Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 101 Kekecewaan


__ADS_3

Saat itu Maryati memberi putri kecil Nisa hadiah, berupa sebuah gelang emas yang sangat cantik dan indah.


Melihat gelang di pakai Nike, semua saudara Nisa merasa sakit hati, karena selama itu Maryati tak pernah memberi anak-anak mereka hadiah seperti anak Nisa.


Dua Minggu Maryati berada di rumah Nisa, Leni merasa sakit hati . Begitu juga dengan Rijal suaminya. Karena saat itu, Leni juga sedang melahirkan seorang bayi keduanya.


“Di rumah, Leni juga sudah melahirkan, Nisa.”


“Benarkah Bu?”


“Iya, anaknya laki-laki.”


“Ibu udah datang ke rumahnya?”


“Udah, hanya sekedar melihatnya saja.”


“Kenapa Ibu nggak ikut merawat anak Kak Leni?”


“Malas, Ibu nggak suka dengan Rijal, dia itu selalu saja membuat Ibu sulit.”


“Bang Rijal memang nggak pernah berubah dari dulunya.”


Setelah Maryati selesai memandikan Nike, dia pun duduk di samping Nisa, Maryati ingin sekali mengetahui apa yang menyebabkan Nisa di usir Tedi dari rumahnya.


“Sebenarnya, aku sudah lama ingin keluar dari rumah itu Bu, tapi perusahaan belum juga mendapatkan rumah baru untuk kami. Setelah pertengkaran itu, perusahaan menitipkan kami pada Bu Nining.”


“Iya Bu, aku kasihan sekali melihat Nisa, masa sedang hamil tua di usir oleh Abangnya sendiri tengah malam lagi,” timpal Bu Nining.


“Untung saja, Bu Nining mau berbaik hati untuk memberi kami tempat tinggal. Kalau nggak, kami pasti langsung pulang ke rumah Ibu.”


“Alah, ini hanya rumah perusahaan kok, kita semua di sini, hanya sekedar numpang, kenapa mesti pelit dan jahat.”


“Mungkin Kak Ana sudah merasa kalau rumah itu adalah milik mereka berdua. Itu sebabnya, dia berani mengusir kami dari rumah itu.”


“Tedi dan Ana, emang sudah keterlaluan, mereka berdua selalu saja membuat kesalahan besar.”


“Jadi, Ibu nggak mampir kerumah mereka?”


“Nggak Nisa.”


“Kenapa? bukan kah mereka udah mengetahui kalau Ibu saat ini berada di rumah ku.”

__ADS_1


“Tapi Ibu nggak mau kerumah mereka Nisa.”


“kalau Kak Tia marah, gimana?”


“Kenapa dia mesti marah?”


“Karena Ibu nggak datang kerumahnya.”


“Kalau dia sadar dengan posisinya sebagai seorang anak, maka bukan Ibu yang mendatangi mereka, justru mereka lah yang datang dan memberi salam pada Ibu.”


“Iya juga sih, Ibu benar. Kalau begitu sebaiknya Ibu nggak usah datang kerumah mereka, biar saja mereka sendiri yang datang melihat Ibu di sini. Tapi aku yakin mereka nggak bakalan datang melihat Ibu kerumah ini.”


“Kita lihat saja nanti nak.”


Apa yang mereka perkirakan ternyata benar, dua bulan Maryati merawat Anisa, Tia dan Tedi tak pernah datang melihat kondisi Ibunya. Mesti demikian, Adit tetap saja memberi tahu Ibunya untuk mendatangi kedua anak-anaknya itu. Namun Maryati memang tak mau menemui meraka berdua.


Dua bulan sudah berlalu, Maryati pun kembali pulang kerumahnya, tanpa pernah sekalipun menginjakkan kakinya di rumah Tedi dan Tia.


Setelah Maryati pergi baru Tia datang menemui Nisa yang saat itu masih terbaring lemah di atas kasur.


“Mana Ibu Nisa? kenapa dia nggak mampir ke rumah Kakak?” tanya Tia ingin tahu.


“Saat Ibu di sini kenapa kakak nggak bertanya langsung pada Ibu?”


“Mana Kakak tahu, kalau Ibu nggak ke rumah Kakak.”


“Kalau soal itu aku nggak tahu Kak.”


“Atau jangan-jangan?”


“Jangan-jangan apa Kak?”


