Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 45 Musibah kebakaran


__ADS_3

Tapi Maryati selalu berserah diri kepada Allah, karena hanya dialah yang memberi rezki setiap hambanya di atas dunia, dengan semua keikhlasannya Maryati menikmati hidup itu dengan sabar.


Malam itu saat semua orang sedang tertidur pulas, tiba-tiba saja dari kejauhan Maryati mendengar suara orang menjerit-jerit.


“Ani yang selama ini menjadi tetangga dekat Maryati, mencoba untuk membangunkan Maryati yang masih tertidur dengan pulas.


“Yati, Yati, Yati! bangun, ada kebakaran!” teriak Ani yang terus saja menggedor-gedor pintu rumah Maryati dengan kencangnya.


Maryati yang saat itu sedang tertidur, segera bangun dan bergegas untuk keluar rumah. Betapa terkejutnya Maryati ternyata api sudah membesar dan menghanguskan semua yang ada di sekitar stasiun kereta api.


“Ya Allah, api! Bima, Bima! bangun nak, sepertinya ada kebakaran hebat di sekitar kita nak, ayo bangun dan cepat selamatkan kedua adik-adik mu.”


“Baik Bu,” jawab Bima sembari menggendong Leni dan membimbing Tia yang saat itu masih tertidur.”


“Bangun sayang, rumah ini akan terbakar.”


“Rumah siapa sih Bang, yang akan terbakar?” tanya Tia ingin tahu.


“Rumah kita dek.”


“Tapi aku nggak melihat ada api.”


“Apinya masih berada di rumah sebelah sayang.”


“Cepat kemasi pakaian kalian, dan bawa adik mu keluar secepatnya, Bima.”


“Iya Bu.”


Bima yang bergegas keluar rumah, melihat begitu banyak orang yang berlarian, lalu dia mencari tempat yang aman untuk meninggalkan keduanya di luar.


“Kalian tunggu di sini ya? Tia kau jaga adik baik-baik, Abang akan membantu Ibu dulu sebentar.”


“Baik Bang.”


“Ingat, jangan kemana-mana, nanti Abang susah mencari mu.”


“Iya Bang.”


Setelah meninggalkan Tia dan Leni di tempat yang aman, kemudian Bima berlari masuk kedalam rumah membantu Ibunya mengemasi semua barang-barang yang bisa untuk di selamatkan.


Semua barang yang telah di bungkus rapi di antar keluar rumah dan Bima pun kembali kedalam untuk kembali membantu Ibunya mengemasi barang-barang mereka.


Namun sayang, tak perduli dalam keadaan apa pun tangan-tangan yang lancang memiliki kesempatan untuk berbuat kejahatan. Setiap barang Maryati yang diantarkan keluar rumah, satu persatu barang itu menghilang di ambil orang.


“Kau nggak usah bantuin Ibu Bima, sebaiknya kau jaga saja barang kita di luar sana, nanti diambil orang nak.”


“Baik Bu,” jawab Bima seraya bergegas keluar rumah.


Ucapan Maryati ternyata benar, setibanya Bima di luar, ternyata semua barang-barangnya sudah raib di ambil orang.

__ADS_1


“Ibu! Ibu!” teriak Bima kesal.


“Ada apa nak?”


“Semua barang-barang kita sudah habis di curi orang Bu.”


“Apa?”


Maryati langsung berlari keluar rumah, ternyata apa yang di katakan Bima itu benar, tak satu pun barangnya yang tersisa di luar rumah.


“Ya Allah, kenapa mereka semua begitu tega pada kita nak, huhuhu…!”


“Yang sabar Bu, ini semua ujian dari Allah untuk kita, asalkan Ibu sabar, suatu saat nanti Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik dari ini.”


“Iya, nak.”


“Ayo Bu, kita pergi, lihat api semakin membesar.”


“Di mana adik-adik mu Bima?”


“Ada Bu di sana.”


“Kenapa kau meninggalkan mereka nak? kalau terjadi apa-apa dengan mereka gimana?”


“Aku menyuruhnya berdiri di tempat yang aman kok Bu.”


“Baiklah, mari kita kesana nak.”


