Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 88 Kecurigaan


__ADS_3

Satu bulan lebih Maryati menderita sakit, namun tak seorang pun yang tahu dengan penyakitnya, karena Maryati berusaha untuk menyembunyikannya dari semua orang.


“Aneh, padahal sudah satu bulan lebih, aku menanamkan obat itu di depan rumahnya, tapi kenapa Ibu kelihatan biasa-biasa saja? bahkan dia bisa pergi ke pasar dan kemana saja sesuka hatinya,” tanya Rijal heran.


Pagi itu Rijal melihat Maryati keluar dari rumahnya dengan menggunakan selendang yang menutupi lehernya, sehingga penyakit yang di derita Maryati tak terlihat sama sekali.


Karena penasaran, lalu Rijal menyuruh Leni untuk melihat keadaan Ibunya. Leni merasa sedikit heran, karena selama ini Ibunya terlihat baik-baik saja.


“Emangnya kenapa dengan Ibu Bang?”


“Nggak, aku melihat leher Ibu dibalut dengan selendang, emangnya leher Ibu mu kenapa?”


“Aku nggak tahu, tapi aku nggak melihat apa-apa selama ini.”


“Kau yakin Ibu mu sehat-sehat saja?”


“Baru saja tadi siang aku ke rumah Ibu, Ibu kelihatanya nggak kenapa-napa.”


“O ya?”


Mendengar pengakuan istrinya, Rijal merasa heran, kenapa teluh yang dia tanamkan di depan rumah itu tak menimbulkan efek apa pun pada Maryati.


Penasaran dengan apa yang telah di lihat, keesokan harinya, Rijal kembali lagi kerumah dukun itu.


“Kamu yakin, kalau teluh yang kau tanam di rumah Ibu mu, gagal?”


“Benar Pak. Bahkan Ibu ku bisa berjalan-jalan kesana kemari.”


“Nggak mungkin aku gagal, karena selama ini, teluh ku selalu berhasil.”


“Kalau Bapak nggak percaya, Bapak bisa lihat sendiri ke rumahnya.”


“Nggak perlu. Sekarang begini saja, gimana kalau kau sendiri yang memperhatikannya setiap ada kesempatan, karena aku begitu yakin, teluh yang kau tanam itu telah mengenai Ibu mu.”


“Tapi kenapa Ibu mertua ku terlihat biasa-biasa saja?”


“Ini yang membuat aku heran.”


“Lalu, gimana keputusannya Pak?”


“Tunggu sebentar, coba aku lihat dulu,” ujar dukun tersebut, seraya komat kamit membaca mantra.


Rijal memperhatikan dengan dekat apa yang di kerjakan oleh dukun itu, dia seperti sedang menerawang ke rumah yang telah di tanam teluh miliknya, saat itu dukun itu juga melihat Maryati melangkahi ramuan itu hingga beberapa kali.


“Gimana Pak?” tanya Rijal tak sabaran, ketika melihat dukun itu membuka kedua matanya.


“Saat ini, Ibu mu itu sedang sakit Rijal.”


“Sakit apa?”


“Dia memang terlihat biasa-biasa saja, tapi teluh yang kau tanam telah mengenai tubuhnya.”


“Ooo, begitu.”


“Cobalah kau periksa dalam beberapa hari ini, siapa tahu kau dapat informasi dari orang-orang yang dekat dengan Ibu mertuamu itu.”


Ketika dukun itu berbicara, lalu Rijal teringat dengan Anisa, gadis yang selalu ada untuk Ibunya. Saat itu Rijal mulai senang, karena niatnya untuk menggali keterangan akan terlaksana dengan mudah.

__ADS_1


Malam itu Rijal berencana hendak bertamu kerumah Maryati, namun karena hujan begitu deras, Rijal pun mengurungkan niatnya. Keesokan hari, Maryati menemui seseorang, yang kata orang, dia bisa mengobati penyakit.


Siang hari saat Rijal pergi bekerja, Maryati bersama Nisa mendatangi rumah orang tersebut, pak tua itu bernama Pendi, dia memang sudah biasa mengobati orang sakit dan hasil pengobatannya jarang yang meleset.


“Tok, tok, tok! Assalamu’alaikum,” ujar Nisa dari luar.


“Wa’alaikum salam,” jawab Rika istri Pendi, seraya bergegas untuk membukakan pintu.


Setelah pintu di buka dengan lebar, Maryati dan Nisa tampak tersenyum ramah, sembari menyalami Rika.


