
“Ooo begitu, jalanlah lurus kedepan, maka kau akan menemukan rumah Ayahmu.”
“Baiklah, terimakasih Pak.”
“Iya sama-sama.”
Sesuai petunjuk pria itu, Ruslan langsung kembali menyusuri jalan yang telah di lewati sebelumnya. Saat itu Anisa masih duduk di depan rumahnya, kemudian Ruslan menghampiri Nisa. Nisa yang saat itu sedang santai, dia merasa sedikit ragu.
“Tunggu sebentar.”
“Ada apa Bang?” tanya Nisa ingin tahu.
“Numpang tanya.”
“Iya.”
“Rumah Pak Tomi yang mana ya?”
“Rumahnya ini, Bang.”
“Jadi kau ini anak Pak Tomi?”
“Iya.”
“Mana Ayah mu?”
“Ada di dalam, apa perlu aku panggil?”
“Iya silahkan.”
“Baiklah,” jawab Nisa seraya bergegas menuju rumahnya.
Saat di beritahu oleh Nisa kalau di luar ada seseorang yang sedang mencari Ayahnya, lalu Tomi pun keluar. Awal mulanya Tomi tak tahu kalau yang datang itu adalah anaknya sendiri.
Sementara itu Ruslan yang melihat wajah Ayahnya, dia langsung datang menghampiri dan memeluk tubuh Tomi sembari menangis.
“Apakah Ayah lupa dengan ku?”
“Iya, kau siapa?” tanya Tomi heran.
“Aku putra Ayah, yang sewaktu masih dalam kandungan Ibu, Ayah tinggalkan.”
“Siapa nama Ibu mu?” tanya Tomi.
“Julia.”
__ADS_1
Mendengar nama Julia di sebutkan, Tomi langsung teringat dengan perempuan yang pernah dia nikahi waktu itu. Namun karena tugas, Tomi terpaksa harus meninggalkannya, saat itu Julia memang sedang mengandung anaknya.
“Ya Allah, sekarang Ayah baru ingat, kalau Ayah punya seorang anak di kota Padang ini.”
Karena teringat dengan kisah hidupnya, sebelum di pindah tugaskan ke Jakarta, Tomi langsung memeluk tubuh Ruslan, seraya menangis.
“Maafkan Ayah nak, Ayah sungguh telah melupakanmu selama ini.”
“Aku udah memaafkan Ayah kok, Ibu berpesan pada ku, agar aku nggak menaruh dendam dan marah pada Ayah.”
“Terimakasih nak, sampaikan pesan maaf Ayah pada Ibu mu dirumah.”
“Iya Ayah,” jawab Ruslan dengan suara lembut.
“Ayo masuk dulu, akan Ayah perkenalkan kau dengan anak-anak Ayah dan Ibu mu.”
“Baik Ayah.”
Setelah mendapat izin dari Tomi, Ruslan langsung masuk kedalam rumah itu, lalu beberapa orang anak Maryati keluar seraya memberi salam pada Ruslan.
“Ini semua adik-adik mu, mereka sudah ada yang menikah dan masih bersekolah.”
“Ada berapa orang adik ku Ayah?”
“Ada enam orang, yang bertiga lagi saat ini masih di Padang.”
“Baiklah, nanti kalau Ayah punya kesempatan, maka Ayah akan mampir ke rumah mu.”
Setelah hari perkenalan itu, Ruslan bersama dua orang temannya, bermalam di rumah Ayahnya hingga beberapa hari. Maryati melayani mereka dengan baik, sehingga tak ada kesan yang membuat Ruslan merasa marah pada Ibunya itu.
Saat Ruslan berada di rumah Ayahnya, panjang lebar mereka bercerita, sehingga saat itu, Ruslan menawarkan diri untuk mengurus Tia yang sedang hamil tua.
“Gimana nak, Abang mu ingin mengajak mu ke padang bersamanya. Kalau kau mau, maka bersiaplah,” ujar Tomi pada Tia.
Mendengar ucapan Ayahnya Tia tak langsung menjawab, dia hanya menatap Ibunya yang sedang berdiri di sudut meja.
Maryati hanya diam saja, saat tatapan Tia sarat dengan jawaban yang sangat dia butuhkan. Ruslan yang memperhatikan mereka berdua langsung memberi sedikit penjelasan pada kedua orang tuanya itu.
