
Di saat bersamaan, Maryati merasa kesal sekali, karena Bima yang sedang dalam masa penyembuhan, tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Maryati berusaha mencari Bima kemana-mana, bahkan bertanya hampir di setiap rumah tetangga.
“Bu Yati yakin, kalau Bima anak Ibu itu masih di sekitar sini?”
“Maksud mu itu apa, Mel?”
“Maksud ku, Bima itu kan udah dewasa, Bu. Tentu dia bisa pergi kapan saja yang dia mau, paling juga kerumah istrinya di Padang.”
“Benar begitu?”
“Aku begitu yakin Bu.”
“Baiklah kalau begitu, biar Ibu kembali pulang aja.”
“Baik Bu, silahkan.”
Mesti Maryati kecewa dengan sikap Bima yang pergi tanpa pamit pada kedua orang tuanya. Namun Maryati tidak mempermasalahkan hal itu. Untuk menghilangkan perasaan suntuk yang menyelimuti hatinya, Maryati berencana pergi berkunjung ke rumah Anisa, putri bungsunya.
Tedi yang saat itu berada di rumah Rijal, mencoba menawarkan diri untuk membawa Ibunya, pergi ke tempat dia bekerja.
“Ibu memang berniat pergi ketempat kalian bekerja, tapi Ibu mau kerumah Nisa,” jawab Maryati.
“Kenapa mesti kerumah Nisa sih, Bu? apa salahnya kalau Ibu mampir dulu ke rumah ku, baru setelah itu Ibu pergi kerumah Nisa.”
“Sekarang Ibu mau tanya, kau mau kagak nganterin Ibu ke rumah Nisa?”
Karena Ibunya bersikeras untuk di antarkan kerumah Nisa, Tedi pun tak dapat berbuat apa-apa, dengan berat hati Tedi membonceng Ibunya.
Karena hati Tedi saat itu masih marah, sehingga timbul niat lain di dirinya untuk dapat menghentikan Ibunya agar tak sampai ke rumah Nisa.
“Kamu kenapa kencang sekali mengendarai sepeda motornya Tedi, Ibu jadi takut.”
“Ibu nggak perlu takut, Ibu pegang aja erat-erat, agar kita berdua nggak jatuh.”
Melihat cara Tedi mengendarai kendaraan, Maryati memang sangat cemas sekali saat itu, namun dia tak bisa banyak bicara, seraya memendam perasaannya, Maryati mencoba memejamkan matanya.
Tak berapa lama kemudian, apa yang dia takuti akhirnya terjadi juga, tiba-tiba saja sepeda motor yang di kendarai Tedi tergelincir dan Maryati pun terjatuh serta terlempar ke bebatuan.
“Aduh! pinggang Ibu rasanya sakit sekali,” rintih Maryati seraya memijat pinggangnya yang sakit.
“Bukan Ibu saja yang sakit, tapi aku juga!” jawab Tedi kesal.
“Kan tadi Ibu udah bilang, jangan kencang-kencang, tapi kau nggak mau dengar.”
“Maksud Ibu itu apa sih? Ibu mau menyalahkan aku?”
“Ibu nggak pernah menyalahkan kamu, kalau kamu itu nggak pernah salah, kalau udah begini, lalu kamu menyalahkan Ibu?”
__ADS_1
Tedi hanya diam saja, dia bangkit dan berdiri untuk menghampiri sepeda motor miliknya.”
“Ayo, buruan!” ucap Tedi pada Ibunya.”
Dengan rasa sakit di bagian pinggangnya, Maryati mencoba untuk bangkit dan berjalan tertatih-tatih menghampiri sepeda motor milik Tedi.
Sementara itu, Tedi yang melihat Ibunya ke sakitan dia bukannya membantu, Tedi malah menyuruh Ibunya agar segera berdiri.
“Kalau Ibu masih sakit, sebaiknya besok aja Ibu ke rumah Nisa. Malam ini, sebaiknya Ibu tidur di rumah kami aja,” ujar Tedi memberi tawaran pada Ibunya.
“Nggak, Tedi. Ibu bukannya nggak mau tidur di rumahmu, tapi istrimu membuat kau semakin durhaka pada Ibumu sendiri.”
“Ibu, itu hanya masa lalu, Ibu nggak perlu mengungkitnya lagi.”
“Nggak Tedi, masa lalu atau bukan, yang jelas kau telah menyakiti hati Ibu, begitu juga dengan Nisa adik mu, yang tega kau usir di tengah malam, sedang hamil lagi.”