“Eh, ada Yati bersama Nisa!”


“Iya Bu.”


“Mari silahkan masuk!” ajak Rika seraya mengiringi keduanya untuk masuk ke dalam.


“Eh, Yati, ada apa? nggak biasanya?”


“Ini Pak,” jawab Maryati seraya melepas selendang yang menutupi lehernya.


Betapa terkejutnya Pendi dan Rika ketika Maryati melepas selendang yang membalut lehernya.


“Lehermu kenapa Yati?” tanya Pendi ingin tahu.


“Awalnya gatal-gatal, tapi lama kelamaan bernanah dan membusuk, mungkin karena digaruk, Pak.”


“Coba sedikit mendekat,” ujar Pendi seraya melihat dengan jelas penyakit yang di derita Maryati.


Karena perintah Pendi Maryati pun duduk tepat di hadapan pria tua itu, dengan menggunakan senter, dia melihat dengan jelas penyakit apa yang di derita Maryati.


“Sepertinya seseorang telah berbuat jahat pada mu Yati.”


“Iya.”


“Tapi, siapa yang telah mengirimnya Pak, rasanya selama ini aku nggak pernah bermusuhan dengan orang.”


“Dia bukan orang jauh, Yati.”


“Berarti dia orang yang dekat dengan ku?”


Mendengar pertanyaan Maryati, Pendi tak menjawabnya, sementara itu Maryati terus saja berfikir siapa yang telah tega berbuat sejahat itu pada dirinya.


Tak berapa lama kemudian, Pendi pun pergi kedapur, sedangkan Maryati dan Nisa tetap duduk di ruang tengah bersama dengan Rika.


“Emangnya penyakitmu ini udah lama Yati?” tanya Rika pada Maryati.


“Udah Bu, udah lebih satu bulan, tapi nggak sembuh-sembuh juga.”


“Kau tahu kapan kenanya?”


“Kalau nggak salah, rasa gatal itu muncul pada siang hari, semenjak itu, tak pernah berhenti, Bu.”


“Mungkin Bapak benar, kau kena teluh seseorang.”


“Kenapa ya, orang begitu tega melakukan semua itu pada ku, padahal aku nggak punya musuh sama sekali.”


“Musuh itu nggak pernah terlihat Yati, kadang dia seperti sahabat yang selalu mendukung semua apa yang kita lakukan, tapi dia bahkan menusuk kita dari belakang.”

__ADS_1


“Iya Bu,” jawab Maryati singkat.


Saat mereka berdua saling bertukar pikiran, kemudian Pendi pun datang seraya membawa sesuatu di tangannya. Pandangan mata mereka berdua pun langsung teralihkan seketika.


“Yati.”


“Iya Pak.”


“Ini ada obat yang Bapak racik untuk mu, kau oleskan air ini ke lehermu setiba di rumah nantinya, lalu sisa airnya kau buang tepat di depan pintu masuk rumahmu.”


“Baik Pak.”


“Nanti sekitar pukul satu malam, kau keluarlah dari rumah mu.”


“kenapa Pak.”


“Karena teluh itu di tanam tepat di depan rumahmu.”


“Ya Allah, benarkah itu Pak?”


“Iya. Nanti setelah kau keluar, kau lihat di sebelah kiri mu, kau akan menemukan sebuah batu yang berukuran agak besar, lalu kau angkat batu itu dan gali tanah yang ada di situ.”


“Baik Pak.”


“Ingat, apa pun yang kau temukan nanti, ambil pakai tangan kiri lalu bakar.”


“Baik Pak.”


“Nah sekarang pulanglah, lakukan apa yang ku perintahkan pada mu.”


“Baik Pak. Kalau begitu, kami permisi dulu.”


“Iya, silahkan.”


“Kami permisi dulu Bu,” ucap Maryati pada Rika.


“Iya, hati-hati di jalan.”


“Baiklah, terimakasih. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam,” jawab Pendi dan Rika serentak.


Setelah Maryati pergi, Rika ingin sekali mengetahui siapa yang telah melakukan semua itu.


“Siapa yang melakukannya sih Pak?”


“Menantunya sendiri.”


“Ya Allah, Bapak serius?”


“Iya Bu. Rijal yang telah melakukannya.”


“Kenapa Rijal begitu tega pada Ibu mertuanya sendiri ya?”


“Pasti ada masalah yang tak terselesaikan di antara mereka berdua.”


“Ooo, begitu ya.”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2