Air Mata Ibuku

Air Mata Ibuku
Part 98 Pernikahan Anisa


__ADS_3

“Bima memaksamu berhenti?”


“Iya Bu.”


“Kenapa dia begitu tega pada adiknya sendiri.”


“Karena aku mengetahui, kalau Bang Bima telah melakukan penipuan di toko tempat kami bekerja.”


“Ya Allah. Sebenarnya Ibu sangat sedih sekali, semenjak dia menikah dengan Dira, dia begitu banyak membuat kesalahan, bukan hanya sama orang saja dia seperti itu, sama Ibu sendiri, dia telah berulang kali melakukannya.”


Seperti yang telah di niatkan Andi, dia pun mulai tinggal di Desa Santosa jaya. Ria yang tak biasa hidup menjadi seorang petani, dia mulai merasakan kesulitan.


Beberapa bulan satu rumah bersama dengan mertua, membuat Ria tak betah, dia menganjurkan Andi untuk segera pisah rumah.


Karena niat Ria itulah, akhirnya Maryati turun tangan sendiri mencarikan sebuah rumah kosong untuk mereka tempati. Di rumah yang baru itu, Ria mulai membeli perabotan rumah dan mengisi kekosongan rumahnya dengan barang-barang yang di perlukan.


“Gimana sayang, kau betah tinggal di Desa ini?”


“Entahlah Bang, kita coba dulu untuk menjalaninya, nanti kalau kita sudah tak sanggup dan menyerah, baru kita cari jalan keluarnya.”


“Baiklah, akan kita jalani dulu untuk sementara waktu.”


Karena tempat tinggal mereka tak begitu jauh dari rumah Ibunya, Nisa pun sering berkunjung kesana. Awal mulanya mereka menyambut Nisa dengan biasa-biasa saja, namun lama kelamaan, Ria mulai tak suka dengan kedatangan Nisa kerumahnya.


“Ada apa sayang? kenapa kau terlihat nggak suka dengan kehadiran Kak Nisa dirumah ini?”


“Abang tahu sendirikan kalau kita ini sudah hidup susah, lalu kenapa Kak Nisa selalu saja datang kerumah ini?”


“Apa menurutmu kehadirannya mengganggu kita?”


“Iya, Kak Nisa datang kerumah ini pasti karena suruhan Ibu mu.”


“Maksud mu apa sayang?”


“Aku nggak suka dengan Ibu mu, Bang.”


“Ooo, kau nggak suka dengan Ibu ku, pantasan hari itu kau minta pindah dari rumah Ibu, ternyata itu alasannya.”


Mendengar jawaban dari Ria, Andi langsung mendatangi rumah Ibunya. Andi ingin tahu alasan apa yang membuat Ria begitu marah pada Ibunya tersebut.


“Sudahlah nak, nggak usah di bahas lagi, hanya akan menimbukan pertengkaran saja nantinya antara kau dan istrimu.”


“Tapi aku harus tahu, apa penyebab pertengkaran Ibu dengan Ria.


“Hari itu Ibu hanya melarang istrimu bergaul dengan Ibu-ibu di sini.”


“Kenapa rupanya Bu?”

__ADS_1


“Untuk apa sering berkumpul ke sana dan kemari nak, itu hanya akan menambah dosa dan maksiat, lebih baik dia membantu mu bekerja di kebun.”


“Ucapan Ibu memang benar, tapi istriku tak biasa bertani Bu, jadi dia nggak sanggup bekerja di tengah teriknya matahari.


“Ibu tahu itu nak, Ibu hanya sekedar menyarankan saja, kalau dia nggak sanggup, ya nggak apa-apa.”


Andi yang selalu patuh dan menuruti perkataan Ibunya, dia bisa mengerti dengan keinginan Maryati yang melarang Ria bergaul terlalu berlebihan dengan Ibu-Ibu di Desa nya.


Melihat kedatangan suaminya, Ria merasa kalau Maryati telah menghasudnya dan bicara yang bukan-bukan tentang dirinya pada Andi.


“Abang dari mana saja seharian ini? kenapa nggak ke kebun?” tanya Ria pada suaminya.


“Aku capek, aku mau istirahat dulu hari ini.”


“Kalau istirahat, kenapa nggak di rumah, kan ada aku dan Ica disini.”


“Aku dari tempat Ibu tadi.”


