
“Ibu…!” teriak Tia seraya menghampiri Ibunya yang baru datang.
“Ya Allah nak, Ibu telah bersusah payah mencari keberadaan kalian di sana.”
“Kau kemana saja Yati, aku telah lama menunggu mu, aku terpaksa membawa Tia dan Leni, karena aku nggak melihat siapa-siapa ada di dekat mereka, aku sangat takut sekali, kalau kedua anak mu akan di bawa pergi orang lain.”
“Terimakasih Kak, kau telah menyelamatkan kedua putri ku ini.”
“Dan hanya Ini, koper mu yang bisa aku selamatkan, selebihnya sudah nggak ada lagi disana.”
“Oh, ternyata Kak Ani telah menyelamatkan koper kami.”
“Hanya satu yang bisa Kakak selamatkan Yati, karena hanya koper itu yang masih terletak di luar rumah mu.”
“Oh syukurlah Kakak masih bisa menyelamatkan satu koper yang sangat berharga sekali.”
“Benarkah?"
“Iya.”
Karena seluruh rumah di stasiun telah habis terbakar, seluruh penduduk pun terpaksa harus mengungsi ditempat-tempat yang bisa mereka tempati termasuk gerbong kereta yang kosong dan pinggiran rel kereta.
Berita kebakaran itu pun terdengar di telinga Tomi, rasa kuatir pun membuatnya tampak begitu gelisah.
“Ada apa Tomi? kenapa kau tampak gelisah pagi ini?” tanya Mayar yang saat itu sedang duduk di hadapan Tomi.
“Gimana aku nggak gelisah Kak, rumah ku di Jakarta telah ludes terbakar, saat ini entah bagai mana keadaan istri dan anak-anak ku di sana.”
“Sekarang kau baru mencemaskan nya, padahal selama ini kau sendiri yang mengabaikannya.”
“Aku terpaksa meninggalkan mereka Kak, karena di sana aku nggak punya pekerjaan.”
“Kalau kau nggak punya pekerjaan, lalu kenapa kau pulang ke Sumatra tanpa mereka?”
“Rencananya aku pulang hanya untuk mencari pekerjaan, tapi setelah sekian lama, aku nggak juga dapat pekerjaan itu.”
“Itu karena kau pemalas, coba kalau kau gigih mencari pekerjaan, banyak kok, pekerjaan di kota seluas kota Padang ini.”
“Tapi aku udah berusaha Kak.”
“Bohong! setiap hari Kakak hanya melihat mu duduk termenung saja disini, tanpa berbuat apa-apa. ingat Tomi, Bunda itu udah tua, semestinya kau yang memberinya uang belanja, bukan terus-terusan bergantung padanya.”
“Udah, Kakak tahu apa tentang diriku!”
“Kalau di nasehati, kau selalu saja membantah, padahal apa yang Kakak katakan itu benar bukan?”
‘Iya, aku tahu. Kakak selalu benar.”
“Jangan-jangan, di Jakarta kau selalu saja begini.”
Ketika mereka sedang bicara, Leli pun keluar dari kamarnya, Leli melihat ada sesuatu yang membuat keduanya jadi berdebat.
__ADS_1
“Ada apa? kenapa kalian bertengkar?”
“Bunda, gimana ini, Bun?”
“Ada apa Tomi?”
“Rumah kami di Jakarta habis terbakar Bunda.”
“Terbakar? kapan kejadiannya?”
“Udah tiga hari Bun.”
“Tapi saat ini, Bunda nggak punya uang nak.”
“Lalu aku mesti gimana lagi, Bun? soalnya aku sendiri nggak tahu gimana kabarnya istri dan ketiga orang anak-anak ku di sana.”
“Apa kau punya uang Mayar, kalau punya uang, tolong kau pinjamkan Tomi, nanti biar Bunda yang akan membayarnya pada mu.”
“Mesti pun aku punya, aku nggak bakalan meminjamkannya kepada Tomi.”
“Kenapa begitu?”
“Karena aku nggak mau mempersulit diri ku sendiri.”
“Apa maksud Kakak?”
“Jika kau datang kesini bersama istri dan anak-anak mu, pasti kami semua yang akan di susahkan.”
“Apa ucapan ku salah menurut mu.”
