Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 67 Kehilangan Suci


__ADS_3

Mesti Tomi tampak tenang, namun di dalam hatinya dia merasa sakit sekali, karena gara-gara sikapnya itu, keluarga yang tampak tenang dan bahagia, seketika berubah menjadi murung dan tak terlihat bersahabat sama sekali.


Maryati yang diam di dalam kamar hanya bisa menangis karena kehilangan putrinya, dia tak ingin lagi bicara mesti sepatah katapun, anak yang biasanya menyusu, tak lagi berada di dekapan Ibunya. Sementara itu keenam orang anak-anaknya hanya bisa diam tak bicara.


“Anisa, Tedi, sini nak, biar Ayah siapin makan sayang, nanti kamu sakit kalau nggak mau makan,” bujuk Tomi seraya menarik tangan anak-anaknya.


“Aku nggak mau makan, aku mau adik!” teriak Anisa dengan suara yang lantang.


“Tapi adiknya lagi di pinjam sama Bibi sayang.”


“Ayah jahat!”


“Kalau begitu Tedi aja, ayo makan sayang.”


“Nggak aku nggak mau sama Ayah, Ayah jahat.”


Di saat mereka semua memikirkan Suci, bayi mungil itu tampak sedang menangis di rumah Mayar, mesti Mayar telah memberikan susu bantu pada bayi itu, namun dia terus saja menangis.


“Sayang, kenapa sih, kamu itu nggak mau diam, aku pusing! tahu nggak!”


Walau Mayar terus saja marah dan berteriak-teriak namun bayi itu tetap saja menangis. Kesal dengan sikap bayi Maryati yang tak mau diam, Mayar pun menaruh bayi itu di ayunan dan dia pergi keluar meninggalkan bayinya sendirian di kamar.


“Kenapa anak Yati itu selalu menangis Mayar?” tanya Anis heran.


“Kenapa sih, kau selalu bilang kalau dia itu anak Yati, bukankah saat ini dia sudah menjadi putri ku. Nggak ada lagi Yati yang mengurusnya.”


“Terserah kamu saja, tapi coba kau dengarkan, dia itu terus saja menangis.”


“Biarkan saja, aku capek mengurusinya.”


“Nggak bisa gitu dong. Namanya saja dia masih bayi, butuh kesabaran dalam mengurusnya.”


“Aaah, sok tahu kau!” bentak Mayar seraya mengabaikan ucapan Anis.


Di saat Mayar pergi, Anis mendatangi rumahnya yang tampak sepi bersama tetangga lainnya. Mereka melihat Suci sedang berada di dalam ayunan seraya menangis histeris.


Anis yang merasa kasihan mencoba menggendong tubuh Suci yang tampak tegang. Di tangan Anis, Suci pun terdiam sejenak, hingga tertidur pulas.

__ADS_1


“Kenapa ya, Yati mau saja menyerahkan bayinya pada Mayar, padahal dia nggak tahu cara merawat bayi dengan baik, sama sekali.”


“Ya benar sekali, kalau aku nggak bakalan mau menyerahkan bayi ku pada perempuan kejam seperti dia.”


“Kasihan sekali Suci, dia selalu di abaikan Mayar saat menangis.”


“Iya, saat ini dia sudah tertidur, mari kita keluar, nanti Mayar bisa marah kalau dia tahu kita masuk kedalam rumahnya.”


Benar saja, setelah Anis bersama temannya keluar dari rumah Mayar, perempuan pemarah itu pun datang, dia tampak senang karena Suci telah tertidur dengan pulas.


Dua minggu telah berlalu, Suci tampak semakin kurus, Suci yang biasanya mendapatkan ASI dari Maryati, dia tak mau minum susu yang lain. Selain Suci, Maryati juga tampak sedih, Maryati hanya menangis siang dan malam.


Tomi tak bisa berbuat apa-apa, karena ulah dirinya sendiri, rumah tangga yang ceria itu berubah menjadi sepi dan sunyi, mesti begitu ramai penghuni di dalamnya.


Maryati merasa marah sekali dengan suaminya itu, yang telah memisahkan Suci dari dirinya. Siang itu Maryati merasa tak enak badan, dia mencoba untuk berbaring sejenak di dalam kamarnya. Tidak seperti biasa, hari itu perasaannya pun terasa tak menentu.


