Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 43 Mencari Keberadaan Maryati


__ADS_3

Sambil menunggu Ibunya pulang, semua anak-anak Roro duduk diam di ruang tamu, mereka tampak resah dan ketakutan.


Setelah beberapa jam menunggu, Roro pun pulang kerumah dengan menaiki kereta kuda. Saat Roro keluar dari kereta kuda, kesepuluh anak-anaknya langsung datang menghampiri Ibunya.


“Ada apa? kenapa kalian terlihat sangat cemas sekali?” tanya Roro ingin tahu.


“Ibu, tadi Kakaknya Maryati datang kesini untuk mencari Maryati.”


“Kakaknya Maryati? berarti itu Sulastri?”


“Iya Bu.”


“Mana dia? apakah dia kalian suruh masuk?”


“Nggak Bu, dia sudah pergi.”


“Sudah pergi? kenapa kalian biarkan pergi, padahal Ibu telah mencarinya begitu lama sekali.”


“Dia nggak mau masuk kedalam, setelah dia tahu, kalau Maryati telah pergi dari rumah ini.”


“Padahal Ibu telah mencari keberadaan Kakaknya itu lama sekali.”


“Untuk apa Ibu mencari keberadaan Kakaknya Maryati itu, Bu?”


“Dasar bodoh! kalau nggak mencari Lastri, lalu dari mana kita tahu kalau Maryati itu pergi kemana.”


Ucapan Roro, membuat ke sepuluh anak-anaknya menjadi terdiam sejenak, lalu tak berapa lama kemudian Heru pun melanjutkan perkataannya.


“Lastri juga bilang, kalau dia itu seorang pengacara, jika suatu hari nanti keluarga kita terbukti bersalah karena telah menyiksa Maryati, maka kita akan di laporkan ke polisi.”


“Benarkah, kalau dia akan melaporkan kita ke polisi?”


“Begitulah katanya Bu.”


“Gawat, kalau benar Lastri itu pengacara, maka habislah kita semua.”


“Kenapa begitu Bu?”


“Jika saja Lastri bisa bertemu dengan Maryati dan gadis bodoh itu buka mulut pada Kakaknya, maka kita semua akan masuk penjara.”


“Lalu kita mesti gimana Bu?”


“Entahlah, kita mesti cari akal, agar kita terbebas dari jeratan hukum.”


“Tapi bagai mana caranya Bu?”


“Ibu juga nggak tahu nak, kalian semua pikirkan dong, bagai mana caranya agar kita bisa terbebas dari jeratan hukum.”


Tak tahu mesti berbuat apa, mereka semua kehabisan akal untuk mencari celah, agar terhindar dari jeratan hukum.”


Siang dan malam mereka semua terus saja berfikir untuk dapat terlepas dari jeratan hukum, karena telah menyakiti Maryati. Sedangkan Lastri, dia terus mencari keberadaan adik kecilnya itu.


“Gimana nak, apakah adik mu masih berada di rumah Roro?”


“Nggak Nek, Maryati telah kabur dari rumah Bibi.”


“Ya Allah, lalu kemana adik mu perginya nak?”


“Aku juga nggak tahu Nek, tapi katanya, Maryati sudah lama pergi.”


“Tapi pergi kemana dia, oh sayang, begitu menderitanya kau nak.”


“Aku bingung mesti mencarinya ke mana Nek.”


“Nenek juga nggak tahu nak, Nenek begitu yakin, kalau Maryati masih berada di sekitar kota Jakarta.”


“Tapi Jakarta ini luas Nek, aku mesti mencari kemana?”

__ADS_1


“O iya, Nenek punya solusi untuk itu.”


“Solusi apa Nek?”


“Gimana kalau kehilangan Maryati kita laporkan saja ke polisi.”


“Mana mungkin Nek, karena kita sendiri nggak punya foto Maryati.”


“Iya juga ya.”


“Oh tuhan, lindungi cucu ku itu dari segala macam marabahaya.”


Kesedihan tampak mewarnai keluarga Sulastri setelah mendapat kabar kalau Maryati telah keluar dari rumah Bibinya. Mesti demikian Lastri tak merasa putus asa, dengan kegigihannya dia terus mencari keberadaan Maryati.


Dari rumahnya Sulastri menaiki kereta api untuk menuju stasiun senen, siapa tahu, Lastri mendapat sedikit petunjuk tentang adiknya itu di stasiun.


Di atas kereta api, Lastri di hampiri oleh seorang anak laki-laki yang terus memandangnya.


“Kakak mau di semir sepatunya?”


“Oh, boleh,” jawab Lastri seraya melepas kedua sepatunya.