“Aku nggak bilang kalau ucapan Kakak salah, tapi aku nggak terima kalau Kakak mengatakan kalau kedatangan istri dan anak-anak ku membuat kalian semua menjadi susah.”
“Ya jelas susah lah! kau sendiri nggak bekerja, lalu siapa yang bakalan memberi istri dan anak-anak mu makan, apakah kami, atau mungkin juga Bunda yang sudah tua ini.”
“Tutup mulut mu Kak! kau memang sudah keterlaluan, kau anggap apa aku di rumah ini.”
“Kau ingin tahu, aku menganggap mu apa? aku menganggap mu sampah! tahu…!”
Ucapan Mayar memang tak tanggung-tanggung, dengan emosi Tomi langsung menghajarnya, hingga keduanya saling adu pukulan, melihat kedua anaknya bertengkar Leli langsung saja pingsan tak sadarkan diri.
Bukannya menolong Bunda mereka yang telah terkapar pingsan, mereka justru terus bertengkar dan adu pukulan hingga babak belur.
“Hei! kenapa kalian bertengkar!” bentak Inah.
“Dia yang mulai duluan Kak.”
“Bukan aku tapi kau yang mulai duluan.”
“Kurang ajar kalian semua, lihat! gara-gara kalian, Bunda jadi pingsan, udah mari tolong aku, untuk mengangkat Bunda ke atas dipan.”
Dengan bersama-sama, merekapun mengangkat tubuh Leli ke atas dipan. Lalu Tomi pun pergi keluar dan meninggalkan Mayar serta Inah.
__ADS_1
“Kau mau kemana Yung?” tanya Inah ingin tahu.
“Aku ke warung dulu.”
Di warung Bu Dini, Tomi tampak diam saja, dia bingung mesti mencari uang kemana untuk biaya menjemput istri dan ketiga anaknya.
“Kamu ngapain melamun Tom, nggak seperti biasanya, setiap datang ke warung ini hanya bermain judi, apakah kau udah kehabisan modal ya?”
“Aku bingung Bu, kali ini benar-benar nggak tahu mesti berbuat apa.”
“Kamu bingung kenapa?”
“Rumah ku di Jakarta mengalami kebakaran, aku nggak tahu kabar istri dan ketiga anak-anak ku di sana, apakah mereka selamat atau bagai mana.”
“Jadi kau udah punya istri dan anak di Jakarta.”
“Iya Bu.”
“Jika kau punya istri dan anak yang kau tinggalkan di Jakarta, lalu kenapa kau nggak mencari pekerjaan di sini. Hampir setiap hari Ibu lihat kau hanya bermain judi saja bersama mereka.”
“Gimana aku bekerja Bu, nggak ada pekerjaan yang mau menerima ku.”
“Kau bohong, sedangkan orang cacat saja banyak yang bekerja, kenapa kau yang normal tak bisa di terima bekerja.”
“Kalau Ibu nggak keberatan, tolong pinjamkan aku uang, agar aku bisa menjemput istri dan ketiga anak ku di Jakarta.”
“Kalau masalah uang, Ibu ada, tapi kapan kau bisa membayarnya, itu yang mesti Ibu tanya pada mu.”
“Nanti, kalau aku udah punya pekerjaan, aku pasti bayar kok.”
“Benar, kau akan bayar?”
“Benar Bu.”
“Baiklah, akan Ibu pinjamkan kau uang untuk menjemput istri dan ketiga anak mu."
Dengan senang hati, Tomi mengambil uang dari pemilik warung itu, dan tanpa berpikir lagi Tomi langsung menulis sepucuk surat pada temannya yang ada di atas kapal.
“Jangan lupa, kau cari dia sampai di Jakarta, berikan surat ini padanya.”
“Baik Bang.”
Seperti pesan Tomi, sesampainya di Jakarta, Ramli langsung mencari keberadaan Maryati di stasiun kereta. Tampak oleh Ramli, tak satu rumah pun yang tersisa, semuanya rata dengan tanah, di Kawasan itu Ramli hanya melihat kawat berduri yang terpasang di sana.
Dengan perlahan, Ramli menyusuri setiap rumah kardus dan gerbong kereta yang terletak di bantaran rel.
Setelah memeriksa beberapa tempat, akhirnya Ramli menemukan Maryati, yang saat itu tinggal satu gerbong bersama Kakaknya Ani.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1