“Aku sudah menyarankan Ibu untuk mampir kerumah Kakak dan Bang Tedi, tapi Ibu sendiri yang tak mau mendatangi rumah kalian berdua,” jawab Adit dengan suara lantang.


“Kenapa Ibu seperti itu ya? itu kan nggak adil namanya.”


“Kalau Kak Tia merasa Ibu nggak adil, kenapa nggak Kakak sendiri yang menjemput Ibu kesini waktu itu.”


“Kenapa mesti Kakak yang datang menjemput Ibu ke rumah kalian Ini, semestinya Ibu itu bersikap adil dong, kalau dia mendatangi rumah seorang anaknya, rumah anak lain semestinya di datangi juga kan?”


“Kalau itu bukan wewenang ku lagi Kak, kalau Kakak merasa Ibu nggak adil, Kakak bisa tanyakan langsung pada Ibu di rumah nanti.”

__ADS_1


“Nggak perlu!” jawab Tia kasar.


Semenjak hari itu, Tia bukan hanya marah pada Ibunya, tapi dia juga melibatkan Nisa dengan kemarahannya itu, Tia bahkan tak mau bertegur sapa dengan Nisa. Karena saat itu, Tia merasa Nisa dan suaminya yang telah menghasut Ibu.


Dua bulan telah berlalu, sore itu Tia mendatangi rumah adiknya Leni yang saat itu di juga baru melahirkan seorang anak laki-laki. Di rumah Leni, Tia dan suaminya bermalam, mereka membahas banyak hal di sana termasuk saat Maryati tak mau mampir kerumahnya saat merawat Nisa.


“Bukan Abang saja yang merasa sakit hati, aku juga merasa sakit hati sekali, karena Ibu hanya merawat Nisa saja, padahal saat ini Leni juga melahirkan seorang anak.” Ucap Rijal dengan rasa kecewa.


“Bukan itu saja Jal, Ibu juga memberi Nike sebuah gelang emas.”


“Benarkah itu Bang?” tanya Leni yang tak percaya dengan ucapan Novri.”


“Benar Len, aku lihat sendiri kok, di tangan Nike,” timpal Tia.


“Kayak gitulah sifat Ibu kita itu, dia selalu saja berbuat tak adil pada kita semua, dia selalu membeda-bedakan kita semua,” jawab Leni.


“Iya, Ibu sepertinya lebih sayang pada Nisa ketimbang kita semua.”


“Selain ke rumah Nisa, Ibu kemana saja selama di perusahaan Kak?” tanya Rijal ingin tahu.


“Ibu nggak kemana-mana, dia juga nggak mau datang ke rumah Tedi, padahal jarak rumah kami itu saling berdekatan,” jawab Tia dengan suara bergetar.


“Aku juga sedih sekali, baru dua minggu aku selesai melahirkan Heru, ibu langsung pergi kerumah Nisa dan merawat anaknya hingga dua bulan, padahal mereka berdua itu sama-sama cucunya juga.”


“Apa yang di berikan Ibu pada anakmu yang baru lahir Len?”


“Ibu nggak memberikan hadiah apapun untuk Heru.”


“Ibu kita memang sudah berat sebelah, dia nggak adil dengan anaknya sendiri.”


Saat itu mereka semua merasa sedih, karena Maryati tak lagi berbuat adil pada anak-anaknya. Namun Maryati sendiri punya prinsip lain, untuk menguji kelakuan anak-anaknya yang sudah jauh melangkah meninggalkan kedua orang tuanya.


Di dalam rumah yang sudah reot itu, Maryati hanya tinggal bersama Tomi, mesti anak-anaknya sudah bisa di katakana mampu dan berhasil, namun tak seorang pun yang mau menghormatinya selain Nisa dan Andi.


Bersama putri tunggalnya Nisa sering datang melihat Ibu dan Ayahnya, bahkan Nisa sering bermalam di rumah Ibunya, sementara Tia dan yang lainnya, jangan kan untuk membantu Ibunya, untuk menjenguk saja mereka merasa enggan.


Dua minggu setelah itu, Tia datang kerumah Ibunya bersama Novri, mereka mencoba untuk bermalam di rumah Ibunya. Namun Maryati tahu, kalau Tia ingin mencari perhatian pada Ibunya. Tapi bagi Maryati kehadiran mereka di rumah itu membuat hatinya sedikit senang.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2