“Dari tempat Ibu?”


“Iya.”


“Ngapain Abang kesana?”


“Lho, lho. Kok kamu nanya ngapain aku kesana? dia itu kan Ibu ku?”


“Nggak! kau ini kenapa sih, asal kerumah Ibu, kau pasti merasa curiga.”


Takut Andi mengetahui tentang pertengkarannya dengan Maryati, Ria tak mau lagi membahas masalah itu lagi, Ria berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka ke yang lainnya.


Di saat pernikahan Andi berjalan empat tahun Anisa di lamar oleh seorang ustad, dia tampan dan baik, Anisa langsung saja menerima pernikahan itu dengan senang hati.


Pesta pernikahan Anisa pun di gelar secara sederhana, begitu juga di pihak mempelai pria. Walau suami Anisa seorang ustad, namun dia juga berasal dari anak seorang petani.


Untuk masa awal dia hidup bersama Nisa, Rijal mencoba menawarkan jasa pada Aditia. Dengan modal yang di berikan Rijal, Adit mulai bekerja mengolah lahan pertanian kosong menjadi sebuah perkebunan.


Tangan Adit yang dingin menjadikan hasil yang baik untuk perkebunannya, dari kebun yang di olah oleh Adit, dia telah menghasilkan beraneka ragam sayur-sayuran yang siap untuk di pasarkan.


Empat bulan pernikahan Nisa dengan Adit berjalan, Anisa di nyatakan mengandung anak pertama mereka, Adit sangat senang sekali saat itu. dengan semangat Adit terus bekerja, agar bisa mengumpulkan uang untuk biaya persalinan istrinya nanti.


Pagi itu saat Adit sedang bekerja di kebunnya, Novri datang menghampirinya, Adit menyambut novri dengan senang hati, saat itu Novri datang untuk menawarkan Adit bekerja di perusahaan tempat dia bekerja.


“Kau pikirkanlah dulu, nanti kalau kau bisa aku akan datang lagi kesini.”


“Kalau Abang mau, biarlah aku pertimbangkan dulu nanti.”


“Baiklah,” jawab Novri seraya meninggalkan Adit.

__ADS_1


Malam itu saat mereka berdua hendak tidur, Adit menyampaikan niatnya pada Nisa untuk bekerja di perusahaan tempat Novri bekerja.


“Apakah Abang sudah pikirkan secara matang?”


“Sudah Nisa, jika kita bekerja di sini, tentu Abang tak punya pegangan untuk masa depan anak kita nantinya, lagian Abang merasa segan dengan Bang Novri, dia sudah tiga kali datang menemui Abang.”


“Emangnya, Abang bekerja sebagai apa di sana?”


“Katanya sebagai seorang ustad sekaligus guru ngaji.”


“Bagai mana dengan tempat tinggal kita?”


“Nanti perusahaan akan mencarikan sebuah rumah untuk kita tempati di sana.”


“Terserah Abang saja, kalau menurut Abang itu jalan yang terbaik, aku pasti kan ikuti.”


“Makasih sayang, semoga ini pilihan yang terbaik untuk kita.”


“Aamiin.”


Setelah mereka sepakat untuk pindah, lalu Anisa menemui Ibu dan Ayahnya, untuk minta izin pergi mengikuti suaminya.


Maryati merasa sedih sekali, karena selama ini, dia tak pernah berpisah dengan putri bungsunya itu.


“Ibu nggak perlu sedih, aku pasti akan datang untuk melihat Ibu setiap saat kok.”


“Iya nak Ibu tahu itu.”


Di saat bersamaan, Adit juga menemui Rijal di rumahnya, Rijal yang baru mendengar kabar tersebut dia sangat terkejut sekali.


“Jadi kapan kalian akan pindah?”


“Besok pagi rencananya Bang.”


“Kok nggak ngasih kabar sebelumnya.”


“Rencana ini, malam tadi baru kami sepakati berdua, lalu bagai mana masalah kebun kita itu Bang?”


“Karena kau pergi, soal kebun biar aku yang mengerjakannya, karena sebentar lagi kita akan panen, jadi hasil panen akan kita bagi dua setelah aku mengeluarkan modalnya terlebih dahulu.


“Baiklah, aku percaya sama Abang, nanti akan ku tunggu hasil panen kita di sana."


“Aman,” jawab Rijal saat itu.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2