“Aneh, ada apa ini, kenapa perasaanku jadi tak tenang?” tanya Maryati pada dirinya sendiri.


Perasan yang tak tenang itu ternyata ada sangkut pautnya dengan Suci yang saat itu sedang mengalami sakit.


Karena siang dan malam Suci menangis, tak mau minum susu dan makan, Suci pun mengalami sakit.


Saat siang hari, Suci mengalami muntah dan mencret, dia juga tak henti-hentinya menangis, Yeni dan para tetangga yang lainnya berdatangan kerumah Mayar untuk melihat keadaan Suci.


Bayi yang semulanya sehat dan bertubuh tambun, saat itu telah terlihat begitu kurus dan pucat, Yeni menyarankan agar Suci di kembalikan pada Ibunya, namun Mayar tetap bersikeras untuk tetap merawat bayi itu.


“Aku tahu, kau nggak bakalan mampu merawatnya Mayar, lihatlah kondisi bayi ini, dia terlihat begitu kurus dan pucat, aku takut terjadi sesuatu padanya nanti.”


“Alah, kau sok tahu. Kau kira hanya kau yang bisa merawat dan mengurus bayi.”


“Kalau kau nggak percaya, silahkan saja kau rawat sendiri.”


“Emang begitu, sekarang keluarlah kau dari sini, aku udah nggak sudi melihat kehadiran kalian di rumah ku.”


“Baik.” jawab Yeni sembari meninggalkan rumah Mayar.


Setelah kepergian Yeni, Suci terus saja menangis tiada henti. Beberapa saat kemudian Yeni datang lagi mengintip dari jarak jauh kedalam rumah Mayar.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Yeni, saat melihat kepala Suci keluar dari dalam ayunan. Kepala itu terkulai lemah, Yeni langsung saja berlari menghampiri bayi itu, namun saat di pegang, ternyata Suci sudah tiada.


Karena takut di tuduh yang bukan-bukan, Yeni langsung berlari menjauhi rumah Mayar, di tengah perjalanan Yeni bertemu dengan Mayar yang sedang asik bicara dengan para tetangga di samping rumahnya.


Sebenarnya Yeni ingin sekali menghampiri mereka semua, tapi Yeni takut, kalau Mayar akan menuduhnya yang bukan-bukan. Untuk itu Yeni berusaha sabar menantikan Mayar pergi.


Beberapa saat kemudian, barulah Mayar kembali pulang kerumahnya, mesti saat itu kepala Suci tergantung dari ayunan, Mayar bahkan tetap mengabaikannya, dia tak menoleh sedikitpun pada Suci yang telah tiada.


Yeni yang melihat Mayar telah kembali kerumahnya, dia pun langsung berlari menghampiri para tetangga yang masih berkumpul di samping rumahnya. Kehadiran Yeni yang tergesa-gesa membuat para Ibu-ibu itu terlihat kaget dan heran.


“Ada apa Yeni? kenapa kau terlihat begitu khawatir sekali?”


“Ibu-Ibu, tadi ketika Mayar disini, aku mendengar Suci terus saja menangis, saat ku intip dari kejauhan ternyata kepala bayi itu sudah keluar dari ayunan. Saat itu aku berencana untuk memperbaiki kepala Suci, tapi…?”


“Tapi apa Yen?” tanya Bidah penasaran.


“Tapi Suci telah meninggal.”


“Hah! Kau serius Yen?” tanya Munar tak percaya.


“Iya.”


“Kau nggak bercanda kan Yen?” tanya Laila kaget.


“Nggak kak, aku nggak berbohong sama sekali.”


“Ya Allah, akhirnya meninggal juga Suci yang malang itu.”


“Mayar begitu tega telah membunuh bayi yang tak berdosa itu, dia bahkan nggak tahu kalau bayi itu telah meninggal dunia.”


“Lalu kita mesti gimana?”


“Kita temui dia, kita beri tahu Mayar kalau bayi itu telah tiada,” ucap Laila.


“Kalau Kak Mayar nggak percaya, gimana?”


“Kita lihat saja nanti, gimana dia bisa nggak percaya, kalau dia udah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2