“Tapi itu semua salah Nisa, Bu.”
“Sebesar apapun kesalahan Nisa pada mu, semestinya kau tetap membela adikmu, bukan istrimu itu.”
“Nggak bisa gitulah Bu, yang salah, tetap lah salah. Dia harus bersedia menerima konsekwensinya.”
“Nah itu dia, yang Ibu nggak suka pada jalan pikiranmu.”
“Kalau Ibu nggak suka dengan jalan pikiran ku, ya udah, terserah Ibu saja!” jawab Tedi kasar.
“Ibu!” ucap Nisa, seraya memeluk tubuh Maryati dengan lembut.
“Nisa, kau belum melahirkan?”
“Belum Bu. Sebenarnya udah lewat bulannya juga sih, tapi bayinya seperti belum mau keluar kayaknya.”
“Ooo, gitu. Berarti bayi mu mengajak Ibunya untuk bersabar.”
“Bisa jadi begitu, Bu. Ya udah, ayo masuk kedalam!” ajak Nisa seraya menggandeng tangan Ibunya.
Di rumah Nisa Maryati, sangat senang sekali, dia bahkan bisa tertawa lepas dan melupakan semua rasa susah di dalam hatinya.
Pagi hari ketika Anisa baru terbangun dari tidurnya, Nisa tak menemukan Ibunya ada di tempat tidur, hati Nisa begitu cemas, karena pagi itu dia tak menemukan Ibunya.
Anisa mencoba mencari keberadaan Maryati ke setiap sudut ruangan, ternyata Ibu nya sedang sibuk bekerja di depan rumah membersihkan pekarangan rumah yang sudah semak.
“Ibu! Pagi-pagi udah bekerja, nggak capek?” tanya Nisa seraya duduk di hadapan Ibunya.
“Ibu lebih capek, kalau terus duduk dan berdiam diri saja di rumah.”
“Ibu makanlah dulu, aku udah siap masak kok.”
__ADS_1
“Ntar lagi Nisa, Ibu belum lapar.”
“Nanti Ibu bisa sakit lho.”
“Lagian ini masih pagi nak.”
“Ya udah, kalau Ibu belum mau makan, aku akan duduk di sini melihat Ibu bekerja.”
“Sebenarnya kandungan mu itu udah berapa bulan Nisa?”
“Sebenarnya udah habis sepuluh bulan Bu, dan sekitar lima hari lagi genap sebelas bulan.”
“Apa kata dokter tentang kehamilan mu nak?”
“Dokter menganjurkan aku agar segera melakukan operasi Bu, tapi aku nggak mau.”
“Kenapa nggak mau?”
“Karena aku takut, menurut pendapatku lebih baik di jalani aja dulu.”
“Kau benar nak, kehamilan itu, persis seperti buah mangga, jika dia udah matang dan masak, pasti buahnya itu akan jatuh dengan sendirinya, jadi kita nggak kesulitan lagi untuk mengambilnya.”
“Hahaha…! Ibu ternyata pintar juga ya.”
“Itu kata orang tua dulu, nak.”
“Sama doang Bu, apa yang Ibu katakan itu memang benar sekali, itu sebabnya aku nggak mau menjalani operasi.”
Sudah tiga hari Maryati berada di rumah Nisa, namun dia tak berkeinginan sedikitpun untuk kembali pulang kerumahnya.
“Maaf Bu, apakah Ibu nggak berniat untuk pulang kerumah?”
“Nggak Nisa, Ibu ingin menginap lebih lama lagi di rumah mu ini.”
“Kasihan dengan Ayah Bu, dia itu kan baru sembuh dan baru pulang dari rumah sakit, kalau Ibu lama disini, lalu siapa yang akan masak untuk Ayah dirumah.”
“Ibu akan pulang kalau putramu sudah lahir Nisa.”
“Nanti kalau cucu Ibu udah lahir, aku pasti ngabarin Ibu kok.”
“Kamu tenang saja Nisa, sewaktu Ibu kesini, Ibu udah ninggalin pesan sama Leni, agar dia mau mengurus Ayah mu.”
“Ooo gitu. Ya udah, mendengarnya hati ku udah sedikit lega.”
Maryati memang ngotot ingin menginap di rumah Nisa hingga beberapa hari lagi sampai anak Nisa lahir ke dunia.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*