
Dia itu anak durhaka, dia telah melukai hati Ibu hingga berdarah.”
“Tapi aku takut, kalau Kak Tia marah pada Nisa Bu.”
“Baiklah, kalau begitu keinginan mu, hantarkan saja Ibu ke rumah Tia.”
Setelah sepakat Ibunya menginap di rumah Tia, lalu Nisa memberikan tas Ibunya yang telah berisi pakaian bersih.
“Ibu, semua pakaian yang berisi di dalam tas ini, udah bersih ku cuci, sesampainya Ibu di rumah Kak Tia, Ibu bisa mengganti pakaian Ibu nanti.”
“Iya nak, selamat tinggal.”
“Hati-hati ya Bu.”
“Iya sayang,” jawab Maryati sembari meneteskan air matanya.
Anisa begitu sedih sekali, karena dalam keadaan sakit Ibunya mesti di suruh pulang, semua itu sebenarnya terpaksa di lakukan Nisa, mengingat hubungan di antara mereka semua tidak berjalan baik.
Setelah Adit mengantarkan Ibunya ke rumah Tia, diapun kembali pulang kerumah, adit tak lagi melihat ke belakang, sebab kalau di pandangi lagi, pasti Adit semakin sedih dan menangis.
Sementara itu, Maryati yang sudah tiba di rumah Tia, dia tampak duduk di depan teras rumahnya. Padahal waktu itu, Tia berada di dalam rumahnya, namun dia tak mau menyambut ke datangan Ibu kandungnya sendiri.
Novri yang baru pulang dari tempat kerjanya di melihat Ibu mertuanya sedang duduk di depan rumahnya sendirian.
“Ibu baru datang?” tanya Novri ingin tahu.
“Udah satu jam.”
“Apakah Tia nggak dirumah?”
“Sepertinya ada, lagi di dalam.”
“Kok, dia nggak menyuruh Ibu masuk kedalam?”
“Nggak tahu, mungkin Tia lagi sibuk,” jawab Maryati pelan.
Melihat sikap istrinya yang terlihat acuh itu, Novri menjadi marah, dia pun masuk kedalam dan memanggil Tia serta memarahinya.
“Apakah kau nggak tahu, kalau Ibumu datang?”
“Tahu, emangnya kenapa?”
“Ya disuruh masuklah, di buatkan air minum kek.”
“Kenapa manja sekali sih?” gerutu Tia seraya bergegas keluar rumah. “Ibu itu kenapa sih, seperti tamu agung aja! Kalau nggak di suruh masuk, nggak mau masuk sendiri.”
Mendengar ucapan Tia, Maryati menjadi sedih, dengan berat hati dia terpaksa masuk kedalam rumah Tia. Semalaman berada di rumah Tia, Maryati tak di ajak bicara sama sekali, sebenarnya Maryati sangat sedih, tapi dia tak mau memperlihatkannya.
Malam itu ketika Maryati melihat Tia sedang mencuci, dia langsung memberikan tas yang sudah berisi kain bersihnya pada Tia.
“Apa-apaan ini Bu?” tanya Tia heran.
“Tolong kau cuci dulu.”
“Emangnya selama di rumah Nisa, dia nggak mau mencucikan pakaian Ibu?”
“Nggak usah bertanya, sekarang mau atau nggak kau menyucikannya?”
“Ya udah, taruh aja disitu.”
__ADS_1
“Ibu nggak mau menaruhnya, cuci sekarang juga.”
“Ibu kok maksa sih,” jawab Tia seraya merebut tas itu dari tangan Ibunya.
Malam hari ketika semua orang sedang tertidur lelap, Maryati kembali mengalami mules dan diare, mesti udah bolak balik diare sampai pagi, Tia tak ada menanggapinya sama sekali.
Akan tetapi, ketika Tia hendak berangkat kerja, Maryati terpaksa harus memberitahukannya tentang diare yang sedang di alaminya.
“Emangnya sejak kapan Ibu diare?” tanya Tia ingin tahu.
“Udah dua hari.”
“Berarti Ibu mengalami diare semenjak dari rumah Nisa dong.”
"Iya nak."
“Kenapa nggak dia sendiri yang membawa Ibu berobat, udah sakit baru di suruh datang ke rumah ku.”
“Dia nggak ada menyuruh Ibu pulang, Ibu sendiri yang meminta agar diantarkan pulang.”
