
Adit memang menyuruh Nisa membuang makanannya, tapi bukan berarti Adit tak menghargai pemberian Ana pada istri dan anaknya. Akan tetapi Adit harus menjaga keselamatan keluarganya dari pengaruh buruk yang di kirimkan Ana nantinya.
Setelah pengiriman makanan itu, keesokan harinya Ana datang berkunjung ke rumah Nisa, Ana bahkan tak memperlihatkan sedikit pun rasa bersalahnya karena telah berbuat jahat pada Nisa dan suaminya.
“Ngapain dia datang Bang?” tanya Nisa pada suaminya.
“Entahlah sayang, tapi kamu jangan tampakkan rasa kesal mu padanya, berlagak lah seperti biasa-biasa saja.”
“Baik Bang.”
Bersama putri kecilnya, Ana datang kerumah Nisa, dia duduk di samping bayi Nisa dan menggendongnya.
“Anak mu cantik ya, Nisa.”
Nisa tak menjawab, dia hanya bisa tersenyum saat itu, karena mesti bagai manapun hati Nisa masih terasa sakit sekali.
“Apakah kau udah memberinya nama Nisa?”
“Udah Kak.”
“Siapa namanya?”
“Nike.”
“Wah, nama yang indah, masih kecil kau sudah memakaikannya gelang emas, kenapa cepat sekali?”
“Itu hadiah dari Ibu untuk cucunya.”
“Jadi Ibu sudah datang kesini?”
“Sudah, bahkan Ibu sudah dua bulan disini.”
“Kenapa dia nggak mampir ke rumah Kakak?”
“Emangnya, Kakak ada datang menjemputnya?”
“Kenapa mesti di jemput sih, Nisa. Bukan kah rumah kita berdekatan, mestinya Ibu datang aja sendiri kesana.”
“Mungkin Ibu udah nggak ke rumah Kakak.”
“Kenapa?”
“Karena kalian berdua telah menyakiti hatinya.”
“Alah! hanya masalah sepele seperti itu saja, Ibu langsung memasukannya ke dalam hati.”
Jawaban dari Ana membuat Nisa merasa heran, karena Ana menganggap masalah yang di derita Ibunya hanya masalah sepele, padahal Maryati menangis sampai pagi karena kelakuan merek berdua.
__ADS_1
“Jadi Kakak menganggap masalah kemaren itu masalah sepele?”
“Iya, kalau hanya masalah baju yang hilang, Kakak masih sanggup menggantinya dengan yang baru kan, kenapa mesti di pikirkan masalah baju itu.”
Jawaban dari Ana membuat Nisa semakin pusing. Karena Ana tak tahu bagai mana perasaan Ibunya saat itu, begitu juga dengan dirinya yang telah di usir di tengah malam oleh Abangnya sendiri.
“Kakak kalau ngomong, kayaknya gampang banget ya? seperti nggak punya kesalahan sama sekali.”
“Maksud mu apa sih Nisa?”
Saat kata-kata itu hendak di lanjutkan Nisa, Adit langsung datang dan mengedipkan sebelah matanya pada Nisa, tanda itu langsung di mengerti oleh Nisa, dan dia tak mau membahas masalah itu lagi di hadapan Ana.
“Kok kau diam saja Nisa, maksud mu apa tadi?”
“Ah, udahlah nggak perlu di bahas lagi.”
“Ya udah kalau begitu Kakak pamit dulu, Kakak takut nanti Abang mu pulang.”
“Iya,” jawab NIsa singkat.
Sepeninggal Ana, Nisa langsung menemui Adit, Nisa sepertinya masih penasaran kenapa Adit melarangnya bicara pada Ana.
“Kenapa sih, Abang melarang aku bicara pada Kak Ana?”
“Percuma sayang, kau dengar sendiri tadi kan, kalau setiap ucapannya tak sejalan dengan apa yang mereka lakukan selama ini. Jadi, masalah itu jangan di bahas lagi, itu hanya menimbulkan keresahan di hati kita.”
“Bagus, itu baru istri kesayangan ku,” ucap Adit pada Nisa.
Semenjak hari itu, bukan hanya sekali Ana datang menemui Anisa, bahkan mereka datang lebih sering dari dugaan Nisa dan suaminya, begitu juga dengan Tedi. Mereka berdua juga tak merasa malu meminjam uang pada Nisa, untuk kebutuhan hidup mereka.
Nisa yang tak mau menaruh dendam pada saudaranya sendiri, tak merasa keberatan, dia pun meminjamkan uang pada Tedi.
