Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 12 Mengunjungi rumah Roro Kedasih


__ADS_3

“Dasar bodoh kau Mang..! ayo anak-anak bawa Maryati bersama kita.”


“Nggak! aku nggak mau!” ujar Maryati sembari memegang tangan Kakaknya erat-erat.


“Dia nggak mau Bu,” jawab salah seorang anak Roro.


“Tarik aja tangannya, kapan perlu seret dia.”


Mendengar perintah Ibunya, lalu anak-anak Roro mencoba untuk menarik tangan Maryati, hingga gadis kecil itu pun terlepas dari Kakaknya.


Maryati pun menjerit histeris, dia meronta-ronta di pelukan putra sulung Roro. Mesti demikian Roro tetap tak memperdulikannya.


Rasa haru pun tak dapat di bendung lagi, seluruh karyawan Arya menangis histeris, begitu juga dengan Sulastri dan Maryati, mereka di pisah paksa oleh Bibinya sendiri.


“Kakek, tolong rebut Maryati dari mereka Kek,” pinta Sulastri bermohon pada Mang Burhan.


“Kakek nggak bisa nak, mereka semua itu kuat-kuat, Kakek nggak berdaya sayang.”


“Lalu bagai mana dengan pesan Ayah pada Kakek.”


“Kakek juga nggak bisa berbuat apa-apa nak, huhuhu….!”


Burhan pun menangis sedih, rasa sakit di dalam hatinya saat itu tak bisa di ungkapkan nya dengan cara apa pun.


Setelah hari itu, seluruh karyawan Arya tampak terpaku diam, mereka semua tak bisa lagi bekerja seperti hari-hari yang telah mereka lalui.


Seluruh aset milik Arya di lelang oleh Roro baik itu berupa perkebunan, rumah dan seluruh toko milik Arya, semuanya di jual oleh Roro.


Sementara itu, Sulastri terus saja menangis memikirkan adik kesayangannya. Mang Burhan bersama dengan Tini, berusaha untuk membujuknya, agar Sulastri tak menaruh dendam pada Bibinya itu.


Karena seluruh aset milik Arya terjual, Mang Burhan bersama Tini dan Sulastri terpaksa harus keluar dari rumah itu, tak sedikit harta pun yang tersisa untuk Sulastri, semuanya habis ludes di ambil oleh Roro.


“Sekarang, kita mulau hidup dari awal lagi nak,” ujar Burhan pada Lastri.


“Baik Kek, asalkan masih bersama Kakek, aku nggak keberatan kok.”


“Tapi Lastri akan tinggal di gubuk yang sangat kecil.”


“Di bawah kolong jembatan pun aku mau Kek, asalkan tetap bersama kalian berdua.”


“Oh sayang,” ujar Burhan seraya memeluk tubuh Lastri yang polos itu.


“Kalau begitu, ayo kita pulang ke kampung Kakek aja.”


“Baik kek.”


Dengan berbekal seadanya, mereka berdua pun keluar dari rumah mewah itu. bersama Mang Burhan, Sulastri tampak hidup bahagia, gadis kecil itu sangat pintar, dia tahu kalau Mang Burhan tak punya apa-apa untuk dirinya.


Untuk itu Lastri tak pernah menuntut banyak pada Ayah angkatnya itu.


Kasih sayang Burhan dan Tini tercurah habis pada Sulastri, mereka tampak begitu bahagia sekali, sehingga Lastri bisa melupakan kesedihan hati yang di rasakan nya.

__ADS_1


Bersama Burhan dan Tini, Sulastri dapat mengenyam Pendidikan di SD terdekat. Walau hidup sederhana dan tak semewah tinggal bersama kedua orang tuanya, namun Lastri tampak menikmatinya.


Di serambi depan rumah Burhan, tampak Lastri sering duduk sendirian, saat di tegur oleh Kakeknya, Lastri sering menjawab dengan gugup, seolah-olah ada yang sedang di tutupinya. Burhan pun memahami hal itu.


“Apakah kau teringat dengan adik mu nak?” tanya Burhan pada Lastri.


“Iya Kek, sudah lama Lastri nggak pernah bertemu dengannya, sedang apa dia sekarang ya Kek?”


“Entahlah Nak, Kakek sendiri nggak tahu, apa yang sedang dia kerjakan saat ini, tak terasa sudah hampir satu tahun kita berpisah dengannya.”


“Gimana, kalau kita mendatangi rumah Bi Roro, Kek. Siapa tahu kita bisa melihat Maryati di sana.”