“Lalu kenapa Ibu nggak langsung pulang aja, kok malah mampir disini?”
“Adit nggak mau membawa Ibu pulang ke rumah, dia nggak enak hati pada mu.”
“Ah, itu hanya alasannya doang, sekarang kalau udah begini, siapa yang susah!”
“Sekarang hantarkan Ibu ke rumah sakit Tia, Ibu udah nggak kuat lagi.”
“Kalau pagi ini, aku nggak bisa Bu, aku mesti kerja sekarang!”
“Kan kau bisa minta izin dulu, untuk mengantarkan Ibu kerumah sakit.”
Tanpa merasa terbebani dosa sama sekali, lalu Tia pun pergi bekerja, meninggalkan Ibunya sendirian. Di saat itu, Maryati bertemu dengan seseorang yang pernah mengantarkannya pulang kerumah waktu itu.
“Arif ya?"
“Iya Bu, saya Arif.”
“Kamu kenal Ibu?”
“Kenal, Ibu ini kan orang tuanya Tia?”
“Iya, benar sekali. Maaf apakah saat ini Arif bisa mengantarkan Ibu ke rumah sakit untuk berobat?”
“Emangnya Tia dan Novri kemana Bu?”
“Mereka udah pergi bekerja.”
“Emangnya mereka nggak tahu kalau Ibu sakit?”
“Ibu udah kasih tahu, tapi mereka tetap nggak mau mengantarkan Ibu ke rumah sakit.”
“Ya udah, kalau begitu aku minta izin cuti aja hari ini, agar aku bisa mengantar Ibu ke rumah sakit.”
“Terimakasih nak.”
“Iya, Bu. Sekarang Ibu bersiaplah, kita akan pergi pagi ini ke rumah sakit.”
“Baik nak, baik.”
__ADS_1
Dengan senang hati Maryati langsung, mengumpulkan semua kainnya yang masih basah di jemuran dan memasukkannya ke dalam tas. Dengan senang hati Arif langsung mengantarkan Maryati ke rumah sakit dan mengantarkannya langsung ke rumahnya di Desa.
“Kamu kenapa pucat Yati?” tanya Tomi ketika melihat Maryati masuk ke rumahnya.
“Aku sakit Bang, aku mengalami diare, tiga hari yang lalu.”
“Kenapa nggak berobat?”
“Udah, tadi Arif yang mengantarkan aku berobat.”
“Adit mana, kok dia nggak mengantarkan mu pulang?”
“Adit mengantarkan ku ke rumah Tia, karena Adit takut kalau Tia marah, karena aku nggak mampir di rumahnya. Tapi nyatanya, Tia sendiri malah nggak mau mengantarkan aku berobat.”
“Lalu Tia sama Novri, mana?”
“Dia udah pergi kerja, dan meninggalkan aku di rumah sendirian.”
“Tia emang keterlaluan sekali,” gerutu Tomi pelan.
“Bang.”
“Hm?”
“Apakah Leni ada dirumahnya?”
“Ada, emangnya kenapa?”
“Sebentar, aku lagi ada perlu dengannya,” ujar Maryati seraya membawa tas yang berisi kain basah itu ke rumah Leni.
“Assalamu’alaikum,” ucap Maryati seraya memasuki rumah Leni.
“Wa’alaikum salam, Ibu udah pulang?”
“Udah.”
“Siapa yang ngantar?”
“Arif, orang yang pernah mengantarkan Ibu waktu itu.”
“Ibu lagi bawa apa?”
“Ini, kain kotor, tolong kau cuci ya?”
“Ah, sekarang aku lagi capek, besok aja ya, Ibu tarok aja dulu di kamar mandi, lagian saat ini lampu lagi mati, jadi aku nggak bisa mencucinya.”
“Benar, kamu nggak mau mencucinya?”
“Mau Bu, tapi besok, saat ini aku capek sekali.”
Karena Leni tak mau mencucinya, Maryati merasa tersinggung, dia langsung pergi ke kamar mandi dan mencuci pakaian itu sendirian.
“Emangnya Nisa sama Kak Tia nggak mau mencuci pakaian Ibu?”
Maryati tak menjawabnya, dia hanya diam saja, seraya terus mencuci pakaian bersih yang dia miliki.
Sebenarnya Leni sangat heran sekali, tapi dia tetap memandangi keanehan yang di lakukan Ibunya saat itu.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*