Waktu terus berlalu, meninggalkan kenangan pahit yang tak ingin untuk di kenang lagi. Namun, kenyataan baru terkadang datang lebih buruk lagi dari pada yang telah pergi.
Anisa dan Adit waktu itu, sedang berkunjung di rumah Ibunya. Mereka berdua membahas banyak hal. Tampa sengaja, Ria mendengar percakapan mereka berdua, Ria merasa kesal dan marah, Karena Maryati menyebut namanya saat bercerita bersama Nisa.
Tak tahan dengan emosinya yang meluap-luap, Ria pun masuk kedalam rumah Ibunya dan menampar wajah Maryati hingga terjungkal kebelakang.
Anisa yang melihat kejadian itu langsung mendorong tubuh Ria. Tak terima Nisa memperlakukannya seperti itu, Ria pun membalasnya, sehingga terjadilah pertengkaran.
Adit berusaha melerai pertengkaran mereka itu, dia memisahkan keduanya agar tak lagi saling serang dan pukul.
“Berhenti! kalian ini apa-apaan sih, tiba-tiba saja kalian langsung bertengkar.”
“Gara-gara perempuan jahat ini, hidup ku jadi sengsara!” teriak Ria seraya mengacung-acungkan telunjuknya kearah Maryati.
Tak tahan dengan penghinaan yang di ajukan Ria terhadap Ibunya, Nisa langsung saja melayangkan pukulannya ke wajah Ria, hingga perempuan itu sedikit terhuyung ke belakang.
__ADS_1
“Puas kau telah menghasut aku! dasar Ibu tak berguna kau ini!” bentak Ria dengan kasar.
“Apa yang membuat mu marah Ria? emangnya ibu bicara apa tentang mu?”
“Aku sudah lama menaruh dendam dan sakit hati pada mu, karena kau selalu saja menghasut orang lain agar membenci aku!”
“Siapa yang telah menghasut mu?”
“Sudah, sudah! apakah nggak bisa hal ini kita selesaikan secara baik-baik!” ujar Adit dengan suara lantang.
“Kau Nisa, dasar sialan kau ini, bisa-bisanya kau menampar aku.”
“Itu semua karena kau itu telah menghina Ibu ku.”
“Karena Ibu mu itu emang pantas untuk di hina, kapan perlu dia di beri azab, biar mati di sambar petir!”
“Astagfirullah! dasar menantu nggak berguna kau Ria.”
“Kau yang nggak berguna, kau Ibu mertua yang jahat!”
“Emangnya apa yang telah ku perbuat, sehingga kau menuduhku telah berbuat jahat.”
“Kau nggak perlu bertanya pada ku, kau tanyakan sendiri pada dirimu. Dasar Ibu nggak berguna, ku sumpahi kau, biar mati mengenaskan!”
Saat pertengkaran itu terjadi, Andi datang, dia telah mendengar semua ucapan Ria pada Ibunya dan dia langsung menarik tangan Ria serta menamparnya. Andi begitu marah, karena Ria telah berulang kali memaki Ibunya serta mendoakan Ibunya dengan ucapan yang kotor dan hina.
“Saat ini juga, di saksikan Kak Nisa dan Bang Adit, aku menjatuhkan talak pada mu Ria.”
‘ucapan Adit yang dia lakukan secara spontan membuat semua yang hadir di tempat itu menjadi ternganga.
“Jadi Abang menceraikan ku?” tanya Ria heran.
“Iya, mulai sekarang kemasi semua barang mu dan pergi dari sini.
“Kenapa Abang melakukan semua ini pada ku, bukankah Abang tahu sendiri kalau Ibu, selalu saja menghasut orang untuk membenci ku.”
“Ibu nggak pernah menghasut mu Ria, Ibu melakukan semua itu agar rumah tangga kita bisa berjalan baik tanpa pengaruh buruk dari orang lain. Tapi kau justru membuat masalah ini menjadi rumit.
“Tapi aku nggak mau pergi Bang, aku nggak mau berpisah dengan mu.”
“Aku nggak perduli Ria, sekarang kau kemasi barang-barang mu cepat dan pergi dari Desa ini.
“Ku mohon Bang, jangan ceraikan aku, aku nggak punya siapa-siapa di sini, kalau kau mengusirku, lalu aku mau tinggal di mana?”
“Kau pulang ke Padang, ke rumah orang tua mu,” ucap Andi seraya pergi meninggalkan Semuanya.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*