“Kalau melahirkan di Padang, tentu sangat mudah, karena semua pasilitas yang di butuhkan sangat lengkap dan mudah untuk di dapat. Tapi kalau di sini, semuanya pasti sangat sulit sekali.”
“Gimana Bu? apakah Ibu mengizinkan aku pergi kepadang?” tanya Tia yang sangat berharap jawaban dari Ibunya saat itu.
“Biarlah Ibu pikirkan dulu nak, karena Ibu nggak bisa memutuskan sesuatu itu dengan mudah dan cepat, Ibu nggak mau di salahkan jika terjadi sesuatu pada mu nantinya.”
“Baiklah Bu.”
__ADS_1
Menjelang Ruslan kembali pulang ke Padang, Maryati telah memikirkan hal yang terbaik untuk putrinya, dengan senang hati Maryati mengikhlaskan Tia di bawa Abangnya ke Padang.
Selama di perjalanan, Tia tampak diam saja, dia tak banyak bicara, jika Ruslan bertanya, maka Tia akan menjawabnya dengan singkat saja.
Hidup dirumah Ruslan, Tia merasa senang, karena semua kebutuhan Tia di lengkapi oleh Ruslan. Beberapa hari tinggal di sana, tiba-tiba saja Arman datang dengan bermohon pada Ruslan agar dia diterima kembali menjadi suami Tia.
“Aku nggak bisa memberi jawabannya, karena semua keputusan ada di tangan Tia. Lagian kau telah menyakiti hati adik dan kedua orang tua ku, saat ini kau datang lagi kerumah ini seperti orang yang tak pernah ada punya kesalahan.”
“Ku akui, aku memang telah bersalah, telah berbuat jahat selama ini pada Tia dan keluarganya, namun hari ini aku telah menyadari semua kesalahan itu dan aku ingin sekali merubahnya. Tolong beri aku kesempatan kedua Bang, agar aku bisa memperbaiki semuanya.”
Mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut Arman, Tia terpedaya di buatnya begitu juga dengan Ruslan, yang merasa kasihan dengan Tia adiknya.
“Baiklah, karena kau telah bicara jujur dan akan merubah semuanya, maka aku harus bertanya dulu pada Tia, karena yang akan menanggung beban ini hanya Tia.”
Tia hanya diam saja, karena saat itu dia diambang keraguan, sebab hal serupa takut akan terjadi lagi pada dirinya nanti.”
“Gimana Tia? apakah kau mau menerima Arman dalam hidup mu?”
“Entahlah Bang, aku nggak tahu,” jawab Tia pelan.
“Jangan keburu-buru untuk menjawabnya Tia, kau masih punya banyak waktu untuk menjawabnya kok, pikirkanlah dulu, mana yang kau anggap baik,” jawab Tina, istri Ruslan.
“Kalau begitu biarlah ku pikirkan dulu mana yang terbaik.”
“Tapi jangan lama-lama Tia!”
“Kenapa?”
“Karena aku nggak mungkin bolak-balik dari rumah ke tempat ini kan?”
“Itu urusan Abang, salah sendiri kenapa berbuat culas.”
Ucapan Tia membuat Arman menjadi sedikit malu di hadapan Ruslan dan istrinya, sementara itu dia sendiri tak bisa mengelak dari perkataan itu.
Karena mengingat bayi yang ada di dalam kandungannya butuh sosok seorang Ayah, untuk itu Tia terpaksa harus menerima Arman untuk kembali bersama dengannya.
Setelah mereka berdua kembali satu rumah, Ruslan memberinya tempat tinggal dan pekerjaan untuk Arman, dengan tujuan Arman bisa mengumpulkan uang untuk persalinan istrinya.
Awal bekerja, semuanya berjalan lancar dan biasa-biasa saja, namun setelah beberapa hari, Arman mulai membuat kesalahan serupa. Arman sering pulang membawa buah-buahan.
Tia merasa curiga dengan sikap suaminya itu. tak ingin kisah lama terulang kembali, Tia langsung mengantisipasinya dengan cepat. Tia mengambil buah-buahan itu dan memasukkannya kedalam kantong plastik.
“Keapa kau menyimpan semua buah-buahan itu Tia?” tanya Arman heran.
“Agar aku nggak memakannya. Sebab, jika buah itu masih terlihat, keinginanku untuk memakannya pasti datang.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*