarkan Tia dari kosnya dan menitipkan putrinya itu pada Inah.


Sudah beberapa bulan Tia tinggal bersama Inah, semuanya terlihat aman dan biasa saja, Maryati yang datang mengantarkan uang belanja, dia tak mendengar keluhan dari Tia sama sekali. Namun keanehan mulai tampak terlihat dari tubuh Tia.


“Kau kenapa kurus nak?” tanya Maryati ingin tahu.


“Mungkin karena banyak pelajaran Bu,” jawab Tia saat itu.


“Lagi pergi.”


“Pergi kemana?”


“Nggak tahu.”


“Udah berapa lama dia pergi nak?”


“Udah dua minggu?”


“Maksud mu, Bibi mu pergi dan dia meninggalkan diri mu sendiri di rumah ini?”


“Iya Bu, Bi Inah sering pergi kok, dia bahkan meninggalkan aku dirumah sendirian.


“Lalu masak mu gimana kalau Inah pergi?”


“Kalau dia pergi, dia selalu mengunci pintu rumah.”


“Jadi kau makannya gimana?”


“Aku jarang makan Bu, kadang ada orang yang mengantarkan makanan, terkadang dua hari aku nggak makan.”


“Kurang ajar kau Nah,” gerutu Maryati kesal.

__ADS_1


“Sekarang kemasi semua barang-barang mu, ayo kita kembali pulang kerumah.”


“Baik Bu.”


Betapa terkejutnya Maryati ketika dia melihat kamar Tia kotor dan sempit. Inah bahkan tak memberi kasur untuk putrinya itu, selama tinggal bersama Inah, Tia hanya tidur dengan beralaskan tikar sobek dan rusak.


“Jadi hanya disini kau tidur nak?”


“Iya Bu.”


“Apakah Bibi mu nggak memberi mu kasur untuk tidur?”


“Nggak Bu.”


Dengan rasa kecewa, Maryati membawa Tia kembali pulang bersamanya, Maryati tampak begitu kesal sekali dengan perbuatan Inah kepada putrinya.


“Lho kamu nggak sekolah nak?” tanya Tomi ketika melihat Tia berada di rumah bersama Ibunya.


“Kakak mu meninggalkan Tia sendiri dirumahnya, sudah dua minggu, dia bahkan nggak meninggalkannya makanan sedikit pun.”


“Benar itu nak?”


“Iya Ayah.”


“Lalu kau makan di mana selama Bi Inah pergi?”


“Aku nggak makan Ayah.”


“Udah berapa hari kau nggak makan?”


“Udah dua hari.”


“Apa lagi yang di suruh Bibi mu selama kau tinggal bersamanya, Tia?”


“Bibi menyuruhku mengerjakan semuanya, mulai dari memasak, mencuci dan membersihkan rumah, bahkan aku tak punya waktu untuk belajar, karena Bibi selalu saja memanggil ku untuk bekerja.”


“Kurang ajar kau Kak,” gerutu Maryati kesal.


“Jangan cepat mengambil kesimpulan, belum tentu Kak Inah berbuat seperti itu pada Tia.”


“Jadi Abang nggak percaya dengan pengakuan Tia?”


“Bukannya nggak percaya, tapi kita mesti mendengarkannya dari kedua belah pihak.”


“Kau bela terus saudara mu itu Bang,” ujar Maryati seraya meninggalkan Tomi sendirian.


Jawaban Tia yang polos itu, tak langsung membuat Tomi marah, dia hanya diam saja dan menyuruh Tia segera makan ke dapur. Keesokan harinya, Maryati mencarikan rumah kontrakan yang baru untuk Tia, agar dia bisa belajar dengan tenang dan aman.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2