Belum sampai di tempat Bima meninggalkan kedua adik-adiknya, ternyata Bima tak melihat keberadaan mereka berdua di sana.


“Ya Allah, Bu. Tia dan Leni kok nggak ada di sana?”


“Emangnya kau meninggalkan kedua adik mu di mana nak?” tanya Maryati dengan kondisi tubuh langsung melemah.”


“Tadi mereka berdua ku tinggal disini Bu.”


“Ya Allah, kemana kedua anak-anak ku ya Allah, lindungilah mereka berdua.”


Karena kehilangan Leni dan Tia, Maryati dan Bima berusaha mencari mereka berdua di antara kerumunan para warga. Maryati berteriak-teriak memanggil nama kedua anak-anaknya yang hilang entah kemana.


“Ya Allah! kemana pergi mereka berdua Bima, Ibu udah nggak kuat sayang, uhuk, uhuk, uhuk…!”


“Ibu yang sabar ya, kita akan cari Leni dan Tia sampai ketemu. Aku yakin mereka pasti di bawa oleh seseorang Bu.”


“Tapi siapa yang telah membawa mereka nak?”


“Itu makanya kita harus mencari mereka Bu, Ibu yang sabar, jangan menangis terus, kalau Ibu menangis, aku jadi nggak kuat untuk mencari keberadaan mereka berdua.”


Ketika mereka terus mencari keberadaan Leni dan Tia, seorang petugas Damkar datang menghadang mereka berdua.

__ADS_1


“Ibu mau kemana?” tanya petugas itu ingin tahu.


“Saya mau mencari anak saya Pak.”


“Di area ini nggak ada siapa-siapa lagi Bu, semua orang telah pergi mengungsi.”


“Oh ya Allah, kemana adik mu Bima?”


“Emangnya anak Ibu berusia berapa tahun?”


“Yang satu berusia delapan tahun dan yang satunya lagi berusia enam tahun, Pak.”


“Tapi saya nggak melihat kedua anak Ibu kearah sini.”


Sembari menangis histeris, Maryati mencoba duduk di dekat petugas Damkar, saat itu Maryati melihat petugas itu menyiram api yang bergejolak dengan air, namun yang sangat aneh sekali, setiap air itu di siramkan untuk memadamkan air, api justru semakin bergejolak.


Lalu dengan memberanikan diri, Maryati langsung menghampiri petugas Damkar itu, untuk menjawab semua rasa penasaran yang terselubung di dalam hatinya.


Saat Maryati mendekat ke petugas Damkar itu, Maryati mencium aroma minyak tanah, di dalam hati Maryati, negara sengaja melakukan semua itu, karena hanya dengan cara seperti itu rumah-rumah liar itu bisa hilang dari stasiun.


“Pak, Bapak sedang melakukan apa?” tanya Maryati ingin tahu.


“Kenapa Ibu bertanya seperti itu?”


“Kenapa apinya nggak padam?”


“Api ini udah besar Bu, makanya kami merasa kesulitan untuk memadamkannya.”


“Bohong, Bapak menyiramkan minyak kedalam api yang sedang bergejolak, apa maksud semua ini?”


“Itu bukan urusan Ibu.”


“Udah Bu, udah, jangan di tanya lagi, sebaiknya kita pergi saja dari sini.”


“Tapi nak, setelah ini kita akan tinggal dimana?”


“Nanti kita pikirkan Bu, yang paling terpenting kita harus mencari keberadaan Leni dan Tia dulu, baru pikiranku bisa tenang.”


“Baiklah, kita akan cari adik mu.”


“Ayo Bu."


Maryati dan Bima, terus saja mencari keberadaan Leni dan Tia di antara begitu banyak para warga. Namun sayang Maryati tak jua menemukan kedua orang putrinya.


Sambil duduk diam, Maryati melihat rumahnya habis di lalap si jago merah, tubuhnya terasa begitu lemah, ketika rumah yang telah lama dia tempati habis ludes tak bersisa.


Sebuah gerbong kosong, Bima membawa Ibunya kesana, namun di dalam gerbong itu Maryati melihat Leni dan Tia ada bersama Ani, tetangga yang telah lama menjadi tetangga dekatnya.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2