Lalu dengan lincah, Bima menyemir sepatu Lastri yang tampak duduk diam di atas bangku, Lastri bahkan hanya memandang keluar saja, tanpa menghiraukan hiruk pikuknya di atas kereta.


“Kakak, mau kemana?”


Bima mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada Lastri, mesti saat itu Lastri diam, namun dia tetap menjawab pertanyaan yang di ajukan Bima padanya.


“Aku mau ke stasiun Senen.”


“Ooo, ke stasiun senen ya?”


“Nama mu siapa?” tanya Lastri pada Bima.


“Bima.”


“Iya.”


“Dalam keseharian, Bima bekerja sebagai apa?”


“Tergantung.”


“Maksudnya?”


“Tergantung pekerjaan apa saja yang bisa dikerjakan, asalkan menghasilkan uang yang halal, maka aku akan mengerjakannya Kak.”


“Ayahmu bekerja di mana?”


“Ayah ku sudah pergi, dia meninggalkan Ibu dan kami anak-anaknya.”


“Udah berapa lama?”


“Udah lebih empat tahun.”


“Jadi, kau dan Ibu mu, tinggal di stasiun senen ya?”


“Iya Kak, Ibu ku buka warung di rumah, karena ada adik yang masih kecil dan sedang sakit.”


“Apakah Bima, nggak sekolah?”


“Semenjak Ayah pergi, aku berhenti sekolah, karena aku kasihan melihat Ibu yang sering menangis karena terlalu lelah bekerja.”


“Kau benar-benar anak yang berbakti.”


“Ini Kak, sepatunya udah selesai di semir.”


“Terimakasih, ini uang untuk mu,” ujar Lastri seraya menyodorkan uang kertas pada Bima.

__ADS_1


“Maaf Kak, saya nggak punya kembaliannya.”


“Ambil saja kembaliannya untuk mu.”


“Tapi Kak, kembaliannya sangat banyak sekali.”


“Nggak apa-apa, nanti kau belikan saja makanan, agar kau bisa berbagi dengan adik dan Ibu mu.”


“Kalau Kakak mau, Kakak boleh kok, mampir di warung Ibu ku nanti.”


“Emangnya warung Ibu mu, jauh dari stasiun kereta ini?”


“Nggak, dekat kok, bahkan saat Kakak turun, Kakak langsung bertemu dengan warung Ibu.”


“Ooo begitu. Baiklah, nanti Kakak mampir di warung Ibu mu.”


“Makasih Kak.”


“Sama-sama.”


“Kalau begitu aku kembali bekerja ya Kak.”


“Iya silahkan.”


“Permisi.”


Lastri hanya tersenyum ketika Bima mohon izin untuk melanjutkan pekerjaannya pada Lastri. Mesti Lastri tak mengetahui kalau Bima adalah putra Maryati, namun kedekatan antara mereka berdua terasa sudah tak asing lagi.


Ketika Bima mendapat perlakuan tak baik oleh seseorang saat dia bekerja, Lastri langsung menghampiri keponakannya itu.


“Ada apa ya? kenapa menendang anak-anak?” tanya Lastri pada pria yang saat itu sedang marah pada Bima.


“Anak-anak kau bilang! hei, dia ini bukan anak-anak lagi, kau tahu nggak, dia ini udah sepantaran dengan Ayah ku.”


“Jadi apa kesalahannya? sehingga kau begitu kesal padanya?”


“Lihat pekerjaannya, nggak becus!”


teriak pria itu seraya melempar sepatunya ke wajah Bima.


Lastri yang melihat perlakuan pria itu, darahnya langsung mendidih, sepatu itu pun di ambilnya dan di lempar keluar kereta, setelah itu Lastri langsung menarik tangan Bima untuk menjauhi pria kasar itu.


Tak terima dengan perlakuan Lastri karena telah membuang sepatunya keluar kereta, pria itupun marah dan mengejar Lastri yang sedikit menjauh darinya.


“Kurang ajar! kau mau cari gara-gara dengan ku hah!” teriak pria itu sembari menarik tangan Lastri dengan kuat.”


“Kembalikan sepatu ku yang telah kau lempar keluar!”


“Kau ambil saja sendiri.”


“Ooo, kau mau cari masalah dengan ku?”


“Kau sendiri yang mencari masalah dengan ku.”


“Masalah apa? apa yang telah ku lakukan pada mu?”


“Anak ini keponakan ku, kalau kau menyakitinya, berarti kau sedang menyakiti ku, kalau kau nggak terima sepatu jelek mu itu di semir olehnya, maka jangan kau lemparkan ke wajahnya.”


"Kau kira, kau itu siapa, bisa berbuat sesuka hati mu!"


"Dia itu udah keterlaluan, tahu nggak."


"Kau yang keterlaluan! tak bisa menghargai pekerjaan orang lain."


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2