“Boleh juga, nanti kalau Kakek punya waktu kita akan menjenguk adik mu di sana ya Nak.”


“Kenapa mesti nanti sih, Kek. Kenapa nggak sekarang aja.”


“Sekarang?”


“Iya, sekarang Kek, ayolah, Lastri udah rindu sekali pada Maryati, ayolah Kek..!”


“Baik, baiklah, sekarang, coba Lastri minta izin dulu sama Nenek, kalau dia mengizinkannya, maka kita akan pergi sekarang.”


“Benar Kek?"


“Iya sayang.”


“Baiklah, kalau begitu, Lastri akan minta izin dulu sama Nenek.”


Di saat Lastri hendak menemui Neneknya, tiba-tiba saja Tini muncul dari balik pintu, sembari membawa sepiring roti basah kesukaan Lastri.


“Nenek izinkan kok,” jawab Tini seraya tersenyum lebar.


“Wah..! benar Nenek ngizinin kami menemui Maryati?”


“Benar nak, ingat hati-hati di jalan, tetap pegang tangan Kakek, jangan sekali-kali kau melepaskannya.”


“Baik Nek,” jawab Lastri riang.


Mesti jalan dari rumah Burhan menuju rumah Roro sangat jauh, Lastri tak merasa keberatan, selama di perjalanan, Lastri tak pernah mengeluh lelah sedikitpun, asalkan bertemu dengan adik kesayangannya, Lastri begitu ikhlas sekali.


Di sepanjang jalan, Lastri tampak diam saja, tak sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Burhan yang melihat putri angkatnya diam, dia pun mencoba untuk bertanya.


“Lastri capek nak?”


“Nggak Kek, Lastri nggak capek kok.”


“Kalau capek, kita istirahat dulu sebentar.”


“Nggak usah Kek, kalau kita istirahat, nanti kita bisa kemalaman menemui Maryati.”


“Tapi kan hari masih siang sayang.”

__ADS_1


“Kita lanjut aja Kek, Lastri masih kuat kok.”


Mendengar jawaban dari mulut putrinya, Burhan tak bisa berbuat apa-apa, dia pun akhirnya menuruti semua keinginan putri angkatnya itu.


“Apakah rumahnya masih jauh Kek?”


tanya Lastri yang tampak begitu lemah.


“Sudah nak, tuh di depan sana, lihatlah gedung yang tinggi itu, pasti rumah Bibi mu.”


“Ooo.”


“Apakah Lastri masih sanggup jalan?”


“Masih Kek.”


“Kalau Lastri nggak sanggup lagi, biar Kakek gendong aja.”


“Nggak perlu Kek, Lastri masih kuat kok,” jawab Lastri seraya terus berjalan, mesti kondisinya sudah lemah.


Setelah mereka berdua tiba di depan rumah Roro yang terpampang megah seperti istana, Lastri langsung bergelantungan di pagar rumah itu.


Burhan yang melihat putri angkatnya tak berdaya, dia pun langsung memeluknya, Burhan melihat wajah Lastri sangat pucat sekali.


“Kamu kenapa sayang, tadi Kakek mau gendong, kau malah menolaknya, sekarang Lastri sangat lemah kan?”


“Nggak Kek, Lastri sangat kuat kok. Mana Maryati ya Kek, kenapa dia nggak kelihatan?”


“Mungkin dia masih berada di dalam rumah Bibi mu, barang kali.”


“Gimana cara kita memanggilnya Kek?” tanya Lastri tak mengerti.


“Tuh, ada bel, kita pencet bel nya, maka suaranya pun akan berdering di dalam rumah.”


Setelah bel berdering, lalu seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun muncul dan menghampiri gerbang yang tertutup rapat.


“Kalian cari siapa?” tanya anak itu pada Burhan.


Aku sedang mencari Ibu mu nak, apakah dia ada dirumah?” tanya Burhan pada anak itu.


“Ada, tapi dia lagi sibuk, kalau nggak ada kepentingan pergi saja, rumah ini nggak menerima pengemis macam kalian!”


Mendengar perkataan anak itu, hati Burhan dan Lastri sangat sakit sekali, sudah bertahun tak bertemu, tapi sikap anak-anak Roro tak juga berubah, mereka semua kasar dan sombong.


“Sombong sekali kau! agar kau tahu ya, di dalam rumah mu yang bak istana itu, ada uang Ayah ku di sana.”


“Diam kau! enak saja kau bicara, emangnya